
"Aku masuk dulu ya!" Ucap Aileen sambil meraih tangan suaminya dan dikecupnya sebagai bentuk hormatnya sebagai istri
Ini merupakan hari kedua bagi Aileen diantar oleh pria yang katanya suaminya, ya pria yang katanya membencinya kini lagi-lagi memaksa untuk mengantar Aileen ke rumah sakit dengan berdalih ini juga kebiasaan suami yang sering ia lihat.
Entah sadar atau tidak, mereka benar-benar sudah terperangkap dalam hubungan itu, lebih tepatnya mereka mulai saling membutuhkan satu sama lain. Entah sampai kapan, tapi semoga saja mereka benar-benar bisa saling. mencintai dan mempertahankan semuanya walaupun penuh dengan rintangan karena sesungguhnya tidak ada rumah tangga yang benar-benar berjalan mulus seperti yang ada di negeri dongeng. Tentu semua punya ujiannya masing-masing, tergantung cara penumpangnya saja bagaimana ia bisa menyikapi dan menghadapi masalah itu.
Jangankan menikah karena perjodohan yang berawal tanpa cinta harus sama-sama berjuang menelan kepahitan, sedangkan hubungan yang dengan cinta saja punya banyak masalah dan rintangannya masing-masing.
Intinya semua hubungan punya Versi tersulitnya sendiri, karena begitulah hidup akan selalu penuh dengan banyak cobaan karena kalo sedikit namanya cobainš¤ (Eh..)
Vir tersenyum semanis madu, beberapa hari terakhir ini ia tidak lagi menyebalkan. Ya walaupun sikap arogan dan suka senaknya sendiri sulit dihilangkan tapi setidaknya dia kelihatan lebih manis dengan tebar senyuman seperti ini, setidaknya dia bisa dilihat dari sisi yang berbeda.
"Anak manis!! Kelihatannya kau benar-benar suka mencium aroma kulit ku yang harum semerbak ini ya?" berucap dengan penuh percaya diri sambil mengacak-acak rambut Aileen yang sudah menjadi hobby barunya yang kedua selain menyentil kening sang istri
Aileen menghindari tangan Vir yang masih berusaha mengacak rambutnya yang sudah rapi.
"Huaaa vir, jangan diacak-acak!" Protes Aileen seraya menyigkirkan tangan Vir dari kepalanya
Namun Vir hanya tersenyum gemas melihat wajah Aileen saat marah, Ia kelihatan begitu menggemaskan.
"Masuk lah, Aku sudah bosan melihat mu!" Celetuk Vir dengan senyum yang tertahan di wajahnya
"Cih, Aku lebih bosan! tanpa kau suruh pun aku akan tetap masuk" ketus Aileen sambil melangkah meninggalkan Vir.
"Tunggu!" Sudah seperti penyakit bagi Vir, Dia selalu saja menghentikan langkah Aileen yang sudah mulai berjalan.
Aileen menghela nafas, berbalik dengan tatapan lesu dengan sedikit menekuk tubuhnya. Ia jengah dengan Vir yang selalu seenaknya menyuruh pergi dan kembali memanggil saat dirinya sudah mulai melangkah.
"Ada apa lagi?" berucap dengan tidak bersemangat.
"Kelihatannya kau tidak bersemangat!" Selalu saja berucap dengan gayanya yang arogan sok tahu segalanya. Padahal dialah yang membuat Aileen tak bersemangat.
Aileen kembali menghela nafas, menunggu kelanjutan dari ocehan Vir yang unfaedah yang kadang bicara hanya untuk menyudutkan dirinya sebagai seseorang yang begitu mengidolakannya.
Vir menjentikkan jari, seolah baru mendapat anugerah ide briliant yang membuatnya seketika tahu segalanya. "Aku tahu, kau pasti tidak bersemangat karena aku tidak memberi mu nutrisi pagi kan?" katanya, sudah seperti pakar ahli Gizi.
Dia benar-benar selalu sok tahu, Memangnya nutrisi apa yang kau maksud Vir!. Gumam Aileen seraya menatap dengan tatapan jengah
"Kemarilah, aku akan memberi mu nutrisi!" berkata pelan seolah sedang menggoda membuat Aileen menggeleng dengan tingkah Suaminya
Vir memberi isyarat agar Aileen mendekat namun tak kunjung bergerak.
Melihat Aileen yang sama sekali tak bergeming dan melangkah ke arahnya. Vir lalu mendekati istrinya itu, Ia menarik lengan Aileen agar mendekat padanya
Cup..
Lagi-lagi Vir mengecup keningnya, lalu tersenyum tanpa dosa sudah membuat jantung Aileen seperti bermaraton di atas tebaran bunga.
Vir selalu berhasil membuatnya salah tingkah. Tidak ada yang tahu bagaimana yang Vir rasakan ketika melakukan itu, dia terlalu pandai menyembunyikan rasa dengan ekspresinya yang sulit ditebak. Bahkan mungkin pakar ekspresi pun tidak akan mampu menebaknya.
"Masuklah, aku harus segera ke kantor!" kata Vir sambil melirik arlojinya seraya berjalan ke arah mobil.
Tiit...
Vir yang melihat Aileen masih terpaku dan larut dalam pikirannya, kemudian membunyikan klakson mobil membuat Aileen tersentak.
"Sana masuk!" teriak Vir dari dalam mobil yang ia turunkan kacanya.
Aileen hanya mengangguk pelan sambil memandang mobil Vir yang mulai melaju dengan kecepatan sedang.
ā”ā”ā”
Saat waktu kosong, Aileen yang tengah duduk beristirahat di ruangannya sedang menscroll beranda sosial medianya yang tidak terlalu ramai. Meskipun pengikutnya banyak tapi dia sangat jarang mengunggah fotonya, bisa dihitung berapa foto yang terpajang di sana.
Saat tengah melihat berita viral yang berlalu lalang di berandanya.
Ting,
Sebuah notifikasi masuk di beranda atas layar hpnya.
Tertera tulisan chat yang berisi "Temui aku di Cafe Xxx jika ingin tahu siapa aku!!"
__ADS_1
Tulis pesan dari nomor yang tidak dikenal itu.
Meskipun tidak langsung membuka pesan chat itu, tapi Aileen masih bisa membaca semua isinya.
Ia mengerutkan keningnya, berpikir keras siapa yang mengirim pesan ini padanya. Namun karena rasa penasarannya lebih besar Ia lalu melepas snellinya dan meraih tas Louis Vuitton yang ia letakkan di atas meja.
Aileen berjalan dengan wajah yang kelihatannya masih berusaha menebak siapa si pengirim pesan
"Jika ada yang mencari ku katakan aku sedang makan siang di luar!" Katanya pada Nita yang ia temui di koridor.
Belum sempat Nita menjawab, Aileen sudah kembali melangkah.
Beberapa menit kemudian ia sudah tiba di alamat yang diberi si pengirim pesan.
Aileen menunggu di sebuah meja yang paling pojok. Ia melirik ke seantero ruang, berusaha mencari orang yang mungkin mencurigakan, barang kali dia lah si pengirim.
Sekitar hampir lima menit duduk seorang diri sambil meminum lemon tea pesanannya. Tidak lama kemudian terdengar suara seorang wanita yang menyapanya.
"Halo dokter Aileen!"
Aileen mendongak menatap wanita yang cukup ia kenal wajahnya.
Aileen kelihatan terkejut namun tetap berusah reelax, Ia melirik hanphonenya dan kembali membaca pesan yang ia terima tadi. Aileen beralih menatap wanita itu. Dia adalah Fia, kekasih dari suaminya.
Aileen berusaha tenang, Ia benar-benar tak menyangka jika wanita itu mengajaknya bertemu. Walaupun ia sudah mewanti-wanti hal ini akan terjadi, setidaknya ia sudah menyiapkan segala kemungkinannya.
Dari tatapan Fia, satu yang dapat Aileen simpulkan. Wanita itu sudah tahu semuanya.
Karena di awal Fia menemuinya wanita itu masih mengaguminya bahkan sampai memberinya sebuah hadiah.
Namun sekarang berbeda, Fia terlihat menahan amarah dalam diri.
"Masih mengingat ku?" Fia menarik kursi dan duduk di atasnya.
"Masih" Aileen menatap dengan tatapan
datar.
Namun kali ini posisinya berbeda, Ia sama sekali tidak tersenyum, Aileen tidak ingin kelihatan lemah dihadapan wanita yang masih dicintai suaminya.
Ia harus menunjukkan sikap tegas. Ia mewanti-wanti jika saja Fia akan menyerangnya dengan kata-kata menyakitkan.
Akan lebih baik jika ia memasang benteng pertahanan itu lebih dulu agar Fia merasa segan untuk melakukan itu. Mungkin
Jika memang benar, dengan kelihatan tegar setidaknya dia tidak akan tersentil hanya karena ucapan menyakitkan.
"Apa anda mengingat ku dokter Aileen?" tanya Fia dengan sedikit memajukan kepalanya seolah tengah menantang lawan bicaranya.
Dugaan Aileen benar, Ia tersenyum. Tentu ia tidak akan goyah hanya karena diperlakukan seperti itu.
"Tentu.." sahut Aileen dengan tatapan sedingin es
Fia menyeringai, dia menghela nafas sebelum kemudian kembali berbicara
"Apa anda mengingat kejadian setahun yang lalu?" katanya seraya melambaikan tangan pada kasir.
"Ya aku ingat" kata Aileen sambil meminum minumannya
Via menunjuk sebuah minumun di buku menu sambil terus menatap ke arah Aileen dengan senyuman menyeringai.
Pelayan itu pergi menyiapkan pesanan yang Fia minta.
"Dulu bagiku kau sangatlah luar biasa...."
Flashback On
Satu tahun yang lalu....
Di sebuah Restoran besar yang sepi pengunjung, karena memang itu waktunya jam kerja jadi restoran itu agak sepi.
Seorang wanita tengah berdebat dengan beberapa rekannya. Kedengarannya mereka membahas sebuah project kolaborasi desainer gaun yang dipesan oleh orang yang penting pada mereka. Sepertinya mereka menjalankan project ini bersama.
__ADS_1
Namun ada yang janggal karena satu wanitanya lagi terlihat adu mulut dengan ketiga temannya. Mereka semua berjumlah empat orang.
Suasana Restoran yang cukup sepi membuat mereka lebih keluasa adu mulut yang entah apa penyebabnya.
"Kau ini tamak sekali Fi, yang namanya kerja sama itu maka hasilnya juga harus dibagi rata!ā kata wanita satu
"Tidak, project ini dikerjakan di bawah naungan butik ku dan menggunakan label butik ku pula! jadi akulah yang seharusnya mendapat persen lebih banyak dari kalian bertiga!!" kata seorang wanita yang memegang sebuah cek, mungkin dia yang bernama Fia
kelihatannya mereka mempermasalahkan bayaran dari hasil kerja sama mereka yang ingin dimiliki lebih banyak oleh wanita yang mengaku sebagai pemilik butik
"Tidak bisa begitu Fia, kami juga sebagai desainernya harus mendapatkan lebih!! kita harus membagi rata bayaran ini" kata wanita dua
"Kau jangan tamak Fi! di sini kita satu tim, kita sama-sama bekerja keras dalam projects ini" kata wanita tiga.
Sungguh perdebatan yang tiada henti dengan wanita yang bernama Fia terlihat angkuh dengan mengklaim bahwa dirinya lah yang lebih berhak menerima bayaran yang lebih banyak dari ketiga temannya
Karena geram pada wanita yang bernama Fia, ketiga temannya itu lalu merebut secara paksa cek itu dari tangan Fia
Fia yang tak terima memberontak histeris, Namun saat dirinya melangkah mendekati ketiga temannya itu, tiba-tiba saja ia memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Wanita bernama Fia itu terjatuh, Ia minta tolong kepada ketiga temannya namun temannya yang sudah terlanjur kesal merasa geram enggan menolong dan malah pergi meninggalkannya yang menjerit kesakitan di sana.
"Dasar wanita gila! rakus dan tamak!! kami tidak akan mau lagi berteman dengan muā umpat ketiga temannya itu yang langsung melenggang pergi.
Aileen yang hari itu kebetulan ada di restoran melihat semua kejadian tadi. Ia berteriak meminta para pelayan untuk membawa wanita tadi ke mobilnya.
Aileen melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Ia meminta para perawat membawa branker ke mobilnya dan membawa wanita tadi menuju IGD
Setelah sampai di ruang IGD, Aileen yang seorang dokter langgsung mencuci tangan, mensterilkan tangannya kemudian mulai melakukan pemeriksaan pada wanita yang sudah tidak sadarkan diri itu.
Ia melakukan beberapa test dan pemeriksaan.
Hingga beberapa menit kemudian pasien itu sadar. Ia menatap seluruh ruangan, di sana ia menemukan dokter yang tadi menolongnya berdiri di sisi ranjang.
Walaupun dalam setengah sadar saat menuju rumah sakit ia bisa melihat wajah wanita yang menolongnya itu
"Terimakasih karena sudah menolong saya" lirih wanita itu seraya berusaha bangkit dan duduk bersandar
Aileen mengangguk "Pelan-pelan!"
"Awwww" kata wanita itu memekik kesakitan
"Akhir-akhir ini kepala saya sering sakit, tapi saya sangat malas berkunjung ke dokter! saya takut jarum suntik" Lirihnya tersenyum ramah pada sang penyelamat
"Kenapa harus takut, suntik tidak menyakitkan, rasanya seperti digigit semut" kata Aileen.
Wanita bernama Fia itu tersenyum.
āBerarti mumpung saya di rumah sakit saya ingin bertanya pada dokter"
Mendengar ucapan wanita bernama Fia itu, Aileen hanya mengangguk Iya
"Belakangan ini saya sering merasakan sakit di bagian belakang leher, dan jika sakit itu datang kepala saya terasa pusing dan nyeri tapi saya selalu mengabaikannya dengan minum obat sakit kepala yang saya beli di apotik" kata Wanita itu menjelaskan.
Dia yang memang tidak terlalu suka berkunjung ke rumah sakit karena merasa malas jika harus konsultasi ke dokter.
"Lain kali jangan seperti itu ya, Kita tidak boleh minum obat sembarangan! Bisa jadi sakit yang kita rasakan itu berbahaya, maka dari itu kita tidak boleh lalai dan harus berkonsultasi pada dokterā jelas Aileen.
Wanita itu hanya tersenyum kikuk..
"Kalau boleh tahu saya kenapa ya dok" katanya penasaran
"Apa ingin tahu secara detail atau hanya garis besarnya saja?" ucap dokter Aileen hati-hati, Ia berusaha menjaga kenyamanan pasien agar tidak syok saat diberi tahukan
"Semuanya dok"
Aileen pun mulai menjelaskan penyakit yang ia temukan di sekitar leher wanita itu. Setelah melakukan beberapa cek dan pemeriksaan akhirya penyakit wanita itu terdeteksi
"Mbak didiagnosa terkena kanker getah bening, itupun baru hanya akarnya yang terdeteksi, belum terlalu membesar, Jika terlambat sedikit saja mungkin akan sulit ditangani"
__ADS_1
Wanita itu syok mendengar penjelasan dari Aileen. Lidahnya seakan kelu mendengar penjelasan dari sang dokter