Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 59


__ADS_3

Selepas di bopong pindah kamar, Aileen sama sekali tak terbangun. Ia masih tetap dalam mode aman yaitu mode terlelap tanpa gangguan.


Sepertinya ia benar-benar lelah setelah melewati malam panjang yang menguras tenaga bersama Vir. Bahkan ia sama sekali tidak sadar jika dirinya sudah berada di kamar yang berbeda.


Vir tersenyum melihat istrinya itu. Ia kemudian ke luar dan akan menuju ke lantai bawah.


Vir memutar kunci, kemudian menarik hendel pintu. Pintu terbuka, menampakkan Vino yang menatap dengan tatapan kesal.


"Ck, Kenapa lama sekali!! Hampir saja kau jadi adik durhaka karena membuat kakak mu habis di makan nyamuk" protes Vino panjang lebar.


"Cih, Kau yang mengganggu Jevino! Ayah dan Ibu tidak mengajar mu untuk bertamu malam-malam bukan?" menatap malas pada sang kakak "Lagi pula aku memang sudah jadi adik durhaka sebelum kejadian ini" Vir menyingkir dari ambang pintu dan memberikan Vino jalan untuk masuk


"Kenapa kau bisa ada di sini?"


"Aku ada urusan Vir!" Vino merebahkan tubuhnya ke sofa. Ie menyibakkan lengan jaketnya yang menampakkan pergelangan tangannya yang terlihat memerah karena ciuman nyamuk sialan itu


"Urusan apa? Lalu Ayah dan Ibu ada di mana dan kenapa kau malah ke sini bukan ke mansion?" Vino menatap Vir yang memberinya pertanyaan beruntun seperti tengah sedang mengintrogasi


"Bakat mu sebagai wartawan memang tidak pernah hilang! Kau malah makin pandai bahkan lebih mirip seorang detektif" celetuk Vino seraya melepaskan jaket levis yang melekat pada tubuhnya.


"Ck, cepat jawab saja!" Vir berdecak kesal.


Beginilah kebiasaan ia dan Vino sedari dulu. Walaupun begitu, Vino begitu menyayangi adiknya itu. Ia tahu Vir adalah adik yang baik, hanya saja Ayah dan Ibunya lah yang terlalu berlebihan dalam menyikapi putranya itu.


"Aku sedang mengurus perpindahan domisili perusahaan" Jelas Vino seraya merenggangkan otot-ototnya yang terasa keram karena terlalu lama berdiri


Vir menatap tak percaya pada sang kakak, Ia masih belum yakin jika Vino akan memindahkan domisili Perusahaannya yang ada di Singapura ke Indonesia. Padahal yang ia tahu perusahaan Vino yang di sana sudah sangat maju.


"Kenapa?"


"Aihh Vir, Apa begini cara mu menyambut tamu? Kau tidak memberi ku minum atau bahkan menawarkan ku untuk istirahat? Ck keterlaluan" Vino menggeleng kecil


kedengarannya saja sedang marah, padahal ia hanya senang menganggu adiknya. Ini lah caranya untuk membuat Vir terus merespon setiap ucapannya. Karena semenjak perlakuan Ayah dan Ibu yang selalu membeda-bedakan ia dan Vir, adiknya jadi menjauh darinya. Namun semenjak menikah ia melihat adiknya itu jadi sedikit berbeda, Vir yang dulu dingin dan cuek kini sudah selalu membalas setiap ucapannya meskipun terkadang ketus. hal itu membuat Vino tertarik untuk selalu memancing agar Vir mau meresponnya.


"Damn, kau malah memerintah ku!" Vir beranjak dari duduknya dan pergi mengambilkan minum untuk Vino.


Vino terus tersenyum hingga Vir kembali dengan membawa secangkir teh hangat untuknya.


"Wow kau sudah pandai membuat teh rupanya, pasti ibu akan bangga jika mengetahui hal ini" puji Vino pada Vir yang baginya skil adiknya itu semakin bertambah semenjak sudah menikah


"Jangan memuji ku dulu sebelum mencobanya!!" ketus Vir, ia menyilangkan kakinya seraya bersandar di sofa dan bertumpu pada kedua tangannya yang melnyilang tepat di belakang leher.


"Huppptt!!" Vino menyemburkan kembali teh yang baru setengah ia minum

__ADS_1


Entah terlalu panas atau karena rasanya memang tidak enak sehingga membuat ia seperti itu.


Vir terkekeh melihat wajah Vino yang memerah


"Damn boy!! Teh macam apa ini..? Hambar seperti air tawar! Ck, aku ralat ucapan ku! jika seperti ini aku dan ibu tidak jadi bangga pada mu" Vino meraih tisu di meja kemudian membersihkan mulutnya


"Hahaha ini pertama kali ku membuat teh, karena kau tamu jauh jadi aku memberanikan diri untuk mencobanya! Spesial request, just For you brother" memajukan wajahnya seraya nyengir kuda


Vir merasa puas sudah mengerjai Vino, Bukan mengerjai. Lebih tepatnya ia memang tidak tahu cara membuat teh degan benar, kemudian dia dengan percaya dirinya malah menyuguhkan teh hasil buatannya pada sang kakak yang malah berakhir seperti ini..


Vino sama sekali tak merespon ucapan adiknya.


"Vin kau belum menjawab pertanyaan ku, kenapa ingin pindah? lalu Ayah dan ibu bagaimana? dan kenapa kau malah kemari bukan ke mansion?"sambung Vir yang masih begitu penasaran.


"Besok saja Vir, aku ingin tidur! Rasanya tubuh ku seperti remuk redam" Vino menguap sambil merentangkan tangannya.


"Cih, dasar lemah! Ya sudah istirahatlah dulu! Besok aku akan kembali meminta Jawaban mu" Vi beranjak dari duduknya.


Ia membantu Vino menarik kopernya menuju kamar Aileen yang akan Vino tempati.


Hal itu membuat Vino tersenyum bangga “kau sudah banyak berubah Vir, Aku bangga pada mu!!!" menepuk bahu Vir hingga membuatnya menatap jengah pada Vino.


“Bawa saja sendiri!” Vir kembali menyerahkan koper itu pada Vino.


"Baru juga dipuji sudah kumat" Vino menggeleng, Ia pikir adiknya sudah benar-benar berubah sepenuhnya. Nyatanya masih seperti dulu


Vir terus berjalan meninggalkan Vino yang masih tertinggal jauh di belakangnya.


"Oh iya Vir, adik ipar ku dimana?"


"Jika bertanya sekarang tentu kau tidak akan melihatnya, dia sudah tidur!"


"Oh"


Vir membukakan pintu kamar untuk Vino.


Vino masuk ke dalamnya


"Istirahatlah dengan tenang!" ucap Vir yang kemudian menutup pintu lalu melangkah menuju kamarnya


"Adik kurang ajar! memangnya kau pikir aku akan mati!!" umpat Vino seraya berjalan ke arah ranjang


"Vir, Virendra!"

__ADS_1


Baru berjalan beberapa langkah, Vino sudah berteriak memanggil namanya, membuat Vir mendengkus kesal sambil berbalik ke kamar itu


"Ada apa lagi?" Vir menengok dari balik pintu yang sedikit terbuka.


Vino menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan membuat Vir mengerutkan keningnya.


Vino menghela nafas "Apa kau akan Menyuruh ku tidur di sini?" tunjuk Vir pada tempat tidur yang biasa Aileen tempati


"Memangnya kenapa? itu kan tempat tidur juga!"


"Ck, Kemarilah" Vino menjentikkan jarinya agar Vir masuk "Lihatlah, apa kau akan menyuruh ku tidur di atas noda darah seperti ini?" tunjuk Vino pada noda darah yang melekat pada seprai putih itu.


Vir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


Damn! Bagaimana aku bisa melupakan seprei itu.


Vir mengutuki dirinya yang begitu cerobohnya melupakan jika di kamar itu masih ada seprei yang belum ia ganti, bahkan di sana masih ada lukisan bukti percintaannya dengan Aileen tadi.


"Kucing sialan!" kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Vir, membuat Vino menatapnya heran


"Apa?"


"Eh.. itu, tadi sore kata Aileen ada kucing yang melahirkan di atas tempat tidur ini. Mungkin ini darah kucing yang Aileen maksud" ucap Vir dengan berlagak sok lugu


Lihat lah betapa pandainya seorang Vir bersandiwara, bahkan ia dengan lihainya mencari alasan yang tepat, entah darimana ide kucing melahirkan itu terlintas di otaknya namun setidaknya ia berhasil membuat Vino percaya dengan bualannya itu.


Vino hanya mengangguk mengerti seraya memandangi bercak darah yang tidak begitu banyak di atas tempat tidur.


"Kalau begitu gantikan aku seprainya, Aku sudah sangat mengantuk Vir" untuk yang kesekian kalinya Vino kembali menguap, sepertinya ia benar-benar mengantuk dan kelelahan.


"Aku tidak bisa memasangnya, kalau mau ganti saja sendiri" ujar Vir yang sama sekali tidak bisa melakukan pekerjaan seperti itu.


"Ck, ya sudah mana seprainya biar aku pasang sendiri" Sebenarnya Vino pun sama, ia tak bisa melakukannya, namun daripada tidak ada pilihan lain ia akan mencobanya. Toh ia pun tidak mungkin meminta Vir untuk membangunkan Aileen yang sudah tidur


Setelah mengambil seprai yang tersusun di dalam lemari, Vir lalu memberikannya pada Vino.


Setelah itu ia ke luar dari sana dan kembali ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Vir langsung ikut bergabung di samping Aileen yang sudah terlelap nyenyak.


Ia menyibakkan selimutnya agar menutupi tubuh polos istrinya dengan benar.


Vir membawa Aileen kembali ke dalam pelukannya kemudian ikut berlayar bersama ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2