
“Darimana saja Aileen Xavierra? Kenapa baru pulang sekarang?” suara bariton Daddy menggema, yang mana langsung mendapat sikutan dari Mommy.
“Sudahku peringatkan dari tadi, Jangan emosi!” gerutu Mommy dengan suara hampir tak terdengar.
Aileen yang baru masuk di ruang tamu utama langsung menutup pintu. Ia sedikit terperanjat saat mendengar suara daddy dan lirihan Mommy secara bersamaan di belakangnya.
“Daddy, Mommy..” Ia menoleh sambil tersenyum, lalu melangkah dan meraih tangan orang tuanya kemudian menciumnya secara khidmat.
“Vir mana?” tanya Daddy yang heran tak melihat keberadaan Vir. Namun mommy sekali lagi memberinya sikutan
“Vir ke Korea, berangkat jam 6 tadi..” lirih Aileen sambil menghela napas, mencoba mengusir perasaan sedih karena merindukan Vir.
“Ada Ajang penghargaan bergengsi untuk hotel dan tak bisa diwakili...”
Mendengar itu, Daddy Al yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan mereka hanya mampu menghela napas, Ingin sekali ia segera mengkonfrontir keduanya secara bersamaan, namun salah satu Yang ditunggu malah tidak ada.
Ucapan Mommy yang memintanya untuk menahan diri terus terngiang-ngiang. Hal itu, tentu membuat Daddy memutar mata malas saat mendapati Mommy masih saja menatapnya dengan begitu sinis.
“Tolong janga marah ya Dad! kita bicarakan baik-baik.. Ingat Aileen terluka, dia juga pasti syok jika daddy langsung menodongkan berbagai tanya ke mereka!!” begitu kata Mommy memperingatkan sebelumnya.
Membuat Daddy yang siap membombardir Aileen dengan tanya hanya mampu menahan diri.
Aileen Menatap kantong kresek ditangannya “Mommy mau?” ia menyodorkan hasil buruan Dito saat di jalan tadi.
Mommynya hanya menggeleng, sebelum sejurus kemudian ia sudah memandang lekat wajah putrinya yang dipenuhi dengan goresan dan satu luka menonjol terbalut perban.
“Ini parah sekali, Eil..” Lirih Mommy sambil menyentuh wajahnya “Apa bekasnya bisa hilang?” sambungnya lagi dengan raut wajah penuh kecemasan.
Hati ibu mana yang tidak teriris jika melihat kondisi wajah cantik putrinya menjadi penuh luka. Bukannya tidak bisa bertindak atau apa, namun Mommy lebih memilih menahan diri agar tak menyulut emosi Daddy. Sebab jika dia sendiri tak bisa menahan dirinya lalu bagaimana bisa ia mengendalikan suaminya yang sudah sejak tadi ingin menerkam menantunya karena hal ini.
“Hanya luka kecil, Mom.. Pasti hilang! Aku punya obatnya..” lirih Aileen sambil menampakkan senyuman terindah.
“Luka kecil apanya Eil? Hmmmnt” seloroh Mommy sambil membawa Aileen ke dalam dekapannya.
“Lain kali, harus lebih waspada... Jika melihat orang seperti itu lebih baik dihindari! Jangan diladeni sampai berujung seperti ini!”
Aileen hanya mengangguk mendengar petuah Mommy dengan senyuman yang tak pernah pudar.
“Sudah ya Mom, Aku mau ke kamar dulu..” Aileen melepaskan pelukannya “Badanku terasa lengket, bau keringat..” katanya sambil melenggang pergi setelah mendapat anggukan dari Mommy.
Mommy dan Daddy terus menatap Aileen yang melangkah menuju ruang tengah kemudian menghilang di balik dinding.
“See..” Daddy menghela napas sambil menunjuk ke arah Aileen
“Dia punya masalah yang besar tapi tak pernah mau cerita pada keluarganya! Selalu saja ditutupi sendiri, sampai semua jadi bom waktu dan meledak begini...”
Daddy melampiaskan kekesalannya, Ingin sekali ia menuntaskan masalah ini secepatnya. Namun satu dari biang masalah malah tidak ada. Daddy berdecak kesal.
“Aku tahu, Aku hanya meminta Mas untuk tidak emosi...” ujar Mommy sambil melangkah mendekat
“Lagipula Vir juga tidak ada.. Jadi kita bahasnya nanti saja, Jangan menumpahkan masalah ini pada Aileen seorang, Aku yakin dia juga sedih. Terlebih lagi suaminya sedang pergi” lanjut mommy sambil mencoba memberi pengertian
“Dia juga banyak pikiran, biarkan dia tenang dulu. Tunggu sampai Vir datang baru kita bicarakan baik-baik..!”
Sejenak Daddy terdiam, ia seperti tengah memikirkan apa yang istrinya ucapkan. Kemudian berkata “Hmmnt, baiklah.. Kita tunggu Vir! Aku ingin mendengar penjelasan dari keduanya..”
“Nah ini baru Daddy yang bijak!” Mommy mendaratkan ciuman di rahang berbulu milik Daddy.
“Ck, Kau memang begitu lihai merayu!” cibir Dady sambil mengusap bekas ciuman Mommy
“Hmmnnt, tidak mau dicium ya sudah..” Mommy berlalu pergi dan langsung di susul oleh Daddy.
... ________...
Selesai dengan ritual mandi dan serangkaiannya, Aileen langsung ke luar kamar setelah sebelumnya mengoleskan beberapa obat pada lukanya kemudian mengecek ponsel. Takutnya ada panggilan dari Vir nya tersayang.
Namun bukankah konyol jika mengharapkan panggilan dari orang yang jelas-jelas belum sampai, Ini baru 4 jam dari waktu keberangkatan suaminya. otomatis masih sekitar 3 jam an lagi untuk lepas landas di Bandara Internasional Incheon-Seoul.(waktu Indonesia)
Aileen pun melangkah menuruni tangga, ia akan menuju dapur untuk menyantap hasil belanjaan Dito setelah sebelumnya meminta Bi Ijah untuk menyajikan makanannya.
“Tolong siapkan ini, aku akan makan setelah mandi!” katanya pada Bi ijah saat kebetulan berpapasan saat beranjak dari ruang tamu.
Ia pun sudah sampai di ruang makan, terlihat Bi ijah sedang menunggunya di sana.
“Ini makanan yang Nona bawa tadi” ucap Bi Ijah menunjuk makanan yang sudah ia sajikan
“Terimakasih bi” timpal Aileen sambil tersenyum manis.
__ADS_1
“Sama-sama Nona..”
“Ini terlalu banyak bi, Ini untuk bi ijah dan yang lain saja” Aileen memisahkan 4 piring menu makanan yang berbeda lalu menggesernya ke arah Bi ijah.
“Tapi, yang lain sudah makan semua, Nona.” tolak Bi ijah dengan membungkuk sopan.
“Tak apa Bi, bagikan saja! lagi pula ini juga enak dimakan tanpa nasi” Aileen tetap memaksa agar Bi ijah mau membagikan pada semua pelayan yang ada di rumah itu.
“Aku juga tidak bisa kalau harus menghabisinya sendiri.. Setelah itu bibi ke sini lagi, temani saya makan..” dan Aileen mulai menyantap satenya saat Bi Ijah mulai melakukan perintahnya.
“Ohiya Bi, Biyan dimana?” tanyanya saat bi Ijah sudah setengah melangkah
“Ada di kamarnya Nona, setelah makan malam tuan muda langsung ke kamar..”
“Apa mau bibi panggilkan?” tanya Bi ijah saat melihat Aileen tak bergeming.
“Eh, tidak usah.. Bibi antarkan saja makannya pada yang lain, setelah itu langsung kemari! Biar saya yang menemui Biyan”
Mendengar itu bi Ijah pun melanjutkan langkahnya, sementara Ia sendiri mulai beranjak.
Ia yang merasa suntuk, langsung berinisiatif menemui Biyan. Ia ingin Biyan juga merasakan makanan yang dibelinya. Selain karena merasa kesepian, ia juga begitu merindukan adiknya itu.
Dan di sinilah Aileen sekarang, berada di lantai 2 tepat di depan kamar Biyan yang bersebrangan dengan ruang keluarga yang ada si lantai atas.
Aileen mulai mengetuk daun pintu bercat putih itu..
“Biy...?”
“Biyan...”
“Biy..” katanya sambil terus mengulang ketukannya.
Terlihat jelas dari celah kaca yang ada di atas pintu, jika lampu kamar Biyan masih menyala. Itu menandakan yang empunya kamar sama sekali belum tidur.
“Biy, Buka.. ini Aku!!”suaranya makin kencang dengan ketukan yang menggema tiada henti. sudah seperti debt Colector yang ingin menagih hutang.
#Sementara itu, di dalam kamar...
Biyan yang baru selesai menunaikan hajat, ke luar dari kamar mandi. Ia menggerutu sebal saat seseorang mengetuk pintu kamarnya dengan tidak tahu sopan santun.
Denga kesal ia berjalan ke arah pintu sambil menyiapkan berbagai lontaran kata-kata mutiara pada si pengganggu.
“Apa tidak bisa me....”
“Huaaa, Zombie.....!!!!”
Ucapan Biyan mneguap di udara saat matanya menangkap sesosok makhlum menyeramkan dengan rambut terurai, wajah penuh luka seperti Zombie.. Ia pun spontan meneriakinya sambil menutup pintu dengan keras.
Bruak..
Sementara Aileen yang melihat Biyan histeris seperti itu hanya menyerngit heran dengan tingkah aneh sang adik.
Zombie? dimana ada zombie? apa makhluk itu benar-benar ada! Bukankah Zombie hanya ada di dalam Film horor, Ck. Aileen menggelengkan kepalanya.
Namun sesaat kemudian ia tersadar dengan apa yang dimaksud Biyan. Ia baru menyadari jika wajahnya penuh dengan goresan, itu artinya Zombie yang dimaksud adalah dirinya. Aileen tidak terima, apa segitu buruknya wajahnya hingga Biyan sampai tak mengenalinya.
“Biy...kau ini apa-apaan, hah?? Ini Aku..” dengan kesal Aileen kembali menggedor pintu tersebut.
Dugh..
Duugh..
Duggh..
“Aku Aileen, Biy.. buka pintunya!!!” gedorannya makin menjadi saat Biyan tak kunjung membukanya.
Beruntung pintu itu tak terkunci hinga memudahkannya unuk langsung masuk.
Pintu terbuka. Aileen masuk ke dalam bersamaan dengan Biyan yang muncul sambil membawa tongkat baseball koleksinya.
“Hiyaaa, BIYAN... kau ingin memukulku??” teriak Aileen saat Biyan sudah melayangkan tongkatnya ke udaa. Membuatnya spontan mengankat tangan dengan posisi berusaha melindungi diri dari sentuhan tongkat yang bisa saja membuat tubuhnya remuk.
“Biy, Ini aku Aileen.. Bukan Zombie!!!”
Seketika ayunan tangan Biyan melambat dan berhenti total saat nama itu menyeruak dalam indra pendengarannya, menusuk telak ke dalam instingnya. membuat pergerakannya mengudara beberapa centi dari tubuh wanita yang disebutnya Zombie..
...______...
__ADS_1
“Ini... Aku memanggilmu untuk menemaniku makan, bukan untuk menganiaya..” cibir Aileen pada Biyan yang kini duduk di hadapannya dengan wajah terpaku masih menatapnya lekat.
Setelah mengetahui bahwa wanita yang dikiranya Zombie adalah kakaknya membuat Ia melongo dengan wajah cantik Aileen yang jadi lebih mirip Zombie.
“Kau kenapa kak? kenapa mirip Zombie? Apa si brengsek itu melakukan KDRT?” cecar Biyan. Namun bukannya menjawab, Aileen malah menariknya menuju ruang makan.
“Hampir jadi adik durhaka!!!” cibir Aileen sekali lagi sambil terus melahap sate kambing yang menjadi menu favorit dari hasil jelajah kuliner dadakan yang dilakukan Dito tadi.
“Hisss” sunggut Biyan tak terima “Kau memang mirip Zombie kak, menyeramkan!” Biyan bergidik ngeri.
“Sekarang katakan, kenapa wajah mu jadi begini? Vir melakukan KDRT bukan??” tebak Biyan dengan wajah yang sulit diartikan. Antara marah, kasian, merasa lucu dan mengejek bercampur jadi satu di raut wajah tampannya.
Aileen menggeleng.
“Lalu apa?”
“Shhhht..” Aileen mengarahkan telunjuknya ke bibir, mengisyaratkan agar ia jangan berisik. “Aku sedang makan, lagi pula ceritanya panjang..”
Ucapan Aileen makin membuat Biyan penasaran. Apa sebegitu rumitnya hingga ceritanya pun harus sepanjang itu.. Pikir Biyan. Ah tentu rumit, jika tidak mana mungkin kakaknya sampai terluka separah ini.. Pikirnya lagi. Poor Aileen.
“Ini minumnya Nona” Bi ijah muncul dari dapur lalu meletakkan Orange juice di hadapan Aileen
“Makasih Bi Ijah” ucap Aileen dan bi Ijah hanya tersenyum.
“Eh ada tuan muda juga, mau minum apa Tuan?” tanya bi Ijah pada Biyan, Namun pemuda itu hanya menggeleng dengan wajah datar tanpa berniat menjawab sepatah katapun, sudah seperti orang yang sedang berhemat suara. Ya demikianlah Biyan, ia terkenal dengan sikap acuhnya.
“Duduk bi, kita makan sama-sama..”
“Eh, makasih nona. Bibi sudah makan yang tadi di belakang..” Bi ijah nyengir kuda
“Makan lagi bi, masih banyak ini..”
“Tak usah Nona, lagi pula bibi masih ada kerjaan di belakang” Bibi ijah membungkuk hormat kemudian berlalu.
Kini hanya menyisakan dua bersaudara itu saja di ruang makan.
“Makan Biy.. jangan hanya dilihat” kata Aileen pada Biyan yang sedari tadi tak menyentuh makanan apapun
“Sudah kenyang..” ucap Biyan singkat.
“Jadi kau benar-benar hanya duduk untuk menemani ku.. Hmmnt tidak seru..” cibir Aileen. Namun Biyan hanya diam seribu bahasa, ia terus memerhatikan cara makan sang kakak yang begitu lahapnya.
“Ohiya Biy, Opa dan Oma kemana? Aku tidak melihat mereka sedari tadi..”
“Pergi...” jawab Biyan dengan begitu singkat padat dan tidak jelas membuat Aileen berenggut sebal.
“Kemana?”
“Keponakan Om Sam (tangan kanan Daddy Al) menikah..”
“Kenapa Daddy tidak ikut?” tanya Aileen penasaran namun lagi-lagi Biyan hanya mengedikkan bahu tanda tidak tahu.
Suasana kembali hening beberapa saat, dengan Biyan yang terus menyerngit heran melihat cara makan Aileen yang seperti orang baru dapat jatah makanan.
“Itu lapar atau rakus?” cibirnya
“Diam, jangan merusak suasana!”
Biyan hanya memutar mata malas, membuat Ia yang begitu penasaran tak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya tentang apa penyebab luka di wajah Aileen.
“Kak wajah mu kenapa?”
“Besok saja ceritanya Biy, aku mengantuk!” sahut Aileen setelah menandaskan air putih ke tenggorokannya lalu meraih tisue kemudian merapikan meja dan meletakkan makanan yang tersisa ke dalam kulkas.
“Idih, menyebalkan.. Kau mengajak ku kemari hanya untuk menonton acara makanmu!” Biyan mulai beranjak dan mengikuti langkah Aileen ke luar dari ruang makan.
“Lagi pula Orang makan tidak boleh langsung tidur, Bukannya katamu tidak baik untuk kesehatan lambung. Bisa mengakibatkan tekanan yang...” ucapan Biyan terjeda seraya mengingat-ingat perkataan Aileen yang sering ia ucapkan dulu setiap kali dirinya hendak berbaring setelah makan.
“...Tekanan lambung meningkat, hingga cairan dan makanan bisa naik ke kerongkongan, Pokoknya banyak lah..” Aileen menyambung ucapan Biyan yang terhenti.
“Nah itu,..” ucap Biyan membenarkan “Tapi kau sendiri malah mau tidur..ckckck”
“Siapa yang mau tidur, aku hanya ingin istirahat di kamar”
“Apa bedanya? Istirahat kemudian tidur..”
“Bedalah..” sunggut Aileen
__ADS_1
“Kalau tidur itu keadaan dimana kesadaran seseorang akan sesuatu menjadi turun tapi kondisi otak tetap mengatur fungsi tubuh lainnya sedangkan Istirahat merupakan keadaan dimana tubuh kita bisa menjadi tenang, relaks pokoknya tanpa tekanan tapi tetap beraktivitas...” tutur Aileen menjelaskan panjang lebar.
“Oh...” jawabnya singkat dengen ber-oh panjang