Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 61


__ADS_3

Siang Hari di Angkasa Land Hotel.


Vir berjalan dengan angkuhnya masuk ke dalam Hotel setelah security pergi membawa mobilnya ke basement. Saat di lobby ia berpapasan dengan Zaky.


Pria itu terlihat ingin menyapa Vir. sepertinya ia ingin berkenalan dengan suami sahabatnya itu namun respon yang ia dapat tak sesuai harapan.


"Hha...” baru Zaky ingin menyapa Vir saat berjalan tepat di sampingnya namun pria itu malah melengos begitu saja membuat Zaky mengurungkan niatnya.


Zaky mengerdikkan bahu seraya menggeleng kecil "It's oke, mungkin dia sedang buru-buru" lirih Zaky seraya kembali melangkah.


Dia memang masih ada beberapa kegiatan di sana, tapi ini merupakan hari terakhir. sore nanti Zaky sudah akan kembali ke rumahnya dan akan menetap di negara ini.


Vir yang sudah ada di ruangannya di sibukkan dengan beberapa File dan berkas yang harus dia baca kemudian di tanda tangani.


Ia mengerjakan semuanya dengan hati senang dan senyum menawan yang terus terpancar dari wajah tampannya. Sepertinya suasana hatinya sedang baik.


"Kelihatannya kau begitu senang? Wajah mu memancarkan sinar seperti bulan purnama, Ada apa?" Ucap Dito yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kemudian ikut duduk di hadapan Vir.


Dito menyodorkan sebuah berkas laporan bulanan data statistik hotel pada sahabat, atasan sekaligus partnert bisnisnya itu.


"Apa wajah ku kelihatan seperti bulan purnama?" Vir berbalik bertanya pada Dito. ia meraih berkas yang Dito berikan, kemudian mengeceknya satu-persatu.


"Ck, Itu perumpamaan bodoh!! Kau ini pintar dalam segala hal tapi kenapa soal perumpamaan seperti ini saja otak mu menciut" ledek Dito seraya meraih kopi milik Vir dan menghirupnya.


Begitulah Dito, Ia selalu dengan tidak tahu malunya menyikat apa yang Vir miliki. Tapi tidak dengan pasangan ya, sebagai sahabat yang baik dia masih tahu diri.


Dito tidak sungkan-sungkan untuk mencicipi kopi milik sahabatnya itu. Mungkin karena sudah lama bersahabat jadi tidak ada kecanggungan lagi. Dan Vir pun terlihat santai saat Dito meminum kopi miliknya.


"Ada apa dengan mu?" tanya Dito yang melihat wajah Vir berbeda dari hari sebelumnya, hari ini Vir kelihatan begitu enerjik


"Tidak ada apa-apa" sahut Vir santai, ia masih fokus membaca berkas yang Dito berikan.


"Jangan coba-coba membohongi ku" Dito memajukan kepalanya kemudian menatap lekat wajah Vir, ia seolah sedang mencari tahu apa yang terjadi dari raut wajah itu


"Aku tahu sesuatu!" Dito menjentikkan jari, kemudian kembali duduk bersandar di kursi.


"Cih, Jangan sok tahu!" Vir berdecih sebal pada sahabatnya yang sudah seperti pakar ekspresi itu.


"Kau kelihatan seperti kumbang yang baru saja menyesap madu.. hmmmnt, Kau sudah menyesap madu dimana?" ucapan Dito membuat Vir sekilas menatapnya


"Kau sudah bercinta bukan?" sambung Dito blak-blakan dengan senyum menyelidik.


Walaupun yang di ucapkan Dito benar adanya namun Vir malah membalas tatapan Dito dengan tatapan tidak suka, ia seolah mengatan Kau ini terlalu sok tahu..


"ck, Vir! Jangan melupakan siapa aku, walaupun aku sudah taubat tapi aku ini pernah jadi pemain pro dalam hal itu, jadi aku tahu gelagat mu! apa kau sudah bercinta dengan Eil?" cecar Dito dengan begitu hebohnya, Entah mengapa ia yang senang bukan kepalang saat bisa melihat hal itu dari raut wajah Vir


Ya begitulah Dito, dia yang dulunya playboy sering menservice setiap wanita yang ia kencani, tentunya dengan cara yang aman dan bersih! Ia sendiri tidak ingin ambil resiko. walaupun begitu yang dia lakukan tetap dosa besar.


Ia mulai mengenal hal kotor itu saat mereka masih bersahabat dengan Niko. Niko yang mengajak Dito pertama kali mencobanya di Club. Hingga membuatnya ketagihan dengan surga dunia yang disuguhkan para wanita di sana.


Namun semenjak Vir menikah dan mendapatkan istri yang merupakan wanita idaman baginya, perlahan ia mulai menghilangkan kebiasaan buruknya itu.


Dia berniat ingin menjadi orang baik agar mendapat jodoh yang baik pula.


Di antara circle pertemanan mereka dulu, hanya Vir lah yang masih bersih dan bisa menjaga dirinya sampai saat ini. Dulu ketiganya pun memang sering ke Club, hanya saja saat kedua sahabatnya mencoba hal kotor, Paling Vir hanya mencoba beberapa minuman saja, itupun tak sampai membuatnya mabuk.


Itulah sebabnya Dito sedikit tahu arti raut wajah Vir, bukankah kita belajar dari sebuah pengalaman. Ia pernah melakukannya, Tentu Dito juga tahu bagaimana ekspresi seseorang yang sudah melakukan itu.


"Dasar orang gila! Otak se*******ngan bicara mu selalu tentang s*x!" umpat Vir yang kemudian beranjak dari kursinya, Ia melangkah ke luar, meninggalkan Dito yang masih duduk di sana.

__ADS_1


Dito tersenyum melihat Vir yang salah tingkah. Walaupun Vir tidak mengatakannya namun ia begitu yakin jika Vir memang sudah bercinta, dan dengan siapa Vir bercinta tentu dia juga tahu sendiri siapa jawabannya.


"Com on dude! Katakan kalau yang ku ucapkan memang benar adanya bukan!" teriak Dito pada Vir yang sudah di ambang pintu


"Diam otak me*um, otak kotor mu itu perlu di service" timpal Vir tanpa berbalik.


"Mei panggil bagian Housekeeping untuk merombak interior dan dekorasi ruangan ku" perintah Vir pada sekertarisnya yang ruangannya tepat berada di tengah-tengah antara ruangannya dengan Dito, Hanya saja ukuran ruangan Mei lebih kecil dan hanya berdinding kaca.


"Baik pak" ucap Mei sopan


Jika bosan Vir memang selalu mengubah dekorasi ruangannya untuk mencari suasana baru.


"Oh iya, jangan lupa pajang foto pernikahan ku juga di sana" Vir yang sudah setengah jalan, berbalik hanya untuk mengatakan itu.


Mei menyahut mengiyakan perintah bosnya itu.


"Huh astaga, dimana aku bisa menemukan foto pernikahannya" Mei kebingungan sendiri dengan perintah terakhir bosnya, Ia tidak tahu harus mencari dimana foto pernikahan itu


Apalagi mengingat pernikahan Vir dan Aileen waktu itu di tutup rapat dari media, sudah tentu akan sulit menemukan photonya di internet.


"Kenapa harus pusing-pusing, aku kan bisa meminta pada Pak Dito. Dia pasti punya foto itu" Mei menjentikkan jarinya dan tersenyum lalu kembali ke mejanya.


****


Setelah bolak balik mengurus domisili perusahaannya. Vino yang di dampingi asistennya itu merasa penat, keduanya lalu menepikan mobil itu ke sebuah Restoran yang cukup terkenal di sana.


Vino sendiri sudah mampir ke mansion untuk mengambil mobil.


Ia dan asistennya itu berjalan memasuki Cafe


Saat melalui pintu otomatis mereka melalui dua orang pria yang cukup ia kenal.


"Hey Man, Kau ada di sini? kapan tiba?" ucap Pria yang kelihatan lebih dewasa dari pria yang satunya


Pria tadi juga ikut menjabat tangan asisten Vino yang merupakan bule peranakan Indonesia. hanya saja ia besar dan tinggal di Singapura.. pria bernama Arlond itu sudah bersahabat dengan Vino sejak Vino kuliah di negara itu.


"Shakeel!"


"Arlond"


Ucap keduanya saling memperkenalkan diri


Ya dua pria yang bertemu Vino itu adalah sepupu dari iparnya.


"Kenapa kau diam saja, ayo salaman!" bisik Shakeel pada Biyan yang sedari tadi menatap Vino dengan tatapan datar tanpa berniat menyapanya


"Ck, aku tidak sudi bersalaman dengan saudara pria itu" ucap Biyan yang langsung mendapat sikutan dari Keil.


Begitu lah Biyan, jika sudah tak suka pada satu orang maka dia juga akan tak suka pada keluarga orang tersebut.


Siapa lagi yang dia benci kalau bukan kakak iparnya, semenjak Vir mengusirnya dan kejadian di restoran malam itu Biyan hilang respect padanya.


"Halo Bi, ini adiknya Aileen kan" Vino menyapa Biyan duluan seraya mengulurkan tangannya.


Dengan terpaksa Biyan pun membalas uluran tangan itu.


Keempat pria itu kemudian masuk ke dalam Restoran. padahal tadi Shakeel dan Biyan sudah ingin kembali namun Keil mengurungkan niatnya dan berniat berbincang bersama Vino dan rekannya.


Mereka terlihat akrab satu sama lain, Sejak dulu Keil memang cukup akrab dengan Vino.

__ADS_1


Sementara Biyan yang paling muda di antara mereka bisa menilai jika kakak dari iparnya itu sangat berbeda dengan sang adik.


"Ternyata dia cukup baik" bisik Biyan dengan berlagak sok menatap ke belakang padahal ia sedang berbisik dengan mulut yang tidak kelihatan kentara jika dia sedang berbisik.


"Makanya jangan menilai semua orang sama, dia memang bersaudara tapi bisa jadi sifatnya berbeda! Bersaudara belum tentu sama, contohnya kau dan Eil kalian sangat berbeda!" timpal Shakeel dengan tersenyum canggung ke arah Vino dan Arlond.


"Cih" Biyan berdecih saat kakak sepupunya itu malah membeda-bedakan ia dengan Aileen


"Kenapa bukan dia saja yang menjadi suami ibu dokter, pasti Eil akan bahagia" ucap Biyan yang mana langsung mendapat sikutan dari Shakeel membuat ia langsung bungkam seketika.


🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️


Vir memarkirkan mobilnya di depan sebuah butik yang cukup besar dan ramai pengunjung.


Ia berjalan masuk sambil memecet tombol pada kunci mobilnya.


Vir masuk ke dalam Butik itu.


Semua staf di sana sudah tidak asing lagi dengan pria yang datang itu, Ia tahu siapa Vir dan apa hubungannya dengan bos mereka


Akan tetapi belakangan ini dia sudah jarang terlihat mampir ke sana. tidak seperti dulu sebelum bos mereka sakit, hampir setiap hari pria tampan itu selalu berkunjung ke butik ini.


Semua staf yang Vir lalui tersenyum ramah pada Vir, mereka tahu siapa yang akan di temuinya.


Vir tak membalas senyuman para staf itu, ia hanya menganggukkan kepala sekilas dengan melangkah menuju lantai atas tempat ruangan pemilik butik berada.


Tanpa permisi. Vir langsung membuka pintu, membuat wanita yang sedang duduk di meja kerjanya langsung menoleh ke arahnya.


"Sayang.." Wanita itu beranjak dari duduknya


Ia tersenyum kemudian berjalan ke arah Vir yang sudah masuk dan pintu pun kembali tertutup.


Fia senang kekasihnya menghampirinya lebih dulu, itu artinya dia sudah tidak marah lagi. Mengingat terakhir kali mereka bertemu saat Vir menghampirinya dan marah padanya karena cerita bohong yang ia buat.


Fia tersenyum kemudian langsung memeluk Vir.


Vir membalas pelukan itu, namun hanya sebentar lalu kembali menurunkan tangannya.


"Aku senang kau kemari" ucap Fia melepas pelukannya kemudian beralih mengecup bibir Vir namun kali ini Vir sama sekali tak membalasnya dan tidak juga menolak, Ia membiarkan Fia melakukannya sendiri.


"Fi, cukup!" Vir menghentikan tangan Fia yang mulai liar menyentuh tubuhnya. Vir sedikit mendorong Fia menjauh dari tubuhnya.


Dari dulu Fia memang selalu begini, setiap kali Vir marah padanya kemudian kembali berbaikan ia selalu berusaha melakukan hal seperti ini, seolah menggoda Vir untuk melakukan suatu hal yang lebih.


Namun Vir selalu menolak, ia masih bisa menahan diri dan punya kesadaran untuk tidak menabur benih sembarangan sebelum adanya ikatan pernikahan.


"Kenapa dari dulu kau tidak pernah ingin menyentuh ku? Aku sangat menginginkan itu" ucap Fia


"Fi, tidak bisa begitu. Kita tidak punya ikatan yang sah!" Cegah Vir yang tidak ingin Fia seperti ini. ia kemari karena ingi menyampaikan suatau hal padanya


Fia tersenyum kecut "Tapi kenapa, kita kan Sepasang kekasih, kita saling mencintai lalu kenapa tidak? Mungkin dengan cara seperti ini orang tua mu akan merestui hubungan kita"


Fia terdiam sejenak sebelum kembali meneruskan ucapannya "Oh apa artinya kau hanya ingin menyentuh wanita itu, dia kan istri mu" cecar Fia yang sudah mulai emosi setiap kali mengingat kenyataan bahwa kini kekasihnya itu bukanlah satu-satunya untuknya melainkan dia sudah memiliki wanita lain yang statusnya jauh lebih tinggi daripada dirinya.


Vir berdecak sambi menggeleng kecil


"Jangan membahas itu! aku kemari tidak ingin berdebat, ada yang ingin ku sampaikan"


Fia menghela nafas berusaha menenangkan diri

__ADS_1


"Apa?" Lirihnya seraya menatap lekat wajah sang kekasih


"Kita duduk dulu" Vir membawa Fia duduk di sofa.


__ADS_2