Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 142


__ADS_3

Alasan kenapa dulu Ayah dan Ibu tak merestui hubungan mereka terus memenuhi kepala Vir. Ia begitu menyesal pernah menjadi seorang pembangkang hanya karena orang seperti Fia. Bahkan kini ia pun harus kehilangan sosok Ayah hanya karena keegoisan dan ambisi wanita itu. Virendra begitu menyesal, ia sangatlah menyesali mengapa dulu begitu dibutakan cinta. Namun, semua sudah terjadi dan berlalu. Air matanya kembali menetes dalam keheningan, dalam hati Virendra bertekad ingin menjadi orang yang lebih baik lagi dan akan menjaga ibunya dengan baik. Ia tak ingin menyesal sebagaimana penyesalannya setelah kehilangan Ayah.


Virendra menghela napas, sudah lama ia duduk termenung semenjak ibu dan Vino keluar tanpa menghiraukan seseorang yang tengah duduk di sampingnya. Ia menoleh pada Aileen yang seperti tengah memberinya waktu untuk berpikir tanpa mengatakan sepatah katapun sedari tadi. Virendra balas tersenyum saat Aileen tersenyum padanya.


Sekali lagi helaan napas terdengar bersamaan dengan tangan Vir yang meraih jemari Aileen dan menggenggamnya begitu erat.


“Terima kasih sudah bertahan hingga saat ini!" Dengan tulus dan penuh kasih sayang Vir mengecup tangan Aileen begitu dalam kemudian menarik Aileen ke dalam dekapannya.


Wanita yang kehamilannya sudah di trimester akhir itu pun berusaha bergeser agar Virendra bisa lebih mendekapnya, mengingat kondisi kaki Vir yang belum pulih seutuhnya. Aileen memejamkan mata menikmati pelukan tersebut. Ia selalu saja merasa nyaman setiap kali bersandar pada dada kokoh yang menjadi tempat favoritnya itu.


“Maaf karena masih belum bisa melayani mu dengan baik.” Lirih Vir dengan suara parau sambil terus mengecup puncak kepala Aileen.


“Disaat seperti ini seharusnya akulah yang melayani mu, menjagamu setiap waktu, bukan malah terbalik seperti ini.” Virendra benar-benar merasa tak berdaya. Ia tahu betul, seharusnya saat ini dirinya lah yang berperan penting untuk membantu Aileen di masa kehamilan yang sudah mendekati persalinan ini.


Sementara Aileen yang mendengar ucapan Vir hanya bisa menangis dalam hati. Ia tak ingin terlihat sedih di hadapan Vir, tentu itu bisa membuat suaminya itu kian merasa bersalah. Meski sebenarnya di saat seperti inilah ia begitu membutuhkan pelayanan dan bantuan dari sang suami, tapi Aileen pun mengerti akan kondisi itu. Baginya ini lebih baik daripada kondisi beberapa bulan lalu, saat ia hanya bisa melihat Vir tak berdaya di atas branker rumah sakit.


Aileen merenggangkan pelukannya, kedua tangan yang kini lumayan berisi itu menangkup wajah lesu Virendra.

__ADS_1


“Jangan memikirkan hal yang tidak seharusnya!" Lirih Aileen dengan lembut, “Kau ada di sini saja aku sudah merasa sangat bersyukur.”


“Semangat ya, kita harus bahagia untuk menyambut kehadirannya!" Kini tangan Aileen tergerak mengarahkan tangan Vir menyentuh perutnya yang sudah sangat besar dan kencang.


“Dia pasti bangga punya Daddy yang kuat..!”


Dengan mata berkaca-kaca Vir terus memperhatikan wajah Aileen dan perutnya secara bersamaan. Dalam hati ia terus memikirkan betapa kuatnya Aileen melewati masa kehamilan tanpa kehadirannya saat koma dulu. Ia menyesali begitu banyak moment yang ia lewatkan bersama istri dan calon anaknya. Bahkan kini sadar pun ia sama sekali tak dapat melakukan banyak hal untuk mereka, sungguh Vir merasa sangat tak berdaya. Namun satu pergerakan tak seberapa di balik kulit tebal di bawah tangannya membuyarkan lamunannya, kesedihan yang tadinya menyeruak tiba-tiba berubah menjadi senyum berseri.


“Dia bergerak!" Ucap Vir dengan antusias, wajah sendu nan datar itu kini beralih tersenyum lebar. Gerakan seperti ini sudah sering ia rasakan semenjak sadar dari koma, tapi entah mengapa perasaan antusias itu selalu bisa menggetarkan hatinya. Bahkan Aileen ikut tersenyum melihat ekspresi sang suami.


“Hey, apa ingin main dengan Daddy? Adek rindu sama Daddy ya?” Tanyanya dengan wajah yang kian mendekat ke arah baby bump yang begitu menonjol.


“Kenapa pergerakannya tidak sekuat hari-hari sebelumnya, Eil?" Dengan wajah heran Vir menatap wajah Aileen dengan rasa was-was sebab merasa tendangan calon bayinya sudah tak begitu aktif seperti biasa.


“Jangan khawatir, bukan apa-apa!" Aileen tersenyum sekaligus mengusap wajah Vir saat pria itu terlihat begitu panik.


“Kalau sudah trimester akhir, dan sudah mendekati hari persalinan memang seperti itu, sayang!" Satu kecupan lembut mendarat di pipi Vir yang masih menampakkan wajah cemas sekaligus heran.

__ADS_1


“Pergerakannya memang lebih berkurang karena sudah memasuki area jalan lahir...”


Belum sempat Aileen menyelesaikan ucapannya, Vir sudah menyelanya lebih dulu. Wajah cemas yang tadi ditampakkannya kini kembali berseri.


“Apa itu artinya dia akan segera lahir?” Tanyanya begitu antusias, “Kapan perkiraannya?” Cecar Vir lagi.


Bukannya menjawab, Aileen justru beranjak dari sana kemudian melangkah mencari Tote bag yang sering ia gunakan saat pemeriksaan kandungan, yang berisi buku pink dan lembaran hasil pemeriksaan selama hamil.


Aileen kembali duduk sekaligus membuka lembaran pemeriksaan ibu hamil di buku pink, ia juga memperlihatkan satu lembar foto berbentuk polaroid


“Perkiraan dokter dan yang di sini hanya beda beberapa hari.” Jelas Aileen, “Perkiraan dokter lebih cepat dari hasil Usg terakhir." Jelas Aileen seraya menunjuk tanggal yang tertera pada lembar buku pink dan hasil USG tersebut.


Virendra membaca dua tanggal perkiraan yang selisih harinya sedikit berbeda, “Dua minggu lagi?” Sergahnya dengan begitu antusias, sambil memegang tangan Aileen. Anggukan sang istri membuat ia semakin bersemangat.


“Kalau begitu kemarilah, kau harus beristirahat. Besok kita jalan-jalan pagi lagi." Tangan Vir bergerak dengan cepat memindahkan buku dan segala hasil pemeriksaan ke atas nakas, kemudian secara perlahan ia menarik Aileen agar berbaring di sampingnya.


Aileen yang melihat itu hanya tersenyum haru, ia benar-benar merasa berbeda. Sejak Vir kembali, pria itu memang selalu memberinya perhatian meski dalam kondisinya yang seperti ini. Salah satunya seperti, Vir selalu saja antusias membangunkannya di pagi hari hanya untuk melakukan jalan pagi dan olahraga ringan lainnya.

__ADS_1


“Ternyata sebentar lagi kita akan bertemu, nak!" Selorohnya sambil memakaikan selimut pada tubuh Aileen, “istirahatlah!" Satu kecupan mendarat di kening Aileen. Virendra pun mulai memadamkan lampu nakas, kemudian ikut berbaring dengan tangan yang terus tergerak mengusap perut Aileen yang tidur membelakanginya.


“Sekali lagi terima kasih sudah berjuang sendiri sampai sejauh ini." Kecupan kembali mendarat di kepala Aileen.


__ADS_2