Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 143


__ADS_3

Pagi itu Aileen tengah jalan-jalan pagi dengan Mommy dan Daddynya. Meski tak setiap hari, kedua orang tuanya selalu menyempatkan diri untuk menjenguk Aileen dan Virendra. Berhubung hari ini hari minggu, jadilah Daddy Al dan Mommy Jesicca menemani putri mereka jalan-jalan santai di sekitar kompleks perumahan itu.


“Kalau capek istirahat dulu, Eil!" Kata Mommy saat melihat Aileen berhenti sejenak seraya mengusap buliran keringat yang menetes di pelipisnya.


“Sebentar mom, tanggung!" Wanita hamil yang mengenakan legging hitam dipadukan dengan kaos over size berwarna putih itu kembali melanjutkan langkahnya. Ya, seperti kebiasaan sejak awal hamil dulu, Aileen masih saja suka mengenakan kaos over size milik Virendra. Selain simpel, mungkin ia juga merasa nyaman menggunakan kaos milik suaminya itu.


“Kita istirahat di kursi pinggir taman itu saja, ya!" Ucap Aileen sambil berbalik menengok Mommy dan Daddy yang berjalan di belakangnya sambil membawa botol air minum.


“Ini kalau Vir ikut pasti dia sudah memaksamu untuk istirahat, Eil!" Seloroh Daddy yang sudah merasa lelah sebab sejak tadi Aileen sama sekali tak ingin diajak beristirahat sejenak


Ya, Vir memang tidak ikut menemani Aileen jalan-jalan sebagaimana antusiasnya ia semalam. Tadi pria itu masih saja terlelap sehingga membuat Aileen enggan untuk mengganggu tidurnya. Aileen pikir, sebaiknya ia membiarkan suaminya itu istirahat.


Sementara mommy hanya terkekeh melihat suaminya mengeluh, “baru begini sudah lelah, cemen!”


“Baru menemani jalan, belum juga gendong cucu sudah selemah ini, hmmmnt” Sarkas mommy Jessica sambil melirik Daddy.


Tak disangka, ucapan Mommy barusan justru membuat Daddy Al langsung bersemangat dan segera berlari menghampiri Aileen yang baru saja mendudukkan diri di kursi tepat pinggir taman yang ada di dalam kompleks tersebut.


“Baru jalan begitu saja sudah lemah, belum juga gendong cucu!” Daddy balik meneriaki Mommy yang tertawa lebar sambil berjalan ke arah mereka.


“Mommy mu lemah Eil, jalan santai saja lelet bagaimana nanti kalau menjaga cucunya!” Ejek daddy Al sambil menyerahkan botol air minum kepada Aileen.


Aileen sendiri hanya terkekeh melihat kelakuan orang tuanya. Kini ia benar-benar merasa keluarganya sudah begitu lengkap.


“Jangan dengarkan Daddy mu, Eil! Tadi dialah yang mengeluh karena kau tidak mau diajak istirahat." sergah mommy tak mau kalah, "Jadi sudah jelas siapa yang lemah!" Mommy pun ikut duduk di samping Aileen.


...


Sementara itu, di rumah Ibu Melinda. Vir yang baru bangun dari tidur langsung menelpon Vino untuk membantunya naik ke atas kursi roda. Ia yang tak mendapati Aileen berada di kamar langsung menampakkan wajah kesal, tepatnya kesal pada diri sendiri sebab harus bangun kesiangan, membuat ia harus melewati waktu jalan pagi bersama istrinya.


“Kenapa lama sekali, Vin?"


“Kenapa kau yang muncul?” Sergahnya saat yang datang bukanlah Vino melainkan sahabat gesreknya, Dito.


Dito melangkah sambil tersenyum sumringah kepada Vir. Ia yang muncul dengan penampilan rapi menggunakan setelan kemeja pada hari libur seperti ini membuat Vir menyerngit heran dan kembali bertanya.


“Kenapa kau rapi begini? Bukannya ini hari minggu?" Namun, bukannya menjawab, Dito justru segera membantu Vir untuk segera naik ke kursi roda dan mendorong kursi roda menuju lantai bawah.


Virendra sendiri sempat kesal saat Dito sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.Tetapi, begitu sampai di ruang makan, pikiran Vir langsung tertuju pada Aileen yang sama sekali tidak berada di sana. Sedangkan Ibu dan Vino ada, lalu dimana istrinya? Apakah masih belum kembali dari jalan-jalan pagi? Tapi dengan siapa? Tanya Vir dalam hati sambil celingak-celinguk memerhatikan pelayan yang sedang menyiapkan sarapan.

__ADS_1


“Kau pasti mencari Eil, kan?” Tebak Vino sambil menyeruput kopi hitam yang ada di hadapannya.


Vir yang hanya mengangguk sambil memperhatikan Dito yang juga ikut menyeruput kopi langsung mencebikkan bibir.


Raut wajah orang patah hati memang menyebalkan! Ejek Vir membatin.


“Dia jalan-jalan dengan siapa kalau kau dan ibu ada di sini?" Vir beralih menatap Ibu dan Vino secara bergantian dengan raut wajah khawatir memikirkan dengan siapa Aileennya pergi. Dalam hati ia menyesali kenapa tidak bangun lebih awal jika tahu begini.


“Tenang Vir, tadi Bu Jessica dan Tuan Al datang, dan Eil pergi dengan mereka." Sahut Ibu sambil mengupas buah-buahan untuk dijadikan pencuci mulut.


Vir yang mendengar itu langsung memutar arah kursi rodanya untuk menunju ke teras. Belum jauh ia bergeser, seseorang meraih kursi roda itu dan mengantarnya ke depan. Hal itu membuat Vir menoleh sekilah, ia kembali menatap lurus ke depan saat tahu Dito lah yang sedang menuntunnya.


“Kalau butuh bantuan bilang!"


Vir sama sekali tak menghiraukan ucapan Dito, ia tahu betul sahabatnya itu bersikap dingin hanya karena sedang galau berat. Tapi Yang membuat Vir tidak senang adalah, kenapa Dito harus bersikap seperti ini. Sebelumnya ia sama sekali tak pernah melihat Dito bersikap semenyebalkan ini. Namun sepertinya jatuh cinta dan patah hati membuat otaknya agak bergeser sehingga sikapnya pun berubah.


“Sok keras!" Cebik Vir dengan suara yang hampir tak terdengar. Samar-samar, tapi Dito masih bisa mendengarnya.


“Orang yang biasa receh jadi sok kalem!" Vir terus saja mengoceh. Wajah kesalnya itu kian bertambah saat Dito malah berhenti tepat di ruang tamu. Ada apa lagi makhluk galau ini? pikirnya.


Vir terus memperhatikan langkah Dito yang berhenti di sisi meja dengan tangan yang meraih sebuah map cokelat. Dito kembali melangkah ke arahnya dan hendak menyerahkan map tersebut beserta mengeluarkan sebuah pulpen dari saku celananya.


Vir menatap Dito dengan tangan yang meraih surat tersebut.


“Tanda tangan di situ, hari ini aku akan berangkat untuk pertemuan besok mengenai kerja sama project hotel di Lombok." Jelas Dito sambil menyeringai.


“Projectnya sudah ACC? Sejak kapan?" Vir mulai membubuhkan tanda tangannya di atas materai tepat dimana namanya tertera.


“Sebulan yang lalu, ini surat perjanjian kerja samanya. Kau tidak ingin membacanya?" Dito meraih map yang sudah Vir tanda tangani kemudian menutup pulpennya dan menyimpannya kembali ke dalam saku.


“Tidak usah, aku percaya penuh padamu!" Vir tersenyum sambil memberi jempol pada Dito, ia kelihatan begitu bangga pada sang sahabat yang begitu bertanggung jawab dalam menggantikan posisinya sementara.


“Kerja bagus, Dit!"


Melihat Vir yang seperti itu membuat Dito bergeser tepat ke samping Virendra dan merangkul sahabatnya itu. “Hmmnt, jangan memuji ku berlebihan! Cepatlah pulih, aku lelah mengerjakan semuanya tanpamu!" Keluh Dito yang juga merasa begitu sedih. Selama ini ia begitu bekerja keras demi mewujudkan impian mereka yang ingin membuka hotel kedua mereka dengan cara berkerja sama dengan beberapa pihak.


“Lemah!" Cibir Vir.


“Bukan begitu Vir, lebih tepatnya semuanya lebih terasa ringan jika kita hadapi bersama!" Ujar Dito.

__ADS_1


Virendra yang mendengar itu hanya bisa tersenyum getir, “Doakan yang terbaik, kau tahu aku masih berusaha untuk melewati masa pemulihan ini.”


“Semangat Vir, kau harus semangat!" Ujar Dito menyemangati sambil menepuk bahu Vir tanda ia begitu mengharapkan sahabatnya itu lekas pulih.


“Aih, sudahlah kau jangan bersandiwara!" Celetuk Vir seraya menepis tangan Dito. “Tadi kau datang memasang wajah jutek dan sekarang kau berpura-pura menyemangati ku."


“Aku muak mendengar obrolan menyebalkan mu ini. Aku ingin keluar menunggu Eil!” Vir memutar kursi rodanya menuju teras.


“Ck, apa kau tersinggung?" Protes Dito, “Aku hanya sedang pusing, Vir! Kau tahukan aku sedang berusaha mendekat Nita, dalam waktu dekat ini kata Aileen Zaky ingin melamarnya, sedangkan aku harus dihadapkan dengan tugas ini, bagaimana aku bisa baik-baik saja Vir? Coba bayangkan kau ada di posisi ku!" Ucap Dito panjang lebar, di hadapkan dengan tugas dan kabar yang Aileen berikan pagi tadi benar-benar membuat Dito dilema.


Ya, pagi-pagi sekali, saat bangun tidur Aileen memang mendapat pesan berisi curhatan dari Zaky yang mengatakan dia ingin meminta bantuan dari Aileen untuk melamar Nita. Dari yang Aileen tahu, Zaky tidak ingin melewati tahap pacaran sehingga ia ingin langsung melamar Nita, kalaupun ditolak Zaky akan mundur. Begitu Aileen menjelaskan.


Vir hanya terdiam sejenak kemudian mulai berceletuk, “Gampang, kalau dia menerima Zaky kau tinggal cari wanita lain, untuk apa repot-repot?" Meski kasihan melihat Dito, tapi Vir berusaha menampakkan senyum demi menghibur sahabatnya itu.


“Saran macam apa itu Vir?" Protes Dito tak terima, “Kau ingat di awal pernikahan dulu, saat kau tersesat aku selalu memberikan solusi terbaik. Hmmnt tapi sekarang kau sama sekali tak bisa memberikan solusi!" Ucapan Dito membuat Vir menyerngit.


Benar juga katanya, Dito-Dito. Kau sungguh malang! Ujar Vir membatin.


Baru Vir ingin mencari solusi, ia sudah dibuat menoleh saat mendengar suara Aileen dan kedua mertuanya di halaman.


“Nanti kita bahas lagi ya, Dit. Aku janji akan memberi solusi terbaik!" Vir melayangkan tepukan di lengan Dito, membuat pria malang itu hanya bisa melengos.


“Kenapa pergi tidak mengajak ku?" Tanya Vir saat Aileen langsung menghampirinya.


“Tadi kau tidur, Eil tidak ingin menganggu!" Ujar Mommy dengan tangan yang mengelus sayang rambut sang menantu.


“Ayo masuk dulu, kita sarapan sama-sama!" Ujar Ibu yang baru muncul dari dalam.


“Ayo Dito, makan sama-sama!" Daddy Al yang juga sudah mengenal Dito pun berjalan beriringan bersama. Sedangkan dua wanita paruh baya berjalan lebih dulu sambil mengobrol seru.


Semua sudah bergegas, kecuali Vir dan Aileen. Sebab Vir menahan tangan sang istri, ia terlihat ingin mengatakan sesuatu. Aileen yang melihat itu hanya menyerngit, ia lalu sedikit menunduk saat Vir memberikan kode hendak membisikkan sesuatu padanya.


“Kita sarapan di kamar saja!" Vir mengerling nakal dengan tersenyum penuh arti. Membuat Aileen hanya bisa menghela napas sambil menggeleng.


“Tidak sopan, di sini ada Mommy, Daddy dan Dito. Kita sarapan sama-sama saja, ya!" Bisik Aileen berusaha memberi pengertian. Namun melihat Vir menampakkan wajah memelas membuatnya luluh seketika.


“oke, fine!"


Keputusan Aileen membuat Vir langsung tersenyum penuh kemenangan, “Mereka pasti akan memaklumi keinginan orang sakit yang tak berdaya!" Lagi-lagi ucapan Vir membuat Aileen menggeleng, ia benar-benar merindukan sifat suaminya yang seperti ini. Dan kini pria menyebalkan itu benar-benar sudah kembali.

__ADS_1


“Ini hanya akal-akalan mu saja menjadikan ketidak berdayaan ini sebagai senjata!" Gerutu Aileen yang di susul kecupan di pipi Vir. Setelah itu ia lalu meminta seorang pelayan untuk membantu mengantar Vir ke kamar. Sementara ia sendiri menuju ke ruang makan lebih dulu untuk meminta izin.


__ADS_2