
pagi hari kembali menyapa, sinar surya menelusup melalui celah ruangan.
Seorang pria dengan rambut acak-acakan terlihat merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena semalaman tidur di sofa.
"Huh astaga tubuh ku rasanya seperti remuk karena tidur disini" Vir mengusap wajah kasar dan menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan. Baru kali ini ia merasakan tidur di sofa sehingga membuatnya tersiksa.
Ia mengedarkan pandangan ke arah ranjang, apa dia mencari Aileen? ya wanita itu sudah tidak ada di sana, hanya ada pakaian kerjanyaa yang sudah tertata rapi, bahkan bunga yang menghiasi kamar itupun sudah bersih.
Pintu terbuka, Vir berbalik. dilihatnya Aileen yang sudah rapi mengenakan dress lengan panjang sebetis berwarna putih masuk ke dalam ruangan. rambutnya yang di kuncir kuda membuat wajah mungil dengan hidung mancungnya terlihat seperti barbie.
Vir yang sempat terpukau mengalihkan pandangannya, ia menatap kosong ke arah meja rias yang ada di sisi tempat tidur.
Aileen berjalan mendekat
"Apa badan mu sakit?" dengan ragu ia ikut duduk di sofa
Melihat Vir yang tak bergeming sambil memegangi lehernya, Ia pun memberanikan diri untuk menyentuhnya, berusaha untuk membantu, karena sepertinya pria itu dalam masalah karena posisi tidur yang salah.
Sebenarnya ada rasa takut menyentuh tubuh Vir, namun rasa khawatir melihat vir yang sepertinya kesakitan membuat ia tergerak ingin membantu.
"Jangan menyentuh ku!" Vir menepis tangan Aileen lalu sedikit menggeser posisi duduknya
Aileen yang mendapat penolakan merasa canggung.
"Maaf, aku tidak bermaksud lain, hanya ingin membantu! Anggap saja aku sebagai dokter atau orang lain" katanya masih berusaha membantu.
"Kau kan memang dokter" lirih Vir malas
"Jika dibiarkan ini bisa bahaya, nanti kau tidak bisa ke kantor" ucap Aileen sekali lagi.
Akhirnya Vir pun membiarkan Aileen membantu, daripada harus menahan rasa sakit.
Aileen lalu meraih sebuah botol hot in cream dari dari dalam tasnya, ia sedikit menyibak baju Vir lalu menuangkan sesuatu di sana, dengan telaten ia memijat bagian belakang tubuh Vir
Vir merasa ada desiran aneh di tubuhnya saat tangan Aileen menyentuh kulitnya.
"Ini terjadi karena kau tidur dalam posisi yang tidak baik, Jadi nanti malam tidurlah di ranjang, biar aku yang tidur di sofa" ucap Aileen disela kegiatannya memijat tubuh suaminya
"Sudah selesai"
"Mandilah, setelah itu sarapan! Di bawah sudah ada orang tuaku dan oma opa dari daddy"
Vir mengangguk, ia terlihat jadi lebih pendiam setelah mendapat sentuhan dari Aileen. apakah dia terhipnotis sehingga menjadi penurut seperti itu?? Entahlah, mungkin ia masih bersandiwara.
***
Di ruang makan
Hari ini meja makan terlihat penuh dengan semua keluarga tengah berkumpul. hanya satu kursi yang belum terisi, yaitu kursi di samping Aileen.
"Vir dimana sayang?" Tanya Mommy
"Masih bersiap Mom, tadi dia.. " hampir saja Aileen mengatak jika Vir salah tidur, yang ada semua keluarganya akan bertanya apa penyebabnya, bisa-bisa semua akan curiga jika mereka sama sekali tak pernah tidur bersama
"Dia kenapa Eil?" sahut wanita tua, yang merupakan oma Aileen (Oma Fera) ibu dari Daddy Alfin
"Itu oma, tadi dia terlambat bangun" jawabnya asal tanpa tahu jika pernyataannya itu mengundang tanggapan yang tidak seharusnya ia dengar
"Ah iya, itu biasa terjadi pada pengantin baru!!" Sahut oma Karina
"Ya kalian memang harus lebih giat agar cepat memberikan kami cicit, bahkan mommy mu juga sudah ingin menggedong cucu"
Para tua bangka tertawa bahagia. ya hanya mereka, karena mereka lah yang merencanakan perjodohan ini.
Sementara Aileen, wajah putihnya sudah berubah merah, telinganya panas seketika mendengar pembahasan vulgar.
Bagaimana tidak, bahkan tidur bersama pun dia dan Vir belum pernah. Namun apa ini, mereka malah ingin punya cicit darinya
"Sudahlah jangan membahas hal seperti ini di meja makan, disini ada dua perjaka yang belum menikah" sahut Daddy Al seraya melirik ke arah Biyan dan Shakeel yang terlihat tak suka.
Bukan karena pembahasannya, lebih tepatnya karena seorang pria yang baru datang dan berdiri di sisi Aileen
"Pagi semua! Maaf, karena Aku kalian semua jadi menunggu" katanya
"Tidak masalah Vir, ayo silahkan duduk" suara tua opa Haris mempersilahkan
Vir mengangguk, namun ia malah berjalan ke arah mertuanya memberi salam. Lalu beralih pada Oma fera dan opa Surya.
"Halo By, senang bisa bertemu lagi!!" katanya menyapa Byan
Byan yang merasa kesal, benar-benar tak bisa menyembunyikan ekspresi tak sukanya pada sang ipar, mengingat kesan terakhir yang Vir berikan sangat buruk.
"Jangan sok akrab pada ku.." ketus Biyan
Shakeel menyenggol tangannya, mengisyaratkan agar menjaga sikap.
__ADS_1
Sungguh anak ini tak bisa menyembunyikan rasa tak sukanya, jika dilihat dari sudut pandang yang sama Virendra dan Biyan memiliki banyak kesamaan, salah satunya sama-sama arogan dan keras kepala, berbeda dengan shakeel yang lebih bisa mengontrol diri
"Bi..!!" tegur mommy
"Ah sudah-sudah. Daripada bersitegang, ayo kita mulai sarapannya" sahut opa Surya.
***
"Kau ini darimana Vir? apa kau lupa kemarin katanya akan menemaniku makan malam"
Hari ini Vir menghampiri Fia ke butik.
Ia merasa bersalah karena telah mengabaikan wanita itu sejak kemarin sore.
"Maaf sayang, kemarin aku lembur sampai larut malam"
Lagi-lagi Vir berbohong, hanya itu yang bisa ia lakukan sebelum Fia mengetahui semuanya. ia sendiri masih menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semua pada sang kekasih, lagi pula ia tidak ingin membuat hati wanita yang ia cintai itu terluka
"Kenapa tidak mengabari ku? Bahkan handphone mu pun tidak aktif" Tutur Fia. Ia kesal sehingga tak ingin menatap wajah Vir
"Aku lembur dan tak sempat mencharger handphone ku yang lowbat" memasang wajah memelas, berusaha untuk membujuk sang kekasih yang sedang marah
"Aku minta maaf ya, bagaimna kalau hari ini kita jalan jalan.."
Fia berbalik, wajahnya berbinar Bahagia
"Benarkah? Baiklah, aku maafkan asalkan kita jalan-jalan tapi sambil berbelanja"
Benar saja, usaha terakhirnya membuahkan hasil. Bukankah wanita akan selalu senang jika diajak jalan-jalan apalagi berbelanja, sungguh itu surganya wanita.
Mereka pun ke luar dari butik dan pergi menuju salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota ini.
.
.
Vir berbaring memandang langit-langit kamar. Malam ini ia tidak lagi tidur di sofa, ia tidak ingin tubuhnya sakit seperti pagi tadi, sungguh itu membuatnya tersiksa.
Ia menghela nafas, ingatannya kembali tertuju saat bertemu dengan musuh lamanya siang tadi.
Flashback On
Saat tengah Asyik menemani Fia memilih berbagi macam tas dan sepatu branded, tiba-tiba ada seorang pria berjas menghampiri
"Wow Vir and Fia, Nice to meet you gays!!
Vir menatap kesal, dadanya Bergemuruh menahan amarah yang bergejolak. sungguh suatu kutukan baginya harus bertemu kembali dengan musuh bebuyutan yang pernah menjadi sahabatnya dengan Dito.
Niko! Ya Niko adalah salah satu sahabat Vir, tidak lagi! sekarang bukan sahabat, lebih tepatnya mantan sahabat yang merupakan salah satu alasan Vir tak ingin bekerja kantoran dan memilih membuka hotel bersama Dito. Hanya untuk menghindari Niko yang bekerja sebagai CEO disalah satu perusahaan iklan.
Namun kini mereka kembali bertemu, terlebih lagi Vir sudah menjadi CEO di perusahaan Ayahnya, sudah tentu membuat ia akan lebih sering bertemu denngan Niko, bahkan mungkin akan menjalin kerja sama, mengingat Perusahaan Niko bekerja di bidang periklanan.
Vir tak bergeming, ia masih menatap malas ke arah Niko. Fia pun memegangi bahu vir, berusaha menenangkan.
"Ternyata kalian masih bertahan satu sama lain" seloroh Niko yang membuat vir tak bisa lagi menahan emosi, tangannya mengepal.
Namun sekali lagi Fia menggenggam tangannya berusaha untuk menenangkan
"Bukan ursan mu!!" Ketus Vir
"Tentu itu urusan ku, kau merebut Fia! Sahabat macam apa yang 5 tahun lalu tega merebut kekasih sahabatnya.." tersenyum mengejek
"Niko, Cukup!! itu sudah masalalu, tolong berhenti mengusik kami" kata Fia
"Hahaha kalian berdua sama saja, itulah sebabnya kalian berdua tak mendapat restu, bahkan semesta pun tak merestui hubungan kalian sehingga Vir haruss....."
Vir yang tahu Niko akan mengucapkan apa langsung menarik pria itu menjauh, membuat Fia memicing tak percaya
"Kenapa menarik ku? Ah aku tahu pasti kekasih mu itu tidak tahu kau telah menikah" sarkas Niko
"Aku mohon jangan beri tahu dia sebelum aku memberi tahunya" ucap Vir gusar
"Wow.." Niko bertepuk tangan.
"Kau ini hebat sekali, dasar tamak!! sudah punya istri masih menjalin hubungan dengan wanita lain" ejek Niko
"Aku dijodohkan, dan aku hanya mencintai Fia, jadi tolong jangan bawa masalah kita untuk membocorkan ini pada Fia"
"Aku senang, baru kali ini melihat seorang Virendra memohon padaku hanya untuk menyembunyikan Pernikahannya" Niko terkekeh.
"Ahh baiklah akanku jaga rahasia ini" Niko tersenyum penuh arti
"Tapi aku kasihan pada wanita yang menjadi istri mu itu, nasibnya sungguh malang. aku penasaran seperti apa wajah wanita malang itu" ucap Niko lalu meninggalkan Vir yang masih terpaku geram karenanya
Flashback Off
__ADS_1
"Arggghh, kenapa aku harus bertemu dengannya!!" Vir teriak frustasi
Bagaimana jika dia membocorkan ini. Huhh aku benar-benar lemah dihadapan bangsat itu..
Ini semua terjadi karena pernikahan yang tidak ku inginkan ini...!
Ditengah lamunannya, Vir menatap ke arah Pintu, terlihat Aileen yang mengenakan piyama masuk ke kamar.
Melihat Aileen, Vir semakin kesal mengingat Pernikahan dengannya lah yang membuat hubungannya dengan sang kekasih menjadi rumit.
Vir memalingkan wajah.
Aileen pun hanya menarik nafas dalam. ia sudah terbiasa menghadapi sikap Vir yang seperti ini.
Ia pun meraih bantal dan berbaring di sofa.
Hampir setengah jam memalingkan wajah dan bergeleut dengan pikiraannya.
Vir pun berbalik.
Pandangannya tertuju pada Aileen yang tidur meringkuk di sofa.
Entah mengapa ia merasa iba melihat Aileen seperti itu, apakah dia perduli? tidak, bukan perduli, lebih ke merasa kasihan karena sudah merasakan sakitnya tubuh karena tidur di sofa.
"Hey bangunlah!!" Vir menggoyangkan bahu Aileen. Kali ini ia membangunkan langsung menggunakan tangannya.
Aileen membuka netranya, ia menatap Vir yang berdiri di hadapannya
"Tidurlah dengan ku!!"
Degg..
Aileen melotot mendengar ucapan Vir. Ia bangun, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut yang hanya menampakkan kepalanya.
Apa dia akan meminta haknya sebagai seorang suami? Tidak, aku belum siap.. Itu tidak boleh terjadi, lagipula kami tidak saling mencintai.
Aileen menggeleng.
Vir mengerutkan kening melihat tingkah Aileen.
Ia pun menyadari perkataannya yang ambigu.
"Haiiissh kau jangan besar kepala dulu, maksudku mari tidur di ranjang bersama, badan mu akan sakit jika tidur di sini.."
"Jika kau sakit, aku tidak bisa melakukan seperti yang kau lakukan pada ku" lanjutya
Aileen pun menghembuskan nafas lega..
"Kau tidak boleh melewati batas ini!" tunjuknya pada dua guling yang ia jadikan pembatas
Vir menatap malas
"Memangnya siapa yang akan memeluk mu" kata Vir yang tahu maksud pembatas yang dibuat Aileen
"Siapa yang tahu, bisa sajakan kau hilaf lalu merayap ke samping ku dan kita.." Aileen menggeleng sembari menutupi kedua tubuhnya dengan tangan seolah Vir akan memaksanya melakukannya
"Idih kau jangan mengada-ada, lagi pula siapa yang mau melakukannya" Vir membaringkan tubuhnya membelakangi Aileen
Awas jika macam-macam!!
Aileen mengeliat ngeri, lalu ikut tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut
Aileen pun sudah terlelap nyenyak mengarungi mimpi menembus angkasa.
Sedangkan Vir, pria itu sama sekali tak bisa memejamkan matanya, ia merasa grogi harus berbagi ranjang dengan seorang wanita walaupun wanita itu Istrinya.
Ia bergerak begitu gelisah, hingga tak sengaja berbalik, matanya terbuka dan tepat di depan matanya guling pembatas itu sedikit bergeser sehingga menampakkan wajah teduh Aileen yang tengah terlelap.
Tanpa Vir sadari, ia terus memandangi wajah wanita yang katanya ia benci itu..
"Cantik" satu kata yang ke luar dari mulutnya, sepertinya ia tidak sadar telah mengucapkan itu.
Tangannya seolah tergerak ingin menyentuh wajah teduh Istrinya. Ya tangannya sudah mendarat di pipi Aileen, jemarinya bergerak menyusuri setiap inci wajah cantik Aileen, mulai dari rambut, mata, hidung, bibir, semuanya dia sentuh.
Sepertinya Vir tidak menyadari apa yang ia lakukan, ia terhipnotis dengan kecantikan alami sang dokter yang membuatnya terbuai.
5 centi, 3 centi.. dan 1 centi
Hidung mancung mereka bersentuhan. Tangan Vir menggelus kepala Aileen.
Dan cup...
Tanpa ia sadari bibirnya sudah mendarat di bibir Aileen.
Lebih tepatnya Vir mencuri kecupan dari putri tidur yang ada di sampingnya
__ADS_1
"Kau?? Vir....!!!!"