Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 26


__ADS_3

"Kalian tahu, wanita itu kekasihnya! dia sama sekali belum tahu jika Vir telah menikah, dia baru saja kembali setelah melakukan pengobatan di luar negeri.


Sementara Vir masih menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada kekasihnya itu" jelas Aileen


Biyan dan Shakeel mengangguk mengerti..


"Tapi tetap saja kak, bukankah seharusnya dia lebih memilih mu sebagai istri?"


"Iya Eil, walaupun begitu seharusnya dia bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang suami!! kalaupun tidak bisa cukup jaga nama baik keluarga lah,


bagaimana jika ada yang melihat mereka, seperti rekan kerja daddy atau bahkan rekan keluarganya? Mau di taruh dimana image Keluarga kita?" Kali ini Keil yang berbalik menceramahi adik sepupunya itu


"Kau tahu Eil, walaupun Pernikahan kalian itu tertutup dari media namun sedikit banyak orang tahu siapa suami mu itu, dia sering lalu lalang di dunia bisnis. Semua pebisnis tahu siapa dia"


Begitulah kenyataannya, siapa yang tidak mengenal pemilik hotel tampan yang tersohor itu, dia memiliki pesona yang luar biasa Meskipun ada sikap arogansi dalam dirinya, Apalagi kini ia sudah merangkap jadi CEO di salah satu perusahaan besar.


Beberapa orang pasti tahu siapa Virendra, dia sudah menikah, tentu pernikahan mereka akan jadi gunjingan di kalangan para pebisnis jika melihat Vir masih bersama wanita lain sedangkan statusnya sudah menikah, itulah yang dimaksud Keil.


Kini mereka semua sama-sama termenung memikirkan masalah ini. Aileen berusaha menutupi tapi kenyataannya Vir malah kepergok oleh dua saudaranya itu.


Aileen menghela nafas kasar..Ia pun bingung dengan permasalahan ini


"Tapi Bi, Keil.. Aku tahu ini juga tidak mudah untuk Vir, bayangkan saja kalian menjalin hubungan yang sangat lama, tidak di restui namun tetap berusaha memperjuangkan hubungan itu. Hingga tiba-tiba kalian mendapati diri mu dijodohkan apa kalian bisa membayangkan berada di posisi itu?? Apa kalian langsung bisa melupakan kekasih kalian?


Jika saja aku yang berada diposisi mereka mungkin aku juga tidak akan sanggup" Ia sendiri merasa kasihan dengan Fia, walaupun dia juga tahu di sini ia juga hanyalah korban.


Yaa begitulah Aileen selalu memikirkan perasaan orang lain ditengah ketegarannya, walaupun sebenarnya ia pun terluka.


Biyan dan Shakeel berbalik menatap Aileen, apa yang diucapkannya memanglah benar, tapi tetap saja, kedua pria itu tak bisa menerima ini. Virendra harus bisa mengambil sikap. pikirnya


"Kalian tahu aku sendiri juga bingung dengan masalah ini, aku hanya berusaha mengerti posisi mereka dengan tidak egois memikirkan diri ku sendiri. Kalau soal image biar aku yang berusaha memberi tahunya, menasehati dia untuk tidak begitu terbuka di depan umum!"


Aileen menjeda ucapannya, Ia sendiri tidak yakin apakah bisa menasehati Vir soal ini. Ah tidak, apa salahnya mencoba? pikirnya yang ragu akan ucapannya sendiri


"Bi aku mohon jangan beri tahu mommy dan daddy, kalau sampai mereka tahu ini bisa fatal apalagi jika sampai ke telinga opa. Aku tidak ingin kesehatan mereka terganggu hanya karena masalah ku!" ucap Aileen tanpa menoleh


"Tapi kak!"


"Aku mohon jangan! Keil tolong cegah Biyan! Aku harap kalian bisa mengerti! Aku pergi dulu.."


.


.


.


Sesampainya di rumah Aileen mendapati Vir yang tengah duduk di sofa dengan penampilan acak-acakan. Pria itu terlihat memegangi ujung bibirnya yang sedikit lebam akibat insiden yang terjadi di Restoran tadi.


"Kau terluka Vir" Aileen mendekat, namun Vir sama sekali tak bergeming.


"Biar aku obati ya" Aileen meletakkan tasnya di meja, lalu berusaha mengobati ujung bibir Vir dan pipinya yang lebam.


kini posisinya duduk di samping Vir yang masih menatap ke depan seraya memegangi ujung bibirnya

__ADS_1


"Jangan sentuh aku!!" Vir menepis tangan Aileen dari pipinya.


Ia menatap Aileen penuh emosi.


Aileen yang ditatap seperti itu hanya diam, Ia tahu Vir pasti akan memarahinya karena Biyan.


Namun ia tak bermaksud lancang, dirinya hanya ingin mengobati luka pria itu.


"Aku tahu kau sengaja kan memberi tahu adik dan kakak mu itu!! Sekarang kau pasti puas kan karena adik mu berhasil memukul ku! Mereka mempermelukan ku di depan umum" ujarnya tanpa menoleh


Aileen menggeleng, Ia tidak menyangka bahwa Vir akan berpikir bahwa dirinya lah yang memberi informasi pada Shakeel dan Biyan. Sedangkan ia sendiri tidak tahu jika suaminya itu akan makan malam bersama Fia, yang ia tahu Vir hanya tidak akan makan di rumah dan memintanya untuk tidak repot-repot memasak.


"Keluarga mu selalu saja bertindak seenaknya" dada Vir terlihat naik turun, ia emosi tapi tetap berusaha menahan diri untuk tidak bersikap kasar pada Aileen


"Andai saja kita tidak menikah mungkin semuanya tidak akan seperti ini..!"


Vir pergi meninggalkan Aileen yang terpaku seorang diri.


Aileen menghela nafas seraya terus menatap Vir yang menghilang di balik pintu utama.


Sekali lagi Aileen menghela nafas dalam, menghebuskannya secara perlahan, mencoba untuk menenangkan hati dan pikiran, Ia tidak boleh lemah, dia harus kuat..! katanya menyemangati hati yang begitu rapuh.


Netra cantik itu terlihat mengerjap, bulir bening itu menggenang di pelupuk mata indahnya, namun berusaha dibendungnya untuk tidak tumpah..


Ia pun kembali meraih tasnya dan melangkah gontai menaiki tangga menuju lantai tempat kamarnya berada.


.


.


.


Ting, tong, ting tong...


"Siapa yang bertamu di tengah malam seperti ini?" Dito yang tengah asyik bermain game mendengus kesal tatkala fokusnya teralihkan karena suara bell yang berbunyi.


Dengan berat hati ia menyeret langkahnya menuju pintu Apartemen. Ia pun menekan tombol intercom doorbel yang terpasang di sisi pintu.


Betapa terkejutnya dia saat mendapati sosok orang yang begitu ia kenal berdiri di depan sana.


Dito kembali memicingkan matanya berusaha meyakinkan diri bahwa penglihatannya tidak salah.


"Vir??"


Dengan cepat Dito pun membuka pintunya


"Kenapa lama sekali, aku lelah menunggu seperti penjaga" Vir mendorong tubuh Dito yang menghalangi jalannya.


Ia masuk begitu saja ke dalam apartemen sahabatnya yang sudah seperti miliknya, jadi bebas melakukan apa saja.


Dito menggeleng, dia siap melemparkan seribu pertanyaan pada Vir. Ia pun mengikuti langkah Vir yang terus berjalan ke ruang tamu.


"Ada apa dengn mu?? kenapa kau datang malam-malam begini?" cecar Dito.

__ADS_1


Vir merebahkan tubuhnya ke sofa seraya membuka tiga kancing kemejanya yang menampakkan dada bidangnya.


"Ada apa dengan wajah mu, kenapa lebam seperti ini?" tanya Dito lagi saat menyadari sesuatu yang tidak beres di wajah Virendra.


Vir tak bergeming, ia malah berbaring di sofa panjang.


"Berikan aku makanan, aku lapar!"


Dito menatap heran pada Vir yang sekalinya berbicara malah meminta makan.


"Tidak ada makanan di sini.." ketus Dito malas karena Vir tak menjawab pertanyaan.


Ia yakin pasti terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu sampai-sampai wajahnya lebam seperti ini.


Tidak biasanya dia kalah dalam adu jotos. Dito menatap Vir yang tengah asyik berbaring seraya memejamkan mata


"Kalau tidak ada, delivery saja!" perintahnya lagi, kini tangannya sudah pindah ke atas wajahnya.


Eitss tunggu dulu, bukankah dulu dia pernah bilang pada Aileen bahwa dia tak suka makan makanan grabfood. Lalu apa ini, dia bahkan meminta Dito memesankan untuknya..Huhh dasar Virendra.


"Aihh kau ini datang hanya untuk menyusahkan ku! kau kan punya handphone, kau bisa memesannya sendiri" gerutu Dito


"Cepat lah Dit, aku lapar sekali"


"Haissh baiklah" Dito mendegus kesal, namun tetap memesan makanan untuk Vir yang kelihatannya sangat kelaparan


30 menit berlalu, pesanan Dito pun sudah tiba.


Virendra pun sudah selesai dengan makan larut malamnya.


Sepertinya ia sudah mulai bertenaga karena sudah mengisi perutnya yang keroncongan karena tak sempat makan saat di Restoran. Tentu tidak makan, diakan malah adu jotos dengan Biyan..


"Aku tebak, pasti kau sedang ada masalah! Masalah apa?" tanya Dito


Vir pun menceritakan semua kejadian di Restoran, saat Biyan dan Shakeel memergokinya bersama Fia hingga terjadilah perkelahian diantara dia dan Biyan.


Dan saat ia pulang ke rumah dia malah menumpahkan semua emosinya pada Aileen.


"Aku yakin dia yang memberi tahu Shakeel dan Biyan tentang masalah ini" ucap Vir


Dito menghela nafas..


Mencari kata-kata yang pas untuk menasehati sang sahabat agar mengena di hatinya, berharap Vir bisa menerimanya dengan akal sehat.


"Jadi kau berkelahi dengan adik ipar mu sendiri. Lalu kau malah menyalahkan istri mu dan melampiaskan semua kekesalan mu padanya?? Apa tindakan mu ini bisa dibenarkan?" Dito berbicara sudah seperti penasehat handal yang ada di drama kolosal kerajaan.


Vir hanya terdiam..Ia sama sekali tak berniat menjawab perkataan Dito


"Apa hatimu tidak luluh sedikit pun menghadapi sikap Aileen yang selalu sabar menghadapi mu di tengah hubungan rumit kalian ini?? Bukankah kata mu dia selalu bercerita yang baik tentang mu di depan orang tuanya? Apa kau yakin dia melakukan ini?" Dito menatap lekat wajah Vir yang lebam


"Aku yakin mereka hanya kebetulan ada di sana dan melihat mu dengan Fia.


Maka dari itu Vir, aku bilang kau harus bisa memilih antara Aileen dan Fia"

__ADS_1


"Kalau di suruh memilih tentu aku memilih Fia, tapi bagaimana dengan orang tuaku? tentu mereka tidak akan menerima semua itu"


"Pikirkan baik-baik, tentukan pilihan yang tidak akan membuat mu menyesal" Dito menyerah, ia sudah malas menasehati Vir yang disaat seperti ini masih saja memikirkan Fia. Tanpa menyadari kehadiran Aileen yang berdampak baik bagi hubungannya dengan sang Ayah.


__ADS_2