Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
part 28


__ADS_3

#Di Angkasa Corp Tbk (ACT)


Sekitar pukul 2:30 para staf dan petinggi ACT baru saja mengadakan rapat rekapitulasi data bulanan yang dilakukan setiap akhir bulan untuk mengetahui data satu bulan yang lalu.


"Saya sebagai pimpinan tertinggi Perusahaan sangat puas dengan hasil kerja keras kalian semua! Omzet bulan ini sangat mengalami kenaikan dari pemasaran produk terbaru kita. Untuk Sekertaris minggu depan diharapkan untuk segera mengirim surat panggilan kepada para pemimpin perusahaan cabang untuk mengadakan rapat pertemuan paripurna.


Dan sebagai bentuk apresiasi saya atas kinerja kalian semua dan semua keluarga besar ACT saya akan memberikan bonus kepada kalian semua dari saya pribadi"


Semua peserta rapat tapuk tangan mendengar tuturan dari sang presedir.


Mendengar dapat bonus, tentu semuanya sangat merasa senang. Yaiyalah aku aja kalau dapat bonus cuan auto jingkrak dan sujud syukur pada Tuhan YME.


"Demikin rapat hari ini kita akhiri sampai di sini, Sekian dari saya terima kasih dan selamat beraktifitas kembali"


.


.


Sementara itu di Loby kantor terlihat sedang terjadi kegaduhan antara dua security dan seorang perempuan yang datang terlihat begitu emosi.


Beberapa staf hanya bisa menyaksikan sekilas dari ruangan mereka yang ada di dekat sana.


"Saya ingin bertemu dengan pimpinan kalian, ayo cepat panggilkan!"


"Mbak tolong jangan buat keributan di sini" Kata resepsionis wanita


Ia berusaha menengahi wanita tadi yang masih di tahan oleh dua security berbadan kekar.


"Saya ini orang penting bagi dia, sudah tentu pimpinan kalian tidak akan menolak jika bertemu dengan saya" si wanita masih ngotot, berusaha untuk menembus pintu yang tertuju ke lift di sebrang sana.


Tak kehabisan ide untuk menerobos masuk, wanita itu pun berusaha mengelabui security dengan mengaduh kesakitan dan berpura-pura sakit.


"Aww.." pekiknya tergeletak duduk di lantai. Yang mana membuat kedua security itu sontak panik.


Tentu panik, jika terjadi sesuatu pada wanita asing itu, maka merekalah yang akan disalahkan dan disemprot habis-habisan oleh bagian HRD


"Mbak tidak apa-apa?"


Saat security itu lengah, wanita tadi lalu mmukul dua security tadi mengunakan tasnya yang cukup besar sehingga membuat mereka terjungkal ke belakang


"Ahkkk"


Si wanita pun berlari ke arah lift


Dengan sigap security itu bangun dan mengejar wanita tadi. Namun sayang beribu sayang si wanita sudah menghilang dibalik pintu lift yang membawanya ke lantai tempat ruangan CEO berada.


Dua security itu tepuk jidat, dengan terpaksa mengejar lewat tangga darurat yang tentu akan memakan waktu lama.


Sementara para karyawan yang menyaksikan hal tadi mulai berbisikan. Biasalah kebiasaan para staff wanita, berghibah disetiap waktu dan kesempatan, tak mengenal hujan, angin dan badai..


"Wanita tadi siapa?" Kata si a


"Apa dia sudah gila?" Kata si b


"Ya dia mau cari mati? Apa kepentingannya? Apa dia tidak tahu tuan Vir begitu galak dan sensitif?" Kata si c, d dan e


"Eh tapi aku pernah melihatnya, sepertinya dia mantan kekasih tuan Vir.." Kata si f yang sepertinya staf lama, tentu tahu siapa wanita tadi.


"Kenapa berani datang? Tuan Vir kan sudah beristri, apa dia masih menginginkan tuan Vir, secara tuan Vir itu tampan dan tajir? atau mungkin mereka menjalin hubungan gelap dibelakang istri sah??"


Semua bergidik nyinyir, ada apa, ada apa? Kata-kata itu terus terlontar dari setiap mulut yang melihat kejadian tadi.


Semua kemungkinan dan terka-menerka pun ke luar dari mulut mereka yang hoby gibah. Mulai dari dugaan Vir berselingkuh hingga belum putus pun berseliweran dari mulut ke mulut.


Ada yang bilang Virendra belum melupakan mantannya karena pernikahan mereka hanya sebuah perjodohan. Tak sedikit pula ada yang tahu jika hubungan sang CEO dengan mantan tak direstui hingga terjadilah perjodohan. Dan ada pula yang merasa kasihan pada posisi istri sah namun ada juga yang menempatkan diri di posisi keduanya. Sungguh tidak mudah! Kata mereka


"Ehemmmmt" Suara deheman pria paruh baya itu membuat mulut mereka yang asyik berghibah bungkam seketika.


"Kalau tersu berghibah, segera ke ruang HRD dan pulang lah agar bisa berghibah di rumah!!"


Semprot Pak Amran


Suara nyaring seperti suara lalat yang mengerumuni bangaki itu pun lenyap seketika, seolah mendapat semprotan pestisida membuat para lalat mati tak bernyawa.


Semua kembali ke meja dan ruangan masing-masing.


Pak amran si sekertaris lejen pun berlalu seiring sunyinya suara lalat yang dia semprot


Suasana kembali tenang.


.


.


.


Sementara itu di lantai tertinggi, di dalam sebuah ruangan, Virendra yang baru selesai mengadakan rapat langsung merebahkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


Ia menatap langit-langit ruangan, perlahan mata itu mulai tertutup.


Sepertinya ia begitu lelah sehingga berniat untuk sejenak mengistirahatkan tubuh dan otaknya karena sudah bekerja keras seharian.


Prok, prok, prok...


Belum ada 1 menit menutup mata, Vir sudah dikejutkan dengan suara pintu terbuka dengan diselingi tapuk tangan yang begitu mengganggu telinga.


siapa yang tengah mengadakan pertunjukan sehingga ada suara tapuk tangan..sungguh mengganggu!! katanya dalam hati


Ia beranjak dan menoleh ke sumber suara


"Fi..Kau ada di sini?"


Vir terkejut mendapati Fia yang berani datang ke mari. Bagaimana jika ada yang melihat dan menyampaikan hal ini pada sang ayah.


Fia mendekat dengan melemparkan tatapan yang sulit diartikan. Alunan nafasnya terdengar begitu kencang seolah siap meluapkan sesuatu dari dalam dirinya


"Ada apa Fi? Kenapa kau kemari?"


"Hikss.." Fia semakin mendekat, ia tertawa dan menangis secara bersamaan membuat Vir takut dan merasa khawatir.


"Fi, kau kenapa??" Vir mendekat dan mengusap bulir bening yang mengalir deras dari pelupuk mata kekasihnya "Kenapa menangis??" Kini tangan Virendra menangkup kedua pipi Fia


Namun bukannya menjawab Fia malah menarik tangan kanan Vir, wanita itu merebut paksa cincin yang ada di jari manis kekasihnya.


Setelah mendapatkan cincin itu, Fia menghempaskan tangan Vir secara kasar..


Vir gelagapan, lidahnya kelu. Ia ingin meraih cincin itu dari tangan Fia namun tenaganya tak cukup banyak untuk melakukan itu. Entah mengapa ia begitu lemah dan pasrah, seolah tahu apa yang akan terjadi.


Fia memutar cincin itu, menatapnya dari segala sisi.. Apa yang ia cari? Tentu ia menemukan sesuatu di dalam sana.


Ia tersenyum getir dan terisak sejadi jadinya..


"Huaaa, hiksss... kau jahat Vir, kau tega menghianati ku!!" Ia merosot berlutut di lantai, tubuhnya bergetar lemah. Sungguh hatinya sakit sekali mendapati kenyataan ini


Semua bermula saat siang tadi. saat Fia yang tak berhasil menghubungi Vir..


Flashback On


Fia yang tak berhasil menghubungi Vir langsung berniat untuk mendatangi Vir ke mansionnya. Ya, dia berani datang ke sana karena dari yang ia tahu, orag tua kekasihnya itu berada di luar negeri dan Vir hanya tinggal seorang diri di temani para pelayan di mansion itu.


"Apa Virendra ada?" Fia yang baru turun dari mobilnya langsung bertanya pada seorang security


"Tidak ada, tapi setiap sore tuan akan mampir ke mari"


Fia mengerutkan keningnya, ia heran dengan maksud perkataan security yang mengatakan "setiap sore tuan akan mampir" Fia yang sedikit lemot cukup lama mencerna maksud security.


"Apa mau menunggu di dalam?" tawar security. Sepertinya dia security baru sehingga tidak tahu siapa Fia


Fia yang termakan dengan omongan security bahwa sebentar lagi Vir akan pulang pun memutuskan untuk menunggu di sini..Dia dipersilahkan masuk.


Security mengantar sampai ke ruang tamu.


Lama Fia menunggu, hingga seorang kepala pelayan datang menghampirinya


"Permisi, cari siapa?" Sapa ramah sang kepala pelayan


Fia yang menunduk pun langsung menoleh.


"Mbak Fia??" Kepala pelayan itu terkejut melihat wanita yang di larang menginjakkan kaki di rumah ini malah duduk santai di ruang tamu, beruntung si pemilik rumah tidak ada jadi dia tidak perlu takut di marahi.


Tapi bagaimana dengan Cctv, bukan kah itu berfungsi? Bagaimana jika suatu saat nyonya rumah melihat ini, bisa tamat riwayat mereka. hingga terlintas dipikirannya untuk menghapus rekaman cctv untuk menyelamatkan diri. Namun itu nanti setelah menanyakan tamu yang tak diinginkan ini.


"Aku sedang menunggu Vir"


Kepala pelayan menatap tak percaya


"Tuan Vir?"


"Iya, Virendra" Fia tersenyum


Kepala pelayan mengagruk kepala kebingungan, sepertinya Fia tidak tahu jika Vir sudah menikah.


"Tapi tuan Vir tidak tinggal di sini, dia hanya datang untuk berkunjung" jelas si pelayan


Kini Fia yang mengernyit kebingungan.


"Maksudnya?"


Sepertinya aku harus menjelaskan padanya


"Semenjak menikah tuan tidak tinggal di sini, dia dan istrinya punya rumah sendiri"


Fia melotot tak percaya, ia terkejut.


"Menikah? istri??" Jantungnya mulai berdetak begitu kencang, tangannya gemetar, matanya berkedut, tenggorokannya tercekat kering.

__ADS_1


"Dia tinggal dimana?" Lirihnya, berusaha menepis pikiran dan perasaan yang sudah tidak karuan di dalam dirinya


"Eh dimana ya?" Sang pelayan menggaruk tengkuknya, berusaha mengingat alamat tempat tinggal tuan mudanya


"Di cluster mag-mag.." kesulitan mengingat kata yang berbau inggris


"Cluster Magnolia?" Fia memicingkan matanya


"Nah itu.." kata si pelayan


Lagi dan lagi jantungnya berdetak kencang..


Sakit seperti dihujani ribuan panah.


Ingatannya kembali pada saat dia dan Vir bertemu dengan dua pria yang membahas tentang hubungan suami istri.. hatinya mendadak ngilu.


Sekali lagi ia mengingat saat dimana ia mendapati Vir yang tengah menjemputnya datang dengan mengenakan cincin dan begitu gugup saat ia ingin melihat cincin itu.


Satu lagi, ingatannya kembali tertuju pada saat berkunjung ke cluster Magnolia, yang mana ia melihat seorang wanita masuk dengan entengnya menuju lantai atas, wanita yang diakui Vir sebagai sepupunya.


Fia menggeleng, kenapa ia begitu bodoh dan lemot tidak menyadari begitu banyak kejanggalan yang terjadi selama ini.


Kenapa Vir setega itu padanya?


Air mata Fia lolos begitu saja. Ia berlari ke luar dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


Ia menuju cluster magnolia mencari Vir, namun tidak ada. Ia pun pergi ke Angkasa Land Hotel, namun nihil. Vir juga tidak ada disana.


Tujuan terakhirnya hanya satu yaitu Angkasa Corp tbk


F**lashback Off**


Vir menggeleng, matanya juga terlihat memerah mendengar ucapan Fia.


Kekasihnya sudah mengetahui fakta yang selama ini ia sembunyikan..


Bom waktu itu sudah meledak..


Vir menghapus air matanya yang hendak menetes. Ia ingin meraih tangan Fia namun wanita itu menepisnya.


Fia mengangkat tangannya yang menggenggam cincin pernikahan Vir. Ia menatap kosong ke depan, air matanya terus menetes.


Dia terisak Pilu.


"V Love A, 11-11-2021" dengan lantang Fia menyebutkan tulisan yang terukir di dalam cincin itu..


Vir tak kuasa membendung tangisnya.


"Maaf.." hanya itu yang mampu terucap dari bibirnya yang bergetar kelu.


Isakan pilu memenuhi ruangan, beruntung ruangan ini kedap suara jadi mereka bebas berteriak sesuka hati tidak akan ada yang mendengar


"Cincin ini cincin pernikahan mu Vir?? Tanggal 11-11-2021. Kalian menikah sudah hampir 2 bulan dan aku baru mengetahui semua ini sekarang??" Fia meenggeleng dalam isak tangisnya tanpa berniat menatap Vir yang menatapnya lekat penuh rasa bersalah.


"V love A. Siapa A ini Vir? Siapa wanita yang sudah menggantikan posisi ku di hati mu??" Fia kembali terjatuh, ia duduk terkulai di lantai.


Sementara Vir masih berdiri terisak dalam diamnya. Ia sudah seperti patung yang bernyawa, tak bergerak namun tetap bernafas.


"Kenapa tega menghianati ku Vir? dimana janji mu yang akan memperjuangkan cinta kita??" Via teriak sembari memukuli dadanya yang terasa sesak "Bukankah dulu kau katakan kita akan melalui semua bersama? Berjanji untuk melawan semua yang memisahkan kita?.. tapi kenapa kau malah menikah dan menghianati janji itu? Hiikss.."


"Maafkan aku Fi.. aku tidak pernah mengkhianati mu!! aku dijodohkan.. Tolong maafkan aku! Aku tidak bisa menentang keinginan orang tua ku" Vir yang tak kuasa menahan tangis ikut duduk bersimpuh dan membawa Fia ke dalam dekapannya..


Fia terdiam, tubuhnya bergetar dalam pelukan Vir. Namun tak ada niat sedikitpun untuk membalas pelukan itu. Hatinya terlalu sakit menerima kenyataan ini.


"Aku dan dia tidak saling mencintai Fi, aku hanya mencintai mu! Tolong maafkan aku.." masih memeluk Fia dengan erat.


"Tidak mungkin tidak saling mencintai, kalian tinggal di rumah yang sama, berbagi ranjang, sudah pasti kalian pernah melakukannya" berbicara dengan tatapan kosong nan sendu.


Vir menggeleng, ia melepas pelukannya dan memegang ke dua bahu Fia, memohon agar wanita itu mendengarnya


"Aku belum pernah melakukan itu dengannya" Vir berusaha meyakinkan


"Belum berarti akan?"


Vir menggeleng..


"Tidak Fi, aku membencinya, kami hanya bertahan karena Keluarga"


Entah mengapa mendengar ucapan Vir, Fia menjadi sedikit lega. Ia seperti mendapat semangat untuk tetap memperjuangkan cintanya meskipun harus melawan badai sekali pun


"Apa kau mencintaiku?"


"Aku mencintai mu, sangat mencintai mu Fi.."


"Apa kau akan meninggalkannya untuk ku"


"Tentu! tapi tidak sekarang, beri aku waktu.."

__ADS_1


Fia terdiam


"Siapa wanita A itu Vir?"


__ADS_2