Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 34


__ADS_3

"Kenapa tidak melihat Oma karina? dia sedang sakit" ucap Vir saat baru membuka pintu.


Namun seketika ia menutup rapat mulutnya saat melihat Aileen berbaring sembari meletakkan tangan menutupi wajahnya sedangkan tangan yang satunya lagi terkulai di atas perut.


"Hey, bangun, Apa tidak ingin melihat kondisi oma?" berjalan ke sisi ranjang.


Vir menggoyangkan tubuh Aileen.


Aileen terlihat mencebikkan bibirnya, tangannya yang satu masih melipat menutupi mata.


"Perut ku sakit Vir!" lirihnya masih dalam posisi seperti tadi


Vir yang terkejut panik, sontak duduk di sisi ranjang. Ia berusaha membawa tubuh Aileen bersandar di kepala ranjang


Entah apa yang membuatnya kelihatan begitu panik dan perhatian


"Apanya yang sakit? kau sakit apa?" melirik Aileen yang masih memejamkan mata lalu melirik sekilas pada perut wanita itu


Vir mengernyit heran "Apa dokter juga bisa sakit sesering ini" menggeleng sok bersimpati.


"Ck, sudah ku bilang, dokter juga manusia." ujar Aileen sembari menyingkirkan tangan Vir yang mengganjal di tengkuknya "Lagi pula aku hanya keram perut, ini biasa terjadi saat wanita akan mengalami menstruasi"


"Apa tidak bahaya?"


"Tidak selagi keramnya normal..


Tolong panggilkan mommy, aku ingin dia mengompres ku dengan air hangat.." pinta Aileen


"Kenapa harus mommy? aku ada disini. Kau pikir aku tidak bisa?" ucap Vir begitu serius


"Memangnya kau mau di suruh?"


"Ya mau lah, Aku tidak ingin daddy mengomeli ku lagi karena tidak bisa merawat mu!! lagi pula semua orang sedang di kamar Oma" tutur Vir,


ternyata ia perhatiaan hanya karena takut pada Daddy.


"Kenapa?"


"Oma sakit..!"


Mendengar omanya sakit Aileen terkejut, ia pun hendak turun, namun perutnya masih keram. Ia kembali menganduh kesakitan, beruntung Vir menahannya dan kembali membawanya bersandar


"Jangan sok kuat! Tunggu di sini, biar aku ambilkan yang kau minta" Vir pun ke luar


Di dapur, saat sedang menuangkan air hangat ke wadah ia bertemu mommy yang juga sedang mengambil segelas air


"Vir, mau apa?" menatap heran sang menantu yang sedang menuang air hangat.


"Eh, ini mom, perut Eil keram, dan ingin dikompres"


"Apa dia sakit?" mommy terkejut penasaran, Vir hanya mengangguk


"Jangan kuatir, biar aku yang mengurusnya. Mommy kembali lah ke kamar, pasti oma membutuhkan mommy" ucapnya


Mendengar itu mommy Jessica dibuat tersenyum, Ia senang ternyata Vir lumayan bertanggung jawab pada Istrinya


"Ah, iya itu pasti karena dia akan datang bulan" kata mommy yang baru mengingat kebiasaan putrinya setiap kali akan datang bulan, walaupun tidak sering terjadi, tapi Mommy tahu betul jika Aileen ingin dikompres ketika merasa keram, hal itu memang akan sangat membantu untuk meredakan keram pada perut.


"Kalau begitu mommy titip dia, biar kami semua yang menemani Oma. kau jagalah istrimu!" mengelus bahu Vir lalu Mommy beranjak pergi.


Setelah itu Vir pun kembali ke kamar.


Ia melihat Aileen yang masih bersandar di ranjang dengan posisi seperti tadi.


Ia terlihat menggigit bibir bawahnya.


Vir meletakkan wadah kaca dia atas nakas


"Lalu bagaimana?" tanyanya yang masih begitu awam soal hal tentang wanita.


"Sini biar aku saja, kau tidak bisa melakukannya" Aileen ingin meraih kain itu dari tangan Vir


"Biar aku saja!" Vir menarik kainnya kembali "katakan saja, biar aku yang melakukannya untuk mu"

__ADS_1


Aileen dengan ragu menyebutkan bagian yang harus dikompres.


Ia malu, namun memang sangat membutuhkan bantuan orang lain


"Perut" katanya ragu membuat Vir terdiam


Ragu-ragu Vir mengarahkan tangannya ke bagian perut langsing aileen, perlahan ia menyibakkan baju yang menutupi perut ramping Istrinya itu.


Belum terbuka sepenuhnya, seketika Aileen menaha tangan Vir membuat mereka bersitatap seper sekian detik,


Aileen menatap seolah mengatakan 'Jangan'


Vir yang tahu maksud Aileen pun langsung menyahut "Ck, aku tidak akan bernafsu padamu!"


Aileen gelagapan lalu melepaskan genggamannya


Vir pun mulai menyibakkan kain piyama yang menutupi tubuh Aileen membuat perut mulusnya terekspos.


Dan mulai memeras kain kompres lalu meletakkannya di perut Aileen, mengulangnya hingga beberapa kali.


Aileen yang mulai merasa enakan pun hendak membenarkan posisinya menjadi berbaring, namun perutnya kembali keram begitu ia sedikit bergerak


"Aww.." pekiknya


"Dasar payah!!" Vir meletakkan kain itu lalu membantu Aileen bersandar ke posisi semula


"Kalau tidak kuat jangan dipaksa.." memutar mata malas


"Kemarilah!" Vir ikut duduk bersandar di kepala ranjang, ia merentangkan tangannya agar Aileen dapta tidur bersandar di tangannya.


Vir mendekap hangat tubuh sang istri, berusaha memberi kenyamanan agar tidak terlalu merasakan nyeri.


Rasanya berdebar, Aileen tak menyangka jika Vir si makhluk aneh bisa bersikap seperti ini, dan bodohnya lagi ia mengutuki dirinya yang kembali merasa nyaman dalam pelukan suaminya itu.


Aileen mndongak menatap Vir yang menempelkan dagunya dipuncak kepala Aileen


"Jangan besar kepala, aku hnaya brusaha merawat mu" ketus Vir, sembari tangannya memijat lembut perut Aileen yang sakit


Aileen yang sebal hendak melepaskan pelukan Vir. Namun cengkraman Vir begitu kuat, hingga ia tak bisa bangun


"Aku ingin minum" Eil memutar mata malas, jengah dengan sikap Vir yang ketus namun sok perhatian seperti ini.


"Diam saja di sini, biar aku ambilkan"


Vir pun turun dari ranjang dan pergi ambil minum.


Tidak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa segelas air putih di tangannya.


Vir lalu menyodorkan segelas air tadi pada Aileen.


"Jika kau benar-benar jadi perawat, sudah pasti semua pasien yang kau rawat akan cepat mati" lirih Aileen yang tanpa sadar didengar oleh Vir


Vir yang mendengar ucapan Aileen tidak terima jika dirinya dikatakan seperti itu, memangnya seekstreem itu kah dirinya hingga pasien pun akan mati jika dirawat olehnya.


"Sakit tapi sangat menyebalkan" gerutu Vir yang kembali bersandar, Ia kembali membawa Aileen ke dalam dekapan tangannya.


"Jangan berlebihan Vir, aku sudah mendingan" katanya yang berusaha menghindar dari dekapan Vir


"Ck, kau ini bertingkah sekali.. Kata Mommy, tidur seperti ini akan mmebuat mu jauh lebih baik, jadi menurut lah!" memaksa Aileen tetap berada di posisi tadi. Dan soal Mommy sepertinya ia membual, bahkan mommy tidak pernah mengatakan hal itu.


Sepertinya ini hanya akal-akalannya saja agar bisa tidur dengan posisi seperti ini.


Jangan bilang ia pun merasa nyaman, hanya saja terlalu gengsi untuk mengatakannya, jadilah ia ambil kesempatan dalam kesempitan.


Akhirnya Aileen pun hanya bisa pasrah, walaupun nyaman namun ia juga harus melakukan sedikit penolakan agar Vir tidak menilainya gampangan.


Aileen yang benar-benar merasa nyaman pun tertidur pulas dalam dekapan Vir.


Sementara Vir, tangannya masih menari gemulai di atas perut Aileen, mungkin itulah sebabnya wanita itu merasa enakan dan tidur lebih cepat.


Cih, bahkan baru kali ini aku merawat wanita sakit sampai seperti ini...


berdecih bangga seraya tersenyum simpul, tapi senyumannya kelihatan begitu arogan seperti tingkahnya.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu, nafas Vir juga sudah mulai teratur, Mereka sudah sama-sama berlayar di alam mimpi dengan posisi tangan saling memeluk satu sama lain.


Andai saja bisa seperti itu setiap hari, mungkin dunia akan sedikit aman tanpa mendengar percakapan mereka yang unfaedah dan sama-sama tidak bisa mengalah dalam berargumen.


.


.


.


Pagi hari kembali menyapa. Namun entah mengapa cuaca di negara A ini kelihatan begitu berbeda.


Cerah tapi tak secerah biasanya, langit seolah menampakkan sisi murungnya, semilir angin yang bertiup seolah enggan bersenandung ria. Cerah namun bagai terbelenggu kabut hitam yang mencekam di relung jiwa.


Entah apa yang terjadi, mungkinkah alam sedang bersedih.


Aileen yang merasakan perasaan aneh terbangun dari tidurnya. Rasa keramnya sudah mendingan, tapi kenapa hatinya terasa pilu begini.


Perasaan sedih berkecamuk dalam diri. Tentu kita semua pernah merasakan terbangun dari tidur tapi dengan perasaan gundah-gulana seolah telah terjadi sesuatu, begitulah yang dirasakan Aileen saat ini.


Ia menatap Vir yang masih terlelap dalam posisi memeluk tubuhnya.


perlahan Aileen menyingkirkan tangan Vir dan membawanya beralih memeluk guling, menyibak selimut dan turun dari ranjang.


Langkahnya membawanya ke luar dari kamar, menatap setiap sudut ruangan yang seolah di selimuti kabut kesedihan. Suasana rumah nampak sepi, kemana semua penghuninya?


Dia masih terpaku di depan pintu, samar-samar telinganya mendengar semraut isak tangis pilu dari lantai bawah.


Ada apa? Kenapa mereka menangis? terbesit tanya dalam diri.


Aileen yang penasaran pun melangkahkan kaki gontai, Ia berlari menuruni anak tangga dan mencari sumber suara yang ternyata berasal dari kamar oma karina.


Hati Aileen bergetar, langkahnya melambat.


Menarik napas dalam kemudian kembali melangkah, memastikan apa yang terjadi di dalam sana.


Tubuhnya terpaku, tatapan teduh itu berkaca-kaca, bibirnya bergetar. Ia ikut menangis tatkala melihat semua orang menangisi di sisi ranjang menatap pilu pada tubuh yang terbujur kaku di atas sana.


Satu yang ia tangkap, Oma Karina telah tiada! Omanya pergi menyusul Opanya yang pergi belum genap seminggu


"Mama, jangan tinggalkan kami, hiksss!! kemarin papa, hari ini mama! kenapa secepat itu mama menyusul papa?" isak Pilu mommy dan Om Ferdy yang memeluk tubuh kaku oma karina


"Oma, Hiks..." Aileen berhambur membaur di antara Keluarganya.


Suara isak tangis memenuhi ruangan itu.


Semua kembali berduka dan larut dalam kesedihan, rumah itu di penuhi dengan suara tangis dari keluarga yang ditinggalkan.


Aileen menyesali kenapa dirinya harus sakit disaat terakhir omanya, bahkan sampai tak bisa mendampinginya.


Ia terisak pilu, menyalahkan diri yang tak ada di samping oma dipenghujung hidupnya.


___


Sementara itu, Vir yang baru bangun tak mendapati Aileen di sisinya langsung beranjak.


Ia menatap pintu kamar yang masih terbuka


Dengan muka bantal ia pun melangkah ke luar.


Sama seperti Aileen, saat masih di depan pintu kamar, ia juga mendengar suara tangisan pilu dari arah bawah.


Vir pun segera berlari menuju sumber suara


Ia terpaku tak percaya saat melihat semua orang menangisi tubuh yang sudah tak bernyawa di atas ranjang itu.


Semua orang di ruangan itu, memasang raut wajah pilu, Semua orang terlihat begitu lemah.


Kematian adalah sebuah takdir yang tak bisa dihindarkan, karena itu memang hakikatnya hidup, Setiap yang bernyawa pasti akan mati dan yang ditinggalkan harus berusaha ikhlas menghadapi ketentuan dari yang maha Kuasa, sebab kita pun akan menunggu giliran masing-masing yang tidak tahu kapan akan tiba.


Pandangan Vir tertuju pada sosok wanita yang sudah menjadi Istrinya, wanita itu kelihatan begitu rapuh dan menyedihkan.


Tangannya tergerak memberi rengkuhan kekuatan pada sang istri.

__ADS_1


Vir menggenggam erat tubuh Aileen yang masih bergetar sesengukan.


__ADS_2