Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 13


__ADS_3

Siang itu, Vir yang tengah mengadakan meeting di sebuah Restoran yang sudah di reservasi tiba-tiba mendapat pesan mengejutkan.


Terkejut, senang dan sedih bercampur jadi satu. Entah pesan apa yang ia dapatkan sehingga ekspresinya seperti itu, apakah pesan teror?? tentu tidak, mana mungkin ada yang menerornya.Tapi itu bisa saja terjadi..


"Terimakasih atas kerja samanya, semoga project ini bisa sukses" ucap seorang wanita yang sepertinya CEO dari perusahaan yang akan menjalin kerja sama dengan perusahaannya


"Senang bisa bekerja sama dengan anda" ucap Vir ramah membalas jabatan tangan wanita itu


"Kalau begitu saya duluan, Jika Pak Amran ingin tinggal, silahkan.. Saya masih ada urusan mendadak" ucap Vir pada Asisten Ayahnya yang sekarang menjadi asistennya juga


"Baik Tuan, silahkan..! Saya disini dulu ingin membahas planning dengan ibu Gina" kata Pak Amran


Virendra pun beranjak..


Beruntung Meeting itu sudah selesai dan sudah mendapatkan kesepakatan final jadi ia bisa buru-buru pergi.


Vir melajukan mobilnya dengan wajah was-was, entah apa yang membuatnya seperti itu.


Mobil itu terus melaju, berpacu dengan kecepatan tinggi membelah jalan kota hingga sampailah ia pada sebuah area luas dengan gedung besar di tengahnya, ya sekarang ia sedang berada di bandara, kira-kira apa yang Vir lakukan di bandara, apakah ini ada hubungannya dengan si pengirim pesan?


Virendra yang mengenakan kaca mata hitam turun dari mobil, dengan langkah gontai yang menjuntai dari kaki panjangnya ia berjalan masuk ke dalam bandara. Menyibak kerumunan orang yang tengah berlalu lalang. Ia bergegas menuju Arrival Room



Vir mengedarkan pandangan mencari seseorang, sepertinya ia mencari orang yang mengirim pesan padanya. Ia melihat seorang wanita tengah duduk di kursi. kebetulan wanita itu berbalik menatapnya.


Vir tercengang melihat siapa wanita itu, Semburat bahagia dan terkejut terpancar bersamaan dari wajahnya. Ia menjalan mendekat ke arah sang wanita.


"Fi, Apa kau benar Fia??" Fia? ya wanita itu adalah Fia kekasihnya, wanita itu kembali lagi setelah setahun terakhir menghabiskan waktu berobat di Luar Negeri.


"Iya Vir ini Aku" Fia tersenyum.


Sungguh Vir tak percaya, ini seperti sebuah kejutan. Terakhir kali ia menemui kekasihnya itu dua bulan yang lalu sebelum ia menyetujui pernikahannya dengan Aileen.


Vir mendekapnya.


"Kau dengan siapa, apa kau sendiri?" Vir memegang kedua lengan Fia, ia menatap kesana kemari, mencari dengan siapa kekasihnya itu datang. "Apa kau sendiri?" tanyanya, kekasihnya itu hanya diam, ia terus tersenyum menatap wajah tampan kekasihnya


"Ini bahaya Fi? kenapa tidak memberi tahuku, aku bisa menjemput mu.." ujar Vir yang khawatir mengingat keadaan Fia "Kenapa pulang? bagaimana dengan pengobatan mu?" Sambungnya sekali lagi mencecar Fia dengan pertanyaan beruntun


Via tersenyum, ia berhambur kepelukan sang kekasih.


"Aku merindukan mu Vir, dua bulan ini kau tidak pernah lagi mengunjungi ku" Ucapnya sendu


Vir kembali memeluk Fiani


Maafkan aku Fi, maafkan aku yang sudah menghianati hubungan kita..Maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa - apa, bahkan saat ini aku belum bisa memberi tahumu! Aku akan memperjuangkan semuanya untuk kita.


Gumam Vir yang merasa bersalah pada kekasihnya


"Maaf..!" Vir mengusap lembut kepala Fia yang ada di pelukannya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan pengobatan mu?" Vir memegang kedua bahu Fia, ia menatap lekat meminta jawaban, wanita itu belum menjawab pertanyaannya.


Lagi-lagi seulas senyum ia berikan.


"Jangan hanya tersenyum, aku butuh jawaban" ucap Virendra gusar


"Aku sudah dinyatakan sembuh Vir, akar kankernya sudah tidak ada" jelasnya bahagia


"Saat aku mendengar itu rasanya aku bahagia sekali Vir, aku ingin memberi tahumu, tapi bukan melalui telepon. Ayah dan ibuku mengizinkan ku untuk berangkat sendiri.. Aku ingin memberimu surprise dengan ini" Fia merentangkan tangannya dengan senyum berbinar dari wajahnya yang tak lagi pucat seperti saat ia sakit dulu


Vir meneteskan air mata, Ia ikut bahagia mendengar kabar itu.. Mereka kembali berpelukan dengan Vir beberapa kali menciumi puncak kepala kekasihnya. Namun ada perasaan berbeda yang ia rasakan, tak seperti biasanya. Ia sendiri tidak tahu perasaan aneh apa itu.


"Vir aku rindu sekali!"


"Aku juga rindu!" Ucap vir kaku, ini berbeda karena memang statusnya beda, walaupun ia sering marah dan kasar pada Aileen tapi ia tetap memikirkan wanita itu sebagai istrinya.


Mereka berhenti berpelukan, Fia menggenggam tangan Vir, ia merasakan ada benda yg melingkar di jari manis kekasihnya.


Fia mengangkat tangan Vir, ia melihat jari manis itu, dahinya mengernyit, sejak kapan kekasihnya itu suka memakai cincin. pikirnya


"Sejak kapan?" Kata via menunjuk cincin yg melingkar di jari vir


"Oh hehehe... ini, ini cincin pernikahan Ibu" Vir gelagapan, ia berusaha mencari alasan yang tepat "Aku suka melihat modelnya, jadi aku memintanya, ya aku memintanya dari ibu ku" Ucapnya mencari alasan "lihatlah modelnya Sangat unik kan" kata vir mengangkat jarinya sambil membolak-balikkan tangan di hadapan Fia


"Wah iya, ini bagus sekali, unik!!" Fia memegang jari Vir dan memandangi cincin itu dengan seksama


"Coba aku lihat" ucap Fia ingin melepas cincin itu dari jari manis vir


Entah siapa yang mendesain cincin itu sehingga sampai menggunakan inisial mereka di masing masing cincin, bahkan sampai sedetail ini.


"Sudah ya, ini tidak penting. Lebih baik kita pulang sekarang, Kamu pasti lelah.."


Fia mengangguk, Virendra pun menarik koper dengan Fia yang bergelanyut manja di lengan Vir. Mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang baru pulang liburan.


Sedangkan Aileen, bagaimanakah nasib wanita malang itu?


•••••


Sore harinya di kawasan perumahan cluster Magnolia terlihat Marcedes-bens putih memasuki gerbang one gate sistem cluster, Ia melaju cukup kencang menuju ke sebuah rumah yang ada di salah satu lorong disana


Mobil itu berhenti tepat di depan salah satu rumah. Seorang wanita turun mengenakan celana connexion hitam dengan snelli (jas dokter) yang masih melekat ditubuh rampingnya.


Dia adalah Aileen, hari ini ia pulang lebih awal dari biasanya. Ia pun membuka pintu rumah.


"Sepertinya makhluk aneh akan lembur" lirihnya seraya melepas sepatu hitamnya dan menggantinya dengan sendal rumah.


Aileen pun naik ke lantai atas, ia masuk menuju kamarnya. Setelah hampir setengah jam berada di kamar iapun ke luar dengan menggunakan summer dress berwarna cream, lalu menuju ke dapur dan berkutat di sana.


.


.

__ADS_1


.


"Aku pulang dulu ya, jika ada apa-apa langsung hubungi aku" Vir mencium puncak kepala Fia


"Aku kan sudah biasa sendiri"


"Iya tapi itu berbeda, dulu kau masih sehat dan segar bugar. Walaupun kau sudah divonis sembuh tapi aku masih menghawatirkan mu..!"


"Kalau khawatir maka cepat lah nikahi aku, agar aku tidak sendirian lagi" bisik Fia mesra tepat di telinga Vir


Virendra tersenyum, Ia menggenggam tangan Fia


"Sabar ya, bantu aku meyakinkan orang tuaku dulu. kau sendiri tahukan sampai saat ini mereka belum merestui hubungan kita"


Fia tersenyum getir, hatinya selalu saja sakit jika membahas hal ini apalagi mengingat ibu Vir pernah menolak mentah-mentah dirinya saat di depan umum.


Entah sampai kapan ia harus bersabar, jika saja orang tua Vir merestui mereka mungkin dia dan Vir sudah menikah sejak lama


Vir pun meninggalkan apartemen Fia.


Sepanjang perjalanan Vir terus saja memikirkan permasalahan yang semakin rumit ini, bagaimana jika suatu saat Fia tahu dia sudah menikah, apa yang akan terjadi?


Vir kembali menyesali Pernikahannya dengan Aileen, namun itu merupakan sesuatu yang tidak bisa ia hindari. Umpatan dan kebencian kembali ia layangkan kepada keluarga Aileen, ia masih mengira jika Keluarga itulah penyebab perjodohan ini terjadi.


"Arggggh..Aku benci berada di situasi ini...!" teriaknya sambil memukul stir kemudi.


Sepertinya ia tak bisa bertemu Ailean, jika bertemu dengannya mungkin kali ini ia tidak akan bisa mengontrol emosinya. Vir pun putar arah menuju mansion orang tuanya untuk menenangkan diri


...


"Dia kemana, kenapa sampai sekarang belum pulang juga" Aileen yang sudah bosan menunggu beranjak dari kursinya, ia melirik berbagai macam menu makanan yang sudah ia siapkan untuk makan malam si makhluk aneh.


Namun sudah hampir jam 11 pria itu tak kunjung datang


"Makanannya sudah dingin..! Hmmnt lebih baik aku simpan saja, Sepertinya dia lembur" Aileen pun bergegas menyimpan semua makanan ke dalam lemari. Setelah itu, iapun naik ke kamarnya.


***


Pagi hari kembali menyapa, Aileen sudah bangun dari tidurnya. Ia berjalan menuruni tanggan, namun pandangannya tertuju pada pintu kamar Vir.


Lihat atau tidak ya? tapi bagaimana kalau dia memergoki lagi dan akan mengatakan "Kau ini tidak tau sopan santun.." Haiss aku malas jika dia terus mengomel..Gumam Aileen ragu antara ingin membukanya atau tidak


Namun rasa penasarannya lebih besar, ia pun melangkah dan membuka pintu kamar Vir.


"Tidak ada orang, Emnnt dia menginap di mana? Ah Tapi syukurlah dia belum pulang, jika dia memergoki membuka kamarnya, pasti ia akan mengomel"


Aileen pun turun ke dapur, Ia memanaskan semua makanan yang ia masak tadi malam


"Sebaiknya makanan ini aku bagikan pada orang-orang yang membutuhkan"


Seperti biasa, setiap hari sebelum berangkat kerja ia sering membagikan makanan gratis pada orang-orang yang membutuhkan.

__ADS_1


__ADS_2