
Pria paruh baya berkaca mata memasuki hotel dengan kilatan emosi yang menghujam. Semua yang dilaluinya bisa melihat jika dirinya tengah menahan amarah yang siap meledak.
“Dimana ruangan pimpinan kalian?” suara baritonnya seakan menggema di seantero Lobi.
“Kalau boleh tahu bapak siapa? Apa sebelumnya sudah ada janji?” tanya Resepsionis yang merupakan mahasiswi magang.
“Apa kamu tidak tahu siapa saya?”
Pria itu adalah Daddy Al. Ayah Aileen, mertua dari Virendra si pemilik Hotel.
Daddy Al membuka kaca matanya, menurutnya tidak mungkin jika Resepsionis itu tidak mengenali siapa dirinya. Namun dugaannya salah, Resepsionis magang tersebut sama sekali tak mengenalinya.
Melihat hal itu membuat Daddy Al geram, Ia pergi begitu saja. Resepsionis tadi segera menyusul untuk mencegahnya.
Dari kejauhan, Dito yang kebetulan ada di sana melihat apa yang terjadi “Jangan dicegah, beliau mertuanya Pak Vir. Jadi biarkan saja!”
Mendengar ucpan Dito, wanita itu langsung menghentikan langkahnya. Ia kembali ke mejanya.
Pikiran Dito berkecamuk. Melihat raut Wajah Tuan Alfin yang seperti itu membuat ia khawatir pada hal yang akan terjadi pada sahabatnya.
.
.
.
“Dimana ruangan, Bos kalian!” dengan raut wajah dingin, Daddy Al bertanya pada beberapa staff yang dilaluinya.
“Ada di lantai 4, Pak!”
Mendengar itu, Daddy Al lalu meneruskan langkahnya. Ia masuk ke dalan lift.
Sementara itu, Vir yang tengah membaca proposal hasil meeting, terlihat begitu serius.
Ia meneliti, menelaah, mengoreksi bahkan mempertimbangkan kembali hasil meeting yang baru saja diadakan.
Pulpen yang menempel di jemarinya ia putar-putar higga benda panjang bertinta itu terlihat seperti menari.
Tiba-tiba pintu ruangannya dibuka dengan begitu kencang. Vir yang mendengar itu dibuat geram. Ia hendak melayangkan protesnya pada orang yang secara tidak beretika berani berbuat seperti itu di ruangannya.
Vir menggebrak meja sambil menoleh
“Apa kau tidak punya sop...?” Kata-katanya terhenti saat melihat siapa yang datang.
“Daddy..!” lirihnya sambil mendekat ke arah sang mertua.
Daddy Al sama sekali tak tersenyum. Wajah datar itu terlihat begitu menyeramkan.
“Tidak perlu!!” tangan Vir ditepis saat hendak menjabat tangannya.
Vir yang diperlakukan seperti itu hanya bisa mengerutkan kening, entah masalah apa yang membuat Daddy sampai seperti ini.
“Kalau begitu silahkan duduk, Dad!”
“Tidak perlu!” tolaknya lagi, Ia masih berdiri menatap lekat sang menantu.
Vir hanya mengangguk, mengiyakan. Ia semakin dibuat bingung dengan sikap Ayah mertuanya yang begitu dingin padahal ia merasa tak berbuat kesalahan..
“Siapa wanita bernama Fia itu? Apa hubungan kalian?”
Vir memicingkan matanya, Ia sama sekali tidak mengerti. Pertanyaan macam apa ini. Pikirnya.
Kenapa Daddy menayakan hal ini? dan kenapa nama itu di sangkut pautkan dengannya?. Apa yang telah terjadi, Apa wanita itu berbuat onar lagi dengan membeberkan kisah lama mereka. Berbagai tanya berseliweran di kepala Vir.
__ADS_1
“Dadd, Pertanyaan ini..”
“Jawab saja, tak perlu berkilah! Yang saya butuhkan hanya jawaban” Daddy kembali memotong ucapan Vir dan pria itu hanya mampu menghela napas, ia akan menuruti keinginan Ayah mertuanya.
“Dia hanya masalalu saya dan sekarang kami tidak punya hubungan apapun!” jawab Vir alakadarnya sesuai fakta.
Bughhh..
Daddy melayangkan bogemnannya pada perut Vir, membuat pria itu terhuyung.
“Jangan bohong!” Bentakan suara bariton itu kian meninggi.
Vir hanya menyergit menutup mata mendengarnya. Ia kembali berdiri tegak sambil memegangi perutnya. Sebisa mungkin ia menahan emosinya pada Pria yang menghujamkan bogeman sekaligus pertanyaan beruntun padanya. Ia tak suka diperlakukan seperti ini. Namun ia juga tak ingin kasar, mengingat pria dihadapannya itu adalah Ayah dari Aileen, wanita yang dicintainya.
Vir menghela napas berat “Aku bersumpah atas nama Tuhan, Aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengannya..”
“Kalau tidak ada, lalu kenapa wanita itu menyakiti Aileen? Dia melukai putriku!!” bentak Daddy dengan tatapan mematikan.
Jedar...
Vir menganga. Hatinya seakan tersayat mendengar kalimat yang Daddy lontarkan. Ia tidak tahu apa-apa namun mengapa mendegar hal mengenai Istrinya yang terluka ia seakan terkena serangan panik berlebihan.
“Ma-maksud daddy apa? Aileen kenapa?” Detak jantung Vir bertalu begitu cepat. Seakan tidak ada lagi ruang untuk menampung oksigen di dalamnya.
Wajahnya mulai gusar, ekpresi menahan amarah yang tadi dilakukannya kini berubah menjadi raut wajah penuh kekhawatiran. Ia begitu takut terjadi sesuatu pada istrinya.
“Wanita itu kekasihmu, bukan? Dia tidak terima dengan pernikahan kalian hingga membuatnya nekat menyakiti Aileen!”
“A-apa? Apa yang dia lakukan pada Aileen?” dengan bibir bergetar Vir ingin tahu kejadian sebenarnya.
“Tanyakan saja padanya! Saya sangat yakin jika kalian masih memiliki hubungan. Kalau tidak, mana mungkin dia berbuat nekat seperti ini.”
Vir menggeleng, apa yang Daddy katakan tidaklah benar.
“Asal kamu tahu Vir, melihat masalah yang menimpa Aileen saat ini, Saya sebagai orang tua sangat-sangat menyesali perjodohan kalian! Pernikahan ini menyakiti Aileen, dia tidak bahagia! Andai saja waktu bisa diputar mungkin saya akan menolak keinginan orang tua saya untuk perjodohan ini!” tuding Daddy dan Vir hanya terpaku.
“Saya harus pergi menjemput Aileen, Dad!” Saat Daddy Al sudah tidak lagi berbicara, Vir menggunakan peluang untuk meminta izin. Namun Daddy malah melemparkan tatapan mengintimidasi.
“Tidak perlu! Aileen akan pulang bersama saya, dia akan istirahat di rumah orang tuanya. Kau tidak perlu ikut campur! Urus saja wanita gila itu, Semenjak menikah denganmu dia lebih banyak menderita, jadi lebih baik menjauhlah!!”
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
“Eil!!! Aileeen..! Kau dimana Eil? Apa kau ada di dalam?” Vir berjalan dengan cepat di Sepanjang koridor tempat ruangan Aileen berada, Ia sudah berteriak memanggil nama istrinya.
Setelah berhasil membujuk Daddy yang sempat melarangnya bertemu dengan Aileen, Vir langsung bergegas menuju rumah sakit. Entah cara apa yang ia gunakan hingga bisa meluluhkan hati Ayah mertuanya yang begitu kekeh tak memberi izin.
Sedangkan Risa dan Nita yang tengah menemani Aileen menunggu Daddy nampak terkejut saat mendengar kegaduhan di depan ruangannya. Ketiga wanita itu saling tatap, mata mereka tertuju pada Pria yang langsung menerobos masuk dengan tatapan cemas.
Dengan wajah gusar dan rasa bersalah yang membuncah, Ia berlari menghampiri Aileen yang tengah duduk di sofa.
“Sun..!”
“Moon!” lirih Aileen yang sedikit terkejut dengan kehadiran suaminya. bahkan ia belum sempat memberi tahu pria itu namun ia sudah ada di sana. Daddy yang ia tunggu namun malah Vir yang datang.
Pria itu berlutut di hadapan Aileen, Ia tak lagi memikirkan Image-Image yang selama ini ia jaga. Kehadiran Risa dan Nita tidak diperdulikannya, yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah bagaimana kondisi istrinya.
Vir menatap wajah teduh istrinya. Wajah cantik itu di penuhi dengan goresan, Jidatnya yang terbalut perban semakin membuat hati Vir tersayat.
“Sayang, Maafkan Aku! Kau terluka karena ku...” Vir membawa Aileen ke dalam dekapannya. dan Aileen pun membalas pelukan itu, Ia terlihat mengelus lembut punggung suaminya yang mana merupakan tempat ternyaman dan teramaan baginya setelah pelukan Daddy dan Mommy.
“Hikkkss...” Rasa sakit yang dibendungnya sedari tadi kini meluap saat bersama Vir. Ia menumpahkan semua sakit hati yang dipendamnya sejak tadi. Kelakuan Fia tak hanya melukai fisiknya tetapi juga melukai mentalnya, wanita itu telah membuatnya malu dan kehilangan pekerjaannya dalam waktu yang bersamaan. Hatinya sakit sekali, namun ia berusaha menahannya di hadapan semua orang. Namun saat bersama Vir, ia tak lagi bisa membendungnya berlarut-larut. Ia menumpahkan kesedihannya di pundak sang Suami.
“Menangislah, Sun! Aku tidak akan melarangmu!! Maafkan aku yang tidak bisa melindungimu!” Setetes bulir bening terlihat menetes dari sudut mata Vir. Pria itu begitu terluka melihat keadaan istrinya yang seperti ini.
__ADS_1
“Moon, Wanita itu mempermalukan ku! Dia membuatku kehilangan muka di hadapan semua orang! Hikkks..” Aileen menangis sesenggukan di pundak sang suami.
Sementara Vir, pria itu membiarkan Aileen untuk mengeluarkan semua yang dipendamnya. Karena dari istrinyalah ia tahu sedikit banyak tentang bagaimana cara menghadapi seseorang saat dalan kondisi seperti ini. Dan saat ini istirnya tengah mengeluarkan seluruh isi hatinya.
“Ini memalukan. Aku dipecat setelah membalas perlakuannya. Apa aku salah, Moon? Apakah seorang dokter juga tak bisa melakukan pembelaan jika dirinya sedang terancam, walaupun masih di rumah sakit? Tidak bisakah kita merubah isi peraturan itu?” Aileen begitu tertekan, Ia seperti tak rela dengan keputusan pemecatan. Ia sendiri tahu letak kesalahannya, hanya saja ia sedang berusaha menenangkan diri dengan mengeluarkan seluruh isi hatinya kepada Vir.
Menangislah sayang, jika itu akan membuatmu tenang!
Sementara Risa dan Nita yang melihat itu, begitu sedih mendengar penuturan Aileen.
Vir melepaskan pelukannya, tangannya terangkat menggenggam bahu sang istri. Ia tak menyangka luka Aileen akan separah ini. Rasa bersalah menyeruak ke dalam diri, perasaan gagal dalam melindungi Aileen membuncah menjadi sebuah penyesalan.
Namun perkataan Aileen membuatnya makin terkejut dan heran
“Sayang, maksudmu apa? Kau dipecat karena masalah ini?. Tapi kenapa, bukankah kau hanya korban?” Vir tak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya. Ia sama sekali belum mengerti, apakah ada masalah lain yang belum diketahuinya.
Alih-alih menjawab, Aileen justru semakin terisak dan mengeratkan pelukannya pada Vir.
Vir yang ingin tahu lebih lanjut segera menatap ke arah Risa dan Nita. Dia memang tidak begitu akrab dengan dua rekan istrinya itu, namun ia pun tak bisa menahan diri lebih lama untuk mengetahui apa maksud perkataan istrinya itu.
Risa dan Nita saling tatap, Mereka yang merasa suami Aileen itu harus tahu saling mengangguk meyakinkan diri untuk memberi tahu kejadiannya.
Sambil memberi ketenangan pada istrinya, Vir pun bersiap mendengar penuturan dari Risa dan Nita
“Dr Aileen membalas perlakuan wanita tadi dengan tak kalah brutalnya dan itu melanggar kode etik kedokteran apalagai ini masih di lingkungan rumah sakit” jelas Risa, dengan Nita yang hanya mengangguk mengiyakan.
Mendengar itu, Vir terkejut sekaligus geram. Ia terkejut karena tak menyangka jika ternyata istrinya segarag itu sampai membalas perlakuan Fia. Dan yang membuatnya geram adalah atas keputusan pemecatan yang dilakukan. Ia tahu betul Jika Istrinya begitu mencintai profesinya, namun ia malah dipecat karena ulah Fia ini .
“Lalu dimana wanita itu?”
“Sepertinya masih ditangani dokter!” Ucap Dr Risa.
“Aku rasa dr yang lain akan kewalahan, wanita itu seperti ODGJ! tidak punya etika!” celetuk Nita asal yang mana langsung mendapat sikutan dari Risa.
“Kenapa? itu benar kan, selain tidak tahu diri dia juga gila” imbuh Nita lagi, yang mana membuat Dr Risa hanya bisa menghela napas.
Setelah dirasa istrinya cukup tenang, Vir menangkup wajah Aileen lalu menciumnya. Jemarinya terangkat mengusap bulir bening yang tersisa di ujung manik cantik Istrinya.
Cup..
Dan yang terakhir Vir mendaratkan kecupan itu di bibir ranum Aileen. Kecupan itu perlahan berubah menjadi ******* dan belitan hangat dalam durasi yang cukup lama. Aileen terlihat menikmati permainan suaminya.
Yang mana membuat Dr Risa dan perawat Nita yang ada di sana saling tatap dengan penuh kecanggungan. Keduanya nampak blushing menyaksikan live streaming kesedihan yang berakhir dengan adegan 18+.
Sementara Aileen dan Vir nampak biasa saja tanpa memikirkan keadaan sekitar. Ibarat kata, jika sudah cinta dunia serasa milik berdua. Yang lain ngontrak.
Dan hal itulah yang tengah terjadi pada keduanya. Suasana kesedihan tak menyulutkan gelora ciuman mereka.
“Tunggu sebentar! Ada sesuatu yang harus aku selesaikan” Vir mengusap ujung bibir istrinya setelah ciuman yang keduanya lakukan.
“Mau kemana? Kita pulang saja ya!” dengan suara parau Aileen menarik tangan Vir yang sudah siap beranjak.
Pria itu kembali berjongkok, ia menggenggam kedua tangan snag istri. Seulas senyum terbit dari bibir manisnya.
“Hanya sebentar, Sun! Aku tidak akan lama. Setelah itu kita langsung pulang ke rumah Daddy, dia ingin kita menginap..”
Aileen pun membiarkan suaminya ke luar untuk menyelesaikan urusan yang dimaksud.
“Saya titip, Istri saya! Seru Vir pada Risa dan Nita. Setelah itu, iapun pergi. Entah urusan apa yang ingin ia selesaikan.
_______________________________________
Happy Reading...
__ADS_1
Maaf kalo garing, 😅
Sekali lagi mohon dukungannya nya gays❤️❤️