
Melihat jam sudah semakin larut malam, Sharma berniat untuk pulang ke kosnya. Sementara Tantenya yang ikut membantu sharma menolong pak Sugito sudah pulang lebih dulu. Karna suami tantenya sudah menghubunginya dan meminta agar segera pulang.
"Ah lebih baik aku pulang dari pada harus melihat pak pol songong ini." ucap Sharma dengan nada kecil. Tetapi masih bisa didengar oleh Briptu Erick. Tiba tiba Sharma ingat kalau dirinya tidak membawa motor matic miliknya, karna sewaktu menolong pak Sugito mobil tantenya yang mereka gunakan untuk membawa pak Sugito kerumah sakit.
"Waduh gue lupa.....kan gue tidak bawa motor" gumam Sharma sambil menepuk jidatnya. Sharma berniat pulang kekosnya dengan menggunakan taksi online, dirogohnya ponselnya yang ada Di dalam tas ransel miliknya. Berniat untuk memesan taksi. Tiba tiba Briptu Erick langsung merampas ponsel milik Sharma. Karna ia tidak ingin kalau Sharma pulang sendiri dengan menggunakan taksi online mengingat jam sudah larut malam.
"Eh pak pol.... sini ponsel gue! main rampas ponsel orang saja." gerutu Sharma sambil berusaha meraih ponsel miliknya dari tangan Briptu Erick. "Eh perempuan bar bar.....kamu tidak lihat nih sudah jam Berapa? tidak baik seorang perempuan pulang sendirian, memangnya kamu mau di ganggu sama orang jahat diluar sana? sama seperti yang dialami sahabatmu Morina hah?" ucap Briptu Erick membuat Sharma langsung terdiam.
"Terus gue harus gimana dong? kan tidak mungkin gue harus nginap dirumah sakit ini." hardik Sharma. Briptu Erick hanya memandang Sharma yang sedari tadi menggerutu dan mengupat Dirinya. Tiba tiba dokter yang mengoperasi pak Sugito keluar dari ruang operasi. "Bagaimana keadaan ayah saya dokter?" tanya Briptu Erick kepada Dokter yang bertugas mengoperasi pak Sugito.
"Alhamdulillah....operasinya berjalan dengan lancar. untung segera dibawa kerumah sakit kalau tidak akibatnya akan fatal sekali." ucap dokter kepada Briptu Erick." Trimakasih banyak dokter, sudah menolong ayah saya." ucap Briptu Erick kepada dokter. " jangan berterimakasih kepada saya pak tapi berterimakasih lah kepada nona ini, karna nona ini yang bersusah payah membawa ayah anda kerumah sakit " terang Dokter Aprijon.
Mendengar penuturan dari Dokter, Briptu Erick langsung terdiam. Kemudian dokter langsung meninggalkan Briptu Erick didepan ruang operasi bersama Sharma. Sementara suster sudah memindahkan Pak Sugito ke ruang rawat inap. Briptu Erick melihat kondisi ayahnya yang begitu memperhatikan, Briptu Erick begitu menyesal mengabaikan telepon dari ponsel ayahnya.
"Maafkan aku pa...sudah mengabaikan telepon dari ayah." ucap Briptu Erick berbicara kepada ayahnya yang belum sadar. Apalagi kondisi pak Sugito sangat lemah ia melihat ditubuh pak Sugito Terdapat beberapa selang dan alat alat medis terpasang ditubuh pak Sugito. Membuat Briptu Erick semakin kwatir akan kondisi ayahnya.
"Ayah bertahanlah....aku janji akan memenuhi apa permintaan ayah, Erick mohon pa cepat sembuh ya pa..." Kata Briptu Erick sambil memeluk ayahnya yang belum sadar. Sementara Sharma terdiam melihat interaksi Briptu Erick dengan ayahnya. "Ternyata pak pol songon ini punya empati juga." gumam Sharma dalam hati.
__ADS_1
Kemudian Sharma berlalu dari ruang rawat inap pak Sugito menuju kantin yang ada dirumah sakit. Untuk sekedar membeli makanan dan minuman. Mengingat Sharma sama sekali belum makan malam. " Pak air mineralnya dua ya, terus nasi pakai ayam 2 dibungkus." pesan Sharma kepada pengelola kantin yang ada disekitar rumah sakit.
Ditempat lain, Erick yang melihat Sharma tidak ada disana, bertanya tanya dalam hati." kemana wanita bar bar itu?" tanyanya dalam hati karna Briptu Erick menghawatirkan Sharma. Ketika Briptu Erick sibuk dengan lamunannya, Sharma masuk dan langsung memberikan makanan dan minuman yang ia beli dari kantin dekat rumah sakit.
"Nih dimakan dulu." ujar Sharma sambil langsung memberikan kantong plastik yang berisi makanan dan air mineral yang dibelinya dari kantin. Entah karna Briptu Erick memang sangat lapar, sehingga Briptu Erick langsung melahap makanan yang diberikan oleh Sharma kepadanya.
Dengan sekejap makanan itu ludes tanpa sisa membuat Sharma menggelengkan kepalanya."ini lapar apa doyan?" gumam Sharma dalam hati melihat cara makan Briptu Erick yang sekejap selesai makan." Loh kamu kenapa tidak makan?" tanya Briptu Erick yang melihat Sharma hanya memandangi dirinya.
"Melihat pak pol makan saja saya sudah kenyang." jawab Sharma sambil terkekeh melihat mengingat cara makan Briptu Erick seperti makan di Medan perang.
"Dari mana jalanya melihat saya makan kamu kenyang? yang logika saja dong" kata Briptu Erick pura pura tidak tau apa maksud dan tujuan perkataan Sharma.
Briptu Erick pun langsung tepuk jidat karena dirinya lupa mengabari Ibu Rohana yang merupakan ibu kandung dari Briptu Erick.
"Ya ampun saya sampai lupa ngabarin ibu."ucap Briptu Erick membuat sharma tidak habis pikir Mengapa Briptu Erick sampai lupa menggambar ibunya.
Briptu Erik pun berniat menghubungi Ibu Rohana. Tetapi Sharma melarangnya karena jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. "Maaf Pak ....pol lebih baik pak pol mengabarinya besok pagi saja, mengingat ini sudah jam istirahat. Aku yakin ibu anda Sudah terlelap. Jadi tidak bagus mengganggu orang lain istirahat." ucap Sharma kepada Briptu Erick.
__ADS_1
Briptu Erick pun langsung mengurungkan niatnya menghubungi Ibu Rohana, Iya takut jika Ibu Rohana mengetahui keadaan Pak Sugito Ibu Rohana akan nekad datang ke rumah sakit malam itu juga. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.
"Trimakasih banyak sudah menolong ayah saya." ucap Briptu Erick tiba tiba. Membuat Sharma sedikit heran, ternyata seorang Briptu Erick mampu mengucapkan terima kasih kepada dirinya.
"Sama sama ! saya juga akan melakukan hal yang sama terhadap orang lain jika membutuhkan pertolongan saya." kata Sharma sembari duduk di sofa yang ada diruang rawat inap pak Sugito.
Entah karena faktor kecapekan sehingga Sharma pun langsung terlelap tidur disofa tepatnya di ruang rawat inap Bapak Sugito. Briptu Erick yang melihat Sharma sudah tertidur, ia mengembangkan senyumnya."Dibalik bahasa dan tutur katamu yang kasar, ternyata hatimu sangat baik." Gumam Briptu Erick sambil memperhatikan wajah cantik Sharma."ternyata kamu cantik juga" kata Briptu Erick.
Tiba tiba Suster masuk untuk mengontrol obat dan infus, pak Sugito. "Maaf pak istri anda kok tidur di sofa? kasihan pak badannya pasti sakit itu" Kata suster yang bertugas sif malam.
mendengar kata suster yang mengatakan kalau Sharma itu istrinya, Briptu Erick mengembangkan senyumnya.
Bersambung........
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya 🙏🙏🙏🙏🙏 trimakasih
yuk baca juga novel outhor yang berjudul ranjang panas om duda dan my bos cool husband.
__ADS_1