
Ketika Briptu Erick berpamitan kepada Antonio, Briptu Erick mencari keberadaan Sharma. " Kemana wanita bar bar itu." Gumamnya dalam hati sambil clingak clinguk mencari keberadaan Sharma. Tetapi Briptu Erick tidak menemukan Sharma disana. Karna sebelumnya Sharma kembali menemui ibu Dewi ke taman belakangan untuk menikmati indahnya dan udara sejuk disana.
Briptu Erick kembali kekantor untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang perwira polisi. Ia menghidupkan motor besar miliknya, membuat Sharma kembali menggerutu di taman belakang. " Dasar polisi tidak punya ahlak, ngak bisa apa mengganti kenalpot motornya itu supaya tidak berisik." umpat Sharma dalam hati.
Sementara Morina dan Zahra pun kembali menghampiri ibu Dewi ke taman belakang.
"Kamu disini sar?" kamu kenapa sih sar begitu bangat sama Briptu Erick? kamu tidak ada segan segan nya ngatai Briptu Erick seperti itu?" pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan kedua sahabatnya kepada Sharma.
Sharma terdiam mendengar pertanyaan dari kedua sahabatnya. Ia pun tidak tau mengapa dirinya begitu membenci Briptu Erick, "Ya aku tidak suka aja melihat orang yang berprofesi sebagai perwira polisi, karna perwira polisi kebanyakan munafik." ucap Sharma membuat Zahra dan Morina terkejut mendengar jawaban sahabat mereka. Yang membenci seorang yang berprofesi sebagai polisi.
"Loh kok kamu ngomong seperti sar? tidak boleh ngomong seperti itu sar polisi itu kan mengayomi masyarakat dan melindungi masyarakat?" ucap Zahra. "Apa!" melindungi? melindungi dari mananya dari Hongkong? hasil Sharma kepada kedua sahabatnya membuat Zahra dan Sharma menggelengkan kepala.
"Kalian tidak tau sih tadi pagi sudah mau saya tabok tuh Briptu Erick, masa sih seorang perwira polisi mengendarai motor yang suaranya berisik? padahalkan didalam peraturan lalu lintas saja, kenalpot nyang berisik dilarang? coba tadi masyarakat biasa yang mengendarainya pasti sudah ditilang tuh polisi." ucap Sharma mengebu gebu.
Zahra dan Morina hanya geleng kepala melihat sikap sahabatnya yang membenci Briptu Erick hanya karna knalpot motornya yang berisik menurut Sharma. "Nanti bisa bisa dari benci jadi benar benar cinta loh." ucap Antonio yang baru datang dari ruang tamu ke taman belakang untuk menemui kekasihnya.
"Tidak mungkin aku jatuh cinta sama polisi songong itu." tepis Sharma membuat Antonio langsung tertawa terbahak melihat Sharma salah tingkah ketika Antonio mengatakannya akan jatuh cinta kepada Briptu Erick.
dilain tempat, Briptu Erick yang baru tiba di kantor tempat dirinya mengapdikan diri sebagai perwira polisi, kepikiran akan sumpah Sharma di kediaman Antonio. " "Wah wanita bar bar itu sudah keterlaluan menyumpahi ku menjadi panglatu." gumam Briptu Erick kesal mengiangat Sharma yang begitu membencinya.
Tiba tiba sang komandan Menghampiri Briptu Erick." Briptu Erick Bagaimana perkembangan kasus penculikan putri dari tuan Jose Miller apa sudah ada perkembangan? tanya komandan Briptu Erick. Tetapi Briptu berik tidak menjawab. Bahkan dia sibuk dengan lamunanyan. Melihat Briptu Erick tidak merespon atau menjawab sang komandan membuat sang komandan membentak Briptu Erick.
__ADS_1
"Plak..... suara meja tepatnya yang ada dihadapan Briptu Erick di pukul oleh sang komandan membuat Briptu Erick terkejut.
"Siap komandan" ucap Briptu Erick sambil memberi hormat kepada sang komandan. yang baru Buyar dari lamunannya akibat sang komandan yang tiba tiba memukul meja yang ada dihadapannya.
"Briptu Erick saya tadi berbicara kepada anda tetapi anda tidak menjawab pertanyaan saya,
"Siap salah Komandan" ucap Briptu Erick kepada sang komandan.
"Akibat kesalahanmu yang mengabaikan pertanyaan saya, maka kamu saya hukum Scot jump 50 kali dimulai dari sekarang." perintah sang komandan
Briptu Erick pun menjalankan perintah sang komandan Scot jump sampai 50 kali. setelah selesai melakukan hukuman yang diberikan komandannya, sang komandan kembali bertanya kepada Briptu Erick mengenai perkembangan kasus penculikan Morina putri dari pengusaha kaya raya yang ada di Indonesia.
"Bagus ....kawal kasus ini Samapi tuntas, saya percaya kemampuan kamu Briptu Erikson Sanjaya." puji sang komandan kepada Briptu Erick. Tapi jangan diulangi lagi melamun disaat jam kerja." ucap sayang komandan kepada Briptu Erick. "Siap komandan." ucap Briptu Erick
Sang komandan pun meninggalkan Briptu Erick diruangannya, Briptu Erick kembali teringat akan sumpah Sharma yang menumpanginya menjadi panglatu. "Ia juga sih aku sudah tua juga. Antonio saja yang satu umuran samaku sudah punya anak gede dan sudah mau menikah yang keduakalinya nah aku, untuk sekali saja belum" gumamnya dalam hati.
Briptu Erick ingat diumur nya yang sudah menginjak 38 tahun tak kunjung menikah. Apalagi gara gara Briptu Erick belum menikah, adiknya Andita juga ikut menanggung akibatnya. Hal itu membuat Briptu Erick merasa bersalah kepada adiknya Andita.
"Maafkan kakak dek...karna kakak pernikahan mu jadi tertunda." gumam Briptu Erick karna merasa bersalah kepada andita.yang tidak diberi Restu dari orangtuanya akibat Briptu Erick yang tak kunjung menikah.
Keesokan harinya Sharma berangkat ke kampus. Ya Sharma satu jurusan dan satu kelas dengan Andita. Tetapi Sharma tidak mengetahui kalau Andita itu adik Briptu Erick.
__ADS_1
dengan mengunakan motor matic miliknya, Sharma tiba dikampus. Ia langsung masuk kelas mengingat dosen yang menurutnya killer akan mengajar mereka pagi itu.
Andita yang baru tiba, Langsung menghampiri Sharma."Sar kamu sudah siap tugas dari pak Arif tidak" tanya Andita kepada Sharma. "Alhamdulillah sudah ta" jawab Sharma memberitahu bahwa tugas dari dosen mereka sudah selesai dikerjakan oleh Sharma, walau dibantu oleh sahabatnya Morina yang otaknya encer dibandingkan dirinya.
"Aduh aku belum siap loh sar Gimana ya" kata Andita. " gini saja salin saja dari tugas aku, agar kamu tidak dihukum sama dosen killer itu" ujar Sharma kepada Andita karna Sharma tidak tega melihat teman satu kelasnya harus dihukum karna tidak menyelamatkan tugas.
"Sharma memberikan buku tugasnya kepada Andita, agar Andita dapat menyalin tugas yang dikerjakan oleh Sharma di buku tugas Andita. dengan terburu-buru Andita menyalin tugas milik Sharma, agar dosen yang menurut mereka killer tidak mengetahui kalau Andita menyontek milik Sharma.
Setelah Andita selesai menyalin tugas dari buku Sharma, Andita mengembalikan buku tugas milik Sharma. Tiba tiba pak Arif datang sang dosen killer. "Silahkan kumpulkan tugasnya." Perintah pak Arif kepada mahasiswa universitas Brawijaya."
"Siapa yang tidak mengerjakan tugas maju ke dapan" ucap pak Arif dengan nada tegas membuat nyali mahasiswa universitas Brawijaya menjadi menciut. Ada beberapa orang yang tidak mengerjakan Tugas. mereka yang tidak mengerjakan tugas di hukum tidak bisa mengikuti mata kuliah yang diajarkan pak Arif selama jam kuliah berlangsung.
"Untung ada kamu Dewi penyelamatan ku." Bisik Andita kepada Sharma. Sharma hanya mengebangkan senyumnya.
Bersambung.......
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏 🙏🙏🙏
jangan lupa mampir kekaryaku yang lainya. ceritanya seruloh."
__ADS_1