
"Mas kamu dimana?"
"Mas tolongin Sharma?" tangis Sharma . dia sudah tidak tau dimana dia berada, semuanya tampak sepi dan gelap. Sharma tidak dapat berbuat apa apa. Badannya semuanya terasa capek dan lelah. Apalagi para algojo menyiksanya dan memberikan tamparan tamparan yang begitu dahsyat sehingga seluruh tubuh Sahrma lebam. dan dibagian sudut bibir Sahrma mengeluarkan darah segar, akibat tamparan yang dilakukan para algojo terhadap Sharma.
Ia hanya berharap bekas kasihan dari salah satu algojo. Sharma sudah begitu haus dan kelaparan. Karna dari siang hingga malam dirinya sama sekali tidak makan dan minum. Hal itu membuat tubuhnya semakin lemah.
Sharma tidak menyangka dia mendapat siksaan seperti itu. padahal dirinya tidak pernah punya masalah dengan seseorang.
Ia terus hanya mengais dan menangis berharap ada seseorang yang menolong dirinya dari sekarang para penjahat. Ia juga tidak tai siapa dalang dibalik itu semua. Yang ia tau ada seseorang yang menghubungi para algojo Nyang menyiksanya. Tetapi Sahrma sama sekali tidak mengetahui siapa yang menghubungi para algojo untuk memerintahkan menyiksanya.
sementara firasat ibu tidak boleh dipungkiri. Ibu meli yang sedang berada dirumahnya tepatnya di Bogor tampak gelisah dan pikirannya terus kepada Sharma. Padahal Briptu Erick sama sekali belum memberitahu perihal hilangnya shrama.
"Aduh perasaanku kok tidak enak ya?"
"Apa putriku baik baik saja?" pertanyaan demi pertanyaan timbul dibenak ibu meli,Ia sangat kepikiran kepada putri semata wayangnya.
Bu meli bertanya kepada pak Fernando.
"Pi!" perasaan mami kok enak ya?
"Pikiran mami terus sama putri kita!" apa terjadi sesuatu sama putri kita?"
"Mungkin karna mami terlalu merindukannya mi." ucap pak Fernando.
"Tidak Pi!" jantung mami terasa berdegup kencang dan pikiran mami terus mengarah kepada putri kita." ucap ibu Mila kepada suaminya
Hingga ibu meli memutuskan untuk menghubungi nomor ponsel putrinya. Tatapi ketika ibu meli menghubungi Sharma, nomor ponsel Sharma tidak aktif dan diluar jangkauan. Bu meli memutuskan untuk menghubungi Briptu Erick.
__ADS_1
Tut....
Tut...
Tut..
sambungan telepon seluler tersambung dengan Briptu Erick. Briptu Erick yang melihat nomor ponsel ibu mertuanya yang menghubungi dirinya langsung mengangkat sambungan telepon selulernya.
"Ya mam!"
"Apa kabar nak?" apa kalian baik baik saja?" Tanya ibu meli kepada Briptu Erick. Briptu Erick bingung harus menjawab apa, ia taku ibu mertuanya shok berat sehingga dirinya tidak memberitahu perihal mengenai hilangnya Sharma .
Hingga Briptu Erick meminta ibu Sharma dan pak Fernando datang ke Jakarta untuk sekedar berkunjung. Karna ia tidak mampu mengatakan kejadian yang sebenarnya kepada ibu dan ayah mertuanya.
Setelah sambungan telepon selulernya berakhir,Briptu Erick begitu gelisah. Ia takut ibu dan bapak mertua nya kecewa terhadapnya. Iapun Menghubungi tuan Jose Miller untuk sekedar meminta bantuan, agar tuan Jose Miller meminta anak buahnya membantu dirinya mencari keberadaan Sharma.
Hal itu membuat Briptu Erick kuat dugaannya kalau Sharma di culik dan dibawa keluar pulau Jawa. Agar para anak buah Briptu Erick tidak dapat melacak keberadaan Sharma. Bahkan Sharma dilarikan ke sebuah desa terpencil yang penghuninya hanya beberapa rumah tangga saja.
Briptu Erick semakin emosi, mereka melakukan pencarian dikawasan terakhir ponsel Sharma terdeteksi. Tatapi hasilnya tetap nihil, Tetapi Briptu Erick tidak putus asa ia terus mencari istrinya. Briptu Erick sampai lupa makan dan minum hanya untuk mencari keberadaan Sharma.
"Sayang kamu dimana?"
"Sayang!" mas mengkawatirkan kamu?"
"Dimana kamu sayang?" tangis Briptu Erick karna ketika mereka mencari keberadaan Sharma di lokasi terakhir ponsel Sharma terdeteksi, Tetapi hasilnya nihil membuat Briptu Erick merasa Gagal menjaga istrinya.
"Ya Allah beri petunjuk mu agar aku dapat menemukan istri ku." Doa Briptu Erick dalam hati. Ia tak henti-hentinya menangis dan berdoa agar mendapat petunjuk dari Allah cara bagaimana menemukan Sharma.
__ADS_1
ditempat lain, Sharma yang sudah mendapat siksaan yang bertubi tubi dari para algojo sudah semakin lemas dan tidak bertenaga sama sekali. "Ha ha ha ha " kita lihat saja apa yang bisa kamu lakukan kepada suami kamu yang katanya abdi negara itu.
istrinya aja tidak bisa diselamatkan Gimana mau menyelamatkan negara ini?" Ha ha ha ha tawa itu kembali bergema di gudang kosong itu.
Hingga para algojo berniat untuk menodai Sharma.
"Gimana! sepertinya dia cantik cocok juga untuk pelampiasan Ini yang sudah lama tidak menyentuh tubuh wanita cantik." kata salah satu algojo itu kepada rekanya.
"Jangan dulu bro!" tunggu dapat perintah dulu dari bos!" siapa tau kita dapat jatah plus dapat menikmati tubuh gadis cantik ini." ucap salah satu rekan algojo.
Sharma hanya dapat menangis meratapi nasibnya. Nyawanya bagai diujung tanduk membuat Sharma sudah pasrah. "Ya Tuhan jika kau berkehendak aku masih hidup, berilah petunjuk kepada suamiku agar dirinya dapat menemukan aku Tetapi jika engkau tidak menghendaki ku lagi untuk hidup di dunia ini, maka cabut lah nyawaku sekarang juga daripada tubuhku ini dinodai orang orang yang tidak bertanggung jawab. Doa Sharma dalam kepasrahan ya.
Para algojo sepertinya melakukan penjagaan diluar. Mereka membiarkan Sharma begitu saja di dalam gudang itu. Tiba tiba posel milik Sharma bergetar pertanda jaringan Telkomsel dapat mendeteksi nomor ponsel Sharma. Ia berusaha meraih ponselnya yang ada disaku celananya.
Tetapi ketika ia dapat meraih ponselnya, algojo tiba tiba datang menghampiri dirinya. Untuk sekedar membawa air sumur untuk diberikan kepada Sahrma. Sharma langsung berusaha menyembunyikan ponselnya, agar algojo tidak mengetahui kalau Sharma masih memegang ponselnya.
"Hum m m " ucap Sharma karna dirinya tidak bisa meminum air sumur itu tanpa mulutnya terbuka. algojo yang mengerti maksud dari perkataan Sharma, langsung membuka mulut Sahrma . Dengan terpaksa karna sudah lapar dan haus Sharma meminum air sumur itu untuk sekedar bertahan hidup.
Seumur umur Sharma belum pernah merasakan air sumur mentah. Jangankan air sumur, Air mineral yang tidak ada Lebel higenis nya Sharma tidak mau meminumnya. Tetapi untuk saat ini Shama harus melakukanya untuk sekedar bertahan hidup demi suami dan keluarganya yang pasti sudah mengkawatirkan dan mencari cari dirinya.
"Tolong saya saya sesak pipis dan buang air besar." ucap Sharma berharap algojo itu memberinya ijin untuk sekedar kekamar mandi yang mana Sharma sudah ingin buang Air kecil. Sejujurnya dia sudah lama menahan nya tetapi karna dirinya tidak bisa berbicara dan bergerak! membuat Sharma harus berusaha menahannya.
Bersambung.......
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏
jangan lupa mampir ke karyaku yang lain yang pasti ceritanya seruloh.
__ADS_1