
Ketika Morina dan Zahra sudah tiba di rumah sakit, tepatnya di ruang rawat inap baby Prasetya. Mereka Langsung memeluk baby Prasetya.
"Keponakan Tante kenapa Sayang kok sakit sih sayang? jagoan tante harus kuat dong." ucap Zahra dan Morina kepada baby Prasetya. sambil mencium pipi tembem baby Prasetya.
"Oh iya Sharma Apa kata dokter kenapa sampai baby Prasetya dirawat?
"Kata dokter sih baby Prasetya hanya demam biasa dan itu biasa dirasakan oleh baby yang lagi masa pertumbuhan. Apalagi lagi tumbuh gigi." ucap Sharma kepada kedua sahabatnya
Zahra dan Morina pun manggut-manggut pertanda mereka mengerti apa yang dikatakan Sharma.
"Sar gue bisa ngomong sama lo tidak?" ada sesuatu yang harus lo ketahui." ucap Zahra kepada Sharma.
"Ada apa sih Sepertinya kamu serius banget? tanya Sharma penasaran.
"Iya ada apa kok Kamu sepertinya kamu khawatir seperti itu?" Timpal Briptu Erick.
"Lebih baik lo ikut gue, gue mau ngomong sama lo penting." ucap Zahra sembari menarik tangan Sharma keluar dari ruang rawat baby Prasetya. Hal itu membuat Erick semakin penasaran apa yang akan dibicarakan oleh Zahra kepada istrinya. Sepeninggalan Zahra dan Sharma, Erick pun bertanya kepada Morina apa apa sebenarnya yang ingin mereka bicarakan.
"Ada apa sih mori kok kalian sepertinya sembunyi-sembunyi apalagi dari raut wajah Zahra tadi ada kekhawatiran di sana, Kakak temukan." ucapan Erick kepada Morina
"Entahlah Kak Morina juga bingung nanti saja kita tanya apa yang mereka bicarakan." kata Morena menghindari pertanyaan dari Briptu Erick.
Sementara Zahra dan Sharma yang sudah berada di luar ruangan baby Prasetya. Zahra pun mengingatkan Sharma dan memberitahu maksud dan tujuan Bagas yang ingin merusak rumah tangganya. Hal itu membuat Sharma sangat terkejut. Begitu nekatnya Bagas berbuat seperti itu. Sharma tidak ingin Bagas terlalu berharap dengannya. karena cinta dan kasih sayang sharma hanya untuk Briptu Erick dan baby Prasetya. Tidak ada laki-laki lain yang ada di hatinya Selain Briptu Erick.
"Pokoknya kamu harus lebih berhati-hati sama Bagas, dia dapat melakukan apapun untuk mendapatkan kamu. Termasuk menghalalkan segala cara." kata Zahra memperingati Sharma agar lebih berhati-hati terhadap Bagas.
"Baiklah aku akan lebih berhati-hati kepada Bagas. Lagian aku rasa bagus itu sudah sinting ya, masa dia sudah tahu aku menikah dan punya anak tapi masih aja dia ingin mengejar Ku Ucap Sharma kepada Zahra.
__ADS_1
"Ya namanya juga sudah cinta apapun akan dilakukan.
"Itu namanya bukan cinta Ra melainkan obsesi sahut Sharma.
"Itulah makanya aku bicarakan ini kepada kamu karena tadi di kampus Bagas mengatakan demikian. Ia tidak peduli kamu sudah menikah atau tidak. Yang pasti kamu harus jatuh ke pelukan nya itu yang dikatakan kepada kami. sehingga kami pun khawatir dengan keutuhan rumah tanggamu.
"Kalian Tenang saja, aku akan mengatasi Ini semua. Bukan Sharama namanya kalau tidak bisa mengatasi seorang Bagas. Kamu tau sendiri kan siapa Sharma dan siapa ayah kandung Sharma? Jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkannya Jika dia melakukan kekerasan maka maka akan aku ladeni dia dengan kekerasan. Jika dia melakukan dengan lembut maka aku lebih lembut kepadanya.Tapi yang pasti aku tidak akan pernah jatuh ke pelukannya.
"Syukurlah Kamu mempunyai prinsip seperti itu. Karena kami tahu kalau kak Erick sangat menyayangi dan mencintaimu.
"Iya aku tau Mas Erick sangat mencintaiku makanya dia selalu berani berkorban untukku apapun dilakukan untuk kebahagiaan ku.
"Terima kasih kalian sudah sangat peduli dengan keutuhan rumah tangga aku. Aku tidak tau harus bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Kalian benar-benar sahabat terbaikku." ucap Sarma sambil langsung memeluk Zahra.
Setelah selesai berbicara panjang lebar antara Zahra dan Sharma mereka kembali menghampiri Morina, Prasetya dan juga Erick yang ada di ruang rawat inap.
"Apa sih yang kalian bicarakan sepertinya serius banget?apa mas tidak boleh tahu apa yang kalian bicarakan?" tanya Erick kepada Zahra.
Sementara di tempat lain Merli yang mendapat kabar Kalau keponakannya masuk ke dalam rumah sakit ia pun meminta Yudha Untuk mengantarkan dirinya langsung menjenguk baby Prasetya. Tetapi ketika Merli menghubungi Sharma, kondisi baby Prasetya tidak kenapa-kenapa. Marli pun mengurungkan niatnya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk baby Prasetya.
Merli menghampiri inamorata yang sedang bermain dengan baby sister dan juga beberapa asisten rumah tangga nya. Ia pun memanggil inamorata agar mereka makan bareng bersama Yudha. Tetapi inamorata mengatakan kalau dirinya sudah makan diberikan oleh baby sister.
"Sayang kita makan yuk ajak Merli kepada inamorata
"Ina sudah makan mi, tadi suster Yang buatin.
"Ina ingin dedek bayi saja." imbuh Ina
__ADS_1
Merli pun mengembangkan senyumnya ke arah ke inamorata sambil memeluk putrinya satu-satunya.
"Doain saja ya Putri Mami yang cantik." ucap Merli kepada inamorata sambil mengelus wajah cantik putrinya. Sejujurnya Merli tidak tega melihat putrinya yang terus-terusan tiap hari meminta seorang adik kepada Merli dan juga Yudha. Ketika Merli memeluk inamorata tiba-tiba Merli mengalami mual, Merli langsung masuk ke kamar mandi untuk menumpahkan isi dalam perutnya.
Kepalanya sedikit pusing rumah seakan berputar ia lihat sehingga dirinya terduduk di dalam kamar mandi. inamorata yang melihat Merli sedang muntah-muntah langsung memanggil Yudha.
"Papi...... Papi....." mami!
"Ada apa Sayang Kok teriak-teriak panggil papi sahut Yudha kepada putrinya
"Mami Sakit mami muntah muntah di kamar mandi. Mami sudah lemas, Papi Ayo bantu Mami." ujar inamorata sambil menarik tangan Yudha masuk ke dalam kamar mandi. Yudha yang melihat istrinya sudah terduduk lemas di kamar mandi langsung menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar agar istrinya dapat istirahat.
"Kamu kenapa Sayang?
"Kamu sakit?
"Tidak tau Mas, tiba-tiba saja ketika Merli memeluk innamorata Merli merasa mual dan kepala sedikit pusing.
"Ya sudah kita ke dokter ya. ujar Yudha kepada istrinya.
"Tidak perlu Mas Mungkin sebentar lagi pulih kok."
"Tidak apa-apa sayang, lihat wajah kamu sudah pucat dan lemas. Mas tidak bisa melihat kamu seperti ini sayang." imbuh Yudha kepada istrinya. Karena dirinya tidak tega menatap istrinya yang sudah pucat dan berkeringat dingin.
"Pokoknya Marli tidak mau ke rumah sakit Merli hanya di rumah saja."
"Ya sudah kalau begitu Mas panggil aja dokter ke Rumah untuk memeriksa kondisi kamu ujar Yudha kepada istrinya.
__ADS_1
Bersambung....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih.🙏🙏🙏🙏🙏