
Ketika Briptu Erick dalam perjalanan menuju Jakarta, Briptu Erick berusaha menghubungi nomor ponsel milik istrinya. Tapi tidak ada jawaban sama sekali. Berulang ulang Briptu Erick menghubungi nomor ponsel Sharma tapi hasilnya tetap nihil. Hal itu membuat Briptu Erick semakin mengkawatirkan istrinya.
"Ya Allah semoga istri dan anakku baik baik saja." doa Briptu Erick dalam hati.
ia berusaha menenangkan dirinya.
"Ada apa ini kok perasaanku tidak enak ya?" tanya Briptu Erick dalam hati.
Briptu Erick menghubungi nomor ponsel Merli untuk memastikan keadaan istrinya sebenarnya.
Kring
Kring
Kring
Suara ponsel milik Merli berdering, Merli langsung mengangkat ponselnya tanpa memperhatikan siapa yang menghubunginya.
"Ya hallo!" sapa Merli
"Ya ka ini aku Erick!"
"Kamu kemana saja?" ucap Merli sambil terisak
"Kakak kenapa nangis?"
"Cepat kamu kerumah sakit, Sharma sekarang kondisinya kritis ." ucap Merli sambil terus menangis. Mendengar hal itu Briptu Erick langsung menjerit histeris, pikirannya Kacau tak karuan.
Briptu Erick meminta supir yang mengendarai mobil yang ia tumpangi agar melaju kencang.
"Pak bisa lebih cepat tidak?" istri saya lagi kritis diruang sakit."ucap Briptu Erick kepada sopir yang mengendarai mobil yang ditumpangi Briptu Erik.
"Baik Pak!
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam, Briptu Erick pun tiba di rumah sakit yang sudah diberitahu oleh Merli kepadanya.
Briptu Erik langsung menuju ruang ICU. yang mana Di sana sudah ada Pak Fernando, Merli dan keluarga lainnya Sudah menangis melihat kondisi Sharma sangat kritis.
"Kak Bagaimana keadaan istriku?" ucap Briptu Erick sambil terisak
__ADS_1
"Dia belum sadarkan diri dan dokter mengatakan Sharma, "Koma" ucap Merli sambil menangis.
"Tapi bayinya selamat, Putra kalian baik baik saja. Sekarang berada di ruang perawatan bayi." ucap Merli kemana menangis.
"Apa yang terjadi sehingga sampai seperti ini kak?"
"Kakak juga tidak tahu tiba-tiba Papi Fernando menghubungiku dan memintaku agar segera datang ke rumah sakit.
"Papi apa yang terjadi?"
"Pagi pagi sekali, Nak Sharma meringis kesakitan, lalu papi bertanya kepadanya dan meminta agar kami segera kerumah sakit, Sharma menolak.Ia mengatakan kalau rasa sakit seperti itu sudah biasa dirasakannya. Sehingga papi pun menuruti apa yang ia katakan. Kemudian tiga puluh menit kemudian, Sharma kembali meringis kesakitan, papi melihatnya merasa tidak tega. Sehingga papi meminta dirinya agar mau dibawa kerumah sakit untuk diperiksa.
Dan akhirnya Sharma mau kamu bawa keruang sakit. di perjalanan Sharma terus meringis kesakitan keringatnya bercucuran menahan rasa sakit yang ia rasakan. Tetapi ketika Kami membawa Nak Sharma ke Rumah Sakit, tiba di rumah sakit nak Sharma langsung tidak sadarkan diri. Sehingga dokter harus melakukan operasi sesar kepada Sharma, agar bayinya dapat selamat. Terang pak Fernando kepada Briptu Erick memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tiba-tiba dokter keluar dari ruang ICU setelah memeriksa kondisi Sharma.
"Bagaimana kondisi istri saya dokter Apakah dia baik-baik saja?"
"Oh jadi anda suami dari Bu Sharma?"
"Iya dok!"
"Untuk saat ini belum ada perkembangan apa-apa, Lebih Baik bapak berdoa saja agar Bu Sharma baik-baik saja."ucap dokter itu kepada Briptu Erik.
"Silahkan!" tapi jangan sampai berisik tapi hanya bisa satu orang saja yang bisa masuk."ucapkan dokter kepada Briptu Erick
sambil terisak Briptu Erick pun masuk ke ruang ASI. ia menatap wajah istrinya yang sudah pucat.
"Sayang maafkan mas......"tidak ada di sampingmu ketika kamu membutuhkan mas!"tangis Briptu Erick sambil mengecup kening Sharma dan wajah pucat istrinya.
"Ayo Sayang kamu harus kuat Kamu harus bertahan untukku dan baby kita baby Prasetya Erickson." ucap Erick seolah Dirinya berbicara kepada Sharma saat sadar.
"Kalau kamu benar-benar sangat mencintai Mas!" bertahanlah bangun dan kembalilah kepadaku. " Ucap Briptu Erick yang tak henti-hentinya merutuki dirinya karna telah meninggalkan istrinya saat bertugas di luar kota.
Padahal istrinya sudah hamil tua.
Briptu Erick terus menyalahkan dirinya. Briptu Erick tidak bisa menerima keadaan Sharma mengalami seperti itu. Karena menurutnya Sharma mengalami koma karna dirinya tidak berada bersama Briptu Erick ketik Sharma membutuhkan dirinya.
"Sayang bangun dong Kalau kamu tidak bangun mas tidak bisa memaafkan diri mas sendiri ." ucap Briptu Erick
__ADS_1
Briptu Erick terus berusaha membangunkan Sharma, tetapi Sharma sama sekali tidak merespon apa apa."
"Ya Allah kembalikanlah istri ku padaku ya Allah aku berjanji akan menuruti semua apa yang menjadi permintaan ya Allah." doa Briptu Erick
****
Satu minggu Sharma berada di rumah sakit tetapi belum ada perkembangan juga. Sharma masih belum sadarkan diri. Sementara Putra mereka membutuhkan sentuhan seorang ibu membuat Putra mereka terus menangis seolah dirinya inginkan belaian dari ibunya.
"Kak aku harus bagaimana?"tanya Briptu Erick kepada Merli.
"kita hanya bisa berdoa agar Sharma cepat sembuh dan kembali kepada kita." ucap Merli sambil mengelus punggung adik iparnya.
Merli merasa tidak tega melihat keponakannya yang terus menangis yang seharusnya baby Prasetya putra dari Briptu Erick dan Sharma seharusnya masih membutuhkan ASI dari ibunya. Tetapi karena kondisi Sharma yang tidak memungkinkan membuat baby Prasetya harus meminum susu formula.
hari demi hari sudah berlalu tetapi Sharma belum juga sadarkan diri. Membuat hidup itu Erick berubah drastis Briptu Erick sangat kacau bahkan dirinya meminta ijin kepada sang komandan untuk mengundurkan diri sebagai seorang perwira Polisi. Agar dirinya bisa merawat Putra dan istrinya. Tetapi sang komandan tidak mengizinkan Briptu Erik mengundurkan diri dari kesatuannya. melainkan memberi Briptu Erick waktu untuk mengurus putra dan istrinya.
Setiap hari Briptu Erick selalu setia menemani istrinya dirumah sakit, semetara sang baby Prasetya di rawat oleh ibu Rohana agar Erick dapat merawat Sharma dengan maksimal.
hingga satu bulan sudah berlalu Sharma belum juga sadarkan diri.
malam hari pun tiba Briptu Erick tertidur disamping Sharma sembari duduk memegangi tangan Sharma.
"Anakku yang malang nyonya Chin Ling Yi membelai rambut putrinya.
"Mama aku sakit ma!"
"Aku kangen mama" aku ikut ma...
"Belum saatnya kamu ikut mama sayang, perjuangan mu masih panjang." ucap nyonya Chin Ling Yi kepada Sharma sambil kembali membelai putrinya yang selama ini ia cari.
Mama ....mama... Sharma ikut
Belum saatnya sayang!" perlahan bayangan sinar putih itu menjadi hilang dan Sharma terbangun dari tidur panjangnya.
Briptu Erick merasakan tangan Sharma bergerak, langsung terbangun. Ia sudah melihat Sharma membuka kelopak matanya.
"Sayang kamu sudah sadar?" ucap Briptu Erick sambil langsung mengecup kening Sharma.
Briptu Erick langsung memanggil dokter agar segera dilakukan pemeriksaan terhadap istrinya Sharma.
__ADS_1
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏