
Satu Minggu setelah pertemuan Sharma dengan Briptu Erick di kediaman Antonio, membuat Briptu Erick penasaran dengan sosok Sharma yang sangat membenci dirinya. "Ada apa dengan wanita itu begitu membenciku padahal saya saja baru kenal sama dia, tetapi dia Kenapa terlalu sensitif kepadaku." gumam Briptu Erick di dalam hati.
Di tempat lain sharma tampak begitu bahagia karena mendapat nilai yang tinggi dari Pak Arif sang dosen killer. "Tumben tuh dosen memberiku nilai tinggi biasanya nilai gue yang paling rendah."ucap Sharma kepada Andita membuat Andita langsung tertawa cekikikan.
Yang mereka tahu sharma bukanlah wanita yang pintar, Tetapi dia sangat rajin mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosennya. Walaupun ia mengerjakannya dengan meminta bantuan kepada sahabatnya Morina dan juga Zahra.
Andita mengajak Sharma makan di sebuah kantin di dekat kampus, untuk sekedar ucapan terima kasih Andita kepada Sharma, karena sudah memberikan tugasnya disalin oleh Andita. "Sar kita makan ke kantin yuk." ajak Andita kepada sharma. Tetapi Sharma menolak, "Maaf ya Dita aku masih kenyang." ucap Sharma menolak secara halus tetapi Andita selalu memaksa agar Sharma ikut bersama dia makan ke kantin.
Akhirnya Sharma pun menyetujui permintaan Andita. Sekitar 5 menit kemudian mereka tiba di kantin dan langsung memesan makanan, "Mas aku pesan baksonya satu dan minumnya teh manis dingin ya, jangan terlalu pedas." ucap Sharma kepada penjaga kantin yang ada di dekat kampus."Baik Neng ditunggu ya sahut pengelola kantin.
Andita pun memesan makanan kesukaannya, "Mas aku pesan mie ayam aja deh satu mangkok, terus minumnya jus jeruk saja." kata Andita kepada pengelola kantin. Di kantin Sharma dan Andita bercerita panjang lebar mengenai kehidupan mereka masing-masing terutama Andita menceritakan atau sekedar curhat mengenai kakaknya yang belum menikah. Sehingga Andita tidak diperbolehkan oleh kedua orang tuanya untuk menikah terlebih dahulu, Sebelum kakaknya menikah.
"Sar gue heran deh lihat Kakak gue masa sudah umur 38 tahun dia tidak ada niatan menikah?" tahu enggak gara-gara kakak gue belum menikah sampai sekarang, gue tidak diberi Restu sama nyokap dan bokap gue untuk menikah. Kan kamu tahu sendiri Mas Delon sudah dari dulu ingin melamarku." Terang Andita kepada Sharma.
Tetapi Sharma yang tidak mengetahui kalau Briptu Erick adalah kakak kandung dari Andita Ia pun berkomentar."Memangnya Mengapa Kakak kamu belum ingin menikah?" tanya Sharma kepada Andita. "Entahlah semenjak kakakku ditinggal menikah dengan kekasihnya kakakku menutup diri berhubungan dengan wanita lain selama kurang lebih 8 tahun.
Sesudah itu semenjak kakakku pindah tugas dari Kalimantan ke Jakarta Ia menjalin hubungan lagi dengan seorang wanita, Tetapi Wanita itu memutuskan kakakku karena orang tua dari kekasih kakakku tidak menrestui mereka.
__ADS_1
Sehingga mulai saat itu kakakku tidak pernah lagi menjalin hubungan dengan wanita. sepertinya kakakku trauma menjalin hubungan dengan wanita. Kakakku mengatakan kalau menjalin hubungan dengan wanita itu akan sia-sia baginya. Karena dua kali dia menjalin hubungan dengan wanita dua kali juga dia ditinggalkan oleh wanita." terang Andita kepada Sharma membuat Sharma sedikit iba akan nasib kakak Andita yang selalu ditinggalkan wanita.
"Waduh sadis juga yah nasib percintaan kakak kamu Dit." ucap Sharma. Tapi yakin lah dan
doakan saja yang terbaik buat kakak kamu, jodoh pasti akan diberikan tuhan kepadanya ucap Sharma kepada Andita.
Pesanan merekapun disuguhkan pengelola kantin." Silahkan neng." kata pengelola kantin mempersilahkan Andita dan Sharma memakan makanan pesanan mereka. kemudian Andita dan Sharma memakan makanan pesanan mereka.
Setelah selesai makan di kantin, Sharma berpamitan pulang lebih dulu, Karan Sharma ada janji kepada tantenya bertemu disalah satu pusat perbelanjaan yang ada dikota Jakarta.
"Dit gue duluan ya ....soalnya ada janji sama Tante." ucap Sharma berpamitan Keda Andita setelah selesai makan di kantin bersama Andita.
"Sama sama ...." sahut Andita sambil melambaikan tangannya karna Sarma sudah menghidupkan motor meticnya.
Sementara ditempat lain Briptu Erick, tampak gelisah karena kedua orang tuanya sudah mendesak Briptu Erick untuk menikah. Tetapi Briptu Erick sama sekali tidak menginginkan hal itu. Karena Briptu Erick sudah merasa trauma menjalin hubungan dengan wanita. Dua kali gagal dalam menjalani hubungan dengan wanita membuat Erick menutup hatinya.
Ponsel Briptu Erick berdering, ia melihat nomor ponsel yang menghubunginya adalah nomor ayahnya sendiri. Sehingga Briptu Erick langsung menutup ponselnya karena Briptu Erick tidak ingin berdebat dengan orang tuanya. Padahal yang menghubungi Briptu Erick bukanlah ayahnya. Melainkan orang lain yang menolong ayahnya saat penyakit jantung ayahnya kambuh sewaktu berada dipusat perbelanjaan yang ada dikota Jakarta.
__ADS_1
Satu kali dua kali nomor ponsel Ayah Briptu Erick menghubungi dirinya, Briptu Erick selalu mengabaikan panggilan telepon selulernya. Membuat Sharma sedikit kesal nomor ponsel yang terdaftar dinomor ponsel pak Sugito sama sekali tidak ada yang merespon.
Sehingga Sharma berinisiatif membawa pak Sugito kerumah sakit dibantu oleh tantenya. Sharma sama sekali tidak mengenal sosok pak Sugito, Tetapi karna tepat dihadapan Sharma pak Sugito jatuh pingsan sehingga sharma menolongnya.
Diperjalanan menuju rumah sakit Sharma berusaha untuk menyadarkan pak Sugito, tetapi tak kunjung sadar membuat Sharma menjadi sangat kwatir. "Pak.... bangun Pak....." panggil Serma sambil menepuk-nepuk wajah Pak Sugito tetapi pak Sugito tidak merespon apa-apa. Melihat kondisi Pak Sugito yang tidak sadarkan diri sharma meminta tantenya mempercepat mengendarai mobil yang mereka tumpangi. Agar mereka cepat tiba di rumah untuk mendapat pertolongan dari dokter.
Setelah melakukan perjalanan sekitar 10 menit kemudian Sharma dan Pak Sugito pun tiba di rumah sakit. "Dokter.......dokter..... tolong dokter" jerit Sharma karena sudah sangat khawatir melihat kondisi Bapak Sugito yang sudah mulai membiru. Kemudian dokter dan suster yang bertugas di rumah sakit itu langsung berlari membantu Sharma membawa Pak Sugito masuk ke ruang UGD, untuk melakukan pemeriksaan.
Setelah dokter melakukan pemeriksaan dokter pun menggelengkan kepalanya mereka berusaha menyelamatkan Pak Sugito dari penyakit jantung yang dialaminya."Dok kondisinya kritis, Detak denyut jantungnya semakin melemah." kata salah satu suster yang ikut memeriksa keadaan Pak Sugito."Segera lakukan alat pemicu jantung dan suntikan obat, mudah-mudahan bisa berhasil bismillah" ujar dokter yang menangani Pak Sugito.
Melihat kondisi Pak Sugito yang sudah kritis Dokter memutuskan memindahkan Pak Sugito ke ruang ICU agar mendapat alat medis yang lebih lengkap. "Maaf Bu.... Ibu keluarganya?" tanya suster kepada Sharma yang mondar-mandir di depan ruang UGD menunggu hasil pemeriksaan tim dokter."Bukan Dokter Saya hanya kebetulan lewat tiba-tiba saya melihat bapak itu sudah jatuh pingsan sambil memegang dadanya."Terang sharma kepada suster yang bertugas menangani Pak Sugito.
"Begini Nona keadaan pasien sekarang sangat kritis sehingga kami harus memindahkan pasien ke ruang ICU dan melakukan tindakan operasi. Karena jika terlambat maka nyawa pasien bisa tidak tertolong lagi." Terang suster yang bertugas menangani Pak Sugito.
"Kalau boleh sekarang juga Nona bisa menghubungi keluarganya." ucap Suster itu membuat Sharma sedikit bingung karena dirinya tidak mengetahui ke mana dia menghubungi keluarga Pak Sugito.
Bersambung........
__ADS_1
hai para readears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏💓🙏💓🙏💓 jangan lupa like coment dan votenya ya.