Love Story'Of Panglatu ( Panglima Lajang Tua)

Love Story'Of Panglatu ( Panglima Lajang Tua)
Whatsapp di blokir


__ADS_3

Ibu Rohana meminta kepada putranya Briptu Erick agar tidak keluar malam. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul 10.00.


"Sudah kamu Besok pagi saja kesana." ujar ibu Rohana.


"Tidak bisa ma!" Sharma pasti marah sama Erick, karna Erick cuekin dia di kampus. Dan Erick pura pura tidak mengenal nya ma." ucap Erick kwatir kalau Sharma marah terhadapnya.


"Ya sudah, kalau kamu tidak bisa menghubungi ponsel Sharma, hubungi Tante Alena saja sayang!" kan gampang. Ujar ibu Rohana


"Tidak semudah itu ma," Sharma pasti marah besar sama Erick.


"Sudah kamu hubungi aja dulu tante Alena!" ujar ibu Rohana.


Briptu Erick menurut apa kata ibu Rohana. Erick langsung meraih ponselnya yang ada disaku celananya. Ia mencari nomor ponsel milik Tante Alena.


kring....


kring...


kring..


suara ponsel milik Tante Alena berdering hingga mengusik tidurnya yang sudah mulai mengarungi mimpinya.


"Aduh Siapa sih nelepon, malam malam begini? ngak tau apa orang sudah tidur?" gerutu Tante Alena karna merasa terganggu dengan suara ponselnya yang sedari tadi berdering.


"Hello." sapa Tante Alena dengan suara khas bangun tidur.


"Hello Tante!"


"Ya ada apa malam malam begini nelepon nak Erick?"


"Sharma ada Tante?"


"loh kok tanya Tante? bukannya Sharma sama kamu sejak pulang dari kampus?"


"Tidak tante, Erick tadi ada tugas dari kantor."


"Sharma tidak ada dirumah Tante, mungkin dia balik ke kostnya.


"Oh gitu ya Tante, maaf sudah mengganggu tidur Tante." ucap Briptu Erick sambil langsung memutuskan jaringan telepon seluler.


Briptu Erick semakin gelisah menunggu pagi hari tiba. Iya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Sharma.


"Aduh lama kali pagi hari." gumam Erik yang tidak bisa tidur, karena nomor whatsapp-nya diblokir oleh Sharma.


"Maafkan aku sayang aku melakukan itu semua karena tugas dan tanggung jawab ku.


"Aku tidak ingin dianggap oleh rekan kerjaku nepotisme."gumamnya dalam hati.


Malam itu begitu Erik sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Hingga pagi hari pun tiba. Briptu Erik langsung membersihkan diri dan memakai pakaian dinas, karena pagi itu, Briptu Erick harus Appel pagi terlebih dahulu.


"Ma.... Erick berangkat dulu."ucap itu ri kepada Ibu Rohana, Sambil memberi salam kepada Ibu Rohana dan juga Pak Sugito.


"loh Kok cepet banget?"


"Iya mah ada appel pagi, habis apel rencana Erick mau nemuin Sharma.


"Kamu tidak sarapan dulu?"


"Tidak usah ma," sarapan di kantor saja.


"Iya sudah hati-hati ya nak!"

__ADS_1


"Iya mah ucap berdoa sambil berlalu dari hadapan Ibu Rohana dan Pak Sugito.


"Itu anak Kenapa lagi ma?"


"Nggak tahu pa," katanya Sharma memblokir nomor whatsapp-nya.


"Kok diblokir?"


"Mungkin kesal karena putra kita main-main dia dan juga pura-pura tidak kenal sama menantu kita."


"Kenapa begitu?"


"Putra kita ada tugas di kampus mereka, dan kebetulan di kelas Sharma dan juga Andika ada terlibat jaringan obat-obat terlarang.


"Serius ma?"


"Iya Mama serius," satu kelas Andita ada yang ketangkap kok!"


"Kok bisa?"


"Apanya yang Kok bisa?"


"Putra kita mengetahui disana ada jaringan obat-obat terlarang!"


"Namanya juga putra kita pa," dia kan terus ada ide Bagaimana cara mencari penjahat penjahat." ucap ibu Rohana.


"Iya sih ma tapi kasihan menentu Kita dicuekin begitu saja di kampus."


"Iya namanya putra kita menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai abdi negara pa."


Bela Ibu Rohana kepada putranya Briptu Erik agar tidak semua orang memojokkan Briptu Erik.


Appel pagi selesai, Briptu Erick meminta izin kepada komandannya untuk segera pulang. berniat menemui Sharma di kosnya.


setelah ah berisik mendapat izin dari sang komandan, Briptu Erick langsung menuju ke tempat kost Sharma.


Suasana tampak sepi seperti tidak berpenghuni.


"Kok sepi banget ya?" tanya begitu RI ketika sudah sampai di halaman tempat kost Sharma.


berarti Erick bertanya kepada pemilik kos apakah sharma ada di dalam kamarnya atau tidak.


"Assalamualaikum Bu..."


"Waalaikumsalam." Sahut ibu Talita yang kebetulan pemilik kost elite yang ditempati Sharma adalah ibu Talita.


"Maaf Bu saya mau bertanya, apa Sharma ada didalam kamarnya?"


"Sepetinya ada sih pak, tapi ada apa ya? apa Sharma melakukan kejahatan sehingga pak polisi datang mencari ya?.


"Tidak Bu!" perkenalkan saya Briptu Erick calon suami Sharma.


"Oh jadi kamu tunggangan Sharma toh," ibu kira tadi Sharma melakukan kejahatan atau apa lah itu yang melanggarnya hukum. Ucap Bu Talita.


"Maaf Bu saya datang kemari pakai dinas, solanya tadi habis tugas baru kemari." Ucap Briptu Erick.


"Oh sebentar ya nak, ibu panggil duku Sharma nya.


Tok


Took

__ADS_1


Toook


"Nak Sharma....apa kamu didalam?" panggil Ibu Talita dengan suara yang agak keras


krieet


Pintu dibuka oleh Sharma.


"Ia Bu!" ada apa?" tanya Sharma dengan suara parau khas bangun tidur.


"Ada tamu tuh."


"Siapa?"


"Katanya calon suami kamu!"


"Suruh pulang aja Bu."


"Kok disuruh pulang?"


"Ia Sharma masih ngantuk."


"Eh tunggu dulu, matamu kok sembab gitu? kamu habis nangis ya?" tanya ibu Talita penasaran mengapa mata Sharma Sampai sembab.


"Tidak Bu!" mungkin karna tidur banyak saja." ucap Sharma berbohong padahal satu malaman Sharma menangis karna Briptu Erick mengabaikannya di kampus. Bahkan pura pura tidak mengenalnya, membuat Sharma merasa sakit hati, merasa tidak dianggap.


"Ngak sopan seperti itu nak!" dia sudah jauh jauh ninggalin pekerjaannya hanya untuk nemuin kamu." ucap ibu Talita


"Ya sudah suruh masuk aja Bu." ucap Sharma masih dengan suara parau ya.


Sharma kembali membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dan memeluk guling. dengan pintu kamar yang masih terbuka.


Briptu Erick masuk, Ia melihat Sharma masih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang ukurannya tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk dua orang.


"Sayang." ucap Briptu Erick sambil langsung memeluk Sharma dari belakang.


Sharma menepis tangan Briptu Erick, karna dirinya kesal kepada calon suaminya yang mengabaikannya saat dikampus.


"Sayang maafkan mas ya!" mas ngelakuin itu semua, karna tugas dan tanggungjawab mas, Karna mas tidak ingin orang menilai mas nepotisme.Ucap Briptu Erick.


Tetapi Sharma belum juga bergeming ia terus saja tidak ingn membalikkan badannya. Hingga Briptu Erick mengabil posisi berbaring tepat berhadapan dengan Sharma.


Betapa terkejutnya Briptu Erick yang melihat mata Sharma sembab. Itu berarti Sharma pasti tidak tidur satu malaman dan menangis.


"Sayang mata kamu kok sembab?"


"Kamu nangis?" pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Briptu Erick kepada Sharma.


Sharma hanya diam tak menjawab sepatah katapun pertanyaan Briptu Erick, hal itu membuat hati Briptu Erick semakin tidak karuan.


"Sayang....kalau kamu marah sama mas, Sok kamu marah pukul mas sesuka mu, tapi tolong jangan diamin mas seperti ini. Mas tidak sanggup sayang." Ucap Briptu Erick


Bersambung.......


hai hai redears dukung terus karya author jangan lupa like coment dan votenya ya dukungan kalian begitu berarti buat saya.


trimakasih 🙏💓💓🙏💓🙏


Mampir kekarya karya Morata ceritanya seru seru loh


__ADS_1


__ADS_2