
Setelah tiba di kampus, Sharma langsung berlari menuju ruang kelas. Takut telat mata kuliah pak Rohdian sang dosen yang menurut mahasiswa mahasiswi dosen paling killer sejagat universitas.
Dengan nafas ngos ngosn Sharma tiba di kelas. Ia sudah melihat mahasiswi mahasiswa sudah duduk rapi dan hening.
Tetapi ia tidak melihat sosok pak Rohdian disana. "Ada apa ini? kok sudah hening segala?" tanya Sharma kepada salah satu teman satu kelasnya.
" Ada Razia dari pihak kepolisian."
"Memangnya ada apa?"
"Ngak tau tapi sepertinya razia obat obat terlarang."
"Oh jadi razianya sudah selesai?"
"Belum masih dikelas lain, tapi mahasiswa mahasiswi tidak diperbolehkan keluar sebelum razia selesai.
Mendengar penuturan teman satu kelasnya Sharma sedikit lega, Ternyata Sharma belum telat mata kuliah pak Rohdian.
Sharma mendudukkan bokongnya di kursi pojok depan.
" Huh....sudah capek capek lari, kirain aku sudah terlambat." gumam Sharma dalam hati.
Tiba tiba pol Rohdian dan beberapa petugas kepolisian masuk kedalam kelas Sharma dan teman temannya. Alangkah terkejutnya Sharma, kalau yang bertugas merazia ruang kelasnya adalah Briptu Erick.
"Pak pol!" Gumannya dengan pelan, tetapi masih bisa didengar oleh Briptu Erick. Briptu Erick hanya diam, sama sekali tidak menyapa Sharma.
" letakkan semua semua tas kalian!" perintah Briptu Erick dengan lantang.
"Semua mahasiswa mahasiswi meletakkan tas masing masing dimeja belajar mereka.
"Semuanya berdiri!" perintah Briptu Erick
mahasiswa mahasiswi pun menuruti apa yang diperintahkan oleh Briptu Erick.
Rekan Briptu Erick langsung melaksanakan Tugasnya untuk memeriksa semua tas dan juga saku mahasiswa mahasiswi. Sharma tampak cuek aja melihat Briptu Erick yang sedari tadi tidak menyapanya, bahkan bukan Briptu Erick yang memeriksa tasnya, melainkan rekan Briptu Erick sendiri.
Hal itu membuat Sharma kesal, karna Briptu Erick sama sekali tidak menegur atau menyapanya. Andita saja yang adik kandung Briptu Erick juga tidak disapa sama sekali. Briptu Erick melakukan Tugasnya benar benar profesional.
Mereka dikejutkan dengan penemuan Briptu Erick yang menemukan di lipatan celana mahasiswa pil ekstasi. "Mahasiswa itu langsung digiring pihak kepolisian untuk diperiksa dan dimintai keterangan. Bahkan seluruh mahasiswa mahasiswi yang ada dikelas itu akan dilakukan tes urine. Untuk memastikan ada tidaknya mahasiswa yang mengkonsumsi obat-obat terlarang atau tidak.
"Ka Kita ikut?" tanya Andita
"Semua tidak terkecuali." ucap Briptu Erick dengan tegas dan lantang.
"Nasip nasip si manusia kamu ini!" gumam Sharma denah nada yang sangat kecil tetapi masih bisa didengar oleh Briptu Erick.
"Maaf untu semuanya, tidak terkecuali tes urine akan dilakukan, saya menjalankan Tugas saya sebagai pengayom masyarakat selaku abdi negara. Jadi untuk ini tolong kerjasamanya. Ucap Briptu Erick dengan lantang.
"Huhh!"
Akhirnya semua mahasiswa mahasiswi melakukan tes urine.
"Kakak ipar!" lihat deh si kaku itu masa tidak ada manis manisnya sama kakak ipar." ucap Andita kepada Sharma mengatai kakaknya.
__ADS_1
"Hummm!" Kan kamu sudah tau kakak kamu manusia kaku." ucap Sharma sambil tersenyum kepada Andita.
sontak Adita ngakak.
"Maaf nona Andita bisa tenang dulu tidak?" ini ucap Briptu Erick dengan lantang, Hal itu membuat Andita langsung terdiam seribu bahasa." Awas kakak kalau dirumah aku cabik cabik leher kakak." gerutu Andita dala hati.
Tetapi Briptu Erick yang mengetahui kalau Andita mengumpatnya, langsung berbicara
"Tidak perlu mengumpat saya nona Andita Sugito yang terhormat!" saya hanya menjalankan Tugas saya." ucap Briptu Erick.
Andita merasa heran mengapa kakaknya mengetahui kalau Andita mengumpatnya.
"Is benar benar tuh kakak tidak punya ahlak." gumam Andita.
Sementara Sharma hanya diam seolah olah dia tidak mengenal Briptu Erick.
*****
Tes urine sudah selesai, hanya satu orang yang yang terdeteksi mengkonsumsi obat-obat terlarang, sehingga mahasiswa itu langsung di bawa kekantor polisi oleh Briptu Erick dan rekan rekannya, untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Sore harinya, Sharma sudah tiba di kosnya. ia sengaja tidak pulang kerumah Tante Alena. Mengingat pakaiannya semua masih ada dikostnya.
"Dit aku duluan ya!"
"Ngak bareng aja kakak ipar?"
"ngak aku pulang ke kost kok!"
"pakaian aku masih dikost semua!"
"Mau aku antar ngak?"
"Ngak usah, aku naik ojek aja."
Tuh ojeknya sudah datang." ucap Sharma yang kebetulan ojek online pesanan Sharma sudah tiba dihadapan mereka.
"Oh ya sudah hati hati ya kakak ipar."
"Ia dah." ucap Sharma sambil melambaikan tangannya.
Andita pun langsung kembali kerumah. Dengan menggunakan mobil Honda jazz miliknya.
setelah tiba dirumah, Andita mengomel ngomel membuat ibu Rohana penasaran mengapa putrinya sepulang dari kampus mengomel.
"Ada apa sayang? kok pulang pulang dari Kampus ngomel ngomel begitu.?
"Iya tuh ma!" kak Erick
"Iya, kenapa dengan kakak kamu?"
"Tadi dia razia di kampus," eh malah pura pura tidak kenal sama kakak ipar dan Andita, udah itu, kami ikut dites urine, padahal kan kak Erick tau Andita kegimana orangnya?" gerutu Andita kesal.
"Oh ...kakak kamu hanya menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai aparatur negara Sayang." ucap ibu Rohana agar Andita tidak kesal lagi kepada kakaknya.
__ADS_1
"Tapi masa sih kak Erick harus pura pura tidak kenal sama kita!"
"Itu supaya kakak kamu tidak dinilai nepotisme sayang." ucap ibu rohana memberikan pengertian kepada putrinya.
"Au ah sebel !" ucap Andita sambil berlalu dari hadapan ibu Rohana menuju kamarnya.
sementara Erick yang baru pulang bertugas, langsung menghampiri ibu Rohana dan memberi salam kepada Ibu Rohana dan juga pak Sugito.
"Kenapa adik kamu pulang pulang dari kampus ngomel ngomel?" tanya pak Sugito.
"Biasalah pak namanya masih anak kecil!"
"Maksudnya?"
"Ia tadi Erick ada tugas dikampus Andita, razia Narkoba. Namanya Erick melakukan tugas Erick, tidak boleh dong ma nepotisme, masa mereka berdua aja tidak diperiksa dan tes urine? kan yang lain bisa komplain!"
"Iya tapi kata adik kamu, kamu pura-pura tidak mengenal menantu dan putriku."
"Iya ma." namanya juga jalankan tugas!"
"Iya tapi kamu harus minta maaf tuh sama adik kamu, beri penjelasan sama adikmu." ucap pak Sugito
"Iya yah."
kemudian Briptu Erick masuk kedalam kamarnya berniat untuk membersihkan diri.
setelah selesai melakukan ritual mandinya, Briptu Erick langsung meraih ponselnya berniat untuk menghubungi Sharma, Tetapi ketika dirinya Menghubungi Sharma ponsel Sharma malah tidak aktif. Dan nomor WhatsApp Erick di blokir oleh Sharma.
Hal itu membuat Briptu Erick gelisah dan langsung bersiap pergi kerumah Tante Alena.
"Mau kemana lagi nak?"
"Kerumah Tante Alena mam!"
"Ngapain?"
"Sharma blokir nomor WhatsApp aku ma, jadi Erick tidak bisa hubungi Sharma.
" Sudah besok aja!" ini sudah malam."
"Tidak ma!"
"Kan kamu bisa hubungi nomor Tante Alena." ujar ibu Rohana.
Bersambung.........
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓💓💓💓🙏💓🙏
jangan lupa mampir juga ke karya Morata
"Kurelakan perawanku untuk dewa penolongku sudah up kembali, Yach yuk kepoin cermin semakin seru loh
__ADS_1