
Gempuran pagi telah usai mereka lakukan, tampak Briptu Erick dan Sarma mandi keringat. padahal kamar hotel suhunya cukup dingin.
"Mas!"
"Iya sayang!"
"Mas cuti berapa lama?"
"Entah!" rencana mas kemarin hanya satu Minggu, tapi kalau sudah begini, maunya terus sama kamu sayang." ucap Briptu Erick
"Tapi mas!" mas tetap tugas dijakarta kan?"
"Iya sayang!" memangnya Kenapa?"
"Mas kita kan sudah menikah,apa kita tinggal bersama ibu dan ayah?"
"Tidak sayang!" mungkin dua atau tiga hari aja kita disana!"
"Jadi kita mau tinggal dimana mas? kita ngontrak rumah kan!"
"Tidak
"Terus kalau kita tidak ngontrak, kita mau tinggal dimana mas?"
"Ada deh!" nanti juga kamu bakalan tau."
"Maksudnya kita tinggal di asrama tempat mas yang kemarin?"
"Tidak sayangku!"
"Terus dimana mas?"
"Kamu tidak perlu kwatir sayang!" mas sudah Atur kok semuanya. Tidak mungkin mas membiarkan wanita yang paling aku cintai harus tinggal dirumah kontrakan!" untuk apa mas kerja mati Matian selama ini?" ucap Briptu Erick kepada Sharma membuat Sharma semakin bingung.
"Mas!" jujur Sharma belum mengerti maksud mas."
"Berarti kamu belum tau sama sekali siapa sebenarnya suami kamu ini sayang."
"Emang mas siapa?" yang aku tau mas itu seorang perwira polisi yang memiliki prestasi. ya selainnya Sharma tidak tau." ucap Sharma jujur.
Nanti juga kamu bakalan tau semua tentang mas." yang selama ini orang lain juga tidak mengetahui. Hanya keluarga Sugito yang mengetahui semuanya." Ucap Briptu Erick sambil mengebangkan senyumnya.
"Kok main rahasia rahasiaan sih?"
"Jangan jangan mas sudah punya istri lain selain Sharma?"
"Huss!" kamu ini asal bicara, tidak mungkin sayang."
"Terus kenapa harus main rahasia rahasiaan dong?"
__ADS_1
"Jujur saja mas?"
"Okey, okey mas jujur!" sebenarnya suami kamu ini, bukan hanya seorang perwira polisi. Tetapi mas memiliki perkebunan dan juga peternakan di kawasan puncak Bogor. Itu semua aku dapatkan dari peninggalan nenek yang diserah terima kepada suami kamu ini sayang.
"Serius mas?"
"Iya!" makanya selama ini kan ayah Sugito sama papa Fernando kan temanan!" itu karna ayah sama papa Fernando menjalin hubungan bekerja sama, menjalankan bisnis milik ayah sayang." sedangkan milik mas dikelola langsung sama asisten mas.
"Terus mengapa mas mau jadi polisi?"
"Itu sudah cita cita mas,sejak kecil sayang!". "Mas ingin sekali berjasa buat bangsa dan negara." ucap Briptu Erick sambil mengebangkan senyumnya.
"Jadi Mengapa Mas selama ini menyembunyikan ini semua dari Sharma?"
"Kamu mau jawaban apa sayang jujur atau bohong?'
"Jujur dong Mas!" masa bohong."
"Tapi kamu harus janji sama mas, jangan marah dan emosi ya sayang!'
"Iya Sharma janji deh. "
"Benaran kan sayang?"
"Iya benaran." ucap Sharma yang tidak sabar ingin mendengar jawaban dari suaminya.
"Karna mas ingin mengetahui, kamu benar benar ingin menikah sama mas, karna cinta bukan karna harta yang mas miliki." ucap Briptu Erick berterus terang kepada istrinya.
"Bukan menuduh sayang!' tapi mas ingin melihat wanita yang benar benar mencintai mas apa adanya. Bukan dengan ada apanya. ucap Briptu Erick sambil langsung memeluk Sharma dan mengecup keningnya.
"Kalau kamu menginginkan mas mundur dari kepolisian, mas akan lakukan itu. Mas masih bisa kok menghidupi kamu, walau tidak menjadi seorang polisi lagi " ucap Briptu Erick
"Tidak mas!" Sharma ingin mas tetap melajutkan cita cita mas dan aku sebagai istri dari Briptu Erickson Sugito akan tetap mendukung suamiku, apa pun yang menjadi keputusan suamiku . Ucap Sharma dengan tegas.
"Jadilah pendamping hidupku untuk selamanya sayang." ucap Briptu Erick
"Aku sangat mencintai dan menyayangimu Sharma binti Fernando."kata Briptu Erick sembari langsung mengecup kening Sharma
"Aku juga sangat mencintai dan menyayangimu suamiku Briptu Erickson Sugito." ucap Sharma dengan penuh percaya diri.
Pagi pagi itu Sharma dan Briptu Erick saling terbuka.
Tiba tiba ketukan pintu kamar hotel terdengar jelas ditelinga mereka. Pertanda makanan pesanan Briptu Erick yang sudah dipesan sebelumya sudah datang." Briptu Erick yang mendengar pintu diketuk, langsung bergegas membuka pintu.
"Siapa sayang?" tanya Sharma
"Oh pengantar makanan sayang."
setelah membayar makanan itu Briptu Erick pun kembali menghampiri istrinya.
__ADS_1
" Mas Pesan makanan?" Tanya Sharma merasa heran karena ia tidak mengetahui kalau suaminya sudah memesan makanan untuk mereka.
"Iya sayang mad pesan sarapan buat kita. kan sudah dari tadi kita belum sarapan." ucap Briptu Erick kepada istrinya.
"Oh iya!" perutku pun sudah mulai keroncongan nih " Mas Ayo kita makan kata Sharma sembari beranjak dari tempat duduknya.
Dengan telaten Sharma menghidangkan makanan pesanan yang di pesan oleh Briptu Erick agar mereka segera dapat menyantap makanan itu. Mengingat mereka belum makan apa apa sekali. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Ayo dimakan Sayang." ucap Erik mempersilahkan istrinya memakan makanan itu. Entah karena faktor kelaparan mereka menyantap makanan itu dengan lahapnya.
"Sayang makanya jangan belepotan dong." Briptu Erick yang melihat di sudut bibir istrinya ada sisa makanan. dan ia langsung melap sisa makanan yang ada di sudut bibir Sharma.
"Terima kasih Mas!" ucap Sharma manja. Hari itu hari yang paling membahagiakan buat mereka berdua. Tetapi mereka sama sekali tidak mengetahui kalau ada seseorang yang mengincar nyawa mereka. Ibu Rohana dan Pak Sugito sangat mengkhawatirkan kondisi putra dan menantunya. Apalagi setelah mendapat informasi dari Antonio kalau ada seseorang yang mengincar nyawa putra dan menantunya.
Pak Sugitopun berencana siang itu datang menghampiri putra dan menantunya ke hotel tempat Sharma dan Erick menginap.
Andita yang tidak mau ketinggalan pun meminta ikut bertemu dengan kakaknya dan berbicara langsung mengenai Apa yang dilakukan Veronica.
"Ayah kalau Ayah mau pergi Andita ikut." pinta Andita kepada ayahnya
"Memangnya kamu tidak ada kelas?"
"Tidak!" hari ini libur." ucapkan Andita percaya diri dan langsung mempersiapkan diri bertemu dengan kakak dan kakak iparnya.
"Mas!" Sharma masih penasaran lho Mengapa tiba-tiba ibu menghubungi Mas untuk mengatakan kita lebih hati-hati. Apa ada sesuatu yang mereka tutupi dari kita?" tanya Sharma kepada suaminya. Yang sebenarnya suaminya pun sudah mencurigai ada sesuatu yang ditutupi kedua orang tuanya kepada mereka.
Tetapi Briptu Erick sengaja tidak mengatakan itu semua. Agar Sharma tidak terlalu khawatir mengingat mereka baru sah menjadi suami istri. Dan tidak mau membuat istrinya terlalu kepikiran.
Tiba-tiba deringan ponsel milik Briptu Erick pun terdengar ditelinga mereka. Erick melihat nomor ponsel yang menghubunginya adalan nomor ponsel pak sugito. Dengan sigap langsung menekan tombol hijau pertanda dirinya mengangkat sambungan telepon seluler itu.
"Iya ayah ada apa?" tanya Briptu Erick kepada Bapak Sugito
"Ayah sudah di loby." kamu turun sekarang ucap Pak Sugito kepada Briptu Erick dan langsung mematikan sambungan telepon selulernya.
Siapa sayang?" tanya Sharma yang penasaran Siapa yang menghubungi suaminya.
"Ayah yang menghubungi Sayang!" katanya mereka sudah ada di lobby hotel.
"Loh kok gitu Kenapa tidak disuruh masuk?" tanya Sharma kepada Briptu Erick .
Iya katanya kita harus segera menemui mereka dan loby hotel." Ucap Briptu Erick.
Bersambung.......
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih.
mampir kekarya Morata yang lain
ceritanya seru bangat loh
__ADS_1