Love Story'Of Panglatu ( Panglima Lajang Tua)

Love Story'Of Panglatu ( Panglima Lajang Tua)
SHARMA JATUH SAKIT


__ADS_3

Keesokan paginya, ketika Briptu Erick sudah bangun dari tidurnya. Ia pun langsung meraih ponsel miliknya untuk menghubungi istrinya Sharma dan juga putranya Prasetya. Orang yang sangat ia rindukan di muka bumi ini.


"kring


"kring


"kring


Suara deringan ponsel milik Briptu Erick, Tetapi tak kunjung diangkat oleh Sharma. Membuat Erick semakin gelisah.


Karena sejak semalam, Sharma tidak mengangkat ponsel miliknya dan chat yang sudah berpuluh puluh dikirim oleh erickpun tak kunjung dibalas Sharma. Apalagi Sharma sama sekali tidak berbicara kepada Briptu Erick selama satu minggu. Membuat Briptu Erick merasa diabaikan oleh istrinya.


"Ada apa ini Kenapa istriku tidak mengangkat Telepon ku? Gumam Erick di dalam hati. Hari itu hari yang paling membosankan membuat Briptu Erick, karena satu harian dia menghubungi Sharma, Tapi Sharma sama sekali mengabaikan ponselnya.


Begitu juga dengan Sharma karena begitu kesal terhadap suaminya membuat dirinya enggan untuk mengangkat telepon seluler milik suaminya.


"Ya Allah Apa apa ini mengapa istriku tidak mengangkat telepon ku dan tidak membalas chat ku sama sekali?


Briptu Erick memutuskan untuk menghubungi salah satu asisten rumah tangga mereka. Tetapi asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman Briptu Erick mengatakan kalau sharma tidak ada dirumah.


Padahal Sharma yang meminta asisten rumah tangga itu untuk mengatakan kalau Sharma tidak ada dirumah. Sharma tidak ingin berbicara sama suaminya. karna ia merasa diabaikan oleh Erick.


"Non bagaimana ini Tuan terus menghubungi saya non!"


"Bilang aja pergi sama Prasetya Bi!" dan katakan kalau Prasetya rewel hingga saya harus membawanya jalan jalan." ucap Sharma


Lalu Sharma berlalu dari hadapin Bibi. dan kembali menghampiri Prasetya yang sedang bermain bersama pak Fernando.


"Hai jagoan mami....."


"Mami......" teriak Prasetya sambil langsung menghampiri Sharma.


"Mom...!" kapan sih papi pulang?


"Papi tidak rindu ya sama Abang?


"Abang sudah lama tidak jalan jalan sama papi." ucap Prasetya membuat Sharma langsung menatap pak Fernando.


"Mami....." kenapa diam?


"Papi kok ngak pulang pulang sih?"tanya Prasetya kembali membuat hati Sharma semakin sakit. Ia tidak tahu harus menjawab apa kepada putranya. Karna putranya akan bertanya dan bertanya lagi jika Sharma mengatakan alasan Erick tak kunjung pulang menemui mereka.


Sharma meneteskan air matanya.Pak Fernando menghampiri Putrinya.


"Sudah sayang!" jangan menangis, semua ini sudah jalan dari Alloh, kamu harus jalani dengan ikhlas. Tolong jangan tunjukkan kepada cucuku raut wajahmu yang sedih. Karna Prasetya nanti akan berpikir kalau kamu lagi sakit.


Sharma terdiam dan tidak mampu menjawab apa yang dikatakan oleh pak Fernando yang selalu setia menemani dirinya disaat sedih dan bahagia. Entah apa yang membuat Sharma merasa kalau dirinya tidak percaya lagi kepada Briptu Erick. Sudah enam bulan lamanya Briptu Erick bertugas diluar kota. Tetapi sekalipun tidak pernah pulang. Rasa rindu yang amat dalam dirasakan oleh Sharma.


"Sudah lah nak?" jangan terlalu dipikirkan.Ucap pak Fernando.

__ADS_1


Sharma menghela napas panjang.


Malam harinya, Badan Sharma terasa kurang enak badan Tubuhnya panas dingin. Ia sudah tidak mampu berdiri untuk sekedar mengabil air minum ke dapur. Hingga dirinya harus menghubungi bibi, untuk sekedar mengabil air mineral untuknya.


Bibi yang melihat Sharma sedang jatuh sakit, langsung membangunkan pak Fernando membuat pak Fernando sedikit panik.


Tok....


Took...


Toook...


"Tuan..... Tuan...." panggil Bibi membuat tidur pak Fernando sedikit terusik.


Cklekk


pintu dibuka oleh pak Fernando, alangkah terkejutnya pak Fernando ketika melihat Bibi sedang panik."


"Ada apa Bi?"


"Non Sharma sakit Tuan, badannya panas sekali." ucap bibi membuat pak Fernando sangat terkejut. Padahal pa Fernando dan Sharma Sore itu masih ngobrol bareng dan tidak ada menunjukkan gejala kalau Sharma sakit.


Pak Fernando langsung berlari menuju kamar putrinya. Ia melihat Sharma sudah tampak lemas dan menggigil padahal AC sudah dimatikan dan selimut tebal yang menutupi tubuh Sharma tetapi Sharma tetap merasa menggigil kedinginan tetapi suhu badannya panas sekali. Hal itu membuat pak Fernando semakin mengkawatirkan Sharma.


Pak Fernando meminta supir untuk menyiapkan mobil agar Sharma segera dibawa kerumah sakit.


Sharma menggelengkan kepalanya. Ia sebenarnya tidak suka dengan namanya rumah sakit. Sehingga Sharma menolak dibawa kerumah sakit.


"Sudah Pi!" lebih baik Sharma dirumah aja, mungkin sebentar lagi demam Sharma juga reda. Apalagi Sharma sudah minum obat kok. Papa Tenang saja." ucap Sharma dengan Suara khas orang menggigil.


"Tidak nak!". Sekarang kita kerumah sakit, Papa tidak ingin terjadi sesuatu kepada kamu." ucap pak Fernando sembari menuntun Sharma keluar dari kamar menuju mobil.


Setelah berada di dalam mobil, pak Fernando,Sharma menitipkan Prasetya yang sedang tertidur, kepada Bibi agar bibi memperhatikan Prasetya sebelum ketika mereka berad dirumah sakit. Setelah memastikan Prasetya baik baik saja, pak Yono melajukan mobil kearah jalan raya menuju rumah sakit.


"Pak Kerumah sakit Jose Group ya!" ucap pak Fernando


"Baik tuan?"


setelah melakukan perjalanan sekitar kurang lebih lima belas menit, mereka tiba di rumah sakit Jose Group. Pak Fernando langsung memanggil dokter agar segera membatu membantu Sharma keluar dari mobil dan langsung memeriksa kondisi Sharma.


Diruang UGD Sharma di periksa oleh pak Fernando, berharap kondisi Sharma baik baik saja. Agar dapat observasi saja tanpa harus rawat inap. Tetapi ketika Dokter memeriksa kondisi Sharma, dokter meminta kepda pak Fernando agar Sharma lebih baik dirawat inap. supaya Sharma dapat dirawat secara intensif. Apalagi suhu badan Sharma cukup tinggi, membuat Dokter khawatir akan kondisi Sharma.


Sehingga Sharma di anjurkan oleh dokter untuk rawat inap dirumah sakit karna kondisi Sharma sangat lemah dan membutuhkan perawatan.


Pak Fernando langsung menyetujui keputusan dokter, berharap Sharma cepat sembuh.


Sementara ditempat lain, Prasetya terbangun dari tidurnya dan langsung menangis mencari cari keberadaan Sharma.Tetapi Prasetya tidak menemukan Sharma. Bibi menghampiri Prasetya berharap bibi dapat menenangkan Prasetya, bukannya lebih tenang justru tangis Prasetya semakin histeris. Hal itu membuat bibi bingung bagaimana caranya untuk membujuk Prasetya.


Jika bibi Menghubungi Sharma, ia takut sharma semakin menghawatirkan baby Prasetiya hingga Bibi memutuskan untuk menghubungi Briptu Erick.

__ADS_1


Kring.....


Kring...


Kring....


Briptu Erick yang melihat ponselnya berdering waktu larut malam, ia langsung meraih ponselnya yang berada diatas nakas. Erick begitu terkejut melihat nomor yang menghubungi nya adalah nomor asisten rumah tangga yang bekerja dirumahnya.


"Hello assalamualaikum Bi!" sapa Erick dari seberang.


"Waalaikumsalam Den?" sahut Bibi tetapi Erick sudah mendengar suara tangis Prasetya.


"Ada apa Bi? kok sepertinya putra saya sedang menangis?


"Iya den!" Nak Prasetiya mencari non Sharma, tetapi dia tidak menemukan non Sharma di karya sehingga Prasetya menangis.


"Memangnya istri saya kemana Bi?


"Non Sharma sedang dibawa pak Fernando kerumah sakit. Soalnya non Sharma sakit Den." ucap bibi membuat hati Briptu Erick begitu mengkawatirkan istrinya.


"Ya sudah bi!" coba berikan ponsel kepda Prasetya agar saya berbicara kepadanya.


kemudian Bibi pun memberikan ponsel itu kepada Prasetya agar Prasetya berbicara kepada Briptu Erick.


"Ayo Sayang ini Papi mau ngomong sama kamu. Kamu bilang kamu merindukan Papi kan? ngomong sama papi ya?" bujuk Bibi kepada Prasetya. Berharap Prasetya berhenti menangis.


"Tidak mau!" Prasetya tidak mau berbicara sama papi, papi tidak sayang lagi sama Mami dan Prasetya. Buktinya Papi tidak pulang-pulang sehingga Mami sakit."tangis Prasetya membuat hati Briptu Erick bagai tertusuk duri tajam.


Prasetya sama sekali tidak ingin berbicara dengan Briptu Erick. Membuat Briptu Erick sangat sedih. putranya sama sekali tidak ingin berbicara dengannya.


Prasetya terus saja menangis. Ia meminta kepada Bibi, untuk menghantarkan dirinya ke rumah sakit. Untuk menemui Sharma padahal Hari sudah larut malam.


"Sayang kita besok pagi aja ya ke rumah sakit!" Bujuk Bibi berharap Prasetya terlihat dari tangisnya. Tetapi Prasetya bukannya terdiam melainkan semakin menangis histeris.


Bibi semakin bingung dan tidak tahu apa yang akan kita lakukan terhadap orang setia berulang kali ia mencoba untuk membujuk Prasetya tetapi berubah pada juga dia gagal.


Prasetya Hanya pengen langsung besar di rumah sakit.


"Sayang..... Ini sudah malam!" kita besok pagi saja ke rumah sakit mungkin sebentar lagi Mami juga akan pulang ucap bibit kepada Prasetya.


Entah karena kecapean menangis hingga Prasetya pun kembali tertidur. Bibi merasa tidak tega melihat anak dari majikan terus menangis Ia pun menemani Prasetya tidur di kamar ya.


"Yang sabar ya nak Mami pasti sembuh kok tapi tidak akan menyelesaikan tugasnya sebagai pengayom masyarakat. ucap Bibi sambil mengelus rambut Prasetya.


Sementara di tempat lain, Briptu Erick sudah tampak gelisah. Ia berusaha Untuk segera menyelesaikan tugasnya agar dirinya dapat kembali ke Jakarta. apalagi ketika Briptu Erick Mengetahui Sharma sedang sakit hatinya semakin tidak karuan.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2