Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 101. Malamnya Lisa dan Kaisar.


__ADS_3

Malam hari Kaisar kembali di kediaman Marwan, setelah melihat Arga dan istrinya, Kaisar bergegas memasuki kamar Julia.


"Kenapa nenek, terlihat semakin pucat, apa sudah ada yang memanggilkan dokter untuk memeriksa nenek?" Tanya Kaisar, dengan penuh rasa khawatir.


"Tidak Kai, nenek sudah lebih baik sekarang." Sahut Julia dengan lesu, tidak seperti biasanya.


"Nenek, yakin tidak mau aku panggilkan dokter?"


Julia menggeleng.


"Nenek, hanya perlu beristirahat saja Kai." Ucapannya dengan tertunduk, entah kenapa, Julia terlihat menghindari Kaisar bahkan ia tidak mampu menatap wajah anak yang selama ini ia rawat.


"Baiklah, kalau begitu, sekarang nenek tidur, besok aku yang akan mengantarkan nenek ke rumah sakit." Ucap Kaisar, seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh Julia.


Kaisar keluar dari kamar Julia, dan kembali kamarnya dan Lisa.


Arga tentu sudah tidur, sedang Lisa ia tengah berada di balkon kamar itu.


"Sayang! Kenapa malam-malam begini kau malah berada di sini, cuaca sangat dingin kau bisa sakit."


Kaisar memeluk Lisa dari belakang, dan menyandarkan dagunya di pundak Lisa.


"Mas, apa kau sudah melihat nenek Julia?"


"Sudah, sepertinya besok mas harus membawa nenek ke rumah sakit, wajah nenek semakin terlihat pucat, mas khawatir."


Lisa membalikkan badannya, menatap Kaisar dengan lekat.


"Mas! Jika orang yang sangat kamu benci adalah saudara atau keluarga mu sendiri bagaimana?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Aku hanya bertanya mas!"


Kaisar mengerutkan keningnya.


"Tidak masalah, Farel pun begitu, tapi mas tetep membencinya sekalipun dia adik mas."


"Aku rasa, mas tidaklah membenci Farel, justru mas sangat menyayangi Farel."


"Haha .... Kau bicara apa sayang, mas tidak pernah menyayangi si berengsek itu." Ketus Kaisar.


Aku harap kamu bisa menerima Rafi, seperti kau menerima Farel, mas, meskipun kau terlihat sangat membenci Farel, tapi aku tau kau sangat menyayanginya.


"Sudahlah, kenapa jadi membahas si berengsek itu, ayo kita masuk di sini dingin, kau bisa sakit."


Lisa mengikuti langkah Kaisar, yang menarik tangannya, dan menutup pintu.


"Mas, apa kau sudah makan?"


"Belum!"


"Kenapa belum, ini sudah malam mas!"


"Sayang." Rengek Kaisar dengan manja, sambil memeluk Lisa.


"Ada apa mas, kau harus cepat makan."


"Mas ingin memakan mu saja." Bisiknya di telinga Lisa, yang sontak membuat wajah wanita itu merona.


"Mas, merindukan mu seharian ini."


Tanpa, berbasa-basi lagi, Kaisar dengan gesit dan rakus melahap bibir Lisa, ia menekan tengkuk Lisa agar ciuman itu semakin dalam, seolah-olah ia benar-benar ingin memakan bibir istrinya itu.


Hanya sesekali ia lepaskan ciuman panas itu, untuk menghirup oksigen yang hampir habis.


"Maaass..!" Lirih Lisa, ketika bibir basah milik Kaisar, sudah berlabuh di ceruk Lehernya.


Perlahan Kaisar mendorong tubuh Lisa, agar terbaring di ranjang, tanpa melepaskan tautan bibirnya dari leher jenjang milik Lisa.


Dan beberapa detik kemudian, tubuh kekar itu sudah bertumpu di atas tubuh Lisa, yang jauh lebih kecil dari tubuh Kaisar.


Dengan nafas yang memburu, Kaisar memandang wajah manis istrinya.


"Kau cantik sekali, sangat cantik dan manis." Ucap Kaisar, lirih dan kembali melahap bibir ranum yang menggoda itu.


Ciuman di seluruh wajah sudah Kaisar daratkan, hingga leher putih itu pun sudah di penuhi dengan label berwarna merah terang.


Gerakan tangan Kaisar kini sudah semakin mahir, ia mempreteli pakaian yang Lisa kenakan tanpa melepas ciuman dari bibirnya.


Ia tersenyum puas, melihat tubuh polos istrinya yang terpampang jelas di depan matanya.


"Jangan menutupinya,"ucap Kaisar, menahan tangan Lisa yang ingin menutupi tubuhnya.


Dengan cepat, ia pun membuka kaos berwarna biru yang masih melekat di tubuhnya, dan melemparkannya ke sembarang arah.


Kecupan mulai menyebar di seluruh tubuh Lisa, di iringi dengan rintihan kecil dari Lisa, bersama dengan Bibir kaisar yang menyentuh di setiap inci area sensitifnya.


"Mass..!"

__ADS_1


"Mass..!"


"Eemm... Iya sayang!"


Tok ... Tok..


Tok..Tok..


Suara rintihan bersahutan dengan suara ketukan pintu, yang semakin kencang karena, Kaisar maupun Lisa tidak mendengarkannya, lebih tepatnya pura-pura tidak mendengar.


"Maas!"


"Biar kan saja."


Tok.... Tok ...


Tok ...


"Tuan!"


"Itu seperti suara Jhon, mas!" Ucap Lisa, dengan suara yang tertahan Karan menahan sesuatu yang bergejolak di tubuhnya.


Sial! berani sekali Jhon mengganggu waktu ku bersama Lisa. Geram Kaisar, di dalam hatinya.


Kaisar menghentikan aktivitas, ia menarik selimut tebal berwarna abu-abu itu untuk menutupi tubuh polos istrinya.


"Kau tetep di sini, jangan beranjak kemana-mana, mas tidak akan lama."


Setelah mengatakan itu Kaisar, beranjak dari ranjangnya dan meraih kaos yang tergeletak di lantai sambil berjalan ia mengenakannya.


Dengan wajah yang di tekuk dan rambut yang berantakan, Kaisar membuka pintu itu dan menatap Jhon dengan tatapan yang menusuk.


Jhon menyadari sesuatu bahwa tuannya sedang melakukan sesuatu.


"Apa, saya mengganggu anda tuan?"


"Sudah tau, tapi kau masih bertanya?" Ketus Kaisar.


"Maafkan saya tuan!"


Jhon, menundukan kepalanya, secara berulang-ulang.


"Cepat katakan, ada apa, awas saja kalau tidak penting, akan ku kirim kau ke Antartika sana." Kesal Kaisar.


"Tuan, anda melupakan sesuatu yang sangat penting." Ucap Jhon.


"Apa?" Sahut Kaisar.


"Sial! Aku melupakan si keparat itu." Umpat Kaisar, setelah ia menyadari sesuatu yang ia lewatkan, padahal ia sudah berjanji untuk yang kedua kalinya akan mendatangi Rafi.


"Kali ini dia yang mengirim sebuah pesan untuk anda tuan."


"Pesan? Apa ia kembali menantang ku?"


"Bisa di katakan seperti itu tuan."


"Ada gunanya saat itu aku tidak benar-benar menghabisinya, jadi aku bisa kembali menyiksa si keparat itu." Ucap Kaisar.


"Sambut tantangannya, dan Persiapkan semua, besok kita akan menemuinya." Sambung Kaisar.


"Baik tuan."


Sementara Lisa yang masih terduduk di atas ranjang, dengan selimut yang membungkus seluruh tubuhnya.


Lisa menajamkan pendengarannya, ia berharap sedikit saja bisa menangkap suara pembicaraan dari kedua pria itu.


Tapi sayang Lisa tidak dapat mendengar apapun di balik pintu sana, sampai akhirnya Kaisar kembali dan menutup rapat pintu itu, lalu berbalik mendekatinya.


"Mas, ada apa?" Tanya Lisa, kepo.


"Tidak ada apa-apa, hanya ada sedikit masalah di kantor." Sahut Kaisar.


"Apa hanya karena itu, Jhon mengetuk pintu kamar, di malam hari seperti ini!"


"Sudahlah, jangan membahas Jhon."


Kaisar menyingkap selimut yang menutupi Lisa, dan ia kembali membuka kaos yang beru beberapa menit ia kenakan.


"Kita lanjutkan saja, apa yang tadi tertunda."


Kaisar kembali melahap bibir Lisa, dan menindih tubuh mungil itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Tuan, sekertaris Kaisar sudah membalas pesan kita."


"Lalu?"


"Mereka menyetujuinya tuan, dan besok kita akan bertemu dengan Kaisar di tempat yang sudah si sepakati."

__ADS_1


"Bagus!"


"Tuan Rafi, apa anda yakin akan melakukan semua ini?"


"Tentu saja, tidak ada alasan untuk aku membatalkan niat ku."


"Lalu bagaimana dengan Lisa, dia pasti akan bersedih jika anda sampai membunuhnya."


"Lisa, tidak akan lama menangisi kematian Kaisar, karna setelah itu aku akan membawanya pergi jauh dari kota bahkan negara ini." Ucap Rafi, dan segera beranjak dari duduknya.


"Persiapkan saja semuanya." Sambung Rafi, dan segera berlalu meninggalkan Asistennya yang masih terdiam.


"Baik tuan ."


🍁🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁


Kembali kepada Kaisar, yang tengah berbaring di samping Lisa, sambil memeluk tubuh polos Lisa, yang masih mengatur nafasnya.


Kaisar menciumi seluruh wajah Lisa, dan kembali berbaring memejamkan matanya.


Beberapa menit berlalu Lisa, sudah bisa menguasai nafasnya, Ia memiringkan tubuhnya agar berhadapan dengan Kaisar, Lisa terus menatap wajah Kaisar yang tengah memejamkan matanya, sungguh sangat tenang dan damai jika lelaki itu tertidur seperti ini.


"Aku, sungguh tidak menyangka jika hubungan kita bisa sejauh ini mas, kita menikah karena perjodohan yang di lakukan kakek, aku pikir kau tidak akan menyukai ku dan dengan tegas menolak ku, aku juga berfikir jika kita tidak akan bisa bertemu atau bersama lagi, ketika aku memutuskan pergi darimu mas, tapi takdir kembali mempertemukan kita dan kau memaksa ku untuk kembali pada mu, dan sepertinya aku benar-benar sudah mencintai mu kembali mas."


Gumam Lisa, yang tengah mengenang masa lalunya, di depan wajah Kaisar yang masih terpejam itu.


Lisa mencium wajah tenang Kaisar, dan mengecup bibir Kaisar dengan singkat.


Tapi sebelum Lisa, menjauhkan bibirnya, Kaisar sudah lebih dulu menahan tengkuk Lisa, akan ciuman itu tidak lepas malah semakin dalam.


Apa! jadi dia belum tidur. atau pura-pura tidur.


Kaisar melepaskan ciuman itu, dan tersenyum senang menatap wajah Lisa yang memerah.


"Kau, diam-diam mencuri ciuman seseorang yang sedang tertidur?" Ledek Kaisar, dengan tawa yang ia tahan dalam hati.


Lisa menggeleng.


"Tidak!"


"Kau bisa mencium mas, kapan pun kau mau sayang!" Goda Kaisar, yang semakin membuat Lisa salah tingkah.


"Kalau begitu, mari kita lanjutkan ronde kedua,"ucap Kaisar, yang langsung menindih tubuh mungil Lisa.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Pagi hari.


Lisa tengah membantu Larasati, mempersiapkan sarapan di dapur.


Mereka terlihat sangat akrab dan hangat, senyum dan tawa kecil mengiringi gerak tangan kedua wanita berbeda generasi itu.


Dan Julia, menatap keduanya dari balik pintu yang menuju langsung ke dapur.


"Tertawa lah sepuasnya, karna sebentar lagi kalian akan menangis tanpa henti di sepanjang siang dan malam kalian." Gumam Julia.


🍁


Di kamar, Kaisar sudah bangun, ia tengah memandikan putra kecilnya itu.


"Papah, kapan kita pulang ke rumah kita?" Tanya Arga, pada Kaisar yang tengah mengeringkan badannya.


"Apa Arga tidak suka tinggal di sini!" Sahut Kaisar.


"Suka pah, tapi Alga tidak suka dengan eyang Julia."


"Kenapa Arga tidak suka dengan Eyang Julia?"


"Eyang jahat, dia selalu malah-malah pada mamah, semalem Alga dengal mamah dan eyang beltengkar pah." Tutur Arga.


Kaisar menghentikan gerakan tangannya sejenak.


"Bertengkar!"


Arga mengangguk.


Lisa, dan nenek bertengkar, kenapa? sepertinya mereka terlihat baik-baik saja, tapi! apa ada masalah yang tidak aku ketahui di antara Lisa dan nenek . Batin Kaisar, menduga.


"Papah!" Arga, membangunkan Kaisar dari lamunannya.


"Iya," Sahutnya, dan kembali melanjutkan aktivitasnya, yang tengah membantu Arga mengenakan pakaian.


Aku harus mencari tau penyebab Lisa dan nenek bertengkar.


Setelah selesai dengan tugas terhebatnya.


Kaisar turun kebawah dengan menggendong Arga.


Mereka langsung menuju meja makan, dan semua sudah berkumpul di sana

__ADS_1


🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🤗


__ADS_2