
Setelah mengganti pakaiannya dengan gaun yang di pilihkan Luna, Lisa keluar dari ruang ganti yang bersebelahan dengan tempat tidurnya.
Ternyata sudah ada Luna di kamarnya.
"Hai kakak ipar, Waaah sudah ku duga gaun pilihan ku ini pasti sangat cocok untuk mu, kau jadi terlihat semakin cantik dan mempesona, aku yakin para lelaki akan terpanah melihat kecantikan mu ini ka!" Seru Luna, dengan bersemangat.
Dia tidak sadar jika sedang membangunkan seseorang yang sejak tadi tengah menahan diri.
Lisa mengenakan Gaun berwarna Salem, dengan panjang yang sampai menutupi lututnya.
"Ganti bajunya, jika itu akan membuat semua lelaki menatapnya." Sahut Kaisar.
Astaga! aku melupakan ka Kai, seharusnya aku tidak bicara seperti itu tadi, aku harus cari akal, jangan sampai ka Kai meminta ganti kembali gaun untuk Kakak ipar.
"Aahh, aku bercanda ka, tentu gaun seperti ini akan membuat Kakak ipar terlihat biasa-biasa saja, jadi tidak akan membuat para lelaki terpesona di pesta nanti."
"Apa kau ingin bilang jika kakak ipar mu ini tidak menarik? Hingga kau berani bilang dia biasa-biasa saja." Kaisar, yang tak terima istrinya di sebut biasa-biasa saja.
Apa! aku salah lagi.
"Bukan begitu maksud ku ka."
"Sudahlah Mas, hal seperti ini tidak perlu di bahas,"ucap Lisa, yang melerai suaminya.
"Kakak ipar benar, hal seperti ini tidak perlu di bahas, lebih baik aku segera membantu kakak ipar merias wajahnya, agar terlihat lebih fresh dan cantik."
Luna segera mendorong tubuh Lisa untuk duduk di kursi rias dan menghadap cermin.
"Tolong selamatkan aku selalu kakak ipar." Bisik Luna.
Apa maksud anak ini.
Kaisar masih memperhatikan gerak-gerik tangan Luna yang tengah memoles wajah Lisa.
Kenapa rambutnya mesti di angkat seperti itu, ini tidak boleh, aku bisa gila jika banyak pasang mata yang menatap lehernya, yang hanya milikku itu.
"Luna, turunkan rambutnya, jangan di ikat seperti itu!" Perintah Kaisar.
"Kenapa ka? Ini akan membuat tampilan kakak ipar menjadi lebih cantik."
"Sudah jangan banyak bertanya, lakukan saja apa yang kakak mu ini minta."
Luna mendengus dengan Kesal.
"Baiklah, akan aku buka ikatannya."
Menyebalkan sekali.
Sementara Lisa tidak mengeluarkan suara atau berkata apapun, ia tengah menikmati ramainya perdebatan antara kakak beradik itu.
Aku seperti sedang mendengarkan Radio.
Setelah drama yang pelik karena keinginan Kaisar, yang berbelit-belit dan tidak masuk akal.
Akhirnya mereka selesai dalam bersiap-siap dan segera menuju gedung yang di gunakan untuk resepsi pernikahan Farel dan Sintia.
Lisa dan Kaisar, berangkat bersama Jhon Luna dan Arga tentunya.
Sedangkan Yuda dan Larasati sudah berangkat terlebih dahulu bersama Farel.
🍁🍁
30 menit menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai di gedung luas yang kini di sihir bak istana di negeri dongeng.
Setelah melakukan ijab qobul yang di ucapkan dengan lantang oleh Farel.
Kini mereka berdua tengah bersanding di pelaminan.
Sintia yang nampak begitu cantik dan mempesona dengan gaun pengantin berwarna putih di padu dengan warna peach, begitu menawan dan membuat siapapun yang melihatnya akan terpukau.
Begitupun dengan Farel, ia nampak begitu tampan dan berkarisma dengan setelah JAS berwarna hitam, yang ia kenakan.
Senyum mereka kembangkan di sepanjang acara untuk menyambut para tamu undangan yang menyalami mereka berdua.
Entah itu senyum bahagia atau mungkin senyum kepura-puraan agar semua terlihat baik-baik saja.
"Kau tentu sangat bahagia dan merasa beruntung bisa menikah dengan ku kan,"ucap Farel, di tengah-tengah senyuman yang ia berikan untuk para tamu.
"Haha, kau terlalu percaya diri Farel, aku pun terpaksa menyetujui pernikahan ini"sahut, Sintia.
"Kau bilang terpaksa? Kau yang mengaku-ngaku kalau kau ini kekasih ku pada orangtua mu."
"Lalu kenapa kau tidak menolaknya saja?"
"Aku terpaksa, karna ini permintaan mamah ku." Elak Farel.
"Sudahlah, kita bahas lagi nanti, sekarang tetep arahkan pandangan mu ke depan, jangan terus menatap ku seperti itu, banyak tamu mu di sana."
"Menatap mu! Yang benar saja, memangnya kau pikir di sini tidak ada pemandangan yang jauh lebih menarik daripada dirimu."
Sintia memicingkan matanya, ia sudah sangat geram dengan Farel, tapi tahan Sintia, ini sedang di pesta pernikahan mu, kau harus terlihat bahagia di depan mamah mu, agar wanita itu percaya kalau kau benar-benar mencintai Farel.
Biar ku balas dia nanti.
Dan kedua pengantin ini terus saja berdebat dalam hati.
🍁
Di sudut lain.
__ADS_1
Kaisar sedang sibuk menyapa para rekan bisnisnya, di dampingi Jhon di sisinya.
Sebenarnya Kaisar sangat enggan untuk melakukan hal seperti ini.
"Tuan Kaisar! bagaimana dengan kabar anda sudah lama sekali kita tidak bertemu, saya dengar anda sudah menikah, lalu di mana istri anda saya sangat penasaran ingin melihat wajahnya!" Cerocos seorang pria, yang berhasil membuat Serigala dalam jiwa Kaisar mulai terusik.
"Jika anda ingin melihat wajah istri saya, pastikan dulu anda dalam ke adaan sehat." Sahut Kaisar yang segera berlalu dari pria itu.
"Apa maksudnya?"
🍁
"Jhon!"
"Iya tuan."
"Kau tau bukan apa yang harus kau lakukan pada pria tadi?"
"Saya tau tuan." Sahut Jhon cepat.
"Segera lakukan, tapi jangan sampai buat dia mati, Cukup buat dia menginap di rumah sakit selama dua Minggu saja." Titah Kaisar.
"Baik tuan, segera saya lakukan."
🍁
Sedangkan Lisa, ia tengah bersama Luna dan teman-teman dari adik iparnya itu.
Mereka duduk di kursi dengan meja bundar di hadapannya, dan Arga ia bersama Larasati.
"Boleh, kita berkenalan?" Seorang pria mengulurkan tangannya pada Lisa.
Sejenak Lisa menatap tangan itu, karna iya sedikit terkejut.
"Aah iya, tentu saja boleh."
Dan Lisa membalas uluran tangan lelaki berwajah tampan itu.
"Nama ku Doni?"
"Saya Lisa!"
"Nama yang cantik, sama seperti pemiliknya!"
Lisa segera menarik tangannya.
"Anda bisa saja, tapi saya ucapkan terimakasih."
Doni ikut duduk di antara mereka.
Tatapannya sama sekali tidak berpaling dari Lisa.
"Tidak apa-apa, kakak ipar, mereka ini teman ku semua, kakak ipar tidak usah canggung." Ucap Luna.
"Apa? Kaka ipar!" Si lelaki yang bernama Doni itu terkejut, dengan panggilan dari Luna.
"Iya, Lisa ini kakak ipar ku!"
Lelaki itu beralih menatap Lisa.
"Jadi, kau sudah menikah?" Ucapnya dengan nada kecewa.
Tentu saja sudah, dan saya adalah suaminya!"
Tiba-tiba Kaisar muncul, dan menyandarkan tangannya di pundak Lisa.
Kaisar menurunkan kepalanya, agar mengimbangi Lisa yang tengah duduk.
Cup .
Ia mencium pipi istrinya itu.
"Sayang, kenapa kau ada di sini."
"Aku, sedang bersama Luna, Mas."
"Luna! tapi kenapa ada lelaki di sini."
Semua terbelalak melihat Kaisar.
Astaga aku lupa jika ada Ka Kaisar di sini.
Kaisar menarik kursi yang ada di sebelah Lisa, sekejap kemudian tubuh besarnya sudah menduduki kursi itu.
Kaisar memicingkan matanya, menatap lekat Lelaki yang tadi berjabat tangan dengan Lisa.
Lisa sudah mulai merasakan aura negatif di sekitarnya.
"Mas!"
"Iya sayang,"
Kaisar meraih tangan Lisa yang tadi ia gunakan untuk berjabat tangan dengan Doni.
Tepat di hadapan lelaki itu, Kaisar meraih tisu dan mengusap telapak tangan Lisa.
"Mas, sudah pernah bilang, jangan ada yang berani menyentuh mu selain mas!"bisik Kaisar tepat di telinga Lisa.
Lisa memiringkan wajahnya menghadap Kaisar, dan sekejap kemudian mata mereka saling bertatapan, Kaisar menyingkirkan anak rambut yang sedikit terurai di wajah Lisa.
__ADS_1
Dan.
CUP...
Tanpa tau malu.
Kaisar mengecup bibir Lisa.
Astaga apa-apa ini.
Semua yang ada di meja itu, menundukkan wajahnya.
Terkecuali lelaki yang tadi berjabat tangan dengan Lisa.
Ia menatap lekat pasutri yang ada di hadapannya itu.
Lisa sudah mulai merasa tidak nyaman dengan sikap Kaisar.
Aku malu sekali, bisa-bisanya mas Kaisar mencium ku di depan umum seperti ini.
Luna yang tau kesalahannya karena telah mengajak kakak iparnya bergabung dengan teman-temannya.
Menundukan kepalanya ia tidak berani menatap Kaisar.
Pasti Ka Kaisar akan marah pada ku.
Doni membuka suaranya.
"Ooh... Jadi ini suami mu, sepertinya dia sangat posesif sekali."
Kaisar memicingkan matanya menatap lekat Lelaki itu.
Kurang ajar! jika bukan sedang berada di pesta pernikahan Farel, sudah ku patahkan tangannya.
Kaisar sudah bersiap untuk membalas kata-kata menohok lelaki itu.
Tapi Lisa bertindak lebih cepat.
"Mas, kita keruang istirahat, aku lelah." Ajak Lisa, dengan memeluk lengan Kaisar.
"Iya benar, kakak ipar pasti sangat Lelah, beristirahat lah ka!" Sahut Luna dengan cepat, berharap kakak iparnya itu cepat membawa Kaisar dari hadapan teman-temannya terutama Doni.
Jangan sampai Ka Kaisar mengamuk di sini.
"Ayo Mas!" Lisa berdiri terlebih dahulu, dan menarik lengan Kaisar.
"Iya." Dan Kaisar, akhirnya mengikuti Lisa, melangkah pergi meninggalkan meja yang beberapa detik lalu menegangkan.
Luna dapat bernafas dengan lega untuk sesaat. Tapi tidak untuk nanti, Kaisar pasti akan mencecarnya, dengan berbagai ocehan.
"Apa dia kakak mu?" Tanya Doni.
Luna mengangguk.
Doni masih menatap Lisa yang pergi dari keramaian pesta itu.
🍁
Lisa dan Kaisar, sedang berada di ruang istirahat yang di sediakan di gedung itu.
Wajah Kaisar terlihat masam.
"Mas!"
"Eemm!" Jawab sekenanya.
"Kenapa kau cemberut seperti itu mas?"
"Kemarilah!"
Lisa mendekati Kaisar yang tengah duduk di sofa.
Kaisar meraih tangan Lisa.
"kenapa lelaki itu sampai menyentuh tangan mu?"
Astaga dia masih membahas soal itu!
"Mas, kan tadi aku sudah bilang jika aku hanya menyambut tangannya yang tengah memperkenalkan diri."
"Seharusnya kau tidak perlu membalasnya,"ucap Kaisar, yang masih terlihat kesal.
Lisa memandang wajah Kaisar, lalu ia semakin mendekat dan memeluk lelaki yang tengah ngambek itu.
"Maafkan aku mas, lain kali aku tidak akan melakukannya lagi."
Lisa sudah tau seperti apa Sifat Kaisar, jadi ia harus memahaminya.
"Kau tidak salah, lelaki itu yang bersalah." Sahutnya.
Biar, aku akan menyuruh Jhon untuk memberi pelajaran kepada lelaki yang kurang ajar itu.
Lisa tak menimpanya, ia hanya mengangguk saja.
Yang waras yang mengalah bukan!
🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya
__ADS_1
❤️❤️❤️ Love banyak-banyak untuk kalian semua 😘😘