
"Biar aku saja yang mencarinya." Sahut Farel.
" Kau yakin?"
Farel mengangguk mantap.
"Biar saya yang menemani anda tuan!"
Rizal datang menawarkan diri.
"Tapi kalian belum tau tempat-tempat yang ada di desa." Ujar bude Darmi.
"Iya, bude betul. Kalau begitu biar saya saja yang akan mencarinya." Yakin Sintia.
"Baiklah. Kalau begitu biar aku dan dia yang mencarinya." Farel memberi keputusan final seraya menunjuk Sintia.
Lalu beralih pada Rizal.
" Dan kau, di sini saja, jaga Arga baik-baik jangan sampai terjadi sesuatu pada bocah itu, jika kau tidak ingin si brengsek itu menggantung mu."
"Ba .... Baik tuan." Jawabnya gemetar.
Sintia dan Farel segera berangkat untuk mencari Lisa dan Kaisar. Tujuan pertama mereka adalah klinik.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Aku butuh sebuah mobil!" Pinta Anggel pada Firman.
"Apa kau sudah gila!"
"Kenapa? Bukankah Tante Julia sudah mengatakan pada mu, untuk membantu ku mempermudah menaklukan kembali Kaisar?"
"Memangnya kau mau menyuap Kaisar dengan sebuah mobil? Bahkan pabrik mobil pun mungkin dia memilikinya."
"Aku tau itu. Aku hanya tidak mau jika harus Mundar-mandir ke kantor Kaisar mengunakan motor, karena itu sangat tidak baik untuk kesehatan kulit ku, kau seorang dokter kan? Pasti tau itu."
"Dasar manja."
"Kau gunakan saja ambulance yang ada di klinik, jika kau tidak mau menggunakan motor." Ketus Firman.
"Kau sudah gila! Memangnya kau pikir aku ini jenazah."
"Terserah pada mu ." Firman bangkit dari duduknya dan segera berlalu meninggalkan Anggel di ruangannya.
"Awas kau Firman!" Gumam Anggel.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Malam semakin larut, Lisa dan Kaisar masih tertatih-tatih di dalam hutan yang benar-benar sudah gelap gulita.
Lisa sama sekali tidak melepaskan pelukannya dari lengan Kaisar, ia menempel dengan erat. Bahkan untuk menggeser sedikit saja tidak ia lakukan.
Rasa takut memang bisa mengalahkan segalanya.
Lisa yang biasanya cuek dan ogah-ogahan bahkan menghindar jika Kaisar mendekatinya apa lagi menyentuhnya, kini sebaliknya, karena rasa takut yang sudah menguasai otak dan pikiran hingga membawa tubuhnya merekat kuat pada Kaisar.
Tentu ini ke untung besar bagi Kaisar. Tak apa jika harus tersesat sepanjang malam di hutan yang gelap ini, jika sepanjang malam itu Lisa terus menempel padanya sungguh dai ikhlas dan ridho.
"Mas, apa kita bisa keluar dari hutan ini? Bagaimana kalau ada bintang buas yang akan menerkam kita dan memakan kita hidup-hidup?" Tanya Lisa, yang sangat pelan, bahkan terdengar seperti bisikan di telinga Kaisar. malah terdengar seperti sedang menggodanya, bagi Kaisar.
"Tentu saja tidak akan mas biarkan, aku saja sampai saat ini masih belum bisa menerkam dan memakan mu." Jawabnya dengan suara yang tak kalah berbisik juga di telinga Lisa.
"Apa maksud mu mas?"
"Tidak!" Jawab Kaisar dengan terkekeh kecil di gelapnya malam.
"Apa kau kedinginan?" Kaisar merasakan kulit Lisa yang begitu dingin karena ia hanya mengenakan kemeja tipis saja.
Kaisar segera membuka jaketnya dan menggunakannya pada Lisa, yang mampu menutupi separuh tubuh Lisa.
" Lalu kau bagaimana mas?"
"Tidak apa-apa, mas sudah merasa hangat jika kau selalu memeluk mas seperti ini."
Lisa tersenyum mendengar gombalan suaminya itu.
Mereka berdua terus menelusuri gelapnya malam di tengah hutan rimbun tanpa pencahayaan sedikitpun, karna ponsel mereka sudah dalam keadaan almarhum.
Senyum merekah terukir di bibir kedua manusia ini meskipun ntor tidak bisa melihatnya karna gelap.
Di iringi dengan obrolan manis, candaan dan rayuan-rayuan indah, membuat mereka terdengar seperti pasangan romantis versi kegelapan.
Dan Lisa pun lebih banyak bicara dan sesekali tertawa kecil mendengar gombalan dan rayuan rayuan yang tak masuk akal dari sang amatiran ini.
__ADS_1
"Haha .... Mana ada cinta di ibaratkan dengan mie rebus mas!"
"Memangnya tidak ada?"
"Biasanya seseorang akan mengibaratkan cinta itu seperti ....! siang dan malam, bunga bermekaran atau langit dan bumi."
"Sial! Apa Jhon berniat mempermalukan ku." Gumamnya dengan suara pelan. Tapi masih terdengar sangat jelas di telinga Lisa.
"Jadi Jhon yang mengajari mu?" Tanya Lisa, yang tengah menahan tawanya.
"Aah ... Sudah lupakan saja anggap mas tidak pernah mengatakan itu."
"Haha ... Haha..." Lisa tidak bisa menahan tawanya.
Dan itu sepenggal obrolan mereka yang mampu membuat Lisa tidak bisa menahan tawanya.
"Tunggu!"
"Ada apa mas?"
"Kenapa kau bisa tau, ibarat-ibarat cinta yang biasa orang katakan pada pasangannya?" Tanya Kaisar penuh selidik.
"Apa ada seseorang yang pernah merayu mu menggunakan kata-kata itu?" Sambungnya.
"Katakan siapa orang itu, biar mas robek mulutnya. Berani-beraninya merayu mu!"
Kenapa jadi begini.
"Aku sering menonton drama mas, jadi rayuan seperti itu sudah sering di gunakan."
" Berarti rayuan ku sepesial karena tida biasa di ucapkan orang lain?"
Lisa mengangguk, agar urusan cepat selesai.
" Iya mas."
"Jhon memang hebat!" Gumamnya.
Lisa hanya menggelengkan kepalanya.
🍁🍁
"Mas! Kau lihat itu?" Tunjuk Lisa pada sebuah cahaya dari kejauhan.
"Itu lampu mobil?"
"Rumah!"
"Untuk memastikannya mari kita kesana mas."
🍁
🍁
🍁
Dengan berjalan perlahan di iringi dengan turunnya hujan, akhirnya mereka sampai di tujuan. Dengan badan yang menggigil karena kedinginan.
"Ini bener-benar sebuah rumah." Wajah Lisa berbinar menatap sebuah bangunan yang ada di hadapannya.
"Kenapa ada rumah di tengah hutan begini?" Heran Kaisar.
"Kita kesana mas!" Lisa melangkahkan kakinya, tapi Kaisar segera menahannya.
"Kenapa mas?"
"Kita tidak tau itu tempat apa, jangan sembarangan memasukinya."
" Tapi kita butuh bantuan untuk keluar dari hutan ini mas, dan kita juga butuh tempat berteduh di hujan seperti ini, aku kedinginan mas."
Kaisar malah memeluk Lisa.
"Mas bisa menghangatkan mu di sini tidak perlu masuk ke rumah itu."
Apa karna tersesesat di hutan ia jadi aneh seperti ini.
"Tidak bisa mas!"
"Kenapa! Apa kau tidak merasakan hangat saat di pelukan mas?"
"Bukan begitu mas, tapi! Coba lihat, mas basah kuyup seperti ini mana bisa menghangatkan ku yang juga basah kuyup. Kita bisa sakit mas kalau kita sakit bagaimana dengan Arga."
Kaisar mengangguk, dia juga tidak mungkin tega melihat istrinya yang menggigil kedingin di hutan seperti ini.
__ADS_1
Mereka kembali berjalan mendekati rumah dengan bangunan yang terbuat dari anyaman bambu itu.
🍁
"Apa rumah ini berpenghuni?" Tanya Kaisar, ragu.
"Tentu saja mas, liat itu, ada lampu." Tunjuk Lisa pada sebuah cahaya yang di sebutnya lampu, padahal itu cahaya dari kain yang di sesepkan pada potongan bambu yang biasa di sebut obor.
Lisa mengangkat tangan kanannya, hendak mengetuk pintu rumah yang terlihat sudah tidak kokoh lagi.
KREEEEETT .....
Sebelum Lisa mengetuk, pintu itu justru terbuka.
Dan menampilkan sosok wanita yang rambutnya sudah tidak hitam lagi, dengan pakaian lusuh dan lipatan kulit yang sangat kentara di wajahnya.
Kaisar terkejut, dan langsung memposisikan diri di belakang Lisa.
"Selamat malam Nek!" Lisa menundukkan kepalanya.
Si nenek tidak menjawab ia hanya menatap Lisa dari ujung kaki sampai kepala.
Kaisar memicingkan matanya.
Kenapa wanita tua itu menatap Lisa seperti itu.
Dengan cepat Kaisar mengubah posisinya, Kini ia tarik Lisa agar berada di balik punggungnya.
"Mas, kamu kenapa?"
"Kau diam di sini!" Titahnya.
Si nenek menggerakkan tangannya, mengisyaratkan mereka untuk masuk kedalam rumah.
"Ayo mas kita masuk. Nenek sudah mengijinkannya!" Ajak Lisa.
🍁🍁
Beberapa detik kemudian mereka sudah duduk di bangku yang terbuat dari susunan bambu.
Lalu si nenek keluar dari belakang, membawakan dua gelas minuman yang masih terlihat kepulauan asapnya yang langsung tercium di hidung Lisa.
"Aah ... ini aroma air jahe." Lisa segera bangkit dari duduknya dan membantu nenek membawa nampan yang ada di tangannya.
"Minum!" Satu kata keluar dari bibir nenek yang sedari tadi hanya diam.
Ternyata di masih bisa berbicara. Batin Kaisar.
"Terimakasih nek!" Lisa yang memang sedari tadi kedinginan, tentu tidak akan menolaknya air jahe hangat yang aromanya menyeruak ke Indra penciumannya.
HAP....
Tangan Kaisar menghentikan Lisa yang hendak meraih gelas yang ada di meja itu.
"Ada apa mas?"
Mata Kaisar fokus menatap mata nenek yang sudah hampir tidak terlihat karena banyaknya kerutan di sana.
"Kau yakin minuman ini aman!" Bisiknya pada Lisa.
"Apa maksud mu mas, jangan berpikir yang tidak-tidak." Jawab Lisa yang merasa tidak enak hati dengan si nenek.
"Kita jangan mudah percaya pada orang asing!"
"Mas, lihatlah! dia hanya seorang nenek yang sudah rentan, masih kamu curigai juga."
Lisa tersenyum canggung pada nenek yang memperhatikan mereka yang tengah berbisik-bisik, dan kembali meraih gelas itu.
Tapi Kaisar merebutnya.
"Untuk memastikannya, biar mas dulu yang meminum nya."
Lisa terharu, meskipun Kaisar ragu akan keamanan minuman itu, tapi ia rela meminumnya terlebih dahulu untuk memastikan bahwa itu aman untuk istrinya.
Uhuk .... Uhuk ....Uhuk ....
"Mas! kau kenapa?" Lisa panik dan langsung menepuk-nepuk punggung Kaisar.
"Muntahkan mas, cepat muntahkan semua minuman itu, jangan sampai masuk kedalam tubuhmu." Cerocos Lisa karna panik.
Rupanya dia pun ragu akan minuman hangat itu.
"Kau tidak apa-apa mas?" Lisa menangkupkan kedua tangannya di wajah Kaisar.
__ADS_1
Kaisar menggeleng.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹