
"Luna kau sudah datang!" Lisa memeluk adik iparnya itu.
"Bagaimana dengan kabar Kaka ipar?"
"Aku baik, sangat baik." Sahut Lisa.
"Bagaimana dengan pernikahan kalian?" Tanya Kaisar.
"Astaga! Kak Kaisar!"
Bukannya menjawab pertanyaan Kaisar, Luna justru terkejut dengan penampilan Kaisar saat ini.
Ia segera menghampiri kakak nya itu.
"Apa yang terjadi padamu kak, kenapa kau seperti mayat hidup seperti ini? Kakak sakit?" Tanya Luna yang sangat khawatir.
"Ini bukan sakit, tapi ini adalah pengorbanan seorang ayah dan seorang suami." Ujar Kaisar.
"Pengorbanan?"
"Iya, dan ini juga termasuk kejutan untuk kalian berdua, anggap saja ini hadiah pernikahan dan hadiah kelulusan mu menjadi koki."
"Apa?" Luna semakin bingung dengan kata-kata Kaisar.
"Kalian akan mempunyai keponakan lagi! Kakak ipar mu sedang hamil."
"Hamil!" Seru Luna.
Dan langsung memeluk Lisa.
"Selamat ya kakak ipar, aku sangat bahagia."
🍁🍁🍁
Beberapa Minggu berlalu, keluarga Kaisar selalu melewati hari-hari yang bahagia dengan menantikan kelahiran anak kedua mereka.
.
Semua keluarga menyambut calon bayi itu dengan suka cita.
Mona, ibu tiri Lisa pun, kerap kali mendatangi Mansion untuk menjenguk putri sambungnya itu.
Mona dengan sepenuh hati kini menyayangi Lisa, sama seperti ia menyayangi putri kandungnya sendiri Sella.
Dan Sella gadis keras kepala itu. Memutuskan untuk pergi merantau, menyusul Adik laki-lakinya.
Kaisar pun sudah mengembalikan semua yang pernah di miliki Yusuf dan Mona.
Sudah tidak ada kebencian lagi di antara mereka.
Sudah tidak ada dendam lagi di hati mereka.
Semua kesedihan.
Dan beberapa masalah sudah berhasil mereka lewati.
Saat ini hanya ada kebahagiaan untuk keluarga itu.
Semua sudah menemukan jalan hidupnya masing-masing.
Farel dan Sintia, hubungan kedua manusia itu sudah semakin membaik bahkan mesra dan sangat romantis di setiap kesempatan.
Pasca pulang berbulan madu, Farel dan Sintia jadi lebih saling memahami dan menerima satu sama lain.
.
Ya, meskipun hubungan Kaisar dan Farel belum se baik layaknya kakak beradik yang saling menyayangi, dengan mengucapkan kata-kata dukungan bahkan kata-kata sayang!
Tapi itulah ciri khas mereka berdua.
Selalu saja ribut dan saling mengumpat.
Tapi percayalah sesungguhnya mereka saling menyayangi.
Rafi, kini lelaki yang selama hidupnya di habiskan untuk mengejar cinta ibunya, dan balas dendam pada Kaisar.
Sudah menemukan jalan hidupnya sendiri, bersama wanita yang mencintainya dalam diam, Viona
Rafi kini hidup bahagia bersama Viona, dan mereka memutuskan untuk menetap di luar negeri. Tanpa harus kembali lagi ke tanah air. Karena sudah tidak ada ibunya di sini.
Dan Lisa pun sudah bahagia bersama keluarganya, jadi Rafi bisa dengan tenang meninggalkan wanita yang pernah menjadi obsesi hidupnya itu.
Julia, Anggel dan Marwan.
Tiga nama ini berakhir atas kesalahan mereka sendiri.
🍁
Berbuat baiklah di kehidupan kalian.
Karena apa yang kita tanam, itu yang akan kita panen.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan Luna dan Jhon!
Pasangan ini sangat sulit untuk di satukan.
Dengan sikap dingin dan cuek yang selalu Jhon tunjukkan, membuat Luna menjadi ragu dengan suaminya itu.
Bukan Jhon tidak mencintai Luna atau menyayanginya.
Jhon sangat menyayangi dan mencintai Luna, tapi lelaki itu terlalu datar dan tidak mau mengutarakan rasa cinta dan sayangnya.
Jhon beranggapan.
Biarkan Luna mengetahuinya sendiri tanpa harus di ucapkan.
Mana mungkin seseorang akan tau apa perasaan kita, jika kita tidak mengungkapkannya.
Dasar Jhon!
Meskipun hanya dengan perlakuan saja, sudah bisa menunjukkan perasaan seseorang.
Tapi! Cinta itu butuh pengakuan Jhon!
🍁🍁🍁
*Sampai sini Kisah Lisa dan Kaisar Ntor anggap selesai ya, karna mereka sudah waktunya untuk bahagia tanpa harus di ganggu lagi.*
Untuk beberapa bab tambahan.
Ntor mau Fokus ke pasangan Luna dan Jhon dulu.
Biar hubungan mereka ada kejelasan tidak hanya menikah dan tinggal bersama, jika memang tidak ada cinta di antara keduanya dan sulit untuk di persatukan dalam satu ikatan cinta, Ntor akan memisahkan mereka secara baik-baik.
Agar Mak Ntor ini tenang ninggalin anak-anak Mak yang ada di novel ini. Hehe...
🍁🍁🍁🍁
"Kak, hari ini aku pulang dari Resto sendiri saja, tidak perlu di jemput,"ucap Luna, sambil merapikan sarapan untuk Jhon di meja makan.
"Kenapa?" Tanya Jhon, tapi nadanya penuh dengan curiga.
"Tidak apa-apa, hanya saja sepulang dari Resto nanti aku ada beberapa pertemuan dengan teman-teman ku, dan mereka akan menjemput ku di Restoran." Sahut Luna. Yang kini tengah merapihkan tas kerjanya.
Jhon tidak mengatakan apapun, kata iya pun tidak ia katakan.
Dan Luna menganggap diamnya Jhon, adalah persetujuan dari lelaki itu.
Selepas sarapan, mereka berdua berangkat bersama.
Di dalam mobil Luna tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya fokus dengan ponselnya.
"Terimakasih ka." Ucapannya sambil melambaikan tangannya.
"Iya," Sahut Jhon dengan singkat.
🍁🍁🍁
Di kantor.
Jhon masih terus kepikiran dengan permintaan Luna yang tidak mau di jemput pulang nanti.
Hingga waktu makan siang, Jhon memutuskan untuk mengunjungi Restoran Luna.
Ya, sekarang Luna sudah mempunyai Restorannya sendiri, tapi dia juga yang menjadi Koki di situ karena itulah cita-citanya selama ini.
Luna sudah mencapai cita-cita terpendamnya selama bertahun-tahun.
Tapi untuk Cinta, Luna masih sangat bingung.
Ia tidak tahu perasaan lelaki yang menikahi nya itu. Karena Jhon belum pernah mengucapkannya.
Mungkin Jhon menikahi ku karena ia menganggap itu sebuah perintah dari kak Kaisar. Pikir Luna.
Ia sudah sering kali bersikap terbuka pada Jhon, tapi Jhon Seolah menghindarinya.
🍁🍁🍁
Jhon sampai di Restoran Luna.
Tapi asistennya bilang jika Luna tidak ada di tempat, karna ia tengah keluar untuk makan siang.
"Makan siang! Bukankah di restoran ini begitu banyak jenis makanan, dan kenapa dia harus repot-repot keluar untuk makan siang!" Gumam Jhon.
Jhon tau Luna ada di mana, dan ia segera melajukan mobilnya ke tempat itu.
🍁
Di kafe favorit Luna.
Benar saja Luna selalu ada di sana.
Jhon memasuki Kafe itu, tapi langkahnya terhenti Karena Jhon melihat Luna tidak sendirian di sana.
Ada seseorang yang menemani istrinya itu.
__ADS_1
Jhon perlahan mendekat untuk memastikan siapa orang yang bersama istrinya itu.
Setelah yakin orang itu siapa, Jhon mengepalkan tangannya.
Berani sekali Lelaki itu, duduk berdua dan berhadapan dengan istri ku.
Dia lelaki yang pernah dekat dengan Luna, taman kuliahnya.
Dengan langkah kaki panjang Jhon sudah sampai di meja tempat Luna dan lelaki itu duduk.
Jhon berdiri di belakang Luna, ia menatap tajam lelaki yang duduk di depan Luna.
Lelaki itu bingung, menatap Jhon yang tiba-tiba berdiri di mejanya.
Luna masih belum menyadari kedatangan Jhon.
"Maaf, anda siapa? Kenapa berdiri di meja kami?"
Luna heran temannya itu sedang berbicara pada siapa.
Dan Luna mengikuti arah pandang temannya.
"Kak Jhon!" Kejut Luna, dan langsung berlari dari kursinya.
"Kak Jhon kenapa bisa ada di sini? Apa ada pertemuan dengan rekan bisnis kak Kaisar! Lalu di mana kak Kaisar?" Tanya Luna. Sambil mengedarkan pandangannya.
"Luna siapa dia?"
Sebelum Jhon menjawab pertanyaan Luna. Lelaki itu terlebih dahulu bertanya.
"Ini kak Jhon!"
"Aku suaminya." Ucap Jhon dengan tegas.
"Suami! Astaga! Maaf Luna, aku lupa jika kau sudah menikah."
Brengsek! Batin Jhon.
Lelaki itu bangun dari duduknya, dan mengulurkan tangannya pada Jhon.
"Perkenalkan nama saya Diki!"
Tapi tentu saja si dingin Jhon tidak akan Sudi menyambut uluran tangan itu.
Jhon malah meraih tangan Luna.
"Ayo kita pulang!" Ucapannya, dan menuntun Luna agar mengikutinya.
"Tunggu! Anda tidak bisa membawa Luna pergi begitu saja, karena urusan kami di sini belum selesai." Ucap lelaki yang bernama Diki Itu.
Jhon membalikkan badannya.
Ia menatap Lelaki itu dari ujung kepala sampai ujung kakinya.
Hanya butuh satu pukulan ringan untuk mematahkan tulang-tulang lelaki ini. Batin Jhon.
Lelaki itu tidak memperdulikan tatapan mengintai dari mata tajam Jhon.
Ia malah berbicara pada Luna.
"Luna, urusan kita belum selesai kan, jadi kau tidak bisa pergi begitu saja, ini sudah menjadi janji kita dari dulu." Ucap Diki.
Cih.. dia seperti anak kecil Saja bicara seperti itu.
Luna melirik Jhon.
"Ka, aku masih ada urusan pekerjaan dengan Diki, Kak Jhon pulang duluan saja." Kata Luna.
Dan membuat Diki mengembangkan senyumnya.
"Urusan pekerjaan?"
"Iya ka."
"Baiklah, saya akan menunggu sampai selesai.,"ucap Jhon, dan langsung duduk di bangku kosong yang ada di antara mereka.
"Ka Jhon yakin?"
Jhon mengangguk.
"Baiklah."
Dan Luna pun kembali duduk di tempatnya.
Tapi Jhon menggeser kursi Luna agar dekat dengannya.
Sedangkan Diki, ia merasa hari ini ia gagal mendekati Luna.
Jhon masih memperhatikan lelaki itu, dengan tatapan yang sangat mengerikan.
Bahkan Jhon sudah menggambarkan ekspetasinya ketika mematahkan tulang-tulang lelaki yang sudah berani mendekati istrinya.
🍁🍁🍁🌹🌹🍁🍁🍁
__ADS_1
Trimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️