
Luna semakin terpojok dengan dua mobil yang mengepungnya.
Dua orang turun dari salah satu mobil hitam itu dan mengetuk kaca mobil Luna.
Luna yang masih berada di dalam mobil seketika gemetar dan ketakutan.
Ada apa ini, kenapa mereka mengepung ku, apa mereka kawanan begal?
Luna masih enggan untuk membuka pintu mobilnya meskipun yang di luar sana berteriak-teriak, dan mengetuk kaca mobil Luna dengan keras.
"Ayo cepat keluar jika tidak ingin mobil ini saya hancurkan!" teriak salah satu dari orang yang menggunakan penutup wajah.
Luna memejamkan matanya untuk berapa menit.
Dan.
Klek.
Luna dengan yakin membuka pintu mobilnya.
"Hahaaa, akhirnya kau keluar juga Nona."
"Ada urusan apa kalian menghadang ku seperti ini?"
"Kami hanya menjalankan tugas Nona."
Luna jadi mengerti jika orang-orang ini bukanlah kawanan begal.
"Siapa yang menyuruh kalian?"
"Anda tidak perlu tau Nona," orang itu semakin mendekat, "ayo cepat bawa dia." Titahnya pada temanya.
Kemudian dua orang itu segera menyeret Luna untuk masuk kedalam mobil mereka.
Tentu Luna memberontak dan berteriak meminta tolong!
Namun, jalanan yang menuju Mansion sangtlah sepi karena itu bukan jalanan umum yang biasa di lewati pengendara.
Karna Luna hayalah seorang wanita, dan kedua orang itu lelaki yang bertubuh sangat besar, tentu Luna tidak bisa menghalaunya.
Dan akhirnya Luna di bawa masuk ke dalam mobil mereka, dan segera melajukan Mobil itu dengan cepat sebelum ada seseorang yang mengetahuinya.
Merekapun membawa serta mobil Luna untuk menghilangkan jejak.
Sedangkan salah satu dari mobil hitam itu sudah melaju terlebih dahulu, entah siapa yang ada di dalam sana, karna yang berada di dalam mobil itu tidak menunjukan wajahnya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Di Mansion.
Lisa yang sangat khawatir dengan Luna, terpaksa harus mengganggu pekerjaan Jhon dan Kaisar.
Ia membuka pintu ruangan yang biasa Kaisar gunakan untuk bekerja jika di Mansion, tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Ada apa sayang?" Kaisar terkejut dengan Lisa yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.
Begitu pun dengan Jhon, padahal mereka tengah membicarakan seseutu yang sangat serius, bukan hanya urusan kantor saja. Dan seketika wajah dua lelaki itu cemas karna takut jika Lisa mendengar percakapan mereka.
__ADS_1
Lisa memperhatikan kedua lelaki yang malah terlihat tegang itu.
Bahkan aku belum menyampaikan sesuatu mereka sudah se tegang itu! Batin Lisa.
Kaisar segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Lisa yang masih berdiri di ambang pintu.
"Ada apa sayang?"ia kembali mengulangi pertanyaannya.
"Mas, Luna, dia pergi ke Restoran dengan terburu-buru karna ada masalah di Restonya, yang aku khawatirkan Luna pergi hanya sendiri Mas, tidak di antar supir."
Jhon yang mendengar penjelasan Lisa, segera mendekat.
"Luna pergi ke Resto?"tanyanya meyakinkan.
"Iya Jhon, dan kau harus segera menyusulnya aku takut terjadi sesuatu, karna perasaan ku tidak enak,"pinta Lisa.
"Baik Nona, tentu saya akan segera menyusulnya,"Jhon beralih pada Kaisar, "Saya permisi tuan."Pamitnya.
"Iya, pergilah Jhon." Sahut Kaisar.
Tanpa melakukan apapun lagi Jhon segera Keluar dari Mansion dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
"Sayang, jangan cemas, Jhon sedang menyusul Luna, Mas yakin Luna akan baik-baik saja,"ucap Kaisar, yang tengah menenangkannya istrinya.
"Iya Mas."
"Kau jangan terlalu banyak pikiran, ingat! Dokter bilang, dalam beberapa hari lagi kau akan melahirkan, jadi kau harus tetap sehat."
"Iya mas, aku tau."
Kaisar mengantar Lisa untuk beristirahat di kamarnya.
Sang Kaisar harus menjadi suami yang siap siaga, untuk istri dan anak-anaknya.
🍁🍁🍁🍁
Di sepanjang jalan Mansion Jhon tidak menemukan mobil Luna.
"Apa dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga aku tidak bisa menyusulnya." Gumam Jhon.
"Jika di lihat dari waktu Luna pergi dari Mansion seharusnya dia masih berada di sekitar jalan ini, tidak mungkin jika di sudah sampai di Resto!"
Karena Khawatir Jhon menambah kecepatan mobilnya, dan ia juga mencoba menghubungi Luna, tapi ponsel Gadis itu malah tidak aktif.
🍁🍁🍁🍁🍁
Jelas saja ponsel Luna tidak aktif, karena orang-orang yang menculik Luna, merusak ponsel itu, dengan tujuan! tentu untuk menghilangkan jejak.
Mereka membawa Luna keluar dari jalan Mansion hingga Jhon tidak bisa menemukannya.
Luna berada di mobil si penculik, hanya ada dua manusia di dalam mobil itu, Luna dan salah satu dari penjahat. Sedangkan satu dari mereka membawa mobil Luna dan mengikuti dari belakang.
Luna memperhatikan jalanan yang sepi karna mobil itu sepertinya menuju hutan.
"Ini dimana?" raut cemas dan takut sangat kentara di wajah Luna.
Pria yang menutup wajahnya itu hanya menjawabnya dengan tawa yang membuat Luna semakin ketakutan.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Mobil itu berhenti tepat di sebuh jalanan yang di kelilingi pepohonan yang rimbun.
Mereka turun dan membawa serta Luna.
"Apa kita akan membawa gadis ini masuk kedalam hutan?" tanya salah satu dari penjahat yang membawa mobil Luna.
"Iya, Nona sarah meminta kita untuk membawanya ke tebing yang ada di dalam hutan, dan nona Sarah sudah menunggu kita di sana."
Sarah! Lagi-lagi wanita itu yang melakukan tindakan seperti ini. Batin Luna.
"Baiklah, cepat bawa jangan sampai membuat nona Sarah menunggu lama."
Mereka dengan kasar menyeret Luna memasuki hutan rimbun itu.
Luna tidak memberontak atau melawan, iya dengan pasrah mengikuti dua pria itu, semua Luna lakukan karna ia ingin tau dan melihat secara langsung wanita yang bernama Sarah, yang selalu mengganggu ketenangannya.
Sampai di bibir tebing yang curam, mereka masih mencekal tangan Luna.
Luna mengedarkan pandangannya, tapi tidak ada siapapun di sana, dimana Sarah? Bukankah kedua Pria itu bilang jika ada Sarah di sini?
"Dimana nona Sarah?" Tanya pria itu.
"Entahlah, sepertinya ia tidak jauh dari sini, mungkin ia hanya ingin memastikan kita benar-benar mengeksekusi gadis ini." Sahut temannya.
"Kalau begitu cepat lakukan, jangan buang-buang waktu!"
Salah satu dari dua pria jahat itu mengeluarkan benda tajam yang sudah ia siapkan di balik pakaian serba hitamnya.
"Gunakan ini, setelah gadis ini mati, kita buang dia di dasar jurang sana, agar tidak ada siapapun yang menemukan mayatnya."
Wajah Luna sudah pucat Pasih mendengar diskusi kedua orang jahat itu.
Ya Tuhan, tolong aku, apa yang harus aku lakukan, apa aku akan benar-benar mati hari ini.
"Jangan, tolong jangan lakukan itu, tolong lepaskan saya,"pinta Luna, yang mulai memberontak dari cekalan salah satu pria itu.
Namun kedua pria itu malah tertawa terbahak-bahak melihat Luna yang panik dan ketakutan.
Pria yang mengeluarkan senjatanya semakin mendekat seraya mengayunkan benda tajam yang ada di tangannya.
"Sayang sekali nona, kami akan tetap mengambil nyawa mu itu."
Luna mulai melemahkan tenaga yang ia gunakan untuk memberontak.
Luna menatap orang yang ada di hadapannya itu dengan tajam, dan penuh amarah.
Dan tiba-tiba ia berkata dengan dingin.
"Cepat lepaskan saya, sebelum kalian menyesali perbuatan kalian ini." Luna berkata tanpa ada rasa takut sedikitpun, berbeda sekali dengan raut wajahnya beberapa menit yang lalu.
🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏
Semoga tetap suka dengan musim kedua ini 🤗
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️😘😘❤️