
Pagi hari. Hubungan Kaisar dan Lisa kembali membaik, namun sepertinya Lisa masih belum bisa membuka pintu hati dengan sepenuhnya untuk Kaisar. Dan tentu Kaisar akan terus berjuang mengejar dan mendapatkan kembali cinta Lisa.
Hari ini Kaisar berangkat ke kantor, ia harus menangani masalah pembangunan pabrik yang akan ia hentikan.
Perdebatan pun sudah pasti terjadi, karna Farel pun tetep pada pendiriannya. Ia akan tetep melakukan pembangunan itu, dia tidak mau jika perusahaan papahnya mengalami kerugian besar.
"Kai, apa kau tidak tau berapa kerugian perusahaan jika pembangunannya di batalkan?"
"Aku tidak perduli."
"Jelas saja kau tidak perduli, karna kalau perusahaan papah mengalami kerugian besar dan bangkrut, kau masih memiliki perusahaan mu sendiri."
"Aku akan mengganti semua kerugian perusahaan papah mu itu."
"Di papah mu juga Kai!"
"Terserah, cepat kau suruh para pekerja mu itu untuk segera meninggalkan desa ini."
"Baiklah, jika semua kerugian kau yang menanggungnya, aku akan menghentikannya." Farel dengan senyum puasanya.
Akhirnya kesepakatan pun mereka dapat, di mana Kaisar akan mengganti semua kerugian yang di alami perusahaan Yuda akibat dari pembatalan ini.
"Cepat kau keluar dari ruangan ku." Usirnya pada Farel.
"Dengan senang hati Kai." Jawab Farel.
Setelah kepergian Farel, Kaisar membuka laptopnya dan semua berkas-berkas yang ada di meja. Ia harus mengecek semua pekerjaan yang ada di perusahaannya.
Tok .... Tok .... Tok ....
"Masuk!"
CEKLEEK.....
"Tuan Kai! Ada yang ingin bertemu dengan anda?" Ucap Rizal seraya menundukkan kepalanya.
Tanpa bertanya itu siapa, Kaisar mengijinkannya untuk masuk.
"Silahkan Nona!"
"Terimakasih!"
Tap ... Tap .... Tap .....
Suara sepatu begitu nyaring terdengar kala beradu dengan lantai yang Kokoh.
Tap ...
Dan tepat sekali suara itu berhenti di hadapan Kaisar.
Kaisar masih belum menyadari siapa yang ada di hadapannya, karna ia tengah fokus dengan semua pekerjaannya.
"Kai!"
Hingga sebuah suara mampu menghentikan gerakan tangan Kaisar pada laptopnya.
Kaisar sedikit mendongak untuk melihat siapa yang ada di hadapannya.
Dia Anggelina.
Anggel memasang senyum terbaiknya tatkala mata Kaisar memandangnya.
"Kau masih hidup?"
Kata-kata Kaisar, mengendurkan senyum terbaik Anggel yang dengan susah payah ia ukir di bibirnya.
Bagaimana bisa dia menyapa seseorang dengan ucapan seperti itu.
Tapi secepat kilat Anggel mengembalikan senyum terbaiknya.
"Kai, bagaimana dengan kabar mu?"
Kaisar memicingkan matanya.
"Sepertinya Jhon tidak memberi mu peringatan yang benar, sehingga kau masih berani menunjukkan wajah mu di hadapan ku."
"Kai, selama beberapa tahun ini aku merenungi semua kesalahanku, aku menyesal Kak." Ucap Anggel mengiba.
Julia bilang jika kesehatan mental Kaisar sudah membaik, itu artinya dia akan mudah luluh dengan rayuan ku kan, batin Anggel dengan sangat yakin.
"Cepat katakan apa tujuan mu datang ke sini."
"Aku ingin menemani dan membantu semua urusanmu di sini Kai."
"Aku tidak butuh bantuan dari mu." Ucap Kaisar dengan tegas.
"Sekarang cepat keluar dari sini dan kembalilah ke asal mu, jika kau tidak ingin kejadian 4 tahun yang lalu terulang kembali." Sambungnya.
__ADS_1
"Tapi Kai!"
"RIZAL!" Teriak Kaisar.
Hanya satu kali panggilan dengan suara yang memenuhi ruangan bahkan sampai tembus ke meja Rizal yang berada di luar ruangan Kaisar.
Dengan secepat kilat Rizal bangkit dari duduknya.
Cekleek .....
Rizal segera membuka pintu itu.
"Iya tuan!"
"Cepat bawa wanita ini keluar dari sini, jika dia menolak seret saja dia." Ucap Kaisar di iringi dengan tatapan yang menusuk tertuju pada Anggel.
Yang seketika membuat Anggel mengepalkan tangannya dalam hati, tentu saja hanya dalam hati, dia belum cukup berani jika melakukannya secara langsung di depan Kaisar.
"Baik tuan, nona silahkan keluar dari sini."
Rizal ingin meraih lengan Anggel untuk menuntunnya keluar.
Tapi dengan cepat Anggel menepisnya.
"Aku bisa sendiri."
Ia segera berlalu dari ruangan Kaisar tanpa menoleh lagi.
Baiklah, hari ini cukup sampai di sini dulu, kau lihat saja Kaisar, semua perlakuan mu pada ku akan aku balas lebih dari yang kau lakukan.
Batin Anggel, begitu yakin.
Tapi apa mungkin dia bisa melawan Kaisar? atau justru sebaliknya, malah Kaisar yang akan membalasnya lebih parah dari apa yang dulu pernah Kaisar lakukan padanya jika dia berani mengusik seorang Kaisar.
Selepas kepergian Anggel Kaisar membuka ponselnya.
"Halo nenek!"
{" Halo! Kai sayang? Bagaimana dengan kabar mu di sana? Kau baik-baik saja kan! Kenapa tidak pernah menghubungi Nenek?""}
"Apa nenek yang menyuruh wanita itu datang ke sini?"
Berbeda dengan Julia yang terdengar antusias sekali di sebrang sana. Kaisar justru tidak ingin ber basa-basi lagi.
{"Wanita itu? Siapa maksud mu Kai?"}
{"Ah ... Iya sayang nenek yang memintanya untuk menemani mu di desa itu, nenek tau jika kau tidak mungkin betah dan sangat merasa kesepian kan tinggal di desa itu apa lagi kau harus tinggal satu rumah dengan Farel. Jadi biarkan Anggel yang menemani mu sampai proyek mu selesai."} Ucap Julia dengan panjang lebar.
"Aku minta, suruh wanita itu kembali ke asalnya, aku tidak butuh bantuan atau di temani olehnya."
{"Tapi Kai!"}
"Sudahlah nek, aku tidak ingin berdebat dengan nenek, aku minta nenek segera menarik kembali Anggel."
Kaisar menyudahi panggilan itu. Jika di teruskan sudah pasti Julia akan mengeluarkan semua jurus rayuannya pada Kaisar sampai Kaisar mengatakan iya.
Ia merapikan semua berkas-berkas yang ada di mejanya.
"Ini sudah sore, aku harus segera pulang. Apa Lisa juga belum pulang!" Gumam Kaisar.
Dengan susah payah, dan perdebatan panjang yang di warnai dengan pertengkaran, akhirnya Kaisar kembali mengijinkan Lisa kembali bekerja di klinik itu dengan segudang persyaratan yang dengan terpaksa Lisa sanggupi.
Kaisar kembali meraih ponsel.
Ia harus menghubungi istrinya itu untuk memastikan jika dia sudah kembali ke rumah.
Tapi belum sempat ia menekan no ponsel yang ia beri nama( istriku sayang) justru si (istriku sayang) mengirimnya pesan.
{Mas apa kau sudah pulang? Bisa tolong jemput aku di klinik, motor ku mogok.)
Sebuah pesan yang mampir membuat senyum Kaisar mekar bagai bunga di pagi hari.
(Baik sayang.)
Secepat kereta ekspres Kaisar membalasnya.
Ia segera keluar dari ruangan itu.
Dan langsung menuju mobilnya, hatinya begitu berkembang -kembang setalah mendapat pesan minta jemput dari sang istri, ini baru pertama kalinya Lisa meminta untuk di jemput biasanya Kaisar lah yang akan merayu agar Lisa mau di jemput olehnya.
"Semoga saja motor mu selalu mogok setiap hari, agar aku bisa selalu menjemput mu." Gumamnya, yang sudah berada di balik kemudi.
🍁🍁🍁🍁
30 menit.
Kaisar sampai di kelinik itu.
__ADS_1
Ia melihat Lisa yang tengah berdiri di depan sepertinya sedang menunggunya.
Kaisar turun dari mobilnya dan menghampiri Lisa, pandangannya mengedar mencari sesuatu.
"Kau cari siapa mas?" Tanya Lisa.
"Tidak!" Jawabnya.
"Ya sudah ayok kita pulang, ini sudah sore Arga pasti sudah menunggu kita."
"Baiklah." Kaisar menggandeng tangan Lisa menuju mobil, dan membukakan pintu untuknya.
Di perjalanan tidak terdengar suara dari ke dua manusia itu.
Hingga.
"Sayang!"
Lisa menoleh ke arah Kaisar.
"Iya."
"Tadi ada Anggel datang ke kantor."
"APA! ANGGEL!" Lisa terkejut, hingga tanpa sadar ia berteriak yang membuat Kaisar terkejut dan menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Kau mengejutkan ku." Ucap Kaisar sambil mengelus dadanya.
"Maaf, aku tidak senaja mas."
Kaisar kembali melajukan mobilnya.
"Sepertinya kau sangat terkejut mendengar Anggel datang?" Kaisar kembali membuka suaranya.
"Tentu saja, apa dia datang untuk menjemput mu?" Tanya Lisa dengan wajah di tekuk.
"Kau cemburu?" Kaisar malah balik bertanya dengan senyum jahil di bibirnya.
"Tidak!" Jawab Lisa ketus.
"Padahal mas sangat berharap kau cemburu."
"Untuk apa aku cemburu padanya."
"benarkah!"
"Tapi tenang saja, jika kau mau mas akan mengusir wanita itu untuk mu, bahkan mas bisa membuangnya ke planet lain." Ucapnya sambil tersenyum manis pada Lisa.
"Tidak perlu mas!" Sahut Lisa.
Tiba-tiba Kaisar menghentikan mobilnya.
"Mas! Ada apa?"
"Suuutt." Kaisar meletakan jari ke Lisa.
"Kau lihat itu." bisiknya di telinga Lisa. Lalu menunjuk seorang pria yang hendak masuk kedalam hutan.
"Kenapa sore-sore begini dia masuk kedalam hutan? Bukankah hutan itu di larang untuk di masuki." Gumam Lisa.
Kaisar dan Lisa memperhatikan pria itu.
Dan pria itu melihat ke arah mobil Kaisar.
Demi menghindari kecurigaan pria itu, Kaisar kembali melajukan mobilnya. Dan melewati si pria hingga cukup jauh.
Kaisar kembali memastikan jika pria itu tidak melihat mobilnya. Lalu Kaisar menepikan mobilnya dan segera turun.
"Kau mau kemana mas?"
" Mengikuti orang itu."
"Apa! Mas hutan itu sangat berbahaya, itu sebabnya sampai sekarang tidak ada yang di ijinkan masuk kedalam sana, dan mas ingin memasukinya" Ucap Lisa dengan khawatir.
"Kalau memang berbahaya, kenap orang itu memasukinya? Mas yakin ada sesuatu di dalam hutan itu."
Lisa terdiam. Memang benar apa yang di katakan Kaisar, jika hutan itu berbahaya kenap pria itu memasukinya hanya seorang diri tanpa pengawasan dan pengamanan.
"Jika kau takut, kau tunggu di mobil saja mas yang akan masuk ke hutan itu."
"Tidak! aku ikut."
Dari pada harus menunggu di mobil sendiri lebih baik aku ikut.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏 minta dukungannya ya 🤗🤗
__ADS_1