Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 64. Menyerang rumah Kaisar.


__ADS_3

"Pak ini sudah tidak bisa di biarkan, mana bisa kita hanya berdiam seperti ini sedangkan makin banyak warga di desa kita yang menjadi korban." Ucap salah satu pria yang ada di kumpulan orang-orang di rumah kepala desa.


"Benar pak, kita tidak bisa membiarkan ini terus terjadi, lama-lama warga kita habis menjadi korban kejahatan orang-orang dari kota itu." Sambung warga yang lain.


"Tapi kita belum bisa membuktikan kalau Farel dan Kaisar yang melakukannya." Balas kepala desa.


"Kita tidak perlu bukti pak, semuanya sudah jelas kalau mereka dalang dari keracunan masal yang di alami para warga."


"Betul pak kades, mereka hanya berpura-pura membatalkan pembangunan pabrik itu, tapi di sisi lain mereka mempunyai rencana untuk menyingkirkan kita secara perlahan,


dengan racun yang senaja mereka sebar pada warga."


"Iya betul!"


"Benar itu pak!"


Dan beberapa sahutan lain terdengar, untuk membenarkan tuduhan itu.


"Saya juga mendengar, mereka menghasut Bude Darmi, Sintia dan Yuna agar mau bersekutu dengan mereka." Seorang provokator kembali bersuara.


"Apa itu benar?" Tanya kepala desa.


"Itu benar pak, saya melihatnya sendiri kalau mereka sekarang tinggal di rumah Kaisar. Sahut provokator ke dua.


"Ah ... Sudahlah tidak usah banyak bicara, lebih baik kita serang saja rumahnya."


Dan berhasil!


seorang warga mulai berada di puncak emosinya. "Saya setuju, ayo kita serang rumahnya bila perlu kita habisi Kaisar dan Farel.


Dengan cepat mereka menyusun strategi untuk menyerang rumah yang di tinggali Kaisar beserta keluarganya.


Sasaran utama mereka tentu Kaisar dan Farel.


Beberapa menit kemudian.


Puluhan warga berbondong-bondong, mendatangi rumah Kaisar. Di dominasi dengan pria bertubuh besar dan berotot. Beberapa di antara mereka membawa senjata, mulai dari sebuah balok kayu yang berukuran besar, celurit dan golok.


"INI DIA RUMAHNYA." Teriak salah satu di antara mereka.


"Tenang-tenang dulu, kita tidak boleh gegabah dalam mengambil tindakan, apa lagi dengan cara seperti ini yang bisa menimbulkan kekerasan." Kepala desa mencoba melerai mereka.


Namun apalah arti satu suara dari kepala desa, yang kalah dengan puluhan suara sang provokator, yang makin memperkeruh suasana.


"Sudahlah, bapak tidak perlu membela mereka lagi."


Sementara itu di dalam rumah, bude Darmi yang tengah menemani Arga tidur siang sekita terkejut dengan suara gaduh yang sangat nyaring dari halaman depan rumah itu.


Begitupun dengan Arga, anak itu membuka matanya kembali yang baru beberapa menit terpejam mungkin ia juga terkejut dengan suara gaduh itu.


"Ada apa di luar kenapa berisik sekali!" Gumam bude Darmi, sambil memeluk Arga.


"KAISAR ... FAREL ... CEPAT KALIAN KELUAR! JANGAN JADI PENGECUT ." Teriakan begitu nyaring terdengar.


"DASAR BRENGSEK!"


"BAJINGAN!"


"PEMBUNUH!"

__ADS_1


"Semoga kalian cepat mati dan menghuni neraka!"


"Ayo tampakkan wajah kalian!"


Dan berbagai umpatan, hujatan serta sumpah serapah mereka lontarkan.


"Astaga! Apa yang terjadi kenapa mereka berbicara seperti itu pada nak Farel dan Kaisar."


Bude Darmi bangkit dari duduknya di atas Kasur. "Arga sini dulu ya, nenek mau melihat lewat jendela." Ucapnya seraya menguraikan pelukannya pada Arga. Dan di jawab anggukan oleh Arga.


Bude Darmi menyingkap gorden yang menutupi kaca jendela yang tepat tertuju pada halaman depan rumah.


Bude Darmi membelalakkan matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Ia terkejut melihat rombongan warga Tengah berseru meneriaki Kaisar dan Farel, lengkap dengan senjata di tangan masing-masing.


"Ya Tuhan apa yang terjadi." Bude Darmi terlihat sangat khawatir. Ia kembali memeluk Arga.


Tok .... Tok .... Tok ....


"Bude!"


Ketukan pintu dan suara yang memanggilnya, membuat bude Darmi sedikit merasa tenang.


Dengan cepat bude Darmi membuka pintu.


CKLEK.....


"Nak Farel! Syukurlah kalau nak Farel ada di rumah."


Farel mengelus rambut Arga yang ada di gendongan bude Darmi


"Nak Farel! Sepertinya beberapa warga mencari nak Farel dan Kaisar." Ucap bude Darmi dengan raut wajah yang terlihat sangat cemas.


"Tidak! Jangan nek Farel." Cegah bude Darmi.


"Melihat dari situasi sepertinya mereka dalam kea adaan di kuasai emosi dan amarah yang sangat besar, itu berbahaya jika nak Farel menemui hanya seorang diri" Sambungnya.


"Biar saya yang akan menemani tuan Farel!" Sahut Rizal yang ada di samping Farel.


"Tidak! Kau di sini saja untuk menjamin keselamatan Bude dan Arga. Jangan biarkan mereka masuk kedalam kamar, dan bude Darmi tidak perlu khawatir aku bisa mengatasinya sendiri." Yakin Farel.


Dengan terpaksa bude Darmi mengangguk dan membiarkan Farel keluar rumah menemui para warga yang sedang di kuasai lahar panas di dada dan pikirannya.


Dan mau tidak mau Rizal pun harus tetap di dalam untuk menjaga bude Darmi dan Arga.


Rizal meminta bude Darmi dan Arga kembali masuk dalam kamar dan mengunci semua jendela kaca yang ada di dalam kamar itu. Sementara ia memantau di balik jendela depan.


Farel sudah berada di luar, menghadapi puluhan masa yang tengah berteriak di depan rumahnya dengan tatapan memburu ketika melihat Farel keluar dari dalam.


"Ada apa ini?" Tanya Farel.


"Apa kalian tidak mempunyai sopan santun, membuat keributan di depan rumah orang." Sambungnya.


"DASAR PEMBUNUH! MASIH BISA KAU BICARA SEPERTI ITU!" Teriak salah satu dari mereka .


"Pembunuh! Jaga bicaramu!" Sentak Farel.


"Memangnya sebutan apa lagi yang pantas untuk mu dan kakak mu itu, yang dengan senaja meracuni warga."

__ADS_1


"Gila!" Umpat Farel.


"Di mana kakak mu itu? Apa dia tengah bersembunyi karena takut! Dasar pengecut."


"Sudah-sudah! Kita bisa membicarakan ini secara baik-baik tidak dengan kekerasan seperti ini." Kepala desa masih coba menahan amarah para warga.


Namun, tentu sang provokator jauh lebih dominan, suara dialah yang paling di dengar para warga.


Dia kembali melontarkan berbagai fitnah pada Farel dan Kaisar, sehingga membuat api kemarahan warga semakin berkobar, dan siap menggunakan senjata yang ada di tangan mereka.


"Di mana Kaisar, kenapa dia tidak menampakkan batang hidungnya?" Gumam seorang pria bertubuh besar dan kekar, lengkap dengan tato bergambar tengkorak di lengannya.


"Sepertinya Kaisar tidak ada di dalam." Sahut temannya dengan berbisik di telinga pria bertato itu.


"Sudah hajar saja yang ada di depan kita sekarang!" Sahut yang lain.


"Baiklah, kita hajar saja dia, tapi ingat! Bos hanya menyuruh kita mengeksekusi Kaisar."


"Aku tau itu."


"Lakukan!" Pemerintah dari ketua provokator itu.


"Ah ... sudah lah jangan banyak bicara, jika kita kembali melaporkan ke polisi, sudah pasti mereka akan di bebaskan kembali seperti waktu itu." Provokator menyela ucapan kepala desa yang ingin melapor polisi.


"Benar itu."


Dan dalam hitungan detik mereka semua menyerang Farel, secara membabi-buta.


Beberapa pukulan mereka layangkan di tubuh Farel.


Dengan ilmu beladiri diri yang di milikinya, Farel masih bisa menghindari serangan demi serangan yang mereka lakukan. Farel juga mampu membalas pukulan pada orang-orang itu.


Namun jumlah mereka terlalu banyak, hingga tidak seimbang dengan Farel yang hanya seorang diri.


BUG....


Hantaman keras dari sebuah balok kayu besar, mendarat di punggung Farel.


Hingga membuatnya terhuyung. Dan belum sempat ia menghindar, beberapa pukulan kembali di layangkan di wajah dan tubuhnya. Membuat Farel tersungkur ke tanah.


Dengan mengumpulkan semua tenaga yang tersisa, Farel kembali bangkit, mencoba melawan mereka yang jumlahnya puluhan.


"Tuan Farel!" Rizal yang menyaksikan itu lewat jendela kaca, sudah tidak tahan lagi dengan pemandangan yang ada di depan matanya.


Ia masih mengotak-atik ponselnya, mencoba menghubungi Kaisar dan Jhon, namun sudah puluhan kali ia melakukannya. Tapi no ponsel itu tetep tidak bisa di hubungi karna berada di luar jangkauan.


"Aku tidak bisa hanya berdiam diri di sini, aku harus segera menolong tuan Farel."


Rizal berbalik menuju kamar Arga dan bude Darmi.


"Nak Rizal! apa yang terjadi? kenapa terdengar suara pukulan dan teriakan di luar." Ucap bude Darmi dengan wajah pucat sambil menutupi telinga Arga dengan kedua tangannya, agar Arga tidak mendengar suara pukulan yang bertubi-tubi di luar sana.


Dan bude Darmi sendiri tidak sanggup untuk melihatnya dari balik jendela.


"Bude pegang ini." Rizal memberikan ponselnya pada bude Darmi.


"Cobalah untuk terus menghubungi Tuan Kaisar dan Jhon." Sementara itu saya akan keluar untuk membantu tuan Farel."


"Apapun yang terjadi jangan keluar dari kamar ini, semua rumah sudah di kepung. Bude dan Arga bersembunyi lah sampai tuan Kaisar datang, saya akan meyakinkan mereka bahwa tidak ada siapa-siapa lagi di rumah ini." Sambung Rizal.

__ADS_1


Bude Darmi mengangguk.


🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁


__ADS_2