
"Tuan, apa an .....!" Kata-kata Jhon tergantung, ketika ia baru saja memasuki gubuk itu, seketika ia membungkam mulutnya tidak berani melanjutkan ucapannya.
Sama seperti Kaisar, Jhon juga terdiam sejenak menyaksikan apa yang ada di hadapannya.
"Papah!" Suara Arga, menyadarkan keduanya.
"Jhon, apa kau melihatnya?" Tanya Kaisar lirih.
Jhon mengangguk.
"Iya tuan, saya melihatnya." Jawab Jhon tanpa mengalihkan pandangannya, pada bocah yang tengah berada di atas tubuh pria berotot itu.
"Papah, aku hanya menghukum olang ini, dia jahat sudah membuat mamah menangis." Ucap Arga, menatap Kaisar dengan tangannya yang memegang pisau berlumuran darah.
"Jhon, jangan biarkan siapapun masuk!"
Kaisar segera menghampiri anak itu, dan meraih pisau yang ada di tangannya.
"Apa papah marah sama Alga?" Tanya anak itu.
Kaisar tidak menjawab pertanyaan putranya, karna ia tengah berperang dengan pikirannya sendiri.
Bayang-bayang masa lalunya kembali berkeliaran di kepala.
"Dia Monster!"
"Dia iblis!"
"Sepertinya ia titisan dari penghuni neraka!"
"Kau yang membunuhnya!"
"Kau yang membuatnya menjadi seperti ini!"
"Ini semua salah mu Kai!"
"Jangan dekat-dekat anak itu, dia bisa mencelakai mu!"
Teriakan, umpatan dan hujatan.
Menjerit-jerit di telinga Kaisar.
Tidak! ini tidak boleh terjadi padanya, aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi pada putraku , tidak akan, tidak akan pernah aku biarkan. Cerca Kaisar dalam hati.
"Tuan! Apa anda baik-baik saja?" Jhon seperti menangkap sesuatu dari raut wajah Kaisar.
Kaisar menggendong Arga, dan menyerahkan pada Jhon.
"Jhon, bawa Arga pergi dari sini. Aku akan membereskan sisanya, ingat! Setelah ini yakinkan aku, kalau akulah yang melakukannya."
"Tuan!"
"Cepat keluar!" Bentak Kaisar.
Dan Jhon pun keluar dari gubuk itu membawa serta Arga di gendongannya.
"Om! Apa papah marah sama Alga?" Tanya bocah itu.
Jhon menggeleng.
"Om akan mengantar tuan kecil ke mobil, nanti tuan papah akan berbicara pada tuan kecil." Jawab Jhon dengan hati-hati.
Jhon pun masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan, bagaimana mungkin anak sekecil itu melakukan hal yang sangat mengerikan. Tapi mengingat seperti apa Kaisar dulu, Jhon pun tidak bisa menepisnya kalau Arga memang Benar-benar melakukannya Karena mungkin saja Arga mewarisi sifat Kaisar.
Kaisar masih berada dalam gubuk itu, ia berdiri di sesi pria yang sudah terkapar bersimbah darah.
Kaisar menggenggam kuat pisau belati tajam yang ia ambil dari tangan Arga, Kaisar berjongkok gan meletakan jarinya di nadi pria itu.
Entah sudah mati atau masih hidup, Kaisar hanya mengerutkan keningnya.
Kaisar mengangkat tinggi pisau itu.
Dan ...
BLEES ....
Kaisar menghunuskan pisau tepat di jantung pria itu.
"Aku yang melakukannya! Aku yang telah menghilangkan nyawa mu, bukan Arga, bukan putra ku." Bisik Kaisar di telinga pria yang sudah tidak bergerak sama sekali.
Pria itu benar-benar sudah tewas.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya. Kaisar keluar dari gubuk, ia membawa serta pisau di tangannya.
Sebelum sampai ke mobil Jhon, Kaisar berpapasan dengan orang-orang suruhan Jhon yang tengah membereskan mayat dua pria yang sudah di eksekusi Kaisar.
__ADS_1
Mereka segera menundukkan kepalanya.
"Bereskan juga yang di dalam!" Perintah Kaisar .
Baik tuan."
Kaisar segera masuk kedalam mobilnya dan duduk persis di sebelah Arga.
Kaisar membungkus pisau yang ada di tangannya dan ia masukkan ke dalam saku jaket.
Sementara Arga menatap lekat wajah papahnya.
"Papah!"
Kaisar melirik dam membelai rambut anak itu.
"Apa papah marah pada Alga?" Tanya anak itu dengan wajah sendu.
Kaisar tidak menjawab pertanyaan Arga, justru ia malah balik bertanya dan meminta penjelasan dari Arga.
"Kenapa Arga melakukan itu? Bagaimana cara Arga melakukannya?" Tanya Kaisar, dengan menatap lekat mata putra kecilnya.
Tatapan mata anak dan bapak itu bertemu, dan saling menyelami apa yang ada di dalam bola mata masing-masing.
Dan dengan perlahan tanpa mengalihkan tatapannya pada mata Kaisar, Arga mulai bercerita.
🍁
🍁
Beberapa puluh menit sebelumnya.
Setelah kepergian dua temannya yang berniat mengeksekusi Kaisar, pria itu tinggal bersama Arga di dalam gubuk.
"Hey. Jangan memasang wajah seperti itu, jangan khawatir jika papah mu tidak bisa mengantar mu pulang saya yang akan mengantarkan mu." Ucap pria itu dengan nada mengejek .
Kemudian ia merebahkan diri di kursi panjang yang berada tidak jauh dari Arga.
"Aah... Dari pada harus mendengarkan teriakan Kaisar yang meregang nyawa, lebih baik aku mendengarkan musik kesukaan ku ." Gumam pria itu, seraya memasang aerphon di telinganya.
Sepertinya pria itu terhanyut dalam alunan musik yang tengah ia dengarkan, hingga membuatnya tertidur pulas di tengah kekacauan yang terjadi pada teman-temannya di luar sana.
Tanpa di duga.
Arga turun dari bangku yang di duduki nya, ia perlahan melangkahkan kaki mendekati pria yang tengah memejamkan mata.
Dengan membayangkan kejadian siang tadi, di mana Lisa menangis sampai terjatuh, ulah pria ini, yang dengan paksa membawa dirinya.
Tanpa ragu.
JLEB...!
Arga menancapkan pisau itu tepat di kerongkongan pria itu, yang seketika membuatnya tercekat mengerang tanpa bisa mengeluarkan suara.
BRUG .
Pria itu ambruk.
Dengan cepat Arga menaiki badan pria besar itu.
BLES ....
JLEB ....
SAT ....
SET .....
Dengan membabi buta Arga menusuk-nusuk pria itu, hingga tangan dan tubuh kecilnya ikut di penuhi dengan aliran darah segar.
Hingga Kaisar muncul dari balik pintu, dan menyaksikan semua.
🍁
Mendengar cerita Arga, Kaisar menaik turun kan nafasnya.
Begitupun dengan Jhon yang tampak terkejut, dengan penuturan bocah kecil yang dia kira polos itu, ternyata memiliki sisi lain yang tidak kalah mengerikan dari tuannya.
"Jangan katakan apapun pada mamah mu, rahasiakan ini semua. Dan Arga jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi." Tegas Kaisar.
"Kenapa?"
"Mamah mu akan marah, jika tau kalau Arga melukai orang lain."
Arga terdiam, apa yang di katakan papahnya benar, mamahnya akan marah besar padanya jika tau ia melukai seseorang.
__ADS_1
"Tuan!" Jhon membuka suaranya.
"Aku tau Jhon, kita akan membicarakannya nanti, sekarang kita harus membawa Arga pulang ke rumah."
"Baik tuan."
Kaisar masih terus berperang dan menyangkal kenyataan yang ia dapat, semoga ini hanya mimpi, ini mimpi buruk Aku yakin ini hanyalah mimpi buruk. Kaisar terus memenuhi pikirannya dengan harapan yang sudah jelas tidak akan pernah terjadi, karna fakta sudah menunjukkan semuanya.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah, dan hari sudah berganti menjadi gelap .
Lisa menyambut mereka dengan penuh haru dan tangis bahagia.
"Arga, anak mamah baik-baik saja kan sayang! Mereka tidak melukai mu kan!" Lisa memeriksa seluruh bagian tubuh Arga.
"Alga, tidak apa-apa mah!"
Lisa memeluk Arga dengan erat.
"Maafkan mamah sayang, mamah tidak bisa mencegah orang-orang yang membawa Arga."
Suasana haru tercipta di sana. Bude Darmi pun memeluk anak kecil yang lucu itu.
Berbeda dengan Kaisar, tatapannya kosong seperti tak bernyawa, ia menatap istrinya dan anaknya yang saling berpelukan tapi pikirannya berkelana di dunia lain.
"Mas!" Lisa membangunkan Kaisar dari lamunannya.
"Iya!"
"Kau kenapa mas! Mas baik-baik saja kan?"
Kaisar mengangguk.
"Mas baik!" Jawabnya dengan singkat.
Lisa memeluk Kaisar.
"Terimakasih sudah membawa Arga kembali pulang mas."
Kaisar membelai rambut Lisa.
"Arga putra ku, tentu saja mas akan melakukan apapun untuk membawanya kembali."
"Arga sepertinya lelah, kau ajak dia istirahat. Mas keluar dulu sebentar." Ucapnya Kaisar, di akhiri dengan tangannya yang membelai wajah Lisa.
Masih dengan raut wajah yang tidak menentu, Kaisar melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu. Dan di ikuti Jhon dari belakang.
Lisa yang melihat Kaisar tampak berbeda merasa ada sesuatu yang telah terjadi dan di sembunyikan Kaisar.
"Ayo! Sayang mamah bantu Arga membersihkan diri dan mengganti pakaian Arga." Ajak Lisa.
Di dalam kamar.
"Arga, jaket siapa yang kau kenakan nak?" Tanya Lisa yang melihat Arga mengunakan jaket yang mampu menutupi seluruh tubuhnya, hanya bagian kepalanya saja yang terlihat.
"Om Jhon!" Jawab Arga cepat.
"Kenapa Arga mengunakan jaket om Jhon? Kenapa dengan baju Arga?"
"Baju Alga basah mah, dan om Jhon menggantinya dengan jaket punya om Jhon, kata om Jhon biar Alga tidak kedinginan." Bohong Arga.
"Kenapa Arga tidak pakai jaket papah saja." Lisa kembali bertanya, sepertinya ia ingin memancing Arga supaya anak itu mau bercerita padanya apa yang terjadi.
"Jaket papah juga basah mah!"
Sulit! Arga masih tidak mau mengatakan apapun pada mamah nya.
Lisa tidak bisa mengorek informasi dari anak sekecil Arga, ia akan mencari tau sendiri.
Sementara itu Kaisar, tengah berdiri mematung menatap kegelapan malam.
"Tuan, apa yang anda pikirkan?"
"Menurut mu apa, dia akan sama seperti ku?"
Jhon tau, kalau Kaisar akan menayangkan hal ini padanya.
"Kita belum bisa memastikannya tuan. Karna ia masih sangat kecil."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Kaisar dengan nada yang sangat lirih.
"Untuk sementara kita biarkan saja, jangan terlalu menekankan tuan kecil, perlahan-lahan kita akan memberi pengertian pada tuan kecil, dan kita harus terus mengawasinya, kita juga harus mencari tau apakah sebelum ini tuan kecil pernah melakukannya."
Tentu Kaisar tidak tau itu, karena Kaisar bertemu Arga di usianya yang sekarang, banyak tahun-tahun yang ia lewatkan mengenai perkembangan Arga, mungkin Lisa bisa menjelaskannya? tapi apa sanggup Kaisar bertanya itu pada istrinya. Dan bagaimana jika Lisa mengetahui jika sifat bengis yang diam-diam Arga miliki hasil dari warisannya.
*Tentu Lisa akan meninggalkan ku jika mengetahui masa lalu ku yang buruk.
__ADS_1
🍁🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁*
Terimakasih sudah berkunjung dan membaca cerita saya 🙏🙏🙏 minta dukungannya ya 🤗