
Ke esokan harinya.
Luna benar-benar memulai pekerjaan nya di kantor yang sama dengan Jhon.
Dia di tempatkan sebagai Karyawan biasa di kantor itu.
Tidak ada yang mengenali Luna sebagai anak pemilik prusahaan itu sekaligus istri dari Jhon sang tangan kanan Kaisar putra sulung Yuda. Dan Luna pun merubah penampilannya seperti dulu saat ia bertemu dengan Jhon.
"Kau yakin seperti ini?" Tanya Jhon dengan ragu.
"Yakin! aku harus dengan sempurna menjalankan misi dari papah, untuk mengawasi para karyawan yang bekerja tidak baik di kantor itu."
Itulah alasan yang Luna lontarkan pada Jhon, ketika ia meminta ijin untuk bekerja di perusahaan Yuda.
Dan Jhon pun tidak bisa melarang keinginan Luna.
Yang penting Luna senang Jhon akan menurutinya.
"Baiklah, jika ada yang mengganggu mu katakan pada ku."
"Kak Jhon tidak perlu khawatir, aku bisa mengatasi itu."Yakin Luna.
🍁🍁🍁🍁
Mereka berangkat bersama, tapi setelah sampai di parkiran mereka jalan terpisah.
Jhon menaiki Lift menuju ruanganya di lantai 3, sedangkan
Luna berada di lantai 2.
Tania yang tau siapa Luna, menjadi semakin tertantang untuk mendekati Jhon.
Ia seperti sedang melakukan uji nyali, dengan mendekati seorang pria beristri, dan di lakukan terang-terangan di depan istri si pria.
"Waah.. Apa yang kau bawa tan?" tanya salah satu Karyawan yang satu devisi dengan Luna.
Tania tersenyum ramah dan bahagia dengan pertanyaan itu, karna kebetulan Luna tengah berada di sana juga, ini pasti akan membuat Luna cemburu dan marah pada suaminya.
Setelah sesi perkenalan Luna bisa langsung memulai pekerjaannya dengan pengawasan dari para senior.
"Ini makan siang untuk tuan Jhon, aku sangat tau, jika tuan Jhon tidak akan keluar ruanganya untuk makan siang dengan alasan sibuk, jadi aku harus berinisiatif menyiapkan makan siang untuk tuan Jhon."
"Kau sangat tau betul dengan kebiasaan tuan Jhon!"
"Tentu saja, karna aku sangat dekat dengannya."
"Aku sangat iri padamu Tania, bisa sedekat itu dengan atasan kita yang tak kalah tampannya dengan tuan Farel dan Kaisar."
"Tentu saja, karna aku akan selalu menjadi gadis yang paling beruntung di manapun Aku berada."
Tania menatap ke arah Luna, tapi ia tidak berniat menyapa apa lagi memgajaknya mengobrol.
"Aku permisi dulu ya, sebentar lagi jam makan siang, aku harus menyiapkan ini semua untuk tuan Jhon!"
"Baiklah!"
Semua orang melambaikan tangannya pada Tania yang berlalu dari hadapan mereka.
Terkecuali Luna, ka meremas kuat kertas yang ada di mejanya, sepertinya Luna nampak sangat kesal dengan perkataan Tania tadi, di tambah lagi dengan obrolan karyawan lain yang membicarakan Tania dan Jhon.
Sabar Luna, bukan di sini kau memberi pelajaran untuk wanita itu. Batin Luna.
🍁🍁🍁
Pukul 12.
Dan sudah waktunya untuk istirahat.
Luna Segera bergegas menuju lantai 3.
Ia ingin menemui Jhon sebelum wanita itu menggoda suaminya.
__ADS_1
Luna berniat menaiki Lift khusus.
Tapi langkahnya terhenti dengan suara wanita yang sepertinya marah pada Luna.
"Hai! Lancang sekali kau dengan berani-beraninya ingin menggunakan Lift, khusus itu? Kau tau, lift itu di peruntukan orang-orang penting yang ada di kantor ini, bukan seperti mu Culun."
"Maaf, saya tidak tau."
Luna beralih pada Lift lainnya.
Tapi wanita yang memaki tadi meluruskan kakinya menghalangi langkah Luna, Karna tak siap, hal itu membuat Luna tersungkur dan jatuh.
Hahaha...
Wanita tadi yang bersama 2 orang temannya tertawa terbahak-bahak, melihat Luna yang tersungkur.
"Sorry. Saya tidak senaja." Dan mereka berlalu dan hadapan Luna.
Dan mereka kembali tertawa.
Setelah puas mem bully Luna dengan kata-kata makian.
Ketiga wanita itu pergi dari hadapan Luna.
Luna bangun dan menatap lekat ketiga wanita itu.
"Hey, lihatlah! Dia menatap kita seolah ingin menantang mu Hen!" Ucap salah satu dari tiga wanita itu pada ketua geng mereka yang bernama Heni.
.
"Benarkah! Kurang ajar! Berani sekali dia."
Heni memutar langkahnya dan kembali mendekati Luna.
Ia mencekram kemeja Luna, dan membenturkannya di tembok.
"Kau berani dengan saya? Kau tau siapa saya?"
Luna menggeleng.
"Biar saya beri tau, saya Heni karyawan terbaik di kantor ini dan sudah bekerja selama 6 tahun di sini, dan saya senior yang mengawasi karyawan baru yang tidak tau aturan dan kurang ajar seperti mu!"
Luna mencoba melepaskan tangan Heni, tapi wanita itu malah semakin kuat mencekam nya.
Hal itu menarik perhatian beberapa karyawan yang lainnya.
Tapi mereka tidak berani melerai itu, karna mereka takut pada Heni.
"Sekali lagi, kau memberi tatapan seperti itu pada saya, saya tidak akan segan-segan membuat mu di keluarkan dari kantor ini secara tidak hormat, dan kau tau? Siapapun yang di pecat dari kantor ini, akan sulit untuk mendapatkan pekerjaan di luar sana." Ancam Heni.
"Ingat itu!"Heni kembali membenturkan badan Luna di tembok, dan baru ia melepaskan cengkeramannya.
Lalu pergi dari hadapan Luna.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya seorang lelaki yang mendekati Luna.
"Aku tidak apa-apa."
"Dia memang seperti itu, terutama pada karyawan yang baru, semua orang Takut padanya." Ucap lelaki yang juga mengenakan kacamata besar sama seperti Luna.
Ternyata seperti ini kelakuan karyawan papah.
"Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tawar lelaki itu.
"Tidak, terimakasih!"
"Baiklah, kalau begitu aku keluar dulu."
"Iya, sekali lagi terimakasih!"
Setelah lelaki itu pergi, Luna kembali melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Tapi bukan untuk ke ruangan Jhon.
Melainkan mengikuti langkah Heni dan teman-temannya.
🍁🍁🍁🍁
Luna mengikuti kemana perginya geng tukang bully dan rundung itu.
Ternyata mereka berpisah.
Yang 2 menuju lantai dasar dan yang 1 nya lagi menuju Toilet.
Luna memilih untuk mengikuti lebih jauh wanita yang memasuki Toilet.
Dengan santai dan tanpa berfirasat apapun wanita itu memasuki Toilet .
Di susul dengan Luna di belakangnya. Luna menunggu wanita yang tengah melakukan aktivitasnya di dalam satu bilik yang ada di Toilet itu.
Luna menatap dirinya di cermin dan tersenyum miring, raut wajahnya sudah. Berubah tidak seperti yang tadi.
Beberapa orang yang ada di Toilet sudah pergi dari sana.
Dan Luna segera mengunci pintu itu, agar tidak ada orang lain yang memasuki Toilet .
🍁
Beberapa menit berlalu, wanita yang sedang di tunggu Luna keluar dari dalam bilik yang ada di Toilet.
Ia terkejut melihat Luna yang bersandar di tembok dengan santai sambil menatap dirinya dengan senyum miring.
"Ka...kau.. kau wanita yang tadi kan?"Tanya wanita itu gugup!
Luna tidak menjawabnya, tapi ia makin memperhatikan wanita itu.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kau menantang saya?" Gertaknya.
Luna semakin tersenyum, lalu membuka kacamatanya.
"Dasar aneh!" Umpat wanita itu.
Dan berjalan menuju pintu keluar.
"Kenapa tidak bisa di buka?"
Wanita itu terus menarik gagang pintu, tapi tetep tidak kunjung terbuka.
"Apa kau yang mengunci nya?" Tanya wanita itu dengan nada yang sangat marah pada Luna.
Dan Luna hanya membalasnya dengan mengedikan bahu.
"Kurang ajar cepat buka pintunya!"
Karna kesal wanita itu menghampiri Luna.
"Kau benar-benar ingin mencari gara-gara dengan Saya?" Wanita itu menajamkan mata dan suaranya.
PLAK.
Tanpa bicara dan mengatakan apapun, Luna melayangkan satu tamparan yang cukup keras di wajah wanita itu.
"Kau! Berani menampar saya?"
Luna mencekram leher wanita itu dan ia himpitkan tubuh wanita itu di tembok.
Luna semakin kuat mencekram nya.
Luna kembali menyunggingkan senyum di ujung bibirnya.
Ketika wanita itu, memberontak karena menahan sakit dan sulit untuk bernafas.
🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁
__ADS_1
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏 🤗
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️😘