Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 109. Rafi pergi.


__ADS_3

Rafi membuka lipatan kertas itu.


Ternyata itu surat permohonan maaf Marwan pada Rafi, Julia dn Kaisar.


Setelah membacanya, Rafi kembali melipat kertas itu, dan menaruhnya begitu saja di meja sebelah ranjangnya.


"Apa dengan cara seperti ini pria tua itu meminta maaf."Gerutu Rafi.


Rafi kembali membaringkan tubuhnya, ia seperti enggan untuk mendengar perkataan Kaisar selanjutnya.


"Kakek, memberikan separuh harta keluarga Airlangga untuk mu." Ucap Kaisar.


Rafi melengos.


"Aku, tidak perduli, uang ku sudah cukup banyak jadi aku tidak membutuhkan harta keluarga kalian." Sahut Rafi, ketus.


"Kau, juga bagian dari keluarga Airlangga Wijaya!"


"Dan aku tidak menginginkan itu."


"Tunggu mas!" Lisa menghentikan perdebatan antara Kaisar dan Rafi. "Kenapa kakek, meminta maaf pada Rafi melalui surat, bukankah Kakek bisa langsung menemui dan bicara pada Ka Rafi?" Tanya Lisa dengan, bingung.


Lisa masih belum mengetahui soal kematian Marwan.


Kaisar menundukkan kepalanya.


Raut sedih dan kecewa terlihat di wajah tampan, yang masih terlihat sedikit pucat itu.


"Mas!"


Kaisar menatap Lisa, dan Rafi secara bergantian.


"Kakek Marwan, meninggal dunia."


"Apa! Meninggal dunia!" Kejut Lisa, yang hampir saja terjatuh, jika Kaisar tidak menahannya.


"Kapan mas, kenapa kau tidak mengatakannya pada ku?"


"Beberapa hari yang lalu, maaf, mas tidak ingin menambah beban pikiran mu saat itu!"


"Lalu bagaimana dengan mu mas?"


"Mas, baik-baik saja!" Kaisar kembali menunduk wajahnya. "Kakek Marwan, melakukan bunuh diri."


"Bunuh diri!"


Lisa dan Rafi sangat terkejut, Lisa tidak menyangka jika pria yang ia kenal bijak itu memilih jalan yang salah, bahkan sampai mengakhiri hidupnya.


Dasar pengecut, bahkan dia lebih memilih bunuh diri, dari pada berharapan dengan ku. Batin Rafi.


"Mas!" Lisa memeluk Kaisar. " Kau yang sabar ya mas, ikhlaskan kakek Marwan, di balik semua masalah yang telah kita hadapi ini, pasti akan ada kebahagiaan yang menanti kita."


🍁🍁🍁🍁


Kondisi Kaisar dan Rafi semakin membaik, mereka benar-benar sudah sehat dan diijinkan pulang. Yuda Dn Farel, datang menemui Rafi, mereka pun menyampaikan maafnya pada Rafi, begitupun dengan Rafi.


🍁🍁🍁


Rafi menemui Julia, yang kini sudah di pindahkan di Rumah sakit jiwa.


Wanita itu dalam kondisi sangat buruk, kian hari jiwanya semakin terguncang. Bahkan beberapa kali Julia melakukan percobaan bunuh diri.


"Ibu!"


Rafi memanggil Julia, yang tengah bersandar di ranjangnya dengan kaki dan tangan terikat.


Julia sama sekali tidak merespon panggilan Rafi, ia tengah tengelam dengan dunianya sendiri di iringi air mata yang mengalir di pipi.


Rafi mencium punggung tangan Julia.


"Bu ini Rafi Bu!" Lirih Rafi.


Julia mulai merespon dan merasakan kedatangan Rafi.


"Rafi! Apa benar ini Rafi? Rafi putra ku?"

__ADS_1


Julia menatap wajah Rafi lekat.


"Rafi, anak ku!" Julia, terharu menatap wajah putranya.


Rafi memeluk Julia dengan penuh kasih sayang.


"Ibu harus sembuh, semua sudah berakhir kita akan menjalani kehidupan kita masing-masing,"ucap Rafi lirih, dengan masih memeluk ibunya dengan erat.


Tiba-tiba Julia mendorong Rafi.


"Aku jahat! Aku jahat pada putra ku sendiri."


Julia kembali histeris dan mengamuk. Sambil berteriak.


"Aku pantas mati! Aku mati saja! Aku wanita jahat, aku pantas mati!"


Dan dengan terpaksa dokter kembali menyuntikkan obat penenang pada Julia.


Karena Julia mengamuk sambil membenturkan kepalanya pada tembok.


Rafi sangat terpukul melihat keadaan Julia.


perlahan Rafi meninggalkan RSJ itu, karena tak sanggup melihat kondisi ibunya.


🍁


Ia kembali ke rumahnya dan memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper.


Ia memutuskan untuk pergi dari negara ini, meninggalkan semua kenangan buruk masa lalu nya.


🍁


"Apa ka Rafi yakin ingin pergi keluar negeri?" Lisa nampak begitu terkejut dengan keputusan Rafi.


"Iya, aku ingin menemui Viona di sana, dan mungkin aku akan menetap di sana." Sahut Rafi.


"Lalu bagaimana dengan ibu mu ka?"


Rafi menarik nafasnya dalam-dalam.


"Selama bertahun-tahun aku mengikuti dan menemaninya, tapi sekarang aku menyerah."


"Aku tau, tapi aku harus tetep meninggalkannya."


Rafi, sudah bertekad akan pergi keluar negeri untuk menyusul Viona, wanita yang selama ini selalu ada dan menemaninya, tapi karena sibuk dengan balas dendam dan hati yang di penuhi kebencian Rafi jadi tidak menyadari bahwa Viona sangat berarti baginya, ia malah mengacuhkan wanita itu, hingga wanita itu pergi meninggalkannya.


Dan sekarang Rafi akan mengejarnya, mengejar cinta wanitanya yang telah pergi itu.


Rafi tidak ingin mengulangi kesalahan Julia, mengabaikan seseorang yang tulus menyayangi dan selalu menemaninya dalam ke adaan apapun.


Ia akan memulai kehidupan yang baru bersama Viona di sana, Rafi akan mencoba mengikhlaskan semua, dan berdamai dengan masa lalunya.


Rafi beralih pada Kaisar.


"Aku, tidak meminta mu untuk menemani ibu ku, aku hanya minta tolong kabari aku jika terjadi sesuatu pada ibu, dia sangat menyayangi mu Kai,"ucap Rafi pada Kaisar.


"Terimakasih, kau telah mendonorkan ginjal mu untuk ku, aku jadi bisa memperbaiki semua kesalahanku, dan maafkan aku untuk semua kesalahpahaman ku pada mu Kai, Sebenarnya aku tahu jika ini bukan salah mu, tapi aku terlalu di butakan dengan sakit hati dan kebencian hingga aku menutup mata."


Tutur Rafi.


"Aku tau itu, dan aku minta maaf atas nama kakek Marwan, dan juga diri ku." Sahut Kaisar.


"Ada satu hal yang ingin aku katakan pada kalian!"


Kaisar dan Lisa mengerutkan keningnya.


"Apa!"


"Aku yang telah membunuh Anggel,"


Lisa terkejut dengan pengakuan Rafi, apalagi alasan pria itu membunuh Anggel, karna ingin melindungi Lisa, dari kejahatan wanita itu.


Sedangkan Kaisar, ia tidak terkejut, karna lelaki itu sudah mengetahui semua.


Setelah berpamitan pada Lisa dan Kaisar, Rafi pergi menuju Bandara, dan akan segera melakukan penerbangan keluar negeri.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Ayo, kita ke rumah kakek, Jhon memberi kabar jika hari ini Luna pulang,"Kaisar menggandeng Lengan Lisa.


"Iya mas!" Sahut Lisa.


Saat ini Lisa bisa bernafas dengan lega, karena semua masalah pelik di keluarga suaminya sudah mulai terpecahkan, meskipun dia di landa kesedihan, terutama Kaisar, lelaki itulah yang pastinya sangat terpukul dan paling bersedih, Karna Marwan memilih mengakhiri hidupnya.


Tapi ada satu yang mengganjal di hati Lisa.


Bagaimana jika Kaisar tau, tentang kematian Melissa yang ternyata di sebabkan oleh Julia, apakah pria itu akan tetep memaafkan Julia seperti saat ini atau justru Kaisar akan menghukum dan membalas Julia dengan caranya sendiri.


Sungguh mengerikan jika di bayangkan, lelaki itu akan mengamuk pada Julia.


Biarlah Kaisar mengetahui dengan sendirinya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Lisa dan Kaisar sampai di kediaman Almarhum Marwan.


Semua berkumpul di sana, Luna pulang, karena ia baru mendapat kabar bahwa Marwan meninggal.


"Kenapa kalian baru memberi tahu aku sekarang!" Gerutu Luna, dengan Isak tangisnya.


"Maafkan Mamah sayang." Larasati menenangkan gadis itu.


Memang tidak ada yang mengabari Luna, di hari meninggalnya Marwan, mereka baru mengabari Luna setelah beberapa hari Marwan di makamkan.


Luna berada di luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.


"Apa dia, keponakan ku?" Tanya Luna di sela-sela tangisnya, dengan menatap Arga yang berada di pangkuan Kaisar.


"Iya, dia keponakan mu!" Sahut Larasati.


Dengan cepat Luna mengambil alih Arga dari pangkuan Kaisar, dan bocah itupun tidak menolaknya.


"Astaga! Imut sekali keponakan ku ini, dia sangat tampan! Pasti jika kau besar nanti akan menjadi rebutan para wanita, persis seperti papah mu." Seru Luna.


"Tidak usah berlebihan, jika kau ingin memuji Arga, puji saja anak itu tidak usah membawa-bawa papahnya." Cetus Farel.


"Farel!"ucap Yuda.


"Apa? aku hanya bicara seperti itu, papah sudah memelototi ku." Kesal Farel.


"Kapan kau akan menikahi Sintia?"


Pertanyaan Marwan, terdengar bagai sebuah cemoohan di telinga Farel.


"Apa? Menikah, dengan Sintia?"


"Iya, kenapa kau terkejut seperti itu, bukankah kau dan Sintia selama ini berpacaran, segeralah menikah agar tidak menimbulkan fitnah dan kalian bisa segera memiliki seorang anak seperti Kakak mu."


"Astaga, sepertinya kalian sudah salah paham."


Dan beberapa perdebatan kecil diantara Yuda dan Farel terjadi di sana.


Serta candaan, dari Luna dan Arga mewarnai ruang keluarga itu.


"Pokoknya kau harus segera menikahi Sintia, jika kau tidak mau papah akan menjodohkannya dengan Jhon."


"Papah, jangan bercanda." Kesal Farel.


Suasana jadi terlihat hangat, tidak seperti biasanya.


Mungkin ini yang di namakan, habis gelap terbitlah terang!


Tapi berbeda dengan wajah lelaki yang satu ini, wajahnya selalu gelap tidak pernah terang, jika berada di tengah-tengah keluarganya.


Ia mencuri-curi pandang pada Larasati, dengan tatapan tidak suka dan mengintimidasi.


Siapa lagi kalau bukan Kaisar.


Kaisar masih saja membenci Larasati.


🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Trimakasih sudah mau membaca cerita saya 🤗❤️❤️❤️


maaf ya, jika cerita ini di luar ekspektasi kalian dan terlihat lambat 🙏🙏🙏


__ADS_2