
Pria itu membuka pintu kamar Hotel yang memang tidak di kunci itu.
Tap..
Tap..
Tap..
Tiga kali melangkah pria yang sudah tidak muda lagi itu, berdiri tepat di kasur tempat Luna berbaring.
"Waaaah.. mereka benar-benar sangat pintar! Tau barang kesukaan ku!" Ucap pria itu, sambil terus menatap Luna Dengan tatapan liarnya.
Pria itu mulai beraksi, dia tidak ingin membuang-buang waktu emasnya itu.
Dengan cepat ia mempreteli semua atribut yang menempel di badan gempalnya.
Hanya menyisakan bokser saja.
Ia mulai merangkak menaiki kasur tempat Luna berbaring, lalu membelai wajah Luna.
"Gadis ini sangat cantik sekali, aku tidak pernah membayangkan jika mendapat barang seperti ini, sangat menakjubkan! Aku jadi tidak sabar." Ucap si tua bangka itu.
Luna masih dalam posisi tidak sadarkan diri.
Beruntung!
Nasib baik masih berpihak pada Luna.
Ketika pria itu mendekatkan wajahnya, hendak mencium Luna.
Mata Luna terbuka.
Sadar ada seseorang di hadapannya, dengan kuat Luna mendorong pria itu sampai terjengkang dan jatuh dari atas kasur.
Lalu segera beranjak!
Ia memperhatikan sekitar ruangan itu, dan Luna baru mengingat jika beberapa menit yang lalu ia memasuki kamar itu lalu ada seorang yang memukulnya dari belakang.
Sadar jika ia di jebak oleh Pegawai Hotel itu, Luna segera keluar dari kamar.
Naas!
Pria yang tadi terjengkang, menarik kaki Luna, yang membuat Luna terjatuh.
"Mau kemana kau? Urusan kita belum selesai!"
Luna ketakutan setengah mati dengan pria yang setengah bugil di hadapannya itu.
"Tolong lepaskan saya!" Pinta Luna.
"Lepaskan! Hahaha... Aku akan melepaskan mu jika sudah puas!"
Pria itu menarik kaki Luna, Lebih dekat dengannya, dan sedetik itu juga Luna menendang wajah pria gila itu.
BUG...
Tendangan Luna cukup kuat, hingga membuat hidup pria itu berdarah.
"Rupanya kau tipe yang suka bermain kasar ya!" Pria itu bangkit, dan mencekram tangan Luna.
"Lepaskan, tolong lepaskan saya, Tolong!" Teriak Luna, berharap ada seseorang yang mendengarnya.
Pria itu menyeret Luna untuk kembali ke atas kasur.
"Tolong... Tolong..!" Luna kembali berteriak.
Karena ia tidak bisa melawan pria yang ada di hadapannya itu, hanya meminta tolonglah yang bisa Luna lakukan.
Pria itu menghempaskan Luna di kasur, lalu menutup mulut Luna dengan tangannya.
"Simpan saja teriakan mu itu manis, karena sebentar lagi suara mu akan habis karena berteriak-teriak nikmat,"ucap pria itu, yang semakin membuat Author mual mendengarnya.
Tangan pria gila itu sudah mulai beraksi, tapi sebisa dan sekuat mungkin Luna melawan.
Dan Luna kembali berhasil menyingkirkan pria menjijikan itu jauh dari hadapannya.
Tak menyerah! Meskipun si pria sudah berumur tenaga dia masih cukup kuat.
Ia kembali Manahan Luna yang hendak berlari menuju pintu keluar.
Luna semakin terpojok karna pria itu berhasil mengunci pintu.
Luna memundurkan langkahnya seraya si tua bangka itu memajukan langkahnya.
Langkah Luna terhenti karna ia menabrak sebuah almari kecil yang ada di pojok kamar itu.
Hahaha....
Si pria tertawa terbahak-bahak melihat Luna yang semakin panik dan ketakutan.
__ADS_1
"Sudahlah manis, kau menyerah saja, melawan pun sungguh sudah tidak ada gunanya, kita nikmati saja."
Tapi Luna tidak boleh menyerah begitu saja, ia harus bisa menghentikan pria ini dan secepatnya keluar dari kamar.
Luna membuka laci di nakas, berharap ada sesuatu yang bisa ia jadikan tameng untuk melindungi diri.
Beberapa laci Luna buka ia tidak menemukan apapun, hingga laci terakhir Luna menemukan sebuah gunting.
Bersama dengan si pria yang semakin mendekati Luna, Luna meraih gunting itu dan menodongkan pada si pria.
"Jangan mendekat!"
Bukannya takut si pria malah semakin terbahak-bahak mendengar ancaman Luna dengan sebuah gunting di tangannya.
"Hahaha.... Gunting seperti itu tidak akan bisa melukai ku Nona."
Mendengar tawanya, Luna jadi ingin mengorek isi kerongkongan pria tua itu.
Ia semakin mendekat ke arah Luna.
Dan ia mencoba memeluk Luna, namu dengan cepat dan membabi-buta Luna menyerang pria itu dengan gunting yang ada di tangannya.
Karna kemarahan yang sudah memuncak di dada Luna, ia tidak segan-segan melakukan apa yang sempat ia pikirkan tadi.
Pria itu tidak di beri kesempatan untuk menghindari serangan Luna.
Luna semakin memacu serangannya.
Hingga pria itu sudah tersungkur pun, Luna masih saja menusuk-nusukan gunting itu pada tubuh, wajah dan leher si pria.
Beberapa menit kemudian.
Si tua bangka cabul pun, akhirnya tumbang di tangan Luna hanya dengan sebuah gunting yang sempat ia remehkan.
Sungguh mengenaskan.
Melihat darah yang mengalir hampir memenuhi lantai putih kamar itu.
Luna menjauhkan dirinya dari tubuh si pria.
Luna menatap tangannya yang masih memegang gunting yang berlumuran darah bahkan semua pakaiannya pun berubah warna menjadi merah.
Luna menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Aku tidak melakukan apapun padanya," Luna ketakutan, ia kembali menatap pria yang sudah di pastikan tidak bernyawa lagi itu, lalu Luna kembali menyadari bahwa ialah yang melakukannya.
BRAK...!!!!
Bertepatan dengan itu terdengar suara pintu kamar yang di dobrak!
Jhon!
Dia lah yang mendobrak pintu kamar itu, Jhon berhasil menemukan Hotel yang di maksud anak buahnya dan mengetahui jika Luna berada di kamar itu.
Tapi sepertinya Jhon sudah terlambat!
Ia melihat pemandangan yang cukup mengerikan di dalam kamar itu.
Pria yang setengah bugil tergeletak tak bernyawa dengan darah yang membanjiri sekitarnya, bahkan wajah si pria sudah tidak bisa di kenali lagi, karna banyaknya Luka tusukan di sana.
Lalu Jhon menatap Luna yang tengah bersimpuh di lantai dengan gunting di tangannya dan tubuhnya pun di penuhi darah, yang sudah bisa Jhon Pastikan darah itu berasal dari si pria.
Jhon bertindak cepat, ia kembali menutup pintu kamar sebelum ada orang lain yang masuk atau melihat itu semua.
Luna semakin ketakutan dan gemetar, dengan kedatangan Jhon dan suaminya itu menyaksikan semuanya.
Jhon mendekat.
"Tidak! Aku tidak sengaja melakukannya kak!" Ucap Luna dengan gemetar dan sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, karena ketakutan.
Jhon segera membawa Luna dalam pelukannya, dan meraih gunting yang ada di tangan Luna.
"Tenang! Jangan takut, ada aku disini, ceritakan apa yang terjadi?"
Jhon terus menenangkan Luna yang sangat Shock dan ketakutan.
Dengan sesenggukan Luna pun menceritakan semua kejadian yang ia alami dari awal sampai akhir.
"Aku membunuh orang itu kak?" Tangis Luna.
"Tidak apa-apa, dia memang pantas untuk mati!" Sahut Jhon, yang masih memeluk Luna.
Jika beberapa menit saja aku tidak terlambat, aku akan mencincang tubuh pria itu secara hidup-hidup.
"Maafkan aku, yang terlambat datang." Ucap Jhon menyesal, dia sudah tidak bisa membayangkan betapa menyesalnya dia dan betapa murkanya Kaisar, jika terjadi sesuatu pada Luna.
Tapi aku bangga padamu, yang berhasil membunuhnya. Batin Jhon.
"Kak, bagaimana jika orang-orang tau, mamah dan papah tau, kak Kaisar dan kak Farel tau, aku telah membunuh seseorang!" Panik Luna, di tengah tangisnya.
__ADS_1
"Mereka tidak akan menyalahkan mu, sudah jangan menangis kau tidak perlu takut, aku akan mengurus semuanya, aku tidak akan membiarkan apapun terjadi pada mu."
Jhon tengah berfikir, agar Luna tidak menjadi tersangka, dan Jhon harus cepat menemukan siapa yang menjebak Luna.
Jhon tidak akan memberi ampun pada siapapun orang itu, yang berani-beraninya mengganggu istrinya.
Akan ku pastikan mereka menyesal, aku berjanji akan menguliti mereka hidup-hidup hingga mereka memohon untuk di akhiri hidupnya.
Jhon membatu Luna untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi.
Luna masih terus saja menangis karena ketakutan.
"Tunggu di sini sebentar."ucap Jhon Lembut.
Jhon keluar dari kamar mandi dan
menghubungi beberapa anak buahnya.
Setelah memberi instruksi pada anak buahnya.
Jhon kembali menemani Luna, yang masih di dalam kamar mandi.
🍁🍁🍁🍁🍁
Tiga anak buahnya Jhon tiba di Hotel.
Mereka membagi tugas sesuai arahan yang di berikan Jhon.
Satu orang di tugaskan untuk masuk ke ruangan pemantauan CCTV.
Dan setelah mendapat aba-aba, sisa dari ke tiga orang itu menuju kamar 222 di mana Jhon dan Luna berada.
Kedua orang itu mengabari Jhon jika mereka sudah berada di depan pintu.
CKLEEEK..
"Apa semua sudah aman?" Tanya Jhon, setelah membuka pintu.
"Aman tuan, seperti yang anda inginkan."
Jhon mengisyaratkan agar ke dua orang itu masuk.
Mereka melihat apa yang sebelumnya Jhon lihat, tapi tidak ada raut terkejut apalagi Takut di wajah kedua anak buahnya Jhon itu.
Mereka sudah sangat terbiasa dengan pemandangan seperti ini.
"Apa yang harus kami lakukan pada mayat ini tuan?"
"Lakukan apa yang biasa kalian lakukan, pada mangsa tuan Kaisar."
"Baik tuan kami mengerti."
Tentu mereka sangat mengerti, karena pekerjaan seperti ini sudah biasa mereka lakukan, membereskan semua mangsa-mangsa Kemarahan Kaisar.
"Lakukan setelah saya dan Nona Luna keluar dari Hotel ini, cari tau identitas pria yang mati ini, dan cepat temukan siapa pegawai Hotel yang membawa Nona Luna di kamar ini, berikut wanita yang bernama Sarah." Titah Jhon.
"Baik tuan, secepatnya anda akan mendapatkan informasinya."
Kedua orang itu kembali keluar dari kamar, mereka akan kembali lagi setelah Jhon dan Nonanya keluar dari Hotel.
Jhon meraih Paper bag berisi pakaian untuk Luna yang tadi ia pesan pada anak buahnya, lalu kembali ke dalam kamar mandi.
Karena Luna masih ada di dalam sana, ia takut untuk keluar bahkan dari kamar mandi sekalipun.
"Pakai ini, kita kembali ke Apartemen." Ucap Jhon.
Namun Luna tidak menjawabnya, gadis itu terlihat sangat pucat dan melamun.
"Jangan di pikirkan, semua akan baik-baik saja!"
Jhon membantu Luna mengenakan pakaiannya, lalu membawa istrinya pergi dari Hotel ini.
🍁🍁
Sampai di Apartemen, Luna masih terlihat murung dan terus menangis.
Ia selalu bergumam
Aku telah membunuh orang!
Aku adalah seorang pembunuhan!
🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏
Semoga suka.
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️😘😘❤️
__ADS_1