Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 45. Aku yang akan mengejar cinta mu.


__ADS_3

"Ini tuan." Jhon menyerahkan senjata itu pada Kaisar.


Wanita paruh baya itu seketika membulatkan matanya, bersamaan dengan senjata yang sampai di tangan Kaisar.


"Tu ... Tuan .. apa .... Yang .... ingin anda lakukan?" Suara terbata-bata terdengar di telinga Kaisar.


"Jangan gemetar begitu, saya tidak akan melakukan apapun jika kau patuh pada saya."


"Patuh?"


"Ya, siapa yang menyuruh mu untuk meneror saya?" Pertanyaan pertama, Kaisar lontarkan.


"Sa .... Saya .... tidak.... Melakukan teror itu tuan."


"Benarkah?"


Kaisar mengarahkan senjata itu, tepat di wajah wanita yang kini sedang ketakutan setengah mati itu.


"Kau tidak mau mengakuinya?" Kaisar menekankan ujung pisau pada pipi wanita itu, sampai meninggalkan bekas luka, memang tidak terlalu besar, namun cukup membuat darah mengalir dari sana.


Wanita itu meringis menahan luka yang tidak besar namun terasa sangat perih.


"Aaaawwh! .... Maa .... maafkan sa ... saya tuan, iya saya dan suami saya yang melakukan teror di rumah bude Darmi tuan."


"Lalu siapa yang menyuruh mu?"


"Menyuruh? Tidak tuan, tidak ada yang menyuruh saja, saya melakukannya atas keinginan saya sendiri tuan, kami hanya ingin meneror bude Darmi."


Kaisar mulai kesal karena wanita ini berbelit-belit.


"Kau ...!"


"Tuan, biar saya yang mengurusnya." Jhon menghentikan aksi gila Kaisar yang ingin kembali menyayat wajah tawanannya.


Kaisar mengalah.


"Lakukan sampai dia membuka mulutnya." Kaisar menghentikan aksinya dan memberikan pisau itu pada Jhon.


Jhon mulai mendekat pada


Wanita itu. " Bu. Anda tidak perlu melindungi siapa yang menyuruh anda melakukannya, saya tau tujuan kalian bukan desa ini atau bude Darmi tapi tujuan kalian adalah tuan saya, Kaisar Airlangga Wijaya, jika tujuan kalian adalah desa ini tentu tuan saya tidak akan perduli. Tapi anda salah jika ingin bermain-main dengan tuan Kaisar. "


Si wanita bergetar, bagaimana bisa dia tau kalau tujuannya ada Kaisar bukan desa ini. Tapi wanita itu tetep menggelengkan kepalanya ia tidak mau memberi tau siapa yang memerintahkannya.


Jhon dan Kaisar yakin jika orang yang menyuruh ke dua orang itu adalah orang yang sangat mengenal Kaisar, dan sepertinya kedatangan Kaisar di desa ini pun sudah di atur, bukan kebetulan karna adanya pembangunan pabrik. Di tambah lagi dengan perusakan mobil yang di lakukan mereka membuat Jhon yakin bahwa orang-orang itu menginginkan Kaisar tetep di desa ini.


Tapi kenapa surat ancaman itu mengisyaratkan Kaisar harus pergi dari desa ini, sedangkan mereka pun menahan Kaisar di desa. Apakah mereka dua orang yang berada?


************


Di tempat lain. Pagi-pagi sekali Farel menemui Lisa di klinik tempatnya bekerja.


" Maaf tuan anda mencari siapa?" Sintia yang menghampiri Farel yang sedang memperhatikan setiap sudut ruangan di klinik.


Farel menatap wanita yang kini berada tepat di hadapan nya.


" Ternyata perawat di sini cantik-cantik sekali." Ucap Farel, tanpa mengalihkan pandangannya pada Sintia.


"Maaf tuan, jika anda ingin konsultasi masalah kejiwaan anda. Saya sarankan anda kembali ke kota anda, karena di sana banyak rumah sakit besar dan fasilitas yang lengkap untuk pasien jiwa seperti anda."


"Ha. . hahaha.. !" Farel malah tertawa mendengar ucapan Sintia, seolah membenarkan dugaan Sintia.


"Pantas saja Lisa berubah menjadi jutek dan tidak ramah lagi, ini pasti kau yang mengajarinya kan! Padahal dulu kakak ipar ku itu wanita yang lemah lembut." Sambungnya.


Sintia tak memperdulikannya, ia melangkah kakinya pergi meninggalkan Farel. Tapi Farel menahan lengannya.


Sintia berbalik menatap Farel.


"Tuan, singkirkan tangan anda."


Tapi Farel sama saja keras kepalanya seperti Kaisar, alih-alih melepaskannya Farel malah semakin erat mencekal lengan Sintia.


"Jangan kurang ajar." Sintia menepis tangan Farel dengan sangat keras."


"Sintia! Ada apa?"


" Ini, mantan adik ipar mu." Ketus Sintia.


"Farel, ada apa?"

__ADS_1


"Selamat pagi kakak ipar, bagaimana dengan kabar mu?"


"Tidak usah basa-basi, cepat katakan mau apa kau datang ke sini." Ucap Lisa dengan kesal.


Air muka Farel berubah seketika.


"Apa kau yang menyuruh Kaisar untuk membatalkan pembangunan pabrik itu?" Suara Farel sudah tidak semanis tadi, kini ia dalam mode serius.


"Tidak!" Jawab Lisa singkat.


"Bagaimana mungkin si berengsek Kaisar itu membatalkan pembangunan pabrik Secara sepihak."


"Memangnya kenapa? Bagus dong, setidaknya dia masih punya hati nurani untuk tidak merusak desa yang masih asri ini." Ucap Lisa.


"Apa! Hati nurani? Haha .... Lisa, kau tidak tau sifat asli kakak ku itu, dia itu sama sekali tidak punya hati. Dan kau tau! Dia itu sangat kejam, sangat layak jika di samakan dengan seekor serigala."


"Farel, jaga ucapan mu. Dia itu kakak mu."


"Huf ... Jika aku boleh memilih, aku tidak Sudi menjadi adiknya."


Lisa dan Sintia hanya bisa menggelengkan kepala dengan kelakuan dua kakak beradik itu.


"Aku hanya ingin mengingatkan pada kalian. Sekalipun Kaisar membatalkan pembangunannya, tapi pabrik itu akan tetap berdiri di desa ini, karena kau tau berapa miliar kerugian perusahaan ku jika pabrik itu gagal untuk di bangun, dan aku tipikal orang yang tidak mau rugi."


"Dasar serakah." Sungut Sintia.


"Aku tidak serakah, aku hanya tidak mau rugi. Dan sampaikan pada warga yang lainnya, cepat pergi dari desa ini dengan sejumlah uang yang aku berikan, atau tetap bertahan hidup berdampingan dengan limbah kimia dari pabrik kami." Tegas Farel, dan segera berlalu dari klinik itu.


"Dasar manusia laknat." Kesal Sintia.


"Kau tenanglah, aku akan bicara padanya nanti."


"Jangan nanti, tapi secepatnya." Ucap Sintia.


"Iya."



"Ampun tuan. Ampun, tolong maafkan saya tuan." Lelaki paruh baya merengek, memohon pada Kaisar.



Bagaimana ia tidak memohon ampun jika Kaisar menodongkan senjata tajam pada lehernya. Lelaki itu baru saja tersadar dari pingsannya karena di hajar habis-habisan dengan orang-orang suruhan Jhon, dan ketika ia sadar langsung mendapat hantaman yang bertubi-tubi dari Kaisar.




"CEPAT KATAKAN SIAPA YANG MENYURUH MU?" Teriak Kaisar.



Namun setakut apapun, Lelaki itu tetep tidak mau mengatakan apa yang Kaisar tanyakan berulang kali, hingga membuat kesabarannya habis.



"Baiklah, jika kalian tidak mau mengatakannya."


Kaisar menukar senjatanya dengan sebuah pistol.


"Percumah saja kalian hidup."



Kaisar mengarahkan pistolnya tepat di tenggorokan lelaki itu, dan siap untuk menembaknya.



Lelaki paruh baya itu hanya memejamkan matanya, ia hanya bisa pasrah jika memang harus mati saat ini juga, dari pada harus mengatakan siapa yang menyuruhnya.



"Tuan!"



Suara Jhoh lagi-lagi menghentikan Kaisar.


__ADS_1


"Jhon! Kau berani mengganggu ku!"



"Maaf tuan, saya tidak bermaksud mengganggu anda. Tapi saya ingin menyampaikan sesuatu pada anda."



"APA?"



"Nona Lisa ingin bertemu dengan anda, sekarang nona Lisa berada di luar rumah."



"Lisa!" Kaisar segera memberikan pistol itu pada Jhon. "Kau urus mereka." Ucapnya pada Jhon dan langsung pergi meninggalkannya.



"Ada apa sayang?" Tanya Kaisar yang tepat berada di belakang Lisa, yang membuat Lisa terkejut.


"Mas, aku ingin bicara!"


"Bukankah kau mengusir ku demi Lelaki itu, lalu kenapa kau tiba-tiba ingin menemui ku?"


"Aku ingin bicara soal pabrik itu mas."


"Kenapa? Bukankah sudah jelas. Aku sudah membatalkannya."


"Farel, akan tetep melakukan pembangunan itu mas."


"Si pecundang itu." Gerutu Kaisar.


"Kau tidak perlu khawatir, biar Farel menjadi urusan ku." Ucapnya pada Lisa.


"Baiklah aku percaya pada mu mas. Kalau begitu aku permisi dulu, aku harus ke klinik."


"Kau terburu-buru, hanya untuk menemui dokter itu?"


"Apa maksud mu mas? Tidak ada hubungannya dengan Firman, aku klinik karna aku bekerja di sana."


Kaisar mendengus kesal.


"Lisa, apa kau mencintai lelaki itu?" Tanya Kaisar.


"Tidak!"


"Lalu kenapa kau selalu menolak ku? Padahal aku masih suamimu yang sah."


"Mas sudah aku katakan berulang kali, hubungan kita sudah berakhir."


"Apa kau tidak mencintai ku?"


Pertanyaannya Kaisar bagai kilatan petir di siang hari.


Kenapa kau baru menanyakan itu pada ku mas. selama kita menikah kau tidak pernah menayangkan perasaan ku, bahkan aku yang terlebih dahulu menanyakannya, tapi sampai sekarang kau belum menjawabnya.


Kaisar masih diam menantikan jawaban dari Lisa.


Dan Lisa tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya saja.


Baiklah, jika kau sudah tidak mencintai ku, aku yang akan mengejar cinta mu istriku.


"Aku permisi mas." Lisa melangkahkan kakinya.


"Siapa yang mengijinkan mu pergi dari sini."


Lisa berbalik.


"Apa maksudmu mas?"


" Tetap di sini."


Lisa tidak mengindahkan ucapan Kaisar, ia tetap melangkahkan kakinya.


Tapi secara tiba-tiba Kaisar menggendong Lisa di pundaknya.


"Mas! Apa-apaan ini! Turunkan aku mas."

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏 minta dukungannya ya 🤗🤗


__ADS_2