
Malam hari.
CKLEEEK....
Lisa baru memasuki kamarnya.
Tidak ada Kaisar ataupun Arga di sana.
Ting...
Lisa meraih ponselnya yang mendapat notifikasi pesan masuk.
[Lisa, ini aku Nur! Apa kabar dengan mu, kau tega sekali menghilang begitu saja tanpa memberi kabar apapun pada sahabat mu ini dan sekarang kau kembali pun tak memberi kabar kepada ku. Apa kau sudah melupakan aku, teman satu perjuangan mu ini!]
"Nur!"
Lisa segera membalas pesan itu.
[Maafkan aku Nur, aku tidak mungkin melupakan mu, hanya ada beberapa hal yang terjadi hingga aku tidak bisa mengabari mu, kabar ku baik-baik saja, bagaimana dengan kabar mu!]
[Aku baik, Lisa bisa kita bertemu, aku tunggu kau di Rumah makan tempat kita bekerja dulu, tidak ada penolakan kau harus tetep datang!"]
Lisa tersenyum membaca pesan dari sahabatnya itu.
"Masih sama seperti yang dulu, Nur selalu memaksa." Gumamnya, dan ingin kembali mengetik balasan pesan untuk Nur.
Tapi Kaisar mengagetkannya, lelaki itu melingkar tangannya di pinggang Lisa dan memeluknya dari belakang.
Kapan dia masuk, aku tidak mendengar suara pintu.
"Apa yang sedang kau lakukan, kenapa kau tersenyum seperti itu setelah membaca pesan, pesan dari siapa itu?"
"Ini dari teman ku dulu mas!"
"Taman!"
Tanpa aba-aba Kaisar meraih ponsel itu dari tangan Lisa, ia ingin memastikan jika teman istrinya itu bukan laki-laki.
Lisa membalikkan badannya.
"Kenapa Mas, itu dari Nur, teman ku waktu bekerja di rumah makan, kau juga pernah bertemu dengannya."
Setelah membaca pesan itu.
"Apa kau ingin bertemu dengan teman mu ini?" Tanya Kaisar.
Lisa mengangguk.
"Iya mas, sudah lama aku tidak bertemu dengannya."
"Baik, mas ijinkan besok pergilah temui teman mu itu, sopir Mansion yang akan mengantarkan mu."
"Terimakasih Mas, tapi tolong lepaskan dulu Mas,"ucap Lisa yang merasa tidak nyaman karna Kaisar, menahan tubuhnya sangat dekat dengan tubuh lelaki itu bahkan tak berjarak.
"Kenapa?"
"Aku sulit bernafas mas!"
Kaisar mengendurkan rengkuhannya.
"Baiklah, kita teruskan saja pelukan ini di atas Ranjang agar kau bisa bernafas." Kaisar mendorong tubuh Lisa sampai terlentang di atas ranjang, dan langsung menindihnya.
"Mas, aku malah tidak bisa bernafas jika seperti ini." Lisa mendorong tubuh Kaisar.
Tapi Kaisar malah mencekal tangan Lisa, dan menahan di atas kepalanya.
"Sayang, sudah lama kita tidak melakukan itu, dan sekarang aku menginginkannya,"ucap Kaisar dengan suara parau.
Tanpa ba bi bu.
Ia langsung mencium bibir istrinya itu, dan berlanjut ke segala arah hingga terjadi sesuatu yang memang harus terjadi.
🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi hari.
"Mas berangkat dulu ya!"
Kaisar mencium kening Lisa.
"Iya mas, hati-hati ya, dan Arga tidak boleh mengganggu papah ya."
Kali ini Kaisar berangkat ke kantor mengajak serta Arga, karna anak itu sejak di meja makan tadi merengek minta ikut papahnya, Arga ingin masuk ke rumah-rumah yang tinggi itu pah! Itulah rengekannya.
Kaisar pun tanpa keberatan mengajak putranya, ia mengerti dengan keadaan Arga, sejak bayi anak itu di kurung di desa terpencil dan sekarang ia harus merasakan kebebasan, kemanapun Arga ingin pergi Kaisar akan mengajaknya.
🍁
Selepas kepergian Kaisar dan Arga.
Lisa bersiap-siap untuk menemui Nur sahabatnya.
"Pak, kita ke jalan xxxx ya!" Pinta Lisa, yang kini sudah berada di dalam mobil.
"Baik nona."
🍁🍁🍁🍁🍁
Lebih dari 30 menit akhirnya mereka sampai.
Sudah ada Nur yang berdiri di depan Rumah makan sederhana tempat ia dulu mengais rezeki, tapi sekarang tempat itu sudah berubah dengan tampilan yang sudah seperti Restoran.
Nur langsung memeluk Lisa yang baru sampai di hadapannya.
"Aku sangat merindukan mu Lisa!"
"Aku juga sangat merindukan mu Nur."
"Waaaah kau hebat, kesini di antar dengan sopir!"
__ADS_1
"Sudahlah tidak usah membahas itu, ayo kita masuk,"ajak Lisa.
Dan kini mereka sudah berada di salah satu meja.
"Nur apa kau masih bekerja di sini?"
"Tidak, aku sudah membuka bisnis impian ku sendiri, membuka usaha ketering."
"Waah... Kau hebat Nur,"ucap Lisa, sambil mengacungkan jempolnya.
"Apa kau sudah menikah?"
Pertanyaan Lisa sontak membuat Nur tersedak dan batuk.
"Kau baik-baik saja Nur?"
"Pertanyaan mu itu yang membuat ku tidak baik-baik saja, kau jadi mengingatkan nasib ku yang jomblo selama bertahun-tahun ini." Sahutnya, dengan wajah sedih.
"Aah... Maafkan aku Nur, aku tidak tau jika ternyata kau masih Jomblo!"
Lisa tersenyum.
"Tenang Nur, jodoh mu masih dalam proses."
"Sudah tidak usah di bahas lagi." Kesal Nur.
Dan mereka terhanyut dalam obrolan yang selama bertahun-tahun tidak mereka ceritakan.
"Kenapa kau tidak membawa anak mu, aku kan jadi ingin melihat seperti apa wajahnya!"
"Lain kali aku akan mengajaknya."
"Lisa!"
"Iya."
"Apa kau sudah mengetahui kabar tentang keluarga mu terutama ayah mu?"
Teng....
Pertanyaan Nur, membuat Lisa menjatuhkan sendok makan yang tengah ia genggam hingga membentur piring, dan ia segera mengalikan pandangan.
"Kau kenapa Lis? Apa kau masih merasa kecewa pada ayah dan mamah Mona?"
"Aku tidak tau Nur, tolong jangan bahas mereka lagi."
"Ayah mu sakit!"
Deg...
Ayah sakit.
Lisa mencoba tidak memperdulikan ucapan Nur, tentang kondisi ayahnya.
"Aku tidak akan menjelaskan tentang kondisi detail ayah mu, kau yang harus melihatnya sendiri." Ucap Nur.
🍁🍁🍁
Pikirannya dan hatinya tidak tenang, ia masih terngiang-ngiang dengan ucapan Nur, yang mengabarkan bahwa ayahnya sakit.
Kenapa kau harus sakit ayah, bukankah seharusnya kau bahagia dan tetep sehat karna anak yang merepotkan mu ini sudah tidak menggangu mu lagi.
Hati tentu tidak bisa di bohongi, meskipun ia kecewa dengan Yusuf tapi Lisa sangat mengkhawatirkan ayahnya.
Ia membaringkan diri di atas Ranjang, dan mengingat semua masa lalu yang ia lewati bersama keluarganya.
Sebenarnya aku sangat merindukan mu Ayah, tidak! aku lebih merindukan ibu, ibu kenapa kau pergi begitu cepat, seharusnya kau pergi ketika anak mu ini sudah siap, tapi aku tidak akan pernah siap jika harus kehilangan mu Bu, aku ingin bertemu ibu.
Di saat seseorang sudah merasa lelah melewati masa-masa sekarang, tidak sedikit di antara mereka yang ingin kembali ke masanya yang dulu.
Sama seperti Lisa, tapi ia ingin kemasaalu hanya untuk memeluk ibunya, di saat hatinya tidak tenang dan sedih, ia selalu ingin pergi ke masalalu hanya ingin memeluk ibunya. Pelukan hangat dari seorang ibu yang mampu memudarkan semua kegelisahan putra-putrinya, yang mampu menenangkan hati yang tengah gundah dan risau.
Tapi Lisa tidak seberuntung itu, ia sudah kehilangan pelukan hangat itu di saat usianya masih sangat kecil.
Tapi bukan berarti Lisa tidak bahagia dengan kehidupan yang sekarang, dia sangat bahagia karna memiliki suami yang sangat menyayanginya dan memiliki seorang putra yang mampu menghibur dan membuat hari-harinya bahagia, tapi ada kalanya ia merindukan hangatnya pelukan ibu.
Lisa tertidur, dalam sedihnya yang terpendam.
Sampai ia tidak menyadari jika suami dan anaknya sudah kembali.
"Bi, di mana Lisa?" Tanya Kaisar, yang baru saja masuk kedalam Mansion dan tengah menggendong Arga.
"Di kamar tuan, sejak pulang menemui temannya, Nona langsung masuk ke dalam kamar dan sampai sekarang belum keluar."
Tidak ingin mengulangi kesalahan yang kedua kalinya, Kaisar segera menaiki tangga.
Ia teringat dulu, ketika bi Lilis mengatakan hal yang sama, tapi Kaisar malah mengabaikannya.
Padahal saat itu Lisa sangat membutuhkan seseorang untuk menemaninya.
CKLEEEK....
Dengan terburu-buru karna Khawatir, Kaisar membuka pintu kamar dengan cepat!
"Sayang, ak ...!"
Kaisar tidak melanjutkan ucapannya karna ia melihat istrinya itu tengah tertidur.
Ia menurunkan Arga.
"Suuuuttt... Mamah sedang tidur, Arga tidak boleh berisik ya,"bisiknya pada Arga.
"Arga tidak berisik, yang berisikan papah." Sahut bocah itu, dengan nada yang berbisik juga.
"Papah lupa, baiklah karna mamah sedang tidur, Arga mandi sama papah saja."
"Tidak pah, Arga mandi sendiri saja!"
"Arga Yakin?"
__ADS_1
"Iya pah, kan papah suka bilang kalau anak laki-laki harus hebat dan tangguh, harus bisa melakukan apapun sendiri, jadi mulai sekarang Arga mandi sendiri saja."
Kaisar mengacungkan kedua jempolnya.
"Anak papah memeng hebat."
Setelah memastikan Arga masuk kedalam kamar mandi, Kaisar menghampiri Lisa.
Ia membaringkan diri di samping Lisa, dan menatap wajah yang kini tengah terpejam itu.
Tiba-tiba Kaisar mengangkat wajahnya.
"Dia menangis." Ia mengusap air mata yang mengalir dari mata yang terpejam itu.
Kaisar membawa Lisa dalam pelukannya.
"Kenapa kau tidak pernah bilang, jika ada sesuatu yang mengganjal di hatimu hingga kau lebih memilih menangis di dalam tidur mu, di bandingkan menangis dalam pelukan ku."
Kaisar mencium seluruh wajah istrinya itu, hingga membuatnya terbangun.
"Mas kau sudah pulang, kenapa memeluk seperti ini mas?"
"Mas merindukan mu!"
"Rindu! Baru tadi pagi kita bertemu mas."
"Tadi pagi itu lama sekali, sayang!"
Kaisar kembali menghujani Lisa dengan kecupan di seluruh wajahnya.
"Sudah hentikan mas, di mana Arga,"
"Sedang mandi."
"Mandi! Dengan bi Lilis?"
"Tidak, ia mandi sendiri."
"Apa! mandi sendiri!"
"Tenang sayang putra kita itu sudah besar, dan kelak ia harus menjadi seorang lelaki yang hebat jadi mulai sekarang Arga harus belajar menjadi hebat, kita juga harus segera memberikannya seorang adik."
Lisa tidak bisa berkata apapun lagi, jika Kaisar sudah membahas adik untuk Arga, urusan akan jadi panjang dan akan berakhir setelah melakukan itu.
Kaisar masih memeluknya, dan mengusap rambut Lisa dengan lembut, agar wanita merasa nyaman, karena ia akan memulai sesuatu.
Benar saja, Lisa merasa nyaman di pelukannya. Hingga ia kembali memejamkan mata tapi bukan tidur, Lisa hanya sedang merasai kenyamanan itu, ia merasa seperti di peluk ibunya.
"Sayang!"
"Iya."
Inilah yang ingin Kaisar mulai.
"Apa ada sesuatu yang menjadi beban pikiran mu?"
"Tidak!" Jawab Lisa cepat.
"Apa kau bahagia?"
"Aku bahagia mas."
"Lalu kenapa kau menangis, bahkan kau lebih memilih menangis di dalam tidur mu di bandingkan menceritakan semuanya pada suami mu ini, apa mas tidak pantas menjadi tempat mu mengadu?"
Lisa mendongakkan kepalanya menatap Kaisar, lalu ia menyentuh matanya.
"Apa aku menangis!"
Kaisar mencium kening istrinya dan kembali membawanya dalam pelukan.
"Apa kau tengah merindukan keluarga mu, mas tau ayah mu sedang sakit keras, apa itu yang membuat mu bersedih, jika kau mau mas bisa mengantarkan mu untuk menjenguknya."
"Tidak mas, aku hanya merindukan ibuku saja."
"Sayang, kau ingat saat kau terluka, saat itu kau sangat membutuhkan banyak darah dan di rumah sakit kehabisan stok darah yang sama dengan mu, hingga dengan terpaksa mas membawa Ayah mu untuk mendonorkan darahnya, tapi mas mengurungkan itu semua karena saat itu kondisi ayah mu tengah lemah dan dokter melarangnya tapi ia memaksa ingin mendonorkan darahnya untuk mu."
Lisa masih tak berkata apapun dia hanya bergumam dalam hati.
Ayah mendonorkan darahnya untuk ku.
Kaisar melanjutkan kata-katanya.
"Saat itu ayah mu meminta mas untuk tidak mengatakan apapun pada mu, padahal dia ingin sekali bertemu dengan mu sayang, tapi ayah mu merasa malu untuk bertemu dengan putrinya."
"Aku tidak mau bertemu dengannya mas,"ucap Lisa, sambil terisak.
Dan Kaisar membiarkan Lisa menangis dalam pelukannya.
*Mas tau jika sebenarnya kau sangat merindukan ayahmu itu, meskipun mas sangat kesal dengan kelakuan ayah dan ibu tiri mu tapi mas sudah membalas semua,
dan sekarang mas akan menyatukan kembali kau dan keluarga mu, sebentar lagi cerita ini akan berakhir tentu semua harus merasakan kebahagiaan*.
🍁🍁🍁🍁🍁
Di malam hari, Kaisar membawa Lisa dan Arga ke suatu tempat.
Cukup lama menempuh perjalanan, karena tempat itu sangat jauh dari Mansionnya.
Hingga mereka sampai di depan rumah sederhana dan kecil yang ada di tengah perkampungan.
"Mas, kita di mana, ini rumah siapa mas?"
"Kau akan tau jika sudah melihatnya."
🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🤗
maafkan jika tidak sesuai ekspektasi para pembaca 🙏🙏
__ADS_1