Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 98. Masa lalu Rafi


__ADS_3

"Apa yang terjadi ka, sampai kau melakukan semua ini?" Tanya Lisa.


Rafi tertunduk.


Terlihat jelas sekali di wajahnya, jika dia sedang menahan sedih mengingat apa yang terjadi padanya di masa lalu, hingga membuatnya menjadi seperti ini.


Lisa mengajak Rafi duduk di bangku panjang di bawah pohon besar yang tandus.


"Ceritakan semuanya ka, aku siap mendengarkan mu."


Rafi terdiam, kenangan nya selama bertahun-tahun silam kembali menerjang.


< FLASH BACK\>


>Kita masuk ke cerita masalalu Rafi dulu ya<


🍁


🍁


"Dasar! Anak H*r*m pembawa sial, kita usir saja anak ini dari desa kita, jika terus di biarkan desa kita akan terus-menerus tertimpa kesialan."


"Betul, usir saja anak ini, ibunya adalah seorang p*l*c*r yang hamil dan melahirkan tanpa seorang suami."


Di tengah-tengah, makian dan hujatan dari para warga yang saling bersahutan.


Tampak seorang anak laki-laki yang usianya sekitar 10 tahunan, tengah di ikat di sebuah pohon besar di tengah tengah-tengah kerumunan warga yang tatapan dan otot saling menonjol ketika memaki anak itu.


Dia adalah Rafi.


"Tolong lepaskan cucu saya, jangan perlakukan dia seperti ini." Seorang wanita tua, memohon dan melindungi Rafi dari hakiman para warga.


Tapi bukannya iba dengan tangis wanita tua dan Rafi yang mulai pecah, Mereka justru menyeret nenek Rafi menjauh dari sana.


Sementara Rafi, ia masih menangis karna takut dengan sikap anarkis para warga.


"Cepat! Ambil sebuah tali." Teriak salah satu warga yang lebih dominan dari yang lainnya.


Tali sudah sampai di tangannya.


Ketika ia hendak menyiksa Rafi, beruntung seseorang datang menolongnya.


"Apa yang kalian lakukan? Jangan main hakim sendiri, ini sudah melanggar hukum, apa lagi kalian melakukannya pada anak sekecil ini." Teriak seorang pria tua.


"Tapi dia itu anak pembawa sial!" Sahut satu warga.


"Tidak ada, yang namanya anak pembawa sial!"


Dengan paksa, pria tua itu melepaskan tali yang mengikat tubuh Rafi di pohon.


Rafi menangis tersedu di pelukan pria tua itu.


"Ingat! Jangan pernah melakukan perbuatan sekejam ini, apa lagi pada seorang anak yang tidak mengetahui apapun." Tegas pria tua itu.


Setelah mengatakan itu, pria tua membawa Rafi dari kerumunan manusia yang kehilangan akal sehatnya itu.


Pria tua itu, mengantarkan Rafi pulang ke rumahnya.


"Rafi!"


Nenek yang tengah menangis tersedu-sedu memikirkan nasib cucunya, berhambur memeluk Rafi yang ternyata berhasil kembali ke rumah mereka.

__ADS_1


"Terimakasih, sudah menolong cucu saya!"


Pria tua itu tersenyum.


"Jika, warga masih bertindak seperti ini, segera bawalah Rafi pergi dari sini." Ucapannya.


Dan pria tua itu segera berlalu.


Ini hanya salah satu dari kekejaman warga pada Rafi.


Rafi selalu terintimidasi dengan maksud yang tidak ia ketahui.


Yang ia tau, warga akan menyalakannya jika desa mereka mengalami gagal panen, tertimpa musibah atau terserang penyakit.


Tentu warga pun mempunyai alasan mengapa mereka memperlakukan Rafi seperti itu.


Alasannya! Karna Rafi adalah anak yang di lahirkan tanpa seorang ayah, ibu Rafi merantau ke kota dengan tujuan mengubah nasibnya, walaupun orangtuanya melarang, ibu Rafi tetep pergi ke kota, bayang-bayang nasibnya akan berubah setelah merantau ke kota, ibu Rafi justru tertimpa ke Malangan.


Ia pulang ke desa dengan ke adaan tengah hamil, pria yang ia percayai sampai ia rela menyerahkan kehormatannya, lepas dari tanggungjawab begitu saja, hingga semua aib ia yang menanggungnya sendiri.


Setelah melahirkan Rafi, ia kembali berambisi untuk kembali ke kota menuntut balas atas penderitaannya selama ini.


Selepas kepergian ibunya ke kota Rafi lah yang menanggung semua kemarahan warga pada ibunya, walaupun ia belum dewasa ia selalu menjadi tameng terhebat untuk ibundanya.


Di kucilkan, di hina di maki, di sumpahi, adalah makanan sehari-hari bagi Rafi.


Ia sudah terbiasa untuk itu semua, bahkan tidak ada satu anakpun yang mau bermain dengannya, mereka takut jika akan tertimpa sial.


Tak masalah bagi Rafi, paling dia hanya akan menangis jika warga menyiksanya, asalkan jangan ibunya yang di perlakukan seperti itu, Rafi akan menerima semuanya.


Tapi semua perlakuan para warga, Rafi simpan baik-baik di memori hidupnya, karna ia bersumpah suatu saat nanti ia akan membalas semua perlakuan para warga, padanya dan ibu tercintanya.


🍁


🍁


"Nek kapan ibu pulang? Ini sudah lama sekali ibu tidak pernah pulang?" Tanya anak itu, dengan tatapan yang mengarah ke jendela kayu yang senaja ia buka lebar berharap ia melihat kedatangan ibunya dia sana.


"Sudah, jangan pernah menunggu ibumu lagi, dia tidak akan pulang, ibumu sudah memiliki keluarga baru." Sahut nenek.


Nenek akan selalu berkata seperti itu, jika Rafi menanyakan kapan ibunya pulang.


Rafi terdiam, sesungguhnya dia sudah tau akan berita ibunya yang sudah menikah di kota, tapi dia tidak mempermasalahkan itu yang penting ibunya bahagia dan tetep pulang untuk menjenguknya. Terlintas di benak Rafi, jika ibunya memboyong dia ke kota dan tinggal bersama suami ibunya, dia akan sangat bahagia karena mempunyai seorang ayah.


Rafi jadi teringat ketika ibunya berangkat ke kota.


Ibu akan merubah nasib kita, kamu tetep tunggu ibu di sini, ibu akan kembali setelah semuanya berhasil ibu capai, ibu pasti akan kembali.


Kata-kata itulah yang di ucapkan ibu Rafi sebelum pergi ke kota, dan Rafi akan selalu mengingat kata (ibu pasti akan kembali).


Sebelum kabar ibunya telah menikah, ibu Rafi sering pulang ke desa untuk menjenguk putranya tapi setelah ia menikah jangankan pulang mengirim kabar pun sangat jarang ia lakukan.


padahal anaknya setiap hari menunggu kepulangan ibunya, di sebrang jalan tempat di mana mobil-mobil besar menurunkan penumpang yang berasal dari kota.


Dengan raut wajah yang bahagia, Rafi memperhatikan satu persatu wanita yang turun dari Bus, berharap ada ibunya di sana tapi raut wajah bahagia itu seketika memudar, ketika sampai akhir dan Bus itu kembali berjalan tidak ada sosok ibunya di sana.


Tapi dia terus melakukan hal yang sama setiap hari hingga berbulan-bulan.


🍁


🍁

__ADS_1


Hingga suatu hari.


Hari yang paling di nanti-nanti Rafi tiba, ibunya kembali ke rumah.


"Untuk apa kau pulang Julia?"


Ibunya Rafi adalah Julia.


"Apa maksudmu bu, tentu saja aku akan pulang, karna ada putra ku disini." Sahut Julia, pada nenek yang merawat dan menemani Rafi.


"Putramu! apa kau masih mengingatnya sebagai putramu setelah kau mendapatkan keluarga baru di sana?"


"Terserah ibu mau bilang apa, sekarang katakan di mana Rafi?"


Nenek tidak menjawab, ia masih nampak kesal dengan Julia.


Tanpa menunggu jawaban dari nenek, Julia berlalu mencari Rafi, ternyata anak itu ada di halaman belakang rumah, ia tengah memberi makan kelinci yang selama ini menjadi teman bermainnya.


"Rafi!" Panggil Julia.


Mendengar suara ibunya, senyum berbinar menghiasi wajah Rafi.


Ia menoleh ke arah sumber suara yang sangat ia rindukan.


"Ibu!"


Rafi segera berlari menghampiri Julia, dengan senyum yang semakin mengembang di bibirnya.


"Eeeh .... Stop.!" Julia menahan Rafi yang hendak memeluknya.


Rafi bingung.


"Kenapa Bu?"


"Rafi, tangan mu kotor, jika kau memeluk ibu dengan tangan seperti itu, kau akan mengotori baju ibu." Ucap Julia.


Rafi tertunduk.


"Maaf Bu."


"Ya sudah, cepat cuci tangan mu sana, ibu tunggu di dalam." Dan Julia pun kembali masuk kedalam rumah.


Rafi mematung, menatap punggung ibunya yang menghilang di balik pintu, dan ia segera berlari ke sumber air yang berada di sebelah rumah mereka, untuk membersihkan diri.


"Aku harus bersih dan wangi, agar ibu mau memeluk ku." Gumam Rafi, yang segera membasuh tangannya bahkan seluruh badannya.


Ia mengganti pakaian lusuhnya, dengan baju terbaik yang ada di lemari lapuknya.


Senyum gembira, dengan hati yang berbunga-bunga mengiringi aktivitasnya, terbesit di benak Rafi, jika ibunya pulang ingin menjemputnya, membawanya ke kota untuk bertemu dengan seseorang yang mungkin saja bisa ia panggil ayah dan mengajaknya tinggal bersama.


Keinginan sederhana yang selalu Rafi impikan setiap tidurnya.


Setelah berpenampilan baik, Rafi keluar dari kamarnya dan duduk di hadapan Julia, yang tengah berbincang dengan nenek.


Ia memandangi wajah ibunya yang terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.


Ibu terlihat sangat cantik, seperti bidadari yang sering nenek ceritakan, ibu sudah tidak menderita lagi, sudah tidak ada yang menghina dan merendahkan ibu, terimakasih tuhan sudah membuat ibuku bahagia.


"Ini untuk kalian,"ucap Julia, seraya meletakkan segepok uang di atas meja kayu yang sudah reot, di hadapan Rafi dan neneknya.


Senyum merekah di bibir Rafi, kini kembali memudar, sepertinya ia akan selalu menelan kekecewaan di hidupnya.

__ADS_1


🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🤗😘


__ADS_2