
Para orangtua yang menunggu di luar menangis haru ketika mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin.
Mereka sangat bahagia dengan kabar yang dokter bawa jika bayi yang di lahirkan dalam keadaan sehat, begitupun dengan ibunya.
🍁🍁🍁🍁
Lisa sudah di pindahkan di ruang rawat yang nyaman bagai hotel bintang lima, dan ini semua permintaan Kaisar agar para dokter mengubah ruangan senyaman mungkin selama Lisa di rawat di Rumah sakit itu , ia tidak ingin jika istri tercintanya merasa tidak nyaman.
Semua sudah berkumpul di kamar Lisa, mereka memeluk Lisa dengan penuh haru dan kata-kata kebanggaan dan kebahagiaan selalu mereka ucapkan pada Lisa.
Tiba-tiba Kaisar memeluk Larasati dengan erat dan menitihkan air mata, ketika melihat mamahnya, Kaisar jadi teringat perjuangan Lisa beberapa jam lalu, pasti mamahnya juga merasakan kesakitan yang sama seperti istrinya.
"Pasti mamah juga merasakan sakit yang luar biasa ketika melahirkan ku kan?" ucap Kaisar lirih,"maafkan aku mah, maafkan aku yang selama bertahun-tahun membenci mamah dan menjadi anak yang selalu menyakiti hatimu."
"Tidak, nak, kamu tidak melakukan kesalahan apapun, dan ketika mamah melahirkan kamu, mamah sangat bahagia, karena melihat wajah mu ketika bayi dan menangis dengan kencang, itu sudah bisa menghilangkan semua rasa sakit yang mamah rasakan."kenang Larasati.
"Terimakasih sudah melahirkan aku ke dunia ini mah!"
"Iya sayang, terimakasih sudah menjadi anak mamah, dan sekarang kau seorang ayah dengan dua anak, jagalah anak-anak mu dengan baik, dan sayangilah istrimu dengan sepenuh hati."
"Itu sudah pasti Mah."
Semua memang sudah berubah, kebencian yang Kaisar pendam selama bertahun-tahun, kini benar-benar sirna dan hanya ada kasih sayang dan cinta utuk wanita yang telah melahirkannya itu.
🍁🍁🍁
"Sayang! coba lihat! dia sangat cantik sekali, persis seperti mu," Kaisar tidak henti-hentinya menatap bayi perempuan yang tengah menyusu itu.
"Benarkah! Apa dia sangat mirip dengan ku?"
"Tentu saja, tapi kau jauh lebih cantik dari siapapun!" Goda Kaisar.
Lisa menggelengkan kepalanya.
"Bayi kita Jauh lebih Cantik Mas,"protes Lisa
"Tidak! kau tetap yang paling Cantik, dan bayi kita yang paling Lucu."
Baiklah terserah dia saja.
"Mas, apa kau sudah menyiapkan nama untuk bayi kita?"
"Tentu saja!"
"Siapa Mas?"
"Clara putri Airlangga! Bagaimana kau suka?"
Lisa mengangguk.
"Iya mas, aku suka, nama itu sangat cocok untuk bayi ini."
Lisa mengedarkan pandanganya dari tadi ia tidak melihat putranya.
"Mas! Di mana Arga? Apa dia di Mansion?"
"Iya sayang, Arga senaja tidak Mas ajak, karna rumah sakit kurang baik untuk anak-anak, tapi kamu tidak perlu khawatir Arga bersama Farel dan Sintia dan saat ini mereka tengah menuju kesini."
"Arga pasti sangat senang melihat adiknya!"
"Tentu saja, dan Arga juga akan menjadi kakak yang hebat dan selalu menjaga dan melindungi adiknya,"sambung Kaisar.
Dan anak itu tentu harus sehebat aku, Kaisar Airlangga Wijaya!
🍁🍁🍁🍁
Luna dan Jhon pun tengah bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit, Luna sangat bahagia karena ia kembali memiliki keponakan.
"Kau terlihat sangat bahagia," Jhon yang tengah memperhatikan Luna.
"Tentu saja aku bahagia kak, karena aku kembali memiliki keponakan, dan sebentar lagi kak Sintia juga akan melahirkan, keponakan ku akan bertambah banyak! apa kak Jhon tidak bahagia?"
"Tentu saja aku bahagia, aku akan selalu bahagia jika kau dan tuan Kaisar bahagia."
"Kenapa kak Jhon, masih saja memanggilnya tuan, panggil dia Kak Kaisar, sama seperti ku!" protes Luna.
"Luna!" Jhon melangkahkan kakinya mendekati Luna.
Luna mendongak menatap wajah Jhon yang kini tepat berada di depannya.
"Ada apa Ka?"
"Luna, apa kau tidak ingin memiliki anak?"
Luna terkejut dengan pertanyaan Jhon.
"Apa maksud Kak Jhon, tentu saja aku ingin mempunyai anak, sama seperti kakak ipar dan kak Kaisar."
"Kalau begitu, mari kita membuatnya."
__ADS_1
Luna terkejut dengan ajakan Jhon, Memangnya dia kira membuat anak seperti membuat adonan pisang goreng!
Bisa-bisanya dia bercanda di pagi hari seperti ini.
"Kak Jhon, jangan bercanda seperti itu, ayo kita berangkat! aku sudah tidak sabar untuk melihat bayi kakak ipar!"
Jhon menarik lengan Luna yang hendak berlalu dari hadapannya.
"Aku tidak bercanda, aku serius!" Jhon berkata dengan wajah yang benar-benar terlihat serius.
"Maksudnya?"Luna sudah menangkap sesuatu yang lain di wajah suaminya itu.
Dan Luna tau apa itu.
Jhon semakin mendekat pada Luna, hingga hanya berjarak beberapa centimeter saja, jantung Luna semakin berpacu dengan cepat!
Apa dia menginginkan itu? Tanya Luna dalam hatinya.
Tentu saja, memangnya apa lagi!
Jhon mendekatkan bibirnya di telinga Luna.
"Mari kita membuat bayi untuk kita sendiri," suara serak dan berat itu membuat badan Luna seketika meremang dan merinding.
Astaga! sepagi ini dia sudah membahas pembuatan bayi.
"Tapi kak, ini masih pagi dan kita juga harus ke rumah sakit bukan,"Luna tengah menahan kegugupannya. Ia tidak tau harus bicara apa lagi.
"Itu bisa di tunda beberapa jam lagi, sekarang kita kerjakan dulu urusan kita." Suara Jhon yang terdengar seksi, semakin membuat Luna jadi salah tingkah.
Ingin menolak pun tidak mungkin.
Jhon meraih wajah Luna yang tertunduk, wanita itu tengah menahan gugup dan debaran di hatinya, meskipun ini bukan yang pertama bagi Luna tapi tetap saja rasa gugup dan gemetar masih saja ia rasakan ketika berada sedekat itu dengan suaminya, apa lagi ketika suaminya mengajaknya untuk melakukan itu!
"Bagaimana? Kau bersedia! Kita akan jauh lebih bahagia jika memiliki bayi kita sendiri."
Jhon menatap lekat Luna, lelaki itu tengah berusaha membujuk istrinya.
CUP.
Karena Luna tak kunjung memberi jawaban, Jhon mengecup bibir yang masih tertutup rapat itu.
CUP.
CUP.
Tiga kali sudah Jhon mengecup bibir itu.
Seharusnya dia mengertikan, jika aku Diam seperti ini, itu artinya aku mau dan bersedia. aaaah sungguh malu rasanya jika aku harus mengatakan secara langsung.
Dan lelaki itu tidak akan pernah melakukannya jika tidak mendapatkan persetujuan dari Luna.
Tapi akhirnya Luna mengangguk juga.
Jhon kembali memberi Kecupan di bibirnya, tapi bukan sekedar kecupan lebih tepatnya ciuman.
Tanpa melepaskan ciumannya, Jhon mengangkat Luna dan membawanya ke dalam kamar.
Apa yang terjadi di dalam kamar?
Saya yakin, tanpa saya jelaskan pun Anda sudah mengetahuinya!
Jadi! kita tinggalkan dulu mereka berdua.
🍁🍁🍁🍁
"Kau mau kemana kak?"
"Aku mau ke rumah sakit, Lisa melahirkan Vin."
"Lisa, teman mu waktu masih sekolah?"
"Iya, yasudah aku jalan dulu ya, kau baik-baik di sini, jika ada orderan masuk kau urus saja seperti biasanya."
"Baik kak."
Itu beberapa percakapan antara Nur dan adik sepupunya yang bernama Vina.
Nur mendapat kabar jika Lisa sudah melahirkan.
Sebagai sahabat yang baik tentu dia tidak ingin melewatkan momen bahagia sahabatnya itu, ia berniat mengucapkan selamat untuk Lisa secara langsung dengan mendatangi Rumah sakit tempat Lisa bersalin.
Setelah Taksi online yang ia pesan datang, Nur pun menuju Rumah sakit.
Ia sudah menyiapkan beberapa hadiah untuk Lisa dan bayinya.
Akhir-akhir ini Nur sedang merasa bahagia, karna Bisnis Catering nya yang hampir saja bangkrut kini bisa kembali pulih dan stabil bahkan jauh lebih berkembang.
Taksi yang di tumpangi Nur melintas di depan Restoran Cempaka, yang sudah beberapa Minggu tutup.
__ADS_1
Ia mengembangkan senyum di bibirnya melihat Resto Luna yang di tutup dan terdapat beberapa garis polisi itu.
Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit, akhirnya Nur sampai di rumah sakit.
Ia sudah mengetahui, di kamar mana Lisa di rawat, karna Lisa yang memberitahunya.
Jadi dengan mudah kini Nur sudah ada di depan kamar itu.
Ia mengetuk pintu.
Dan Sintia yang membukanya.
Sintia sudah sampai terlebih dahulu bernama Farel dan Arga.
"Lisa!" Seru Nur, dan berlari kecil memeluk Lisa yang sedang bersandar di ranjangnya.
"Nur! Kau datang!" Lisa terlihat sangat bahagia dengan kedatangan Nur.
"Tentu saja aku harus datang dan mengucapkan selamat untuk kelahirkan anak kedua mu."
"Terimakasih Nur."
Berbeda dengan Lisa dan Sintia yang bahagia dengan kedatangan Nur.
Kaisar justru tidak suka dengan kehadiran wanita itu, entah apa penyebabnya semenjak pertemuannya tempo hari Kaisar tidak menyukainya Nur.
Jika bukan karena istrinya, ia pasti sudah mengusir Nur dari kamar itu.
Farel yang melihat wajah Kaisar yang tak bersahabat, berjalan menghampirinya.
"Kai, aku ingin bicara dengan mu."
"Bicara saja."
"Tidak di sini Kai."
Kaisar melihat Farel yang seperti ingin mengatakan sesuatu yang serius.
"Baiklah,"Kaisar pun keluar dari kamar Lisa dan di ikuti Farel di belakangnya.
Tapi sebelum Kaisar benar-benar keluar dari kamar itu, ia menitipkan pesan pada Arga.
"Arga, dengar papah, kau jaga baik-baik adik dan mamah mu, terutama dari wanita yang baru datang itu , mengerti?"
Arga melirik Nur, lalu ia mengangguk dengan mantap!
"Baik pah, Arga mengerti."
"Anak pintar,"Kaisar mengelus rambut Arga dan menciumnya.
Lalu ia pergi dari kamar itu.
"Kau yang benar saja Kai, kau menyuruh Arga untuk menjaga Lisa dan adik bayinya, bahkan Arga belum bisa menjaga dirinya sendiri,"ucap Farel, meremehkan.
"Hay, kau jangan meremehkan putra ku, bahkan dia jauh lebih hebat darimu,"sahut Kaisar dengan bangga.
Farel Hanya menggelengkan kepalanya saja, ia menganggap apa yang di katakan Kaisar hanya sebuah lelucon saja.
🍁🍁
Di kamar.
Tiga wanita itu tengah terlibat obrolan yang sangat menarik dan membuat mereka tertawa.
Lisa menceritakan tentang persalinannya dan Sintia menceritakan tentang kehamilannya.
Sedangkan Nur tidak bisa menceritakan apapun Selain usaha Catering nya, karna ia belum menikah.
"Lisa, aku ingin melihatnya bayi mu."
Lisa mengangguk sambil menunjuk sebuah Boks bayi yang berada di sebelah ranjangnya.
Nur menghampiri Bayi mungil yang tengah memejamkan matanya itu.
Nur mengusap lembut pipi bayi dengan senyum di ujung bibirnya.
Tapi Sebelah tangan kiri Nur justru terkepal dengan sangat kuat, Ketika tangan kanannya menyentuh kulit bayi itu.
Dai terus saja menatap bayi Lisa, dangan tangan yang terus terkepal.
🍁
🍁
🍁
Jadi anak kedua Lisa dan Kaisar, Perempuan ya! 🤗🤗
🍁🍁🍁🌹🌹🍁🍁🍁
__ADS_1
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🤗😘
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️