Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 53. Benarkah Firman?


__ADS_3

Kaisar membawa benda itu keluar dari kamarnya.


"Mas mau di bawa kemana?"


"Mas pinjam sebentar, kau pakai pulpen punya mas saja, ada di laci meja kerja."


Sebaiknya, Lisa jangan dulu mengetahui ini, aku harus mengumpulkan bukti-bukti yang cukup untuk memberatkan si dokter itu, jika aku mengatakannya sekarang pasti Lisa tidak akan mempercayainya. Karena dia selalu menganggap Dokter itu baik seperti dewa.


"Kamu tunggu di sini jangan kemana-mana!"


Setelah mengatakan itu Kaisar segera keluar dari kamarnya.


Tujuannya adalah kamar Jhon.


"Tok .... Tok .... Tok ...


"Jhon! Apa kau belum bangun?"


Tok .... Tok ... Tok ....


"Jhon!"


"Kau mengetuk pintu itu sampai tangan mu bengkak pun Jhon tidak akan keluar." Farel muncul dari kamar yang persis berada di sebelah kamar Jhon.


"Aku tidak memanggil mu, kenapa kau keluar.!"


"Tapi ketukan bising mu itu mengganguku Ku." Ucapnya.


"Jhon pergi barsana Rizal." Sambung nya,


Kaisar membalikkan badannya hendak kembali menuju kamar.


"Kai!" Panggil Farel yang berhasil menghentikan langkah Kaisar.


"Apa?" Ketusnya.


"Berhati-hatilah Kai."


"Ada apa dengan wajah mu? Apa sekarang kau mulai menghawatirkan ku?"


"Aku sama sekali tidak menghawatirkan mu, aku hanya menghawatirkan mamah jika terjadi sesuatu pada mu, wanita tersayang ku itu pasti sangat terpukul, dan aku juga kasian pada Lisa jika harus menjadi janda di usia muda."


"Hentikan bualan mu itu!"


"Mas!"


Lisa datang menghampiri mereka.


"Kenapa kau keluar kamar?" Tanya Kaisar.


"Ini!" Lisa menyodorkan ponsel milik Kaisar.


"Jhon menghubungi mu sudah lebih dari tiga kali." Sambungnya.


Kaisar segera meraih ponselnya yang ada di tangan Lisa. Dan memperhatikan deretan panggilan tidak terjawab dari Jhon.


"Selamat pagi kakak ipar! Bagaimana keadaan mu?" Sapa Farel, dengan ekspresi wajah yang tidak biasa.


Senyum terbaik ia tunjukkan untuk kakak iparnya itu.


Ada apa dengannya. kenapa tersenyum penuh arti seperti itu.


"Aku baik!" Jawab Lisa dengan senyum canggung.


"Jangan bicara padanya." Sahut Kaisar.


"Aku hanya menyapa dan menanyakan kabar kakak ipar ku ini, bukankah semalam dia sakit."


"Berhenti memanggilnya kakak ipar!" Ketus Kaisar.


"Lalu aku harus memanggilnya apa? Kekasih ku?"


"Sepertinya kau memang harus aku musnahkan Farel!" Geram Kaisar.


"Sudah mas, Farel hanya bercanda!"


"Aku tidak suka bercanda dengannya. Ayo masuk lah ke kamar mu."


Kaisar menarik tangan Lisa,


"Kakak ipar, semalam aku mengantarkan temanmu itu pulang." Teriak Farel.

__ADS_1


Lisa hanya membalikkan badannya.


"Bukan urusan ku!" Ketus Kaisar dan segera berlalu masuk ke dalam kamarnya.


🍁🍁


"Kau istirahat di sini, tidurlah."


Kaisar mendudukkan Lisa di kasur, di samping Arga yang masih memejamkan matanya.


Sepertinya anak itu enggan untuk bangun di pagi hari seperti ini.


"Mas mau menghubungi Jhon dulu."


Kaisar menjauh dari Lisa, ia tidak ingin jika Lisa mendengar apa yang ingin di sampaikan oleh Jhon.


Jhon keluar rumah di pagi buta, pasti ada sesuatu yang sangat penting yang ia lakukan


"Halo! Jhon!"


{"Tuan, bisakah anda datang ke gudang yang ada di belakang kantor.?"}


"Baiklah aku akan segera ke sana."


Kaisar segera memutuskan panggilannya pada Jhon .


Sementara itu Lisa memperhatikan gerak-gerik Kaisar yang seolah-olah tidak ingin ia mendengar apa yang tengah di bicarakan nya dengan Jhon.


"Ada apa mas?" Dari pada penasaran Lisa pun langsung menanyakan pada Kaisar.


"Tidak ada apa-apa, hanya ada sedikit masalah di kantor." Jawab Kaisar.


"Mas, bukankah kau sudah berjanji untuk membatalkan pembangunan pabrik itu, tapi kenapa masih ada kegiatan di lapangan dan kantor mu mas?"


"Ini ulah Farel, tapi mas akan segera membereskannya kau jangan khawatir, istirahatlah."


Dari tadi dia hanya menyuruh ku istirahat


Kaisar kembali mendekati Lisa, kini ia mendudukkan dirinya di samping Lisa.


"Mas akan melakukan apapun untuk mu." Ucapnya seraya merapihkan rambut Lisa yang sedikit berantakan.


"Mas, sepertinya hubungan kita....!" Ucapan Lisa tergantung.


Lisa hanya diam, sangat sulit bicara dengan Kaisar, jika menyangkut tentang hubungan mereka. Karna Kaisar akan tetep pada keyakinan dan ke inginan nya.


Kasar membelai pipi Lisa dengan lembut.


"Apa pun yang terjadi tolong jangan tinggalkan mas, mas ingin tetep bersamamu dan putra kita Argani Airlangga Wijaya."


Lisa menatap lekat mata Kaisar.


"Mas sudah memberinya nama belakang?"


"Tentu saja, mas sudah menyiapkan sebuah nama untuk anak kita, sejak mas mengetahui bahwa kau hamil. Tapi mas sangat menyesal karena mas tidak bisa memberikannya langsung ketika ia di lahirkan." Ucap Kaisar, dengan raut wajah yang terlihat sangat sedih.


Hati Lisa berdenyut mendengar penuturan Kaisar, bukankah ia juga bersalah, telah meninggalkan Kaisar begitu saja tanpa bertanya atau mengatakan apapun pada suaminya itu.


Kaisar memandang wajah Lisa yang tengah menatap matanya. Hatinya berdebar.


"Mas akan menunggu mu sampai kau siap!" Ucapnya dengan mata tanpa berkedip menatap wajah Lisa.


"Eee mmm ... Mas mau pergi dulu sebentar, tapi mas janji akan segera pulang jika urusan mas dengan Jhon sudah selesai, kau jangan kemana-mana tetaplah di rumah bersama Arga."


Lisa mengangguk.


"Iya, pergilah mas."


Kaisar mencium kening Lisa lalu mencium kening Arga.


🍁🍁🍁


Tanpa membuang-buang waktu lagi Kaisar segera menuju gudang yang di maksud oleh Jhon.


Dan tidak butuh waktu lama Kaisar pun sampai di tempat tujuannya.


"Tuan!"


Jhon menyambut kedatangan Kaisar.


"Apa yang kau temukan?"

__ADS_1


"Mari saya antar, anda akan melihatnya sendiri tuan."


Kaisar mengikuti langkah kaki Jhon yang menuju salah satu ruangan yang ada di dalam gudang itu.


"Siapa mereka?" Tanya Kaisar, yang mendapati dua orang pria yang tengah di satukan dalam ikatan yang cukup kuat hingga membuatnya kesakitan ketika bergerak.


"Mereka yang saya temui di hutan tuan, tepat di malam sebelum penemuan mayat itu. Dan dugaan kita benar, merekalah pembunuhannya."


"Apa mereka sudah membuka mulutnya?"


"Belum tuan, sepertinya mereka sangat setia pada tuannya, hingga lebih memilih mati dari mengatakan nya, sama seperti kedua orang yang di temukan tewas itu "


"Benarkah! Apa mereka tidak tau, jika tuannya akan membunuhnya mereka, jika sudah bertemu dengan ku."


Kaisar mendekati ke dua pria yang tengah terikat dalam posisi terduduk itu. Ia menggerakkan kakinya untuk mengangkat wajah salah satu dari pria itu.


"Apa kau tetep tidak mau mengatakannya?


Kaisar sudah berada di mode berbahaya.


Kedua pria itu mengangguk.


Dan.


BUG....


BUG ....


Kaisar melayangkan kakinya di wajah pria itu, hingga tersungkur ke lantai, masih dalam posisi terikat.


Lalu Kaisar kembali menginjakkan kakinya di leher pria itu.


"Tanpa kau mengatakannya pun saya sudah mengetahuinya."


Kaisar semakin menguatkan pijakannya.


KRETEK ....


Hingga bunyi itu yang keluar dari injakan kaki Kaisar di leher pria itu.


Dan beberapa detik kemudian pria itu tidak sadarkan diri.


Dan sontak membuat temannya memucat.


"Kau tidak perlu khawatir, dia belum mati. Ini hanya pemanasan saja, permainan utamanya belum di mulai." Ucap Kaisar dengan rahang yang mengeras dan mata yang menyalang.


"Jhon ikut aku."


Kaisar menyudahi permainannya. Ia melangkah meninggalkan kedua pria itu.


Dan Jhon mengikutinya dari belakang.


"Lihat ini."


Kaisar menyodorkan ke dua pulpen yang ia bawa dari rumah.


"Apa ini tuan?"


"Kedua pulpen itu sama bukan? Salah satu dari pulpen itu aku temukan di dalam hutan tempat di mana ke dua mayat itu di temukan, dan yang satunya lagi aku mendapatkannya dari Lisa."


Jhon terkejut dengan perkataan Kaisar.


"Nona Lisa?"


"Iya, dan Lisa mendapatkan pulpen itu dari Firman."


"Dokter Firman?" Tanya Jhon memastikan.


"Iya, hanya Firman satu-satunya orang yang memiliki pulpen seperti itu, karena ia mendesain dengan tangannya sendiri."


"Jadi?"


"Jadi! Firman lah yang ada di balik semua ini." Ucap Kaisar.


"Tapi tuan, kita tidak bisa menyimpulkannya begitu saja, kita harus mencari bukti yang lainnya."


"Aku tau, dan itu biar menjadi urusan ku. Kau cari saja siapa penghianat yang ada di kantor pusat, yang bersekutu dengan Firman."


Apakah benar Firman yang ada di balik semua ini? Lalu apa motifnya bukankah Firman sebelumnya tidak mengenal Kaisar atau karena persaingannya untuk mendapatkan Lisa.


Atau mungkin benar, Firman adalah utusan dari orang yang ada di kantor pusat milik Marwan. Tapi siapa? dan apa alasannya, untuk apa mereka melakukannya.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏 minta dukungannya ya 🤗🤗


__ADS_2