
Tak ...
Tapi langkah Kaisar terhenti, karena kakinya menginjak sesuatu.
Kaisar mengangkat sedikit kakinya, untuk melihat benda apa yang ia injak.
"Pulpen!" Kaisar menatap benda yang kini sudah berpindah ke tangannya.
"Kenapa bisa ada pulpen di tengah hutan seperti ini. Gumamnya.
Kaisar memasukan pulpen itu ke dalam saku celananya, dan ia kembali melanjutkan langkahnya menyusul Lisa.
Polisi sudah tiba, dan evakuasi korban pun di lakukan.
"Yuna!" Panggil Firman.
"Dokter, maafkan saya datang terlambat." Ucap Lisa Seraya menundukkan kepalanya.
"Ah... Tidak apa-apa, tadi kepala desa meminta kita datang ke hutan karena warga menemukan mayat. Polisi pun sudah tiba untuk mengevakuasinya, nanti kita akan memeriksa jenazah nya, karna jenazah itu akan di bawa ke klinik."
"Baik dok."
Tolong.... Tolong.... Tolong....
Seorang pria berlari pontang-panting dari arah hutan seberang jalan.
"Ada apa pak?" Tanya Lisa, pada pria itu, yang tengah mengatur nafas yang terengah-engah.
Dan beberapa orang pun ikut menghampirinya.
"Di .... Di sana ada ... Ada mayat!"
"APA!" Kejut Lisa dan Firman secara bersamaan.
🍁🍁
Dan polisi pun kembali mengevakuasi mayat yang baru saja di temukan.
"Kedua korban, besar kemungkinan adalah korban pembunuhan. Karna ada luka jeratan di kedua leher korban." Ucap salah satu polisi yang di dampingi Firman, kepada kepala desa.
"Karna kedua korban sudah tidak memiliki keluarga, kami akan membawa jenazah ke klinik untuk mengurusnya." Sambung Firman.
"Baiklah kalau begitu." Kepala desa pun menyerahkan semuanya pada Firman dan aparat kepolisian.
Polisi mensejajarkan ke dua kantong jenazah, salah satu dari polisi itu membuka kantong jenazah yang di temukan lebih dulu.
Sreeeet .....
Lisa terkejut! matanya membulat dengan sempurna, ketika kantong jenazah itu terbuka lebar.
Ia melihat mayat seorang wanita paruh baya yang ada di dalam kantong jenazah itu.
Bukankah itu!
.
.
"Yuna, kau kenapa? Apa kau mengenalnya?" Tanya Firman yang melihat Lisa nampak sangat terkejut.
Lisa menggelengkan kepalanya.
"Tidak! hanya beberapa waktu lalu aku pernah bertemu dengannya."
"Mereka warga baru di sini, baru sekitar beberapa bulan mereka tinggal di sini, mereka adalah pasangan suami istri. Dan sudah tidak memiliki keluarga."
Lisa mengangguk.
"Apa yang kau lakukan di sini!"
Kaisar muncul dari belakang dan langsung melingkarkan tangannya di pundak Lisa.
Firman menatap tangan Kaisar yang melingkar di pundak Lisa dan dengan senaja Kaisar menurunkan tangannya tepat di pinggang Lisa lalu merengkuhnya.
"Cih ...."
"Kenapa anda ada di sini?" Tanya Firman, dengan tatapan yang menusuk pada Kaisar.
Yang di tanya pun mulai geram. Dengan tampilan mata yang seolah mengajaknya adu mekanik.
"Memangnya kenapa? Saya mau menemani istri saya di sini."
Firman mendengus dengan kesal.
"Tidak seharusnya anda berada di tempat seperti ini."
"Apa anda mengusir saya!" Kaisar sudah memasang kuda-kuda, untuk menyerang Firman dengan kata-katanya.
"Cukup!" Namun Lisa menghentikannya.
"Mas, ikut aku. Lisa menarik tangan Kaisar untuk mengikuti langkah kakinya. Dan dengan senang hati Kaisar pun membuntuti Lisa.
__ADS_1
Tapi sebelum itu ia tersenyum miring ke arah Firman.
Dan hal itu membuat Firman semakin kesal. Ia mengepalkan tangannya menahan marahnya di dalam hati, Karna Lisa ternyata lebih meladeni Kaisar dari pada dirinya.
Lisa membawa Kaisar di mana kantong jenazah berada.
Ia kemudian membuka salah satu kantong jenazah itu.
"Coba kau lihat mas!" Ucap Lisa.
"Iya aku melihatnya, itu mayat." Sahut Kaisar.
"Iya aku tau, tapi kamu ingat tidak mas siapa wanita ini?"
Kaisar memperhatikan mayat wanita, yang sudah terbujur kaku dan wajah yang sangat pucat itu.
DEG ....
"Dia!"
"Iya mas dia wanita yang waktu itu, hampir tertabrak mobil kita di jalan hutan ini. Ternyata kau masih mengingatnya.
Tapi bukan! Bukan itu yang Kaisar ingat.
Dengan gerakan cepat, Kaisar kembali membuka kantong jenazah yang berada di sebelahnya.
Sreeeet .....
Benar! tidak salah lagi ini mereka, tapi kenapa mereka bisa di temukan Tanpa nyawa, bukankah Jhon sudah melepaskan mereka dalam ke adaan hidup-hidup
Kaisar masih menatap kedua wajah itu
"Mas!" Lisa menepuk punggung Kaisar.
Kaisar kelagapan.
"Iya."
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa. Bagaimana apa sudah selesai, kita pulang sekarang." Ajak kaisar.
"Mas pulang duluan saja, aku mau ke klinik dulu."
"Mau apa lagi ke klinik?" Kaisar mulai gusar.
"Hanya sebentar, setelah itu aku akan pulang." Pinta Lisa, dengan Senyuman yang manis ia tunjukkan untuk Kaisar.
"Baiklah, tapi mas ikut ke klinik."
Baiklah, mau kau ikut pun terserah mas, yang penting aku bisa pergi ke klinik
Dreeeet ... dreeeet.
Kaisar meraih ponselnya dari saku celananya.
"Ada apa Jhon?"
{Tuan, bisakah anda pulang sebentar? Sepertinya tuan Farel membuat ulah di kantor. Saya harus segera ke kantor untuk membereskannya. Dan saya tidak mungkin jika mengajak tuan kecil."}
"Baiklah, aku pulang sekarang."
Kaisar memutuskan sambungan teleponnya.
Ia berbalik ke arah Lisa.
"Ada apa mas? Apa Arga menangis?" Tanya Lisa cemas.
"Tidak! Hanya saja Jhon ada sedikit urusan, jadi aku harus pulang untuk menemani Arga."
"Apa kau tidak ingin ikut pulang?" Sambungnya, yang bertanya kepada Lisa.
"Aku janji setelah pekerjaan ku di klinik selesai, aku akan segera pulang!" Ucap Lisa.
"Huuuf .... Baiklah mas pulang sendiri, jaga dirimu baik-baik terutama dari dokter itu."
Lisa mengangguk.
"Aku titip Arga ya mas."
Cup ....
Kaisar mencium kening Lisa.
"Sudah ku bilang, tanpa kau minta pun aku pasti akan menjaga anak kita dengan baik."
Kaisar membelai pipi Lisa dengan lembut.
Lisa menatap mata Kaisar, terlihat dengan jelas sorot mata Kaisar yang begitu tulus dan lembut.
Membuat hati Lisa menjadi meronta-ronta.
__ADS_1
Ingat Lisa! kau harus menutup hati mu rapat-rapat pada pria yang ada di hadapanmu ini
Batin Lisa kembali menghasut kewarasannya. Agar tetap menutup rapat hatinya.
"Kenapa kau bengong? Apa kau terpesona dengan ketampanan hakiki ku ini?" Jiwa sombongnya kembali muncul.
"Mas. Jangan yang aneh-aneh." Tepis Lisa.
"Kau seribu kali lebih cantik jika sedang merona seperti itu?"
Apa! merona! mana mungkin, kaca, aku butuh kaca, mana mungkin aku merona hanya karena gombalan sombongnya
Lisa menangkup ke dua pipinya.
"Kau jangan bercanda mas." Ketusnya. Tapi hatinya sangat berdebar.
"Bagaimana bisa di sebut bercanda." Kaisar mengusap rambut Lisa. lalu mengecup puncak kepala Lisa.
Dan dengan berat hati, Kaisar harus mengakhiri gombalan sombongnya, karna Arga sudah menunggunya di rumah.
"Mas pulang dulu ya."
"Iya mas hati-hati ya."
🍁🍁
Kaisar melangkahkan kakinya menuju mobil yang ia parkirkan di tepi jalan.
"Baiklah aku mengerti, ibu tidak perlu khawatir. Aku akan melakukannya dengan baik dan tidak akan mengecewakan mu. Informasi yang ibu berikan sudah cukup untuk menjalankan semuanya dengan."
Perkataan yang cukup panjang terdengar di telinga Kaisar. Ia menghentikan langkahnya karna ia ingin lebih mengetahui isi pembicaraanan itu.
Kaisar tau betul suara itu milik siapa.
Kaisar menyandarkan tubuhnya di balik pohon besar.
Kaisar menajamkan pendengarannya, dan matanya tetap fokus menatap lelaki ber jas putih itu.
Lelaki itu adalah Firman. Ia senaja menjauh dari kerumunan, untuk melakukan panggilan.
Tapi sayang, ketika Kaisar menajamkan pendengarannya.
Berharap bisa lebih mendengar apa yang di ucapkan Firman, dengan seseorang yang ia panggil ibu itu.
Firman justru sudah mengakhiri panggilan itu.
"Aku tidak bisa jika harus berada di rencana mu ibu." Gumam Firman.
Namun terdengar jelas di telinga Kaisar.
Kaisar segera menenggelamkan tubuhnya di baik pohon besar itu. Ketika Firman melintasi dirinya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Di klinik.
"Yuna!"
"Iya dok!"
Firman menunjukkan sesuatu di tangannya.
"Apa ini dok.!" Lisa meraih benda berukuran kecil itu dari tangan Firman.
Lisa menatap heran dengan sebuah kartu yang ada di tangannya
(PT Airlangga Wijaya.)
"Aku menemukan itu di saku baju salah satu korban pembunuhan." Ucap Firman.
"Apa!" Lisa nampak sangat terkejut.
Kenapa bisa kedua korban pembunuhan itu memiliki kartu pengenal milik keluarga suaminya.
Lisa terdiam sesaat, untuk mencerna semuanya.
"Yuna, polisi sedang menuju rumah Kaisar. Polisi mencurigai bahwa Kaisar atau Farel yang melakukan pembunuhan itu."
"Apa! Kenapa bisa begitu dok? Ini kan hanya sebuah kartu kenapa bisa menyimpulkan tuduhan untuk Kaisar dan Farel."
"Karena itu satu-satunya benda yang di temukan di tubuh korban, kemungkinan besar sebelum korban di temukan meninggal, mereka menemui Kaisar atau Farel."
"Tidak bisa seperti itu dok." Lisa segara melangkah kakinya.
"Kau mau kemana?"
"Aku harus pulang."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏 🙏 minta dukungannya ya
__ADS_1