
Ckleeek ....
Kaisar membuka pintu kamar.
Tap .
Tap .
Tap.
Ia melangkahkan kaki memasuki kamar itu, masih dengan wajah muram dan tidak bersemangat.
Terlihat di sana Lisa baru saja selesai menidurkan Arga.
Lisa menatap kedatangan Kaisar, yang menurutnya aneh tidak seperti biasanya.
"Apa dia sudah tidur?" Tanya Kaisar.
"Sudah."
Kaisar m membuka jaket hitam yang ia kenakan.
Mata Lisa seketika membelalak melihat kemeja putih Kaisar yang sebagian berubah warna menjadi merah.
"Mas!" Ia segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Kaisar, yang tengah berdiri di samping jendela kaca.
"Apa ini mas? Darah!" Lisa menyentuh lengan yang terluka itu.
Kaisar meringis. Mungkin dia baru merasakan sakit ketika Lisa menyentuh luka itu.
"Kau terluka mas, kenapa kau membiarkannya saja, ini harus segera di obati." Panik Lisa.
"Sakit...." Keluh Kaisar dengan nada yang manja. Ketika Lisa kembali menyentuh lengan yang terluka itu.
"Maaf mas!" Lisa menarik tangannya.
"Biar aku bantu untuk mengobatinya. Bukalah kemejanya."
"Tangan mas sakit, mana bisa membukanya sendiri."
Lisa segera membantu Kaisar membukakan kancing kemeja itu dan melepaskannya.
Padahal tadi dia bisa membuka jaketnya sendiri.
"Astaga mas! Luka ini sangat dalam, kita harus ke klinik, ini bisa infeksi?"
Kaisar menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Kau kan perawatan untuk apa mas pergi ke klinik lagi." Tolak Kaisar.
"Tapi, di sana mas akan langsung di tanganin oleh dokter."
"Tidak!"
Lisa menghembuskan nafasnya dengan Kasar.
"Baiklah, mas tunggu di sini sebentar. Aku ambilkan kota obat dulu." Lisa segera beranjak dan keluar dari kamar.
Kaisar juga ikut melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, ia menatap dirinya di depan cermin.
Lengannya yang terluka ia sentuh dengan sangat keras hingga luka itu kembali mengalihkan cairan berwarna merah.
Kaisar memejamkan mata, menahan rasa sakit yang ia ciptakan sendiri.
Lebih kuat lagi Kaisar, tekan lebih kuat lagi.
Inilah yang biasa Kaisar lakukan, jika mendapatkan luka di tubuhnya ia akan semakin memperparah luka itu, tujuannya! Kaisar menganggap itu adalah hukuman untuk dirinya yang sudah melukai orang lain.
"Apa Lisa mau bersama ku jika dia tau siapa aku sebenarnya." Gumam Kaisar, yang masih menatap dirinya di depan cermin.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Dok, bagaimana dengan keadaannya?"
"Pasien sudah melewati masa kritisnya, dan sebentar lagi dia akan siuman."
"Syukurlah!"
"Terimakasih dok!" Ucap Sintia seraya menundukkan kepalanya.
Saat ini Sintia sudah berada di rumah sakit yang ada di kota.
Sangat lega dengan kabar yang di berikan oleh dokter, jika Farel akan segera siuman.
Ia lalu merogoh ponselnya untuk mengabari Lisa, jika kondisi Farel sudah membaik.
.
🍁
🍁
🍁
"Pah .... Papah ..!" Teriak Larasati dengan panik, setelah membaca pesan yang di kirim oleh Jhon.
"Iya! Ada apa mah?" Yuda pun tak kalah panik, melihat ekspresi wajah istrinya itu.
__ADS_1
"Baca ini pah!" Larasati menyodorkan ponselnya.
Dengan cepat Yuda menghubungi Jhon, untuk memastikan pesan yang ia kirim.
Setelah memastikan dan mendapatkan informasi di mana Farel di rawat, Yuda dan Larasati bergegas menuju rumah sakit itu.
"Cepat sedikit pah!" Pinta Larasati yang tengah khawatir dengan kondisi putranya.
"Iya mah, ini papah sudah ngebut!" Sahut Yuda yang sudah berada di balik kemudi.
Rumah sakit tempat Farel di rawat cukup jauh dari kediaman Marwan. karena Sintia menyarankan Farel di bawa di rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari desa, mengingat kondisi Farel yang saat itu memburuk.
🍁
Singkatnya.
Kini mereka sudah berada di rumah sakit, Yuda dan Larasati melihat para pria yang berseragam serba hitam. Dan sudah bisa di pastikan kalau itu orang-orang utusan Jhon.
"Dimana ruang rawat Farel?" Tanya Yuda ketika sampai di hadapan pengawal yang sedang berjaga di lorong rumah sakit yang menuju ruang rawat Farel.
"Selamat malam tuan, Nyonya." Ucap pria itu sedikit terkejut dengan kedatangan Yuda dan Larasati.
"Cepat katakan di mana ruang rawat Farel." Yuda kembali mengulangi pertanyaannya.
"Mari saya antar tuan!"
Yuda dan Larasati mengikuti lang pria itu. Dan sampai di sebuah kamar khusus yang di gunakan untuk merawat Farel.
Nampak Sintia tengah duduk di kursi tunggu yang ada di depan kamar itu.
"Permisi, maaf anda siapa?" Tanya Larasati yang kini sudah di depan Sintia.
Sintia yang terkejut langsung bangkit dari duduknya.
Dan matanya melirik meminta penjelasan ke pengawal yang mengantar Yuda dan Larasati.
"Nona! Beliau tuan Yuda dan nyonya Larasati. Orang tua dari tuan Farel." Ujar pengawal itu.
Sintia menganggukan kepalanya.
"Maaf tuan, nyonya saya tidak mengenali anda." Ucap Sintia.
"Tidak apa-apa." Sahut Larasati.
"Tuan, Nyonya dia Sintia, yang mengantarkan tuan Farel ke sini."
"Terimakasih sudah mengantarkan putra kami." Ujar Larasati.
*
*
Merekapun terpaksa kembali meninggalkan kamar Farel atas saran dari dokter, agar Farel bisa beristirahat karna kemungkinan sebentar lagi dia akan sadar.
Kini mereka bertiga duduk di kursi tunggu.
"Terimakasih sudah menolong Farel." Larasati kembali mengucapkan rasa terima kasihnya pada Sintia. Karna gadis ini telah mendampingi Farel di sepanjang jalan menuju rumah sakit.
"Aah ... Tidak perlu sungkan Nyon..!"
"Tante! Panggil saya Tante." Potong Larasati.
"Iya .... Tante."
Larasati tersenyum hangat.
"Kau teman Farel atau ..?"
"Saya teman Yuna Tante!" Jawab Sintia memotong.
"Yuna!"
"Iya, Yunalisa yang biasa di panggil kakak ipar oleh Farel."
"LISA!" Kejut Larasati dan Yuda.
Sintia mengangguk.
"Pah! Lisa pah!" Raut bahagia terukir jelas di wajah Larasati.
"Jadi Lisa ada di desa itu?" Tanya Yuda memastikan.
Dan Sintia pun menceritakan semuanya.
"Dasar anak itu, dia sudah menemukan istrinya tapi dia tidak memberi tahu kami!" Gerutu Yuda.
Tidak ada yang tau kalau Lisa di temukan, terkecuali Julia yang telah lebih dulu mendapatkan informasi dari Anggel.
Kaisar melarang Jhon dan Farel untuk mengatakan pada keluarganya kalau Lisa ada di desa itu.
"Dia sudah menemukan Lisa, dan membatalkan pembangunan pabrik itu. Tapi kenapa mereka tidak segera kembali ke rumah." Kesal Yuda.
Dia tidak tau huru-hara apa yang tengah terjadi pada anak-anaknya hingga membuat mereka tertahan di desa itu.
Berbeda dengan Yuda yang nampak kesal dengan kelakuan Kaisar yang tidak memberitahu tentang Lisa, Larasati justru tengah sumringah dengan hati yang ber kembang-kembang.
Seperti mendapatkan doorpraiz yang berlipat.
Bukan hanya Lisa menantu kesayangannya yang di temukan, kabar yang membuat dia lebih bahagia lagi adalah Arga. Putra dari Kaisar dan Lisa.
__ADS_1
"Pah kita sudah mempunyai seorang cucu." Ucap Larasati.
Yuda mengangguk, setelah mendengar kata cucu seketika wajah Yuda berubah. Yang tadinya terlihat kesal karna putranya kini sumringah karena cucunya.
"Pah lihat, dia sangat lucu dan menggemaskan persis seperti Kaisar waktu kecil." Antusias Larasati setelah melihat foto Arga dari ponsel milik Sintia.
Sintia tersenyum melihat pasangan suami istri yang tengah berceloteh dan tersenyum lebar melihat foto-foto cucunya.
Dibalik keluarga yang tidak memperdulikan mu, Ternyata orang tua dari suami mu sangat menyayangi mu Yuna. Aku bahagia melihatnya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Lisa kembali masuk ke dalam kamar.
"Di mna dia?"
Kaisar tidak ada di tempat semula atau di sudut manapun.
Lisa mendengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi.
Tok .... Tok .... Tok ....
"Mas! Kau di dalam? Jangan di basuh lukanya. Biar aku membersihkan dan mengobatinya dulu."
Cklek....
Dengan cepat pintu terbuka.
Kaisar keluar dengan sebagai tubuh sudah terlilit handuk dan rambut yang basah.
"Mas mandi?"
"Iya!"
Lisa meneliti luka di lengan Kaisar.
"Astaga mas! Kenapa jadi semakin melebar dan dalam lukanya." Panik Lisa.
Bukan hanya semakin melebar tapi juga darah terus mengalir dari sana.
"Kau menggosoknya mas?"
Kaisar diam tidak menjawab.
Bukan hanya di gosoknya mengunakan spon mandi tapi Kaisar juga *******-***** luka itu. Hingga menjadi semakin parah.
"Ini harus segera di obati."
Lisa menuntun Kaisar untuk duduk di sofa.
"Kenapa dengan luka yang separah ini kau terlihat biasa saja." Gumam Lisa.
"Apa mas mendapatkan luka ini ketika menyelamatkan Arga?"
Kaisar mengangguk.
Lisa mulai mengobatinya, dengan membersihkan darah yang mengalir menggunakan sebuah cairan yang ia ambil dari kota obat.
Di susul dengan mengoleskan obat-obatan yang lain.
"Apa ini sakit mas?" Tanya Lisa.
Kaisar tidak menjawabnya.
"Kau sangat cantik!"
Tiba-tiba Kaisar mengucapkan kata, yang di luar tema pertanyaan Lisa.
Rupanya pria itu sejak tadi hanya fokus memandang wajah Lisa yang tengah berkutat dengan lengannya.
Lisa tak merespon karna ia tengah Fokus membalut perban di lengan Kaisar.
"Seharusnya luka seperti ini mendapatkan beberapa jahitan mas!"
Kaisar masih tidak menggubrisnya karena ia masih sibuk meneliti wajah istrinya.
Lisa gugup karena di tatap seperti ini oleh Kaisar.
"Kenap melihat ku seperti itu mas?"
"Kenapa!" Jawaban aneh kembali keluar dari bibir Kaisar.
Lisa mempercepat gerakan tangannya, karna ia tidak sanggup jika di tatap terus seperti itu olah suaminya.
"Sudah selesai." Ucap Lisa seraya memperhatikan perban itu sudah terpasang dengan sempurna.
Dan Lisa segera beranjak dari duduknya. tapi sebelum Lisa melangkahkan kakinya menjauh. Dengan satu tangan Kaisar menahan dan menarik pinggang Lisa hingga membuat Lisa terjerembah di pangkuannya.
Sedetik kemudian pandangan mata mereka saling menyapa.
"Mas masih belum puas memandangi wajah mu."
"Tapi, tangan mu terluka mas dan itu pasti rasanya sangat sakit mas harus beristirahat."
"Rasa sakit di luka ini, tidak ada apa-apanya di banding rasa sakit di hati mas tiap kali kau menolak mas."
🍁🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🍁
Terimakasih sudah mampir dan membaca cerita saya 🙏 minta dukungannya ya 🤗🤗
__ADS_1