
Dari pada aku harus menunggu di mobil lebih baik aku ikut.
Dan akhirnya, Kaisar dan Lisa benar-benar membuntuti pria itu sampai masuk ke dalam hutan. Ia sempat kehilangan jejak dari pria itu karena jarak yang cukup jauh dan pandangan yang terbatas karena hari sudah senja di tambah lagi di dalam hutan rimbun seperti ini sudah pasti gelap.
Namu.
Kaisar masih bisa memanfaatkan Indra pendengarannya.
Untuk mengetahui posisi si pria, lewat suara kaki yang menapaki dedaunan kering, yang sudah pasti menimbulkan suara jika terinjak.
Lisa yang mengikuti langkah Kaisar dari belakang terus menggenggam lengan Kaisar. Matanya berputar mengelilingi area hutan yang nampak gelap dan sangat mencekam itu, di lengkapi dengan suara-suara khas hutan lebat saling bersahutan.
Membuat siapapun yang ada di situ pasti merinding di buatnya.
"Mas, aku takut, kita kembali saja yuk!" Bisik Lisa."
Kaisar menggenggam tangan Lisa.
"Tenang, jangan takut ada mas di sini." Ucapnya menenangkan. Dan kembali melangkahkan kakinya.
Mereka kembali mengikuti pria itu, hingga sampai ke tempat seperti sebuah danau kecil tapi dengan air yang sangat jernih. Dan ada beberapa selang yang tertanam di sana, mungkin di gunakan untuk mengalirkan air.
"Tempat apa itu?"
"Itu sepertinya mata air mas, warga di sini menggunakannya untuk keperluan sehari-hari tapi aku baru tau kalau ternyata mata air itu letaknya di dalam hutan sini." Jawab Lisa.
"Tapi apa yang di lakukan pria itu!" Heran Lisa.
Di senja seperti ini, Lisa dan Kaisar tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu di tambah lagi dia menggunakan topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
Pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku jaket abu-abu yang ia kenakan. Benda itu terbungkus plastik transparan yang berukuran sangat kecil.
Dan tanpa rasa ragu, seperti sudah terbiasa pria itu menaburkan sesuatu yang ada di tangannya.
Setelah menyelesaikan apa yang di kerjakan, pria itu pergi begitu saja.
"Apa yang dia taburkan di mata air itu?" Gumam Lisa.
"Kita akan segera mengetahuinya!" Sahut Kaisar.
Setelah memastikan si pria benar-benar menjauh dari tempat itu, Kaisar dan Lisa keluar dari pengintainya di balik pohon yang berukuran besar.
Dengan meraba-raba karna pandangan yang makin menggelap pasangan suami istri itu melangkahkan kakinya secara perlahan, meski sulit karna banyaknya rantai pohon.
Akhirnya mereka sampai di titik tujuannya.
Kaisar baru mengeluarkan ponselnya untuk penerangan, karna jika tadi ia mengeluarkannya khawatir si pria misterius akan mengetahuinya.
"Apa ini!" Lisa meraih bungkusan plastik transparan yang tergeletak begitu saja di tanah.
Kaisar meraih bungkusan itu dan beruntungnya masih tersisa serbuk-serbuk di dalamnya.
"Sungguh ceroboh." Gumam Kaisar, sambil menatap plastik yang ada di tangannya.
Bagus, karena kecerobohannya itu aku jadi bisa mengetahuinya.
Dan bukan hanya satu bekas plastik saja yang mereka temukan namun ada beberapa di sana.
Sepertinya ini bukan pertama kalinya orang itu menaburkan sesuatu di mata air itu.
Lisa dan Kaisar mengambil bekas bungkusan itu dan memasukkannya ke saku jaket.
"Ayo kita pulang, ini sepertinya sudah hampir malam." Ajak Kaisar seraya menggandeng tangan Lisa.
Tapi masalahnya!!
Keduanya diam tidak bergerak atau melangkah.
"Mas, tadi kita masuk lewat mana?" Pertanyaan Lisa lontarkan pada suaminya itu yang juga tengah bingung.
Sejenak Kaisar berfikir.
"Sepertinya di sana!" Dan akhirnya Kaisar menunjukkan satu jalan. Yang sepertinya ia yakini jalan awal dia masuk ke hutan ini.
Mereka memasuki hutan terlalu dalam dan tidak memperhatikan jalan, karna fokus mereka tertuju pada si pria misterius itu.
__ADS_1
Dan sialnya hari pun semakin gelap sehingga semakin sulit bagi mereka menemukan jalan, hanya dengan berbekal senter Handphon yang mulai lowbat, mereka berdua menyusuri jalan hutan yang tentunya sangat asing bagi mereka berdua.
🍁
🍁
🍁
"Kita tersesat!"
Dan kata itu lah yang akhirnya keluar dari bibir Kaisar, setelah hampir 2 jam mereka memutari hutan itu.
"APA! Tersesat!" Tentu saja Lisa sangat terkejut mengetahui bahwa sebenarnya mereka tersesat.
"Kamu bilang tadi ini kan jalannya mas?"
"Iya, tapi mas tidak yakin. Dan sepertinya kita salah jalan."
"Bagaimana ini mas!"
Kaisar hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu tenang jangan panik, kita akan secepatnya keluar dari sini."
"Kita tersesat di hutan terlarang ini, tapi kamu masih bisa tenang mas! Sungguh luar biasa." Ucap Lisa kesal.
"Memangnya apa yang di takuti dari hutan ini." Sahutnya dengan enteng.
Memang benar apa yang di takutkan di hutan ini! tapi itu bagi mu mas, tidak bagiku. Aku rasa justru hewan buas yang malah takut padamu.
Kaisar mencoba mencari sinyal di ponselnya yang hanya tersisa 5% daya isinya.
Begitupun dengan Lisa.
KRESEK....
KRESEK.....
KRESEK...
Kuk .... Kuk ....
Kuk .... Kuk ...
KRIK ....
KRIK......
Suara-suara aneh mulai bersahutan di balik pohon-pohon yang menjulang tinggi
Di tambah dengan gelap dan dinginnya malam, sampai menusuk hingga ke tulang rusuk, menambah sempurnanya suasana mencekam di hutan, yang di klaim para warga tempat berbahaya.
Lisa mulai mengeratkan pegangan tangannya di lengan Kaisar.
Bulu kuduknya mulai bereaksi lantaran rasa takut yang luar biasa.
"Mas ....!" Rintihnya sambil matanya menatap sekeliling di mana sumber suara berasal.
"Jangan takut, itu hanya suara burung." Kaisar memeluk istrinya itu, untuk menguraikan rasa takut nya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sementara itu, di tempat lain.
"Apa! Yuna belum pulang?"
Saat ini Sintia sedang berada di rumah Kaisar, ia senaja mengunjungi rumah itu karna ada yang ingin ia tanyakan pada Lisa. Berkali-kali ia menghubungi Lisa namun ponselnya tidak aktif.
"Bukankah dia sudah pulang sejak sore tadi, tapi kenapa sudah jam segini belum sampai?" Ujar Sintia seraya melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah menunjukkan.
Pukul 20:00
"Apa Yuna sudah pulang dari sore tadi?" Kejut bude Darmi.
Sintia mengangguk.
__ADS_1
"Lalu Yuna kemana?" Bude mulai cemas dan khawatir.
"Bude tenang dulu."
"Ada apa?" Farel keluar dari kamarnya.
Mata Sintia langsung memicing padanya.
"Yuna pulang dari klinik di jemput Kaka mu itu, tapi sampai jam sekarang mereka belum kembali juga, apa yang telah di lakukan kakakmu itu pada Yuna?" Tanya Sintia penuh selidik.
"Jadi maksud mu mereka berdua hilang?" Sahutnya dengan enteng.
"Tidak usah khawatir, mereka itu Suami istri dan sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Bisa saja mereka mampir ke sebuah penginapan, lalu melakukan sesuatu yang biasa di lakukan suami istri...Dan ....!"
"Stop!" Sintia Langsung memotong perkataan Farel yang di anggapnya ngelantur.
"Kenapa?" Tanya Farel dengan wajah tanpa dosa.
Bisa-bisanya dia berekspresi dan bicara seperti itu
"Jadi Yuna pulang bersama nak Kaisar?" Tanya bude Darmi.
Sintia mengangguk.
"Iya bude."
"Jika dia pulang bersama Kaisar, kenapa kalian harus merasa khawatir. Kaisar itu suaminya tentu saja akan menjaga istrinya dengan baik. Atau mungkin memang benar mereka mampir ke sebuah penginapan atau sejenisnya" Sahut Farel.
"Nak Farel, di desa ini tidak ada yang namanya penginapan atau sejenisnya." Ucap bude Darmi.
"Kau dengar itu!" Sungut Sintia.
🍁
Semuanya terdiam untuk sesaat.
"Kita tunggu sebentar lagi, mungkin mereka masih di jalan karena mengalami macet atau apa?" Farel kembali membuka suaranya.
"Di sini bukan kota yang padat penduduk, di sini hanya sebuah desa kecil yang terpencil dan jarang sekali para warga menggunakan kendaraan bermotor. Jadi tidak ada yang namanya MACET!" Sintia kembali menepis dugaan Farel.
"Lalu!"
"Kita tunggu sebentar lagi, mungkin nak Farel benar, terjadi sesuatu di jalan hingga membuat Yuna dan nak Kaisar terlambat."
Bude Darmi. memberikan saran yang akhirnya di setujui oleh Sintia.
Sambil menunggu, mereka terus mencoba melakukan panggilan pada Kaisar maupun Lisa. Namu hasilnya tetap sama.
"Kenap ponsel mereka bisa tidak aktif secara bersamaan begini sih." Gumam Sintia.
10 menit
20 menit
30 menit
Hingga.
60 menit.
Mereka belum kembali juga.
Semuanya sudah di landa kecemasan, termasuk Farel dia yang biasanya tidak perduli soal kakaknya itu. Kini sangat kentara di wajahnya kalau dia mengkhawatir keadaan Kaisar.
Bude Darmi dan Sintia sudah jangan di tanya, kecemasan mereka sudah sampai ke seluruh penjuru dunia.
Bahkan terlihat bude Darmi yang hampir menjatuhkan air matanya.
Ia takut akan kehilangan orang yang selama ini menemaninya. Cukup sudah ia kehilangan anaknya beberapa tahun yang lalu, sekarang ia tidak mau kehilangan lagi.
Sintia memeluk bude Darmi.
"Buda, jangan cemas aku akan mencari Yuna." Ucapnya.
"Biar aku saja yang mencarinya." Sahut Farel.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏 minta dukungannya ya