Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 38. Pertemuan pertama setelah 4 tahun.


__ADS_3

" Apa, dia ingin menemui ku lagi?" Tanya Yuna terkejut.


"Iya, Yuna mereka ingin mengetahui data-data warga desa, dan pimpinan mereka menginginkan kamu yang kesana, untuk membawa berkas data-data warga, dan menjelaskannya pada pimpinan mereka." Balas pak Dadang.


"Tapi pak, kenapa harus saya? Kan bisa bapak saja."


" Meraka maunya kamu Yuna, ayolah. Sepertinya mereka sudah mulai berubah pikiran untuk membangun pabrik di desa ini."


"Baiklah." Dengan terpaksa, Yuna pun mengiyakan.


Yuna bergegas menuju kantor pembangunan dengan mengendarai motornya.


****


Tak lama, Ia pun sampai.


"Selamat pagi, saya ingin bertemu tuan Farel." Sapa Yuna.


"Selamat pagi nona, tuan sudah menunggu anda di dalam ruangannya." Balas Rizal, sambil menundukan kepalanya.


"Baik, terimakasih." Yuna berjalan menuju ruangan yang kemarin sempet ia datangi.


" Nona?" Panggil Rizal, menghentikan langkah Yuna.


"Ada apa?"


"Tuan berpesan, anda langsung masuk saja." Ucap Rizal.


"Baik." Yuna, melanjutkan langkahnya.


Sampai di depan pintu, Yuna menarik nafasnya dalam-dalam.


"Awas! Kamu Farel, jika masih ingin bermain-main dengan ku, akan ku lempar berkas ini ke wajah mu." Gerutu Yuna.


Tok .... Tok.... Tok....


"Selamat pagi, tuan Farel!" Seru Yuna, sambil mengetuk pintunya.


Tidak ada jawaban.


"Ah iya. Tadi asistennya bilang aku langsung masuk saja kan? Baik lah." Gumam Yuna, dan segera mendorong pintu itu.


CKLEK......


Pintu terbuka, dan ia langsung memasuki ruangan.


" Kenapa gelap sekali, aku jadi merinding." Gumam Yuna.


Ruangan memang nampak begitu gelap, karena semua pencahayaan dari jendela kaca itu tertutup tirai dengan rapat, dan lampu pun tidak ada yang menyala. Mengingatkan Yuna ketika ia pertama kali masuk ke kamar suaminya di mansion dulu.


Samar-samar, Yuna melihat sosok yang sedang duduk di kursi membelakanginya.


"Selamat pagi tuan Farel! Saya datang memenuhi panggilan anda, untuk membawa data-data warga di desa ini." Ucap Yuna dengan ramah.


Hening....


"Tuan Farel!" Panggil Yuna.


Tidak ada jawaban.


Akhirnya, batas kesabaran Yang pun habis untuk ber basa-basi.


"Farel, kamu jangan main-main dengan ku. Cepat! nyalakan lampu atau buka tirainya, dan segera baca berkas-berkas ini. Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain-main." Kesal Yuna.


Seseorang di balik kursi sana, sepertinya hanya ingin mendengar suara Yuna saja, tapi enggan untuk menjawabnya.


Karena penasaran, Yuna mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia takut jika sosok yang di kursi itu bukan Farel, bahkan mungkin bukan manusia.


Yuna menyalakan senter di ponselnya. Mengarahkan pada sosok itu, dan bertepatan dengan ia membalikkan kursinya ke arah Yuna. Hingga sorot cahaya dari lampu senter tepat mengarah ke wajah itu.


DEG .... Yuna terkejut luar bisa hingga ia menjatuhkan ponsel itu.


Dan.


CETLEEK......


Lampu menyala dengan terang.


Sehingga memperlihatkan semuanya dengan jelas.


Detik waktu seolah terhenti, dan bumi pun seolah ikut berhenti berputar.

__ADS_1


Ketika Yuna melihat seseorang di hadapannya.


Mas, Kaisar.


Ya, dia adalah Kaisar, buka Farel atau mahkluk misterius lainnya.


Seketika tubuh Yuna membeku, ketika tatapan Kaisar tepat mengarah ke wajahnya.


Kaisar kembali duduk di kursinya, tanpa melepaskan pandangannya pada Lisa.


"Apa kabar istri ku?"


Suara Kaisar, bagai terjangan tornado di hati Lisa. Sungguh selama bertahun-tahun ia berusaha melupakan suara ini, suara yang begitu lembut ketika memanggilnya. Kini menyapanya kembali. Dan akan menghancurkan benteng yang ia bangun selama 4 tahun ini.


Tapi tidak semudah itu! Kini ia bukan Lisa yang dulu. Sekarang dia adalah Yuna.


Lisa diam dengan pikirannya sendiri. Sementara Kaisar kembali bangkit dari duduknya dan hendak mendekati istrinya itu. Selama bertahun-tahun ia mencari keberadaan istrinya, Kini sosok yang sangat ia rindukan itu tengah berdiri tepat di hadapannya.


"Kenapa kau diam? Apa kau tidak merindukan suamimu ini, yang kau tinggalkan begitu saja selama 4 tahun!" Suara Kaisar begitu menekan.


Kaisar mulai melangkah kan kakinya semakin mendekati Lisa.


"Stop! Jangan mendekat." Ucap Lisa. Yang seketika membuat langkah Kaisar terhenti.


Lisa mencoba mengendalikan dirinya.


"Maaf tuan, saya di sini ingin bertemu tuan Farel. Tapi karena tuan Farel tidak ada, jadi berkas-berkas ini saya serahkan saja pada anda." Ucap Lisa. Mencoba berpura-pura tidak mengenali suaminya.


"Kau masih mencari pria lain, ketika suamimu ini ada di hadapanmu?" Tanya Kaisar.


Lisa mengerutkan keningnya.


Apa maksudnya.


"Lisa kita perlu bicara."


Akhirnya Lisa menyerah untuk berpura-pura.


"Mas. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi."


Kaisar menyunggingkan senyum, ketika mendengar Lisa kembali memanggilnya Mas. Panggilan yang sangat ia rindukan.


"Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu yang meninggal kan ku selama 4 tahun."


"Mas, kita sudah tidak punya hubungan apapun. Kita sudah berpisah mas."


"BERPISAH?"


"Iya mas, kita sudah lama berpisah, jadi tolong, ketika kita tidak senaja bertemu seperti ini, anggap saja kita tidak saling mengenal, kita sudah bercerai mas" Ucapan Lisa, bagai bensin yang menyulut api di hati Kaisar.


"Bercerai! Aku tidak pernah menceraikan mu Lisa. Dan sampai kapan pun kau akan tetep menjadi istri ku." Tegas Kaisar.


Bahkan dia masih bisa mengatakan itu, padahal dia sudah menikah dengan Anggel.


"Mas, tolong jangan egois."


Kaisar tidak mengindahkan ucapan Lisa. Ia kembali melangkah mendekati Lisa dengan tatapan tidak biasa. Membuat nyali Lisa menciut.


Ada apa dengannya.


Lisa segera membalikkan badannya dan hendak berlari menuju pintu keluar. Tapi gerakannya kalah cepat, dengan gerakan tangan Kaisar yang meraih pinggangnya dan membawanya dalam pelukan Kaisar.


"Mas, lepaskan." Pinta Lisa.


Namun kaisar malah membalikkan badan Lisa untuk menghadap ke arahnya, dan dengan sekejap, tatapan Meraka bertemu. Tatapan kerinduan yang berselimut kebencian itu terlihat jelas di ke dua netra Lisa dan Kaisar.


Kaisar memandang wajah istrinya itu.


Kau masih seperti dulu, cantik dan manis.


Tapi aku tidak bisa memaafkan mu, karna kau telah meninggalkan ku begitu saja.


Hati Lisa mulai berkhianat dari sang pemiliknya. Lisa mencoba sekuat-kuatnya mehan agar tidak terbuai dengan lelaki di hadapannya ini. Tapi kenapa hatinya malah berdebar ketika berada sedekat ini dengan Kaisar.


Kaisar semakin dalam menatap wajah Lisa, ia menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi wajah Lisa. Dan semakin mendekatkan wajahnya.


Dan, kesadaran Lisa kembali.


Ia mendorong tubuh Kaisar dengan kekuatan fuul.


Hingga membuat Kaisar membentur meja, namun ia sepertinya tidak merasakan sakit sama sekali. Kaisar manatap Lisa dengan tajam. Lisa yang semakin ketakutan dengan sikap Kaisar yang seperti ini segera membuka pintunya, tapi lagi-lagi tangan Kaisar jauh lebih cepat dari pergerakan Lisa. Kaisar kembali menarik lengan Lisa dan segera mengunci pintu itu.

__ADS_1


"Mas, jangan seperti ini mas. Aku harus pulang, tolong buka pintunya." Pinta Lisa, yang mulai panik.


Alih-alih membukakan pintu, Kaisar justru memasukan kunci itu kedalam saku celananya.


"Aku hanya ingin bicara pada mu." Ucap Kaisar.


"Baiklah, kita bicara tapi setelah itu tolong buka pintunya." Dan akhirnya Lisa pun mengalah.


Mereka duduk saling berhadapan. Ada rasa canggung yang luar biasa pada diri Lisa. Karna Kaisar tidak sedikitpun melepaskan pandangan pada dirinya.


"Apa yang ingin kau bicarakan mas?" Tanya Lisa. Dengan setenang mungkin.


"Kenapa kau pergi?"


"Bukan kah itu sudah tidak penting lagi mas, sekali pun aku mengatakan alasannya."


"Apa karena Anggel? Atau karena pria lain?"


Pertanyaan Kaisar semakin membuat Lisa geram. Bisa-bisanya dia bicara pria lain, jelas-jelas penyebab mereka berpisah adalah kesalahannya.


"Bahkan kau tidak pernah bertanya pada ku, dan memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan soal Anggel. Kau malah kabur begitu saja. Apa karena pria ini?" Ucap Kaisar, seraya menunjukkan foto Firman pada Lisa.


Dari mana dia mendapatkan foto Firman, baik lah jika ini bisa membuat mudah, aku akan membiarkan mas Kaisar berfikir tentang pria lain


"Itu bukan urusan mu mas."


"Tentu saja itu jadi urusan ku, karna siapapun pria yang mendekati mu. Aku tidak akan segan-segan mematahkan kakinya. Dan aku hanya ingin memastikan, agar aku tidak salah mematahkan kaki orang."


Ucapan Kaisar membuat Lisa membelalakkan matanya.


Kenapa mas Kaisar bicara seperti itu.


"Mas, aku ....!"


"Lalu di mana anak kita?"


DEG .......


Pertanyaan Kaisar membuat Lisa Sadar.


Farel benar. mas Kaisar mengetahuinya.


"Apa maksud mu Mas?"


"Lisa, kau tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari ku." Ucap Kaisar, sambil menunjukkan benda kecil itu pada Lisa. Alat tes kehamilan yang dulu bi Lilis temukan di kamar mereka.


Benda itu. ya aku meninggalkan benda itu. aku ceroboh sekali.


"Jadi, di mana anak kita sekarang?" Kaisar mengulangi pertanyaannya.


"Tidak ada anak di antara kita mas."


"Lalu, ini siapa?" Kaisar menunjukkan foto anak kecil di hadapan Lisa.


Arga! dia pun mendapatkan foto Arga. tapi foto Arga tidak jelas bukan, jadi kau tidak perlu khawatir Yuna, asal Kaisar tidak pernah pertemuan Arga, dia tidak akan mengenali Arga,sekalipun wajah mereka sangat mirip.


"Dia anak ku." Jawab Lisa


"Hanya anak mu?"


"Tentu saja."


"Lalu siapa ayahnya?"


Lisa diam tak menjawab.


"Sudah ku katakan, kau tidak bisa menyembunyikan apapun dari ku." Ucap Kaisar.


"Itu bukan urusan mu mas. Ini berkas-berkas yang kau butuhkan." Lisa mengalihkan topik pembicaraan mereka, ia ingin segera pergi dari ruangan itu.


"Aku rasa semuanya sudah selesai mas, aku permisi." Lisa beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju pintu.


Kaisar hanya diam, sambil memperhatikan istrinya itu.


"Mas tolong buka pintunya, aku harus segera pulang." Ucapnya Lisa, yang tengah berdiri di depan pintu yang tertutup.


Kaisar merogoh saku celananya. Dan. Mengeluarkan kunci yang ia sembunyikan tadi. Sepertinya Kaisar berniat menggoda istrinya.


"Ini kuncinya? Ambillah." Ucap Kaisar, sambil menggoyangkan kunci yang ada di tangannya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Terimakasih sudah mau membaca, dan memberikan dukungan pada cerita receh aku iniπŸ™πŸ™πŸ€—πŸ€—πŸ€—


❀️❀️❀️❀️❀️❀️ untuk semuanya


__ADS_2