Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 118 Kamar baru untuk Arga.


__ADS_3

Seperti niatnya, Farel tiba di Apartemennya, tapi sudah tidak ada Sintia di sana.


"Di mana wanita itu, apa dia pulang ke rumah orangtuanya." Gumam Farel.


Ia merogoh saku celananya dan mengambil benda pipih yang ada di sana.


Tut..


Tut..


Tu...


Hanya suara itu saja yang terdengar dari sebrang sana.


"Kenapa dia tidak mengangkat panggilan ku, menyebalkan sekali."


Farel kembali meninggalkan Apartemennya.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Sintia, apa kau tidak sedang membohongi Mamah jika putra Yuda adalah kekasih mu?" Tanya Meri.


Saat ini ia tengah mengintrogasi putrinya.


Ia membawa paksa Sintia dari Apartemen Farel, untuk pulang ke rumah.


Dan nampaknya Meri masih ragu dengan semua penuturan yang di katakan Lisa dan Sintia.


"Itu benar mah, aku tidak bohong, Mamah juga sudah mendengar sendiri dari Kaisar kan? Dia itu kakaknya, anak tertua tuan Yuda."


"Tapi Mama tidak bisa percaya begitu saja,"


"Mamah masih tidak percaya juga, aku tinggal di Apartemennya selama beberapa bulan, dan apa Mamah kira, seseorang akan membiarkan orang lain tinggal di Apartemennya tanpa orang itu memiliki hubungan khusus." Sintia masih terus berusaha meyakinkan Mamanya.


Meri diam sejenak, ia mulai berfikir apa yang di katakan Sintia benar.


Tapi tiba-tiba ia membelalakkan matanya.


"Sintia! Jadi kau tinggal bersama dengan kekasih mu itu?" Bentak Meri.


"Tidak mah, aku hanya menempati Apartemennya tapi tidak tinggal bersama."


"Baguslah, kau seorang wanita harus bisa menjaga kehormatan mu."


"Iya mah, aku tau itu."


🍁🍁🍁🍁


Seperti yang sudah di janjikan.


Hari ini keluarga Airlangga pergi menuju rumah orangtua Sintia, dengan tujuan.


Tentu untuk meminang Sintia.


Sintia cukup terkejut dan tidak percaya jika Farel benar-benar datang bersama keluarganya.


Sebelumnya Lisa sudah memberi tau Sintia akan hal ini, tapi Sintia ragu karna ia tahu betul seperti apa Farel, lelaki itu pasti akan menolaknya.


Acara lamaran berjalan sesuai rencana, Meri menyambut kedatangan keluarga Farel dengan suka cita.


Dan hari pernikahan mereka akan di tetapkan Minggu depan.


🍁🍁🍁🍁


"Aku tidak menyangka jika sahabat ku akan menikah dengan Farel, adik suami ku sendiri." Gumam Lisa, yang kini tengah berada di dalam kamarnya.


"Mas!"


"Eemm.." Sahut Kaisar, yang tengah berkutat pada laptopnya.


"Kau masih bekerja Mas?"


"Iya, tapi sebentar lagi selesai, apa ada sesuatu?"


"Tidak mas, kau kerjakan saja pekerjaan mu, aku mau turun sebentar." Sahut Lisa.


"Tetap di sini, jangan pergi kemana-mana." Cegah Kaisar.


Apa aku harus menemaninya bekerja lagi, aku kan ingin keluar.


"Baiklah, apa mas mau minum sesuatu, biar aku ambilkan." Lisa masih mencari alasan agar bisa keluar dari kamarnya.


"Tidak." Jawab Kaisar.


Kenapa jawabannya harus tidak!


Lisa mendudukkan dirinya di sofa tidak jauh dari tempat Kaisar bekerja, ia meraih ponselnya dan berselancar di aplikasi chat berwarna hijau, logo gagang telepon.


[Astaga Lisa, aku sangat gugup menghadapi Minggu depan, bagaimana ini]


Satu pesan ternyata sudah masuk ke ponsel Lisa sejak satu jam yang lalu.


Dengan cepat Lisa mengetik sebuah balasan untuk Sintia.


[Itu sangat wajar, saat aku menikah dengan mas Kaisar pun seperti itu, bahkan aku hanya di beri waktu 2 hari saja, padahal, sebelumnya aku baru satu kali bertemu dengan mas Kaisar.]


Dan beberapa pesan lainnya, yang membuat Lisa cekikikan sendiri sambil menatap layar ponselnya.


"Kau sedang mengirim pesan pada siapa?" Tanya Kaisar, yang ternyata tengah memperhatikannya.

__ADS_1


"Dengan Sintia mas."


Lisa segera meletakkan ponselnya, dan menghampiri Kaisar.


"Mas, apa aku boleh keluar sebentar."


"Mau kemana?"


"Ini sudah jam 8 mas, tapi kenapa Arga belum masuk ke dalam kamar, aku ingin melihatnya apa dia masih bermain bersama bi Lilis, ini sudah waktunya Arga tidur."


"Arga Sudah ada di Kamarnya, dan saat ini ia sedang tidur." Sahut Kaisar, tapi matanya masih mengarah pada laptopnya.


"Kamarnya?"


Kaisar mengangguk, dan menutup laptopnya.


"Sayang, Arga sudah cukup besar, jadi mulai malam ini dia akan tidur terpisah dari kita, dan dia sudah mempunyai kamarnya sendiri."


"Kau yakin mas? Arga masih kecil, dia tidak bisa tidur jika tidak bersama ku."


"Mas sangat yakin, dan siapa bilang dia tidak bisa tidur tanpamu, kau lihat ini."


Kaisar membuka ponselnya, yang ternyata terhubung dengan Cctv yang ada di kamar Arga.


Terlihat jelas di sana, jika Arga tengah tertidur pulas.


"Kenapa kau tidak bilang kalau Arga mempunyai kamarnya sendiri."


"Jika mas bilang kau pasti tidak akan mengijinkan."


"Aku mau melihat Arga."


"Baiklah, jangan lama-lama, segera kembali."


Lisa segera keluar dari kamar itu.


Mas Kaisar keterlaluan, Arga kan masih kecil , kenapa harus di biarkan tidur sendiri.


Lisa membuka pintu kamarnya putranya itu.


"Astaga! Mas Kaisar." Geram Lisa.


Yang melihat ornamen dan pernak-pernik, gambar-gambar yang ada di kamar baru Arga.


Pasalnya, semua kamar Arga yang harusnya di hiasi dengan gambar-gambar layaknya anak kecil seusianya, seperti tokoh kartun atau robot dengan warna dinding yang cerah dan berwarna.


Tapi ini, semua tembok kamar Arga berwarna gelap, yang di dominasi dengan warna hitam dan abu-abu, yang paling membuat Lisa tak percaya, bisa-bisanya di kamar itu di penuhi dengan gambar-gambar yang menurut Lisa menyeramkan dan sangat tidak pantas untuk anak-anak.


Seperti gambar tengkorak lukisan pisau, dan beberapa poster binatang buas ada di sana.


Lisa menghampiri Arga yang tengah tertidur pulas di ranjang, anak itu nampak terlihat nyaman tidur di kamar barunya, padahal penerangan di kamar ini sangat minim, bukankah Arga tidak suka gelap, tapi kenapa di nyaman tidur di kamar yang remang-remang seperti ini.


Setelah mencium pipi Arga, dan membenahi selimutnya.


Lisa keluar dari kamar Arga, dan ia kembali ke kamarnya.


🍁


"Mas."


"Kenapa kau lama sekali, bukankah Arga sudah tidur."


Lisa tidak menggubris perkataan Kaisar, ia sedang kesal.


Lisa melangkahkan kakinya mendekati Kaisar, yang tengah menyandarkan tubuhnya di ranjang.


"Mas, kenapa kamar Arga di buat menyeramkan seperti itu?"


"Menyeramkan?" Kaisar menautkan kedua alisnya. "Apanya yang menyeramkan, bukankah itu terlihat keren?"


"Astaga! Apanya yang keren Mas, justru itu terlihat sangat menyeramkan, dan sangat tidak cocok untuk anak-anak,"protes Lisa.


"Tapi Arga yang menginginkannya Sayang, kalau kau tidak percaya bisa tanya pada bi Lilis dan Jhon." Bela Kaisar.


"Besok aku akan mengganti semuanya, atau Arga tetep tidur di sini bersama kita."


"Tapi Arga akan menangis jika kamarnya di rubah sayang."


"Kalau begitu biar Arga tidur bersama kita,"


"Bagaimana kita bisa cepat memberi adik untuk Arga, jika Arga masih tidur bersama Kita."


"Mas!"


Kaisar menarik tangan Lisa dan membawa wanita itu ke pangkuannya.


"Sayang, mas sungguh ingin memberikan adik untuk Arga, dulu waktu kau hamil dan melahirkan Arga, mas tidak berada di momen itu, dan mas sangat menyesali itu semua, dan mas tidak pernah menggendong seorang bayi, sekarang mas ingin merasakan momen itu semua sayang, Mas ingin menggendong bayi."


Kaisar memeluk Lisa yang ada di pangkuannya.


"Iya mas, tapi hamil itu tidak bisa di paksakan dan butuh waktu."


"Tidak apa-apa, kita akan mencoba dan berusaha setiap malam,"ucap Kaisar, di iringi dengan senyuman yang mencurigakan.


"Tidak untuk malam ini mas,"


"Kenapa?"


"Aku sedang datang bulan."

__ADS_1


Seketika wajah Kaisar merubah menjadi suram, dan tak bersemangat.


Sial, kenapa harus ada yang namanya datang bulan.


Kaisar merebahkan dirinya dan Lisa.


"Baiklah, kita lakukan itu setelah kau selesai dengan bulan, untuk malam ini kita bisa berpelukan saja."


"Jika hanya berpelukan, Tangan mu jangan berkeliaran kemana-mana mas."


"Mas, tidak senaja."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Satu Minggu kemudian.


Hari yang di nantikan tiba.


Kini mereka semua sedang bersiap-siap untuk pergi ke gedung tempat Farel dan Sintia menikah, pernikahan mereka di adakan secara meriah dengan banyaknya tamu undangan yang turut serta hadir di resepsi pernikahan itu.


Berbeda sekali dengan pernikahan Lisa dan Kaisar dulu, yang di lakukan di rumah Yusuf dengan sangat sederhana bahkan hanya ada teman dan beberapa kerabatnya saja yang hadir.


Kaisar sudah sangat rapih dengan setelan jas hitam yang sangat sempurna melekat di tubuhnya, begitupun dengan Arga dia mengenakan pakaian yang senada dengan Kaisar.


"Anak mamah sangat tampan." Puji Lisa, yang terus menciumi pipi Arga.


"Kenapa kau hanya memuji Arga saja."protes Kaisar.


"Kau juga sangat tampan mas." Lisa menghampiri Kaisar, dan merapihkan dasi yang terlihat sedikit miring itu.


Kaisar menahan pinggang Lisa, dan membawanya lebih dekat hingga tak berjarak, ia membisikan sesuatu tepat di telinga Lisa.


"Sayang, apa datang bulan mu sudah selesai,"


"Sudah."


"Kalau begitu, malam nanti kita akan melakukan malam pertama,"ucap Kaisar, yang membuat Lisa merinding karena lelaki itu menggigit lembut telinganya.


"Malam pertama! Yang menikah itu Farel dan Sintia mas, bukan kita."


"Bukankah ini juga malam pertama bagi kita setelah satu Minggu lamanya, bagaimana kalau sekarang kita melakukan pemanasan dulu."


"Hentikan mas, di sini ada Arga," Lisa mendorong tubuh Kaisar, karena lelaki itu terus saja menciumi lehernya dan sesekali menggigitnya dengan lembut.


"Mas bisa meminta Arga untuk ke kamarnya."


"Tidak mas."


Lisa sudah mulai gelisah dengan perlakuan Kaisar. Ia tidak bisa menghentikan jika suaminya sudah seperti ini, semakin ia mendorong tubuh besar itu semakin erat Kaisar memeluknya.


Sementara Arga ia tengah sibuk dengan beberapa mainannya.


Tok..


Tok..


Tok...


"Nona, ini baju untuk anda sudah datang!"


Suara bi Lilis terdengar dari luar kamar, dan menyelamatkan Lisa untuk sesaat.


"Mas, aku buka pintunya dulu ada bi Lilis di luar."


Dan dengan terpaksa Kaisar pun melepaskan cengkeramannya.


"Mengganggu saja." Gerutunya.


CKLEEEK....


"Nona ini bajunya."


"Terimakasih bi."


Lisa meraih gaun yang bi Lilis bawakan.


"Kalau begitu bibi permisi dulu nona."


"Iya, sekali lagi Terimakasih bi."


Lisa menutup pintu kamarnya.


Dan membawa gaun yang kini ada di tangannya.


Sebenarnya Luna dan Larasati sudah menyiapkan sebuah gaun untuk Lisa, yang memiliki warna yang sama dengannya. Tapi Kaisar melarang istrinya menggunakan gaun itu, dengan alasan terlalu terbuka.


Dan Luna kembali mencarikan gaun yang cocok untuk kakak iparnya itu.


"Mas, aku akan mencoba gaunnya dulu,"ucap Lisa, dan melangkah ke ruang ganti.


"Kenapa harus ke ruang ganti, kau bisa mencobanya di sini saja, mas juga ingin melihatnya."


"Di sini ada Arga mas." Kesal Lisa, dan segera masuk ke dalam ruangan ganti.


🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏🤗😘


Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya ❤️❤️❤️ Love banyak-banyak untuk semua.

__ADS_1


__ADS_2