
"Raka, itu adik ku Mas, masa mas tidak tau." Sahut Lisa.
"Adik!" Kaisar mulai mencari dan mengorek isi kepalanya, mengingat-ingat nama Raka.
Dan akhirnya dia ingat, beberapa tahun yang lalu Jhon pernah mengatakan jika Lisa mempunyai adik lelaki dari pernikahan Yusuf dan Mona.
"Apa mas sudah ingat? Apa jangan-jangan mas tidak pernah tau kalau aku mempunyai adik lelaki selain Sela?" Tanya Lisa.
"Iya, Mas sudah ingat, untuk apa dia mengirimu surat? Jaman sudah modern seperti ini tapi ia masih saja berkirim surat." Cetus Kaisar.
"Dia merindukan ku Mas, dan memangnya kenapa jika di jaman sekarang seseorang mengirim surat."
"Merindukan mu?" Kaisar hanya Fokus pada kata itu saja.
"Iya, kami sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu, sudah pasti ia sangat merindukan ku, begitupun sebaliknya, aku sangat merindukan adik lelaki ku yang Lucu dan manis itu."
Kaisar menggelengkan kepalanya.
"CIK... CIK.. Kau berani sekali memuji lelaki lain di hadapan suamimu ini?"
"Lelaki lain? Raka adikku Mas."
"Tapi dia seorang lelaki."
Aahh dia mulai lagi, jika aku menanggapinya bisa-bisa dia Kambuh.
"Ya sudah. Sekarang lebih baik Mas mandi, aku akan siapkan air dulu."
Kaisar menarik tangan Lisa yang hendak berlalu, dan membuat Lisa jatuh di pelukan Kaisar.
"Sudah Mas ingatkan, jangan pernah menyebut nama lelaki lain, apa lagi memuji dan dan sampai merindukannya." Ucap Kaisar, yang lebih terdengar seperti sebuah bisikin yang mengerikan, tepat di telinga Lisa.
"Tapi dia adikku mas?"
"Tidak perduli, dia adikmu atau bukan, Mas tetep tidak suka dan tidak mengijinkannya."
"Mas cemburu dengan Raka?"
"Tentu saja, kau taukan jika Mas sudah cemburu seperti apa" Sahut Kaisar cepat.
Lisa jadi merinding dengan kata-kata yang Kaisar ucapkan lalu ia bayangkan.
Sungguh! jangan sampai itu terjadi.
"Mengerti?" Tanya Kaisar memastikan.
Lisa mengangguk.
"Iya, aku mengerti."
Apa lagi yang bisa aku katakan Selain itu.
"Bagus!"
CUP....
Kaisar mengecup bibir Lisa.
"Tapi mas!"
"Kenapa?"
"Raka, dia Lusa akan kembali ke tanah air."
"Tidak masalah, yang penting, kau jangan terlalu dekat dengan lelaki itu."
"Baiklah!" Pasrah Lisa.
Kali ini, ia tetap harus mengalah dulu, agar suaminya ini tidak kambuh, besok-besok ia akan merayu agar di ijinkan bertemu dengan Raka.
"Sudah mas, lepaskan! Aku mau menyiapkan air dulu." Pinta Lisa.
Kaisar melepaskan pelukannya.
"Terimakasih sayang!"
Cup .
Ia kembali memberikan kecupan di bibir kening dan pipi Lisa.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah Jhon Memeriksa semua rekaman CCTV.
Ia jadi tau jika Luna mendapatkan perundungan dari beberapa karyawan di kantor.
Ia juga tau jika wanita yang terluka itu masuk kedalam Toilet dan di susul Luna di belakangnya. Setelah itu Luna hanya keluar seorang diri.
Dengan rekaman itu Jhon sudah bisa memastikan jika Luna yang melakukan itu.
Ia segera mengamankan semua CCTV yang merekam Luna dan 3 wanita pembuly itu, jangan sampai ada orang lain yang melihatnya.
🍁🍁
BRAK!
Sebuah meja di gebrak sangat kuat!
__ADS_1
Sampai membuat semua orang terkejut.
"Ada apa?" Tanya Luna, yang juga terkejut, karna mejanya yang di Gebrak.
"Kau masih bertanya ada apa?" Tania menajamkan matanya menatap lekat Luna.
Sementara yang lain hanya bisa bisik-bisik memandang mereka berdua.
Tania memanfaatkan kesempatan itu.
"Hay!" Teriaknya.
Yang membuat perhatian para karyawannya tertuju padanya.
"Kalian lihat anak baru ini?" Tania menunjuk Luna, yang masih duduk di kursinya.
"Dia dengan berani dan tidak tau malu, menggoda tuan Jhon di ruangannya!" Ucap Tania.
Luna mendongakkan matanya menatap Tania.
Apa yang di katakan wanita gila ini.
"Apa itu benar?" Tanya karyawan yang lain.
"Iya, mana mungkin dia berani menggoda tuan Jhon, dia kan anak baru!"
Beberapa suara mulai saling menyahut meladeni perkataan Tania.
Dan Tania kembali menyalak bara api.
"Aku melihatnya sendiri, dia memasuki ruangan tuan Jong secara diam-diam, dan mulai menggodanya di sana, kalau kalian tidak percaya, kita lihat saja! Sikap Tuan Jhon pasti berubah drastis pada wanita ini, karna ia sudah berhasil menggoda Tuan Jhon!"
Luna masih bersabar menahan emosinya, meskipun Tania sudah bicara yang tidak-tidak tentangnya.
Ia tidak boleh lepas kendali di hadapan semua orang.
Dan ia juga tidak boleh mengatakan jika dia ternyata istri Jhon, karena ia sudah berjanji dengan Yuda.
"Hey, culun! Apa itu benar? Kau tidak tau malu sekali berani menggoda atasan kita, kau sadar diri tidak?" Satu wanita sudah terpancing dan mulai kesal dengan Luna.
"Aku dengar tuan Jhon sudah menikah apa itu benar?"
"Tidak! Itu hanya rumor, yang sudah menikah itu tuan Kaisar." Sahut rekan kerja yang lainnya.
"Jadi, lebih baik kau berkaca diri, tuan Jhon saja sampai sekarang belum menikah karena dia terlalu memilih warna yang sempurna, dan kau! Dengan tampilan seperti ini berniat menggoda tuan Jhon, sungguh memalukan." Ocehan pedas di layangkan oleh wanita, yang senaja di bayar oleh Tania untuk memperkeruh suasana.
"Iya dasar tidak tau malu!"
Tania tersenyum puas mendengar ocehan dan celaan dari para karyawan pada Luna.
Luna meremas jari-jarinya, ia sudah tidak bisa lagi menahan jiwa yang tersembunyi, yang ingin segera mencakar dan mengoyak habis tubuh wanita yang ada di hadapannya itu.
Luna menatap satu-persatu wajah orang-orang yang menertawakan nya.
Luna sudah menggerakkan tangannya.
Tapi.
"Sayang!" Suara berat seseorang, menghentikan semua tawa yang ada di sana.
Tap.
Tap.
Tap.
Suara langkah kaki mendekat dan terhenti persis di sebelah Luna.
Dia adalah Jhon.
Lelaki itu melingkarkan tangannya di pinggang Luna, dan mencium kening Luna.
Semua mata terbelalak, melihat pemandangan itu.
Mereka sampai mengucek matanya, untuk memastikan jika mereka tidak salah lihat.
"Sayang, apa mereka menggangu mu? Kenapa mereka tertawa seperti itu?" Tanya Jhon dengan lembut, tapi menatap tajam ke semua orang yang menertawakan Luna.
Luna menetralkan amarah di hatinya.
Dan Jhon berbisik di telinga Luna.
"Tahan emosi mu, ini kantor papah Yuda, Jangan di tempat ini jika kau ingin memberi pelajaran pada mereka, kita lakukan di luar kantor."
Mendengar bisikan Jhon, Luna sudah bisa mengendalikan emosinya yang hampir saja meledak, dan bisa jadi akan mencoreng nama baik perusahaan papahnya.
Semua masih mantap mereka berdua.
Bahkan ada yang menduga jika Jhon benar-benar sudah termakan rayuan Luna.
"Tidak apa-apa tuan, mereka hanya menuduh ku jika aku telah menggoda tuan Jhon!" Ucap Luna.
"Menggoda?"
Jhon menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Sepertinya Jhon sudah tidak bisa lagi membiarkan ini semua terjadi, dia takut jika akan berdampak buruk pada Luna.
__ADS_1
Jhon menjentikkan jarinya, dan mendekatlah seorang pria yang bisa di pastikan bahwa dia anak buahnya.
"Siap tuan!"
"Capat kau catat siapa saja yang menertawakan Luna dan meledeknya, dan pecat mereka secara tidak hormat dan tanpa pesangon sedikitpun, dan pastikan mereka tidak di terima bekerja di Perusahaan manapun."
Titah Jhon.
Yang membuat semua menganga, dan ketakutan.
"Baik tuan, Segera saya lakukan!"
"Maaf, tuan Jhon, apa alasan anda memecat kami?" Satu orang berani bertanya.
Jhon tersenyum miring, dan berkata.
"Karena kalian, sudah berani mencela dan menertawakan istri saya."
DUARRR....
Semua terkejut dengan pengakuan Jhon.
"Istri?"
"Iya, Luna adalah istri saya, dan Luna juga putri pemilik perusahaan ini, tuan Yuda Wijaya."
Perkataan Jhon sontak membuat semua yang mendengarnya, menjadi lemas seperti tak bertulang, bahkan untuk menopang tubuh mereka sendiripun tidak sanggup mereka lakukan.
"Tu... Tuan maafkan kami!"
"Nona maafkan kami!"
Dan puluhan ucapan maaf, dan permohonan mengudara di gedung itu.
Tapi Jhon Sama sekali tidak memperdulikannya.
"Ayo sayang Kita pulang!" Ajaknya pada Luna.
Lalu ia berpesan pada anak buahnya.
"Kau harus pastikan, mulai besok mereka tidak lagi bekerja di kantor ini, dan khusus untuk dia,"tunjuk Jhon pada Tania, yang sedari tadi diam tanpa suara.
"Berikan kenang-kenangan sepesial untuk wanita ini ." Sambungnya.
Yang di balas anggukan mantap oleh anak buahnya.
Tentu semua sudah tau bukan kenang-kenangan sepesial apa yang di maksud Jhon.
Luna dan Jhon pergi dari kantor itu.
Di iringi rasa takut dan penyesalan dari para karyawan yang mengejeknya tadi.
Mereka semua menyalahkan Tania.
Karena wanita itulah yang memancing mereka untuk menghina Luna.
Tapi semua sudah tidak ada artinya.
Jhon sudah memberikan perintah dan anak buahnya tanpa ragu melaksanakan semua perintah itu.
Bahkan ia sudah menyiapkan sebuah kenangan-kenangan untuk mereka, khususnya untuk Tania.
Karena Jhon dan Luna yang akan memberikannya secara langsung di Markas.
🍁🍁🍁
Dua hari berlalu.
Luna sudah tidak lagi bekerja di Kantor, Karena Jhon pun sudah kembali bekerja di kantor Kaisar.
Saat ini gadis itu tengah menikmati mainan barunya.
Yaitu Tania.
Tania di sekap sudah dua hari di Markas.
Dan Jhon membebaskan istrinya itu untuk melakukan apapun pada wanita yang yang sudah berani menabuh gendang perang dengan Luna.
Jika sudah di Markas, Luna bukan seperti dirinya, ia sama kejamnya dengan Jhon dan Kaisar.
Luna menyayat kulit putih Tania, sambil tersenyum dan terus tertawa mengiringi rintihan Tania, yang memohon ampun.
Tania sudah salah berani dengan Luna, dia sangat menyesali semua yang ia lakukan, tapi itu semua sudah tidak ada gunanya lagi.
Hanya memohon ampun yang bisa Tania lakukan, dan itu semakin memicu Luna untuk berbuat kejam.
Luna semakin bernafsu.
Untuk melukis di kulit Tania, dengan sebilah belati tajam dan silet yang sudah di sediakan anak buah Jhon.
Tanpa di ajari Jhon, Luna sudah sangat berbakat di bidang itu.
Sungguh luar biasa!
🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🤗
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️😘