
Lisa sudah berada di tangan- tengah hutan kecil itu, ia tengah mengatur nafas untuk kembali berteriak agar Toni dan pasukannya dapat menemukan keberadaannya.
Dan Nur, yang merasa keadaan sudah cukup aman ia menyalakan mesin mobil dan mulai melaju menjauh dari hutan itu.
Toni dan anak buahnya masih terus mengejar Lisa, begitupun juga dengan Kaisar.
"Tuan, sebelah sana!"
"Kalian kejar terlebih dahulu, saya lelah, tangkap wanita itu beserta anak-anaknya,"titah Toni yang tengah bersandar di pohon, karena ia sudah merasa cukup lelah karena sejak tadi berlarian.
"Baik, tuan!"
🍁
"Haha.. mau kemana kau? Sudah tidak ada tempat untuk berlari lagi, jadi lebih baik kau menyerah saja."
Lisa kini sudah di kepung dengan orang-orangnya Toni.
Dan tidak ada jalan lain lagi, Lisa akan coba menghadapi mereka meskipun ia tau itu tidak akan berhasil, tapi setidaknya ia bisa melawan sedikit dan sekarang anak-anaknya pun dalam keadaan baik-baik saja.
Anak buah Toni bingung karena ternyata Lisa hanya seorang diri tidak bersama dengan anak-anaknya.
"Di mana anak-anak mu?" Tanya penjahat itu.
"Anak? Aku tidak membawa anak-anak ku."
"Jangan berbohong kau, kami hanya membutuhkan putra Kaisar saja, jadi cepat katakan kau sembunyikan di mana anak mu itu?"
"Aaah... sudah jangan banyak omong, cepat tangkap wanita itu, dengan begitu kita akan mengetahui dimana dai menyembunyikan anaknya."ucap temannya.
Lisa sudah memegang sebuah kayu yang berukuran tidak besar bisa di bilang kecil, yang mungkin bisa ia jadikan untuk melindungi diri.
Ketika satu orang sudah mendekati, Lisa langsung menghajar orang itu dengan kayu yang ia temukan.
Haha...
Hahaha...
Namun mereka semua malah tertawa terbahak-bahak, seolah meledek Lisa.
"Nona, senjata mu ini sama sekali tidak menyakiti ku apa lagi sampai membuat ku mati, Haha..!"
PLTAK.
Mereka merampas kayu yang ada di tangan Lisa, lalu mematahkannya.
Lisa semakin terpojok dan pasrah, jika memang orang-orang itu menangkapnya.
Mereka semakin mendekat dan akan menangkap Lisa.
"Berani kalian menyentuhnya, saat itu juga kalian akan kehilangan tangan dan nyawa kalian!"
Tiba-tiba suara berat muncul di balik rumpunan pohon.
Dan secara bersamaan mereka semua menoleh ke sumber suara.
"Mas!" Ketika sudah putus asa dan pasrah, akhirnya Lisa kembali bernafas dengan lega dan memiliki harapan untuk bisa selamat, ketika melihat Kaisar muncul di sana.
Mereka terkejut melihat Kaisar yang tiba-tiba muncul di situ.
Cepat-cepat mereka membuat formasi untuk menghadapi Kaisar.
Kaisar berjalan dengan cepat.
Dua orang menghadang Kaisar.
"Kau tidak bisa melewati kami begitu saja!"
Tanpa basa-basi Kaisar mengeluarkan senjata api.
Dan.
DOR!
Satu tembakan tepat mengenai kening pria yang menghadangnya.
Mereka membelalakkan mata, berfikir tidak akan mungkin menghadapi Kaisar yang ternyata membawa senjata api, sedangkan mereka tidak membawa apapun karena senjata yang serupa dengan Kaisar, berada di tangan Toni, tapi Bosnya itu tidak kunjung muncul entah dimana pria paruh baya itu.
Kaisar yang tidak mau membuang-buang waktu, jika harus menghajar atau berkelahi dengan mereka, ia kembali melesatkan beberapa tembakan yang tepat mengenai Jantung mereka.
Sebenarnya Kaisar sangat bernafsu untuk mencabut nyawa para suruhannya Toni dengan caranya sendiri, tapi saat ini ia lebih mementingkan Lisa terlebih dahulu, jadi ia bantai orang-orang itu dengan cara yang praktis agar langkah kakinya tidak terhalangi.
Tersisa dua orang yang dengan cepat berlari menjauh dari jangkauan Kaisar.
DOR..
DOR..
Dan sejauh apapun mereka berlari, tentu Kaisar tidak akan membiarkannya lepas begitu saja.
Setelah semua habis hanya dalam hitungan detik, Kaisar menghampiri Lisa.
"Sayang! Kau baik-baik saja?" Kaisar meneliti setiap tubuh dan wajah Lisa, yang ternyata telah terluka di beberapa bagian tubuhnya.
"Aku baik Mas! Selain masih merasa lelah Lisa juga merasa terkejut, dengan Kaisar yang dengan mudah dan tanpa beban menembaki pasukannya Toni.
"Maaf, maafkan mas, yang sudah lalai membiarkan mu dan anak-anak di Mansion tanpa pengawasan yang baik,"kaisar mengedarkan pandangannya.
"Sayang, di mana anak-anak?"
"Anak-anak bersama Nur, Mas."
"Apa Nur?"
"Iya, aku akan menjelaskan semuanya Mas, yang jelas Nur tidak akan menyakiti anak-anak."
"Tapi wanita itu jahat, dia yang menyebabkan semua masalah ini."
__ADS_1
"Tapi Nur juga yang menolong ku mas, dia yang memperingatkan aku untuk pergi dari Mansion karena ada beberapa orang jahat yang akan datang ke Mansion, sebelum kau pergi ke rumah sakit, tapi aku tidak mengindahkan, dan ternyata benar mansion di serang, dan Nur datang ke sini untuk menolongnya ku dan anak-anak."
"Tapi wanita itu juga yang menciptakan semua ini, dia bersekongkol dengan Toni untuk menghancurkan kita,"kesal Kaisar.
"Tapi Mas...!"
"Sayang, cukup! Sekarang kita pergi dari sini, luka-luka mu harus segera di obati."
Tak lama beberapa anak buah Kaisar tiba.
Kaisar memerintahkan sebagai dari mereka untuk mengejar Nur, yang kemungkinan masih berada di jalan, dan sebagain lagi tetep di hutan dan kawasan Mansion untuk mencari keberadaan Toni yang tiba-tiba menghilang, mereka sangat yakin jika Toni masih ada di sekitar sini dia pasti tengah bersembunyi.
Kaisar membawa Lisa kembali ke Mansion, ia tengah mengobati luka-luka yang Lisa alami.
"Pengawal tengah menjemput dokter untuk memeriksa kondisi mu."
Setelah mengobati luka Lisa, Kaisar menyerahkan ponselnya pada Lisa.
"Hubungi teman mu, dimana dia membawa anak-anak."
Lisa meraih ponsel itu dan segera menghubungi Nur.
Tersambung!
Dan Nur pun menjelaskan jika dia sudah berhasil membawa Arga dan bayinya ke tempat yang aman, yaitu di Rumah adik sepupunya.
Setelah mendapatkan informasi itu, Kaisar menghubungi Jhon untuk menjemput anak-anak dan juga menangkap Nur.
Dia terpaksa meminta Jhon yang menjemput anaknya karna saat ini ia tidak bisa meninggalkan Lisa di Mansion, karena kemungkinan besar Toni masih di sekitar sana.
"Mas, tolong jangan lakukan apapun pada Nur, kita dengarkan dulu penjelasan dia, aku yakin Nur pasti akan bertanggung jawab dan Luna akan segera di bebaskan."
Namu Kaisar tidak mengindahkan permintaan Lisa.
"Sayang, dia itu wanita jahat, kau sudah di pengaruhi olehnya."
"Mas, cukup tangkap dia saja dan serahkan pada polisi, tapi jangan melakukan apapun padanya."
"Istirahatlah, sebentar lagi Dokter akan datang, kau baru beberapa hari yang lalu melahirkan, kau tidak boleh terlalu banyak mengkhawatirkan orang lain."Kaisar membantu Lisa untuk berbaring di ranjangnya.
Dia bingung harus menjelaskan apa lagi pada Kaisar, Nur, memang dia salah tapi Kaisar juga harus tau jika nur juga yang membantunya.
Lisa hanya takut jika Kaisar berbuat kasar bahkan sadis pada Nur.
"Mas, bagaimana kalau kita saja yang menjemput anak-anak, aku tidak perlu Dokter mas, aku hanya ingin segera bertemu dengan anak-anak, Clara, pasti dia rewel Mas."
"Tidak! Kau tengah terluka, jadi kau tetap disini sampai Dokter datang memeriksa keadaan mu, jangan khawatir Jhon akan segera membawa anak-anak pulang ke Mansion, dengan selamat!"
🍁🍁
Nur meletakkan bayi yang mulai rewel itu di atas kasur.
"Cup. Cup. Cup. Diam manis, apa kau mencari ibumu, kasihan sekali,"Nur berusaha menenangkan bayi itu.
Arga terus saja memperhatikan gerak-gerik Nur, ia selalu teringat dengan kata-kata Kaisar tentang Nur tempo hari.
"Mamah akan menyusuinya,"sahut Arga.
"Menyusui? itu sulit." Karna tidak mungkin jika Nur menyusui bayi itu, jadi ia lebih memilih untuk menggendongnya.
"Tante apa tadi yang menelpon mamah?"
"Iya, Tante senang mamah mu selamat dari orang-orang itu, dan sebentar lagi mamah mu akan menjemput kalian."
Tok ..
Tok..
Tok..
"Siapa itu? Tidak mungkin jika Lisa kan, karena baru beberapa menit ia menelpon tidak mungkin tiba-tiba datang secepat ini ,"gumam Nur.
Nur kembali melekatkan Clara di kasur.
"Arga tunggu di sini sebentar ya, jaga adik bayi mu."
Tanpa ragu dan meras curiga, Nur keluar kamar dan membuka pintu rumah itu,
CKLEEEK...
Setelah pintu terbuka lebar, seseorang menodongkan senjata pada Nur.
"Kau berani berhianat pada Bos Toni? Dengan membawa anak-anak Kaisar di sini."
Dia adalah anak buah Toni, yang tidak senaja melihat Nur yang tengah membawa anak-anak Kaisar, Lalu ia mengikutinya sampai sini.
Nur tidak dapat melakukan apapun bahkan untuk bergerak sekalipun.
"Apa mau mu?"
"Tantu saja anak laki-laki itu."
"Dia tidak ada di sini."
"Jangan bohong kau, aku melihatnya sendiri jika kau membawa anak itu kesini."
Nur tetep menggelengkan kepalanya.
"Kau tau Nur, jika nyawa ibumu yang menjadi taruhannya atas semua perbuatan mu ini?"
Nur diam, dia baru menyadari jika nyawa ibunyapun dalam bahaya.
"Kau sudah mengingkari janjimu pada tuan Toni, dan kau akan tau akibatnya."
Ternyata diam-diam Arga keluar dari kamarnya setelah mengamankan Clara, ia melihat seorang pria tengah menodongkan senjata api pada Nur, lalu ia berjalan dengan mengendap-endap dan bersembunyi di balik lemari.
Nur menghalangi pria yang ingin masuk kedalam kamar.
__ADS_1
"Tidak, jangan!"
Pria itu mendorong Nur sampai tersungkur di lantai.
Tapi Nur kembali meraih kaki dan menahan pria itu.
"Jangan, tidak ada siapapun dia sana."
Pria itu kembali menodongkan pistolnya.
"Kau cari mati Nur!"
Ketika pria itu siap untuk melesatkan tembakannya.
TAK.
Arga melemparkan vas bunga, yang tepat mengenai tangan orang itu.
Dan menyebabkan senjatanya jatuh cukup jauh.
"Kurang ajar!"Umpatnya.
Tapi ia kembali tersenyum setelah melihat siapa yang melemparinya.
"Ternyata kau di situ anak manis!"
Pria itu ingin mengambil kembali pistolnya, tapi Nur menahan tangannya, sambil berteriak pada Arga.
"Arga! Cepat masuk kamar, lalu kunci pintunya."
Namun anak itu malah berjalan mendekati Nur dan pria itu.
"Arga, jangan kesini cepat masuk kedalam kamar, Tante akan menahan orang ini."
Arga sama sekali tidak mengindahkan teriakan Nur, dan tanpa rasa takut dan ragu, anak itu terus berjalan menuju pistol yang tergeletak di lantai.
Nur dan pria itu membuka matanya lebar-lebar, ketika Arga menodongkan pistol itu.
Dan
DOR..!
Satu tembakan melesat dari jarak yang tidak jauh.
BUG!
Si pria tersungkur dengan luka dan darah yang merembes di keningnya.
Begitupun dengan Nur, gadis itu juga lunglai dan menjatuhkan dirinya di lantai.
Bukan karena ia terkena tembakan, tapi karena ia Shock dengan apa yang dia lihat.
Anak sekecil itu bisa melakukan hal yang mengerikan seperti ini.
Mata Arga begitu memerah, memancarkan aura kemarahan yang luar biasa, ia seperti bukan anak kecil pada umumnya yang lucu dan menggemaskan seperti biasanya. Ia malah terlihat seperti serigala yang ingin memakan buruannya.
Nur, ketakutan melihat anak itu, jantung nya berdebar dengan cepat.
Apa keluarga Kaisar semuanya seperti ini? Batin Nur.
Apa anak ini juga akan menembak ku?
Arga mendekat dan mengulurkan tangannya.
"Tante tidak apa-apa?"
Karna takut Nur hanya mengangguk Saja.
Dan di waktu yang bersamaan Jhon datang!
Jhon melihat semua itu, tapi sungguh ia sudah tidak terkejut lagi.
Tapi Jhon mengira jika Arga juga hendak menembak Nur.
"Tuan kecil, tahan! Kita masih membutuhkan wanita itu, jadi, jangan di habisi dulu."ucapanya, sambil mengulurkan tangannya meminta Arga menyerahkan senjatanya.
Arga menurut, dan menyerahkan Pistol itu pada Jhon, tapi anak itu berkata.
"Arga tidak ingin menembak Tante ini, dia sudah menolong mamah dan adik Clara."
Namun Jhon tidak mengindahkannya.
Ia meminta anak buahnya yang ikut dengannya, mambawa Nur, tapi bukan ke kantor polisi, melainkan ke Markas terlebih dahulu, Jhon ingin memberikan sedikit kenang-kenangan untuk Nur, sebelum Jhon menyerahkan Nur pada polisi agar Luna di bebaskan.
🍁🍁🍁🍁
Semuanya selesai!
Jhon, kembali mengantarkan Arga dan Clara di Mansion, dengan selamat!
Dan ia segera menuju Markas.
Anak buah Kaisar pun sudah berhasil menangkap Toni, dan kini dia juga tengah di giring menuju Markas.
Toni dan Nur.
kedua orang itu Sudah berada di Markas Kaisar.
apa yang akan Jhon dan Kaisar lakukan?
🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏
Di minta untuk sabar ya, jika merasa ini cerita alurnya lambat 🙏🙏
love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️😘
__ADS_1