Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 77. Datang untuk menerima tantangan.


__ADS_3

Setelah kepergian Kaisar, tinggallah Julia Lisa dan Arga.


Lisa memulai mengobati Julia, meskipun tangannya di tepis ber kali-kali, tapi sebagai rasa tanggung jawab ia tetep mengobatinya.


"Kenapa kau kembali?" Hingga satu pertanyaan keluar dari Julia.


"Maksud Nenek?"


"Jangan panggil nenek jika tidak ada Kaisar, saya tidak Sudi mendapat panggilan itu dari mu." Ketus Julia.


"Jadi, maksud anda kita harus berpura-pura akrab di depan mas Kaisar?"


Julia melengos tidak menjawabnya.


"Dasar, tidak tau malu Sudak kabur bersama lelaki lain, dan sekarang kembali membawa seorang anak." Sungut Julia.


Lisa sudah tidak bisa menahan sabarnya lagi.


"Bi Lilis." Panggilnya.


Bi Lilis segera menghampiri mereka.


"Iya non, apa ada yang nona Lisa butuhkan?"


"Tolong bawa Arga, ke kamar untuk mengganti bajunya." Pinta Lisa dengan lembut.


"Baik, non."


"Ayo, den Arga, kita ganti baju dulu karna baju den Arga, sudah basah karna tetesan buah," ucap bi Lilis, yang mengulurkan tangannya pada Arga.


"Baik, nek." Arga meraih tangan bi Lilis.


Dan segera berlalu dari ruangan itu.


Tinggallah mereka berdua.


"Lihat, pada pelayanan saja dia memanggil dengan sebutan Nenek, memalukan sekali, seperti bukan keturunan Kaisar."


"Apa maksud anda nyonya Julia?"


Julia tersenyum sinis.


"Kau pikir saja sendiri."


"Apa anda ingin mengatakan, kalau Arga bukan anak kandung mas Kaisar?"


"Siapa yang tau akan kebenaran itu." Jawab Julia, yang semakin membuat Lisa geram.


"Tidak masalah jika anda tidak mempercayainya, karna mas Kaisar, pun bukan dari bagian keturunan anda."


"Apa maksud mu!" Julia mendelikan matanya.


"Anda fikir saja." Sahut Lisa.


"Aaaakkkkhhhh...!" Teriak Julia, karna Lisa menekan kuat luka yang sudah ia perban itu.


Lisa hanya tersenyum.


"Aku tidak senaja nyonya."


"Tidak senaja! Sepertinya kau mau memperparah luka saya, dasar anak sama ibu sama saja."


Julia bangkit dari duduknya.


"Kaaaii....!"


Lisa meluruskan kakinya.


Dan.


BUG.


Julia tersandung kaki Lisa, hingga membuatnya tersungkur membentur meja.


"Apa lagi itu." Gumam Kaisar yang kembali mendengar teriakkan Julia dari dalam.


"Baik Jhon, aku akan segera kesana kau persiapan kan saja semuanya."


{"Baik tuan."}


Kaisar menutup panggilan itu. Dan segera kembali ke ruang keluarga.


Melihat Kaisar yang menuju ke arah mereka, dengan cepat Lisa membantu membangunkan Julia yang tersungkur.


"Ada apa ini!" Tanya Kaisar cemas.

__ADS_1


"Ini mas, nenek Julia, ter kilir."


"Terkilir!" Bingung Kaisar.


"Tidak! Kai, ini Li ....!"


"Nek, sebaiknya nenek jangan menggunakan sepatu ber hak tinggi seperti ini, karna itu sangat berbahaya, seperti sekarang nenek jadi terkilir kan karna tidak bisa mengimbanginya." Sahut Lisa, yang memotong ucapan Julia.


Kaisar mendekat, dan memperhatikannya.


"Lisa, benar nek sepatu seperti ini sangat berbahaya untuk nenek."


"Tapi Kai ....!"


"Sudah, nenek istirahat dulu biar aku yang mengobati kaki nenek." Lisa kembali memotong perkataan Julia.


Jangan beri Julia kesempatan untuk berbicara pada Kaisar. begitulah mau Lisa.


"Terimakasih sayang," ucap Kaisar, seraya membelai rambut Lisa dengan lembut.


Dan di balas senyum kemenangan oleh Lisa, yang sebenarnya ia tunjukkan untuk Julia.


Kau, berani bermain-main dengan ku Lisa. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan pada mu.


Kaisar menuntun Julia ke kamar tamu, agar ia bisa beristirahat.


"Nenek istirahatlah, Sanusi, akan datang menjemput nenek."


"Kenapa tidak kau saja yang mengantarkan nenek pulang Kai?" Rengek Julia.


"Tidak bisa nek, aku ada urusan dan harus segera pergi."


"Kai, apa kau tega meninggalkan nenek dengan keadaan seperti ini." Julia memasang wajah sedihnya.


Membuat Kaisar bingung, apa harus meninggalkan Julia.


"Sudah mas, kau tidak perlu khawatir, aku akan menjaga nenek Julia dengan baik.


Sebelum Julia kembali berbicara, Lisa menarik Kaisar keluar dari kamar.


"Mas, biar nenek beristirahat jika mas ada urusan, tidak apa-apa aku akan menjaga nenek Julia."


"Mas, mau pergi ke desa menemui Jhon."


"Desa!"


Kaisar terpaksa mengatakan itu, tidak mungkin ia bilang, tujuannya ke desa karena menerima tantangan dari Firman, tentu Lisa akan mencegahnya.


Kaisar memeluk Lisa.


"Mas, tidak akan lama di sana, jika urusannya sudah selesai, mas akan segera pulang."


"Iya mas, tidak masalah."


"Kau jangan takut, penjaga di sini sudah menjaminkan nyawanya untuk menjaga mu dan Arga."


Itu sangat berlebihan mas.


Lisa hanya mengangguk saja.


Cup...


Cup...


Cup ...


Kaisar menciumi seluruh wajah Lisa.


Setelah berpamitan. Kaisar segera meninggalkan mansion dengan mobilnya. Ia senaja tidak berpamitan dengan Arga, karena anak Itu sudah tertidur pulas, setelah membuat Julia terpasang perban di lengannya.


Di perjalanan, Kaisar kembali menghubungi Jhon. Entah apa yang mereka bicarakan Ntor juga tidak tau.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara di tempat lain.


Di sebuah ruangan yang sangat tertutup, dari cahaya sinar matahari. Ruangan itu hanya mengandalkan penerangan dari sebuah lilin yang sudah hampir habis, di sudut meja.


Firman, tengah memandangi Foto gadis kecil berambut hitam panjang, dengan senyum manis di bibirnya.


"Apa kau ingat dengan janji mu dulu!" Firman berbicara pada Foto itu. " Tapi kenapa malah lelaki itu yang kau pilih." Gumam Firman yang masih memandangi wajah di Foto itu.


Ting ....


Sebuah bunyi dari ponsel, membuyarkan sesi mengenang yang tengah Firman lakukan.

__ADS_1


(Bos. Kaisar sedang dalam perjalanan menuju desa)


Setelah membaca pesan itu, Firman menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.


Setelah kepergian Lisa, dari desa itu.


Firman mengurung diri di dalam rumahnya, bahkan dia sudah tidak perduli lagi dengan klinik dan huru-hara yang terjadi di desa.


Bahkan ia mengabaikan beberapa panggilan dari Julia sang mentor.


Tapi setelah mendapatkan pesan itu. Ia kembali bersemangat menyambut musuhnya itu.


🍁


🍁


Singkat cerita.


Kaisar tiba dengan selamat di desa itu, dan kini ia sedang bersama Jhon .


"Tuan, apa kita akan membongkar penipuan dokter palsu itu pada warga."


"Sebenarnya, aku tidak perduli dengan orang-orang yang ada di desa ini, tapi sepertinya seru juga jika kita membongkar kedoknya di depan warga."


"Apa saya, perlu menyelidiki siapa lelaki itu yang sebenarnya."


"Tidak usah, kita tinggal tunggu hasilnya saja. Karna aku sudah mengutus orang-orang hebat kita untuk mencari taunya."


Jhon mengangguk.


"Tuan, jika saya mengatakan kalau orang terdekat anda, terlibat dalam masalah ini, apa anda akan mempercayainya.?


Kaisar menautkan kedua alisnya.


"Apa menurutmu ada seorang penghianat?"


Jhon mengangguk.


"Katakan, siapa yang kau curigai?"


Jhon tidak langsung menjawab, karna ia belum bisa memberikan bukti yang kuat pada Kaisar, jika Julia terlibat.


Orang-orang yang Jhon utus untuk menyelidiki Julia, hanya mendapatkan informasi kecil yang bisa membuat wanita itu dengan mudah mengelak nya.


Tapi Jhon dan Farel sangat yakin, jika Julia benar-benar terlibat dan ialah pengendalian dokter palsu itu.


"Saya akan mengatakan pada anda, jika semuanya sudah terbukti."


"Baiklah, teruskan penyelidikan mu, dan seret orang itu di hadapan ku jika kau sudah memastikannya."


🍁🍁🍁


Pagi hari.


Warga mulai berkumpul di balai desa, karna pak kades akan menyampaikan sesuatu.


Sebenarnya ini perintah dari Jhon.


Dan orang-orang yang kemarin menggiring Jhon tidak nampak di perkumpulan itu, karna saat ini mereka tengah menginap di klinik.


Tak ada yang berani menyerang balik Jhon, semua diam tak berkutik setelah kejadian itu. Mereka takut akan bernasib sama seperti yang tengah terbaring di klinik.


"Selamat datang dokter Firman." Sapa, para warga dengan hormat ketika Firman memasuki aula perkumpulan.


"Dokter, apa anda baik-baik saja, akhir-akhir ini kami jarang melihat anda di klinik."


"Terimakasih, sudah mengkhawatir saya. Tapi saya dalam keadaan baik saat ini."


Firman palsu, harus tetep menjalankan perannya sebagai dokter yang baik, ramah dan tulus.


Entah sampai kapan ia harus berpura-pura seperti ini.


Sesungguhnya ia pun lelah dengan peran malaikat yang di berikan Julia padanya.


Tapi ia harus tetep patuh pada wanita itu, untuk mencapai keinginannya.


Tak lama, Kaisar pun tiba bersama Jhon yang selalu berada di sisinya.


Berbeda dengan Firman, mereka menyambut kedatangan Kaisar dengan tatapan sinis dan mencemooh.


Tapi tidak ada yang berani melontarkan kata-kata apapun, mereka takut jika kedua pria itu akan membuat mereka berakhir di klinik atau bahkan di liang kubur.


🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏🙏 minta dukungannya ya 🤗🤗

__ADS_1


TianA


__ADS_2