Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 72. Membawa Lisa dan Arga ke Mansion


__ADS_3

Kaisar masih memeluk Lisa yang tengah tertidur pulas di atas tubuhnya.


Baru beberapa menit yang lalu Kaisar menuntaskan pekerjaan mulianya, kini ia berhasil mendapatkan kembali haknya sebagai seorang suami hingga membuat nya senyam-senyum sendiri sejak tadi dengan Wajahnya nampak cerah dan bercahaya.


"Sayang! Apa kau sudah tidur!" Kaisar bertanya, padahal dia sudah tahu jika Lisa tengah tertidur.


Yang di tanya tidak akan menjawab, Karena ia tengah memasuki alam Mimi dan beristirahat di sana.


"Baiklah, tidur yang nyenyak. Besok kita akan melanjutkannya kembali di mansion kita." Ucap Kaisar seraya mencium bibir Lisa.


Sedang asik bermain-main dengan wajah istrinya, tiba-tiba pandangannya tertuju pada ponsel Lisa yang berkedip-kedip di atas meja tidak jauh dari sofa tempat yang mereka gunakan untuk bertempur.


Kaisar mengulurkan tangannya meraih benda pipih itu.


"Siapa tengah malam begini mengirimnya pesan." Gumam Kaisar.


Beruntung ponsel Lisa tidak memakai kata sandi, hanya dengan sekali usap di layar, ponsel bisa dengan bebas di gunakan.


(Yuna apa kau sudah tidur? Maaf malam-malam begini menggangu mu. Aku sedang dalam perjalanan kembali ke desa, apa ada sesuatu yang kau inginkan biar aku bawakan. ♥️♥️)


Satu pesan dari kontak dengan nama dokter Firman, di akhiri dengan emoticon hati berwarna merah.


Membuat hati Kaisar berubah menjadi hitam pekat, karena menahan marahnya pada lelaki itu.


"Berani sekali dia menghubungi istriku di tengah malam begini, dan apa ini? Stiker hati! cih, seperti anak-anak saja." Grutu Kaisar.


Otak Kaisar kembali bekerja, berfikir apa yang harus ia lakukan.


Hingga ia kembali menyunggingkan senyum di bibirnya.


Dengan cekatan jari-jari panjang yang di miliki Kaisar, menekan-nekan huruf yang ada ponsel itu.


Hingga terciptalah sebuah kalimat yang panjang!


(Tidak usah! Aku tidak menginginkan apapun, karena saat ini aku sedang menghabiskan malam yang indah dan penuh gairah bersama suamiku tercinta yang memiliki ketampanan luar biasa ini, dan jangan ganggu aku lagi. Karena aku dan suamiku akan melanjutkan kembali malam indah kami.) Send ..


Sukses terkirim dan dalam hitungan detik Firman sudah membaca pesan itu.


Yang semakin membuat Kaisar melebarkan senyumnya.


Tak puas hanya dengan itu, Kaisar membuka perangkat kamera di ponsel.


Dan.


CKREK .....


CKREK.....


CKREK....


Tiga jepretan ia ambil.


Kaisar tersenyum puas menatap hasil jepretannya sendiri.


Send....


Secepat kilat ia mengirimkan salah satu dari tiga foto itu pada Firman.


🍁


Belum padam kobaran api di dada Firman kala membaca pesan yang di kirim dari ponsel Lisa, kini api itu semakin menjalar kemana-mana. Seraya remasan tangan Firman pada benda pipih miliknya. Ia geram dengan foto Lisa yang tengah tertidur, tapi hanya rambutnya saja yang terlihat karena Kaisar menutupi semua tubuh Lisa dengan selimut tebal. Sementara dirinya, ia sengaja memperlihatkan setengah tubuh polosnya tengah memeluk Lisa yang berada di atas dadanya.


"Kurang ajar!"


PRANG .....


Firman melemparkan ponselnya di lantai sehingga membuat ponsel itu hancur.


.


Anggel terkejut dengan apa yang Firman lakukan.


"Ada apa dengannya!"


Begitupun dengan beberapa pasangan mata lainnya yang memperhatikan Firman Dengan was-was.


Saat ini Firman dan Anggel tengan berada di sebuah toko yang menjual berbagai macam buah tangan.


Ia senaja menepikan mobilnya, berniat membelikan sesuatu untuk Lisa dan Arga. Seperti inilah kebiasaan Firman setelah ia kembali dari kota ia akan membawakan berbagai oleh-oleh kesukaan Lisa dan Arga. Tapi kali ini berbeda.

__ADS_1


"Semua karena Kaisar! Aku tidak terima ini." Gumam Firman.


Anggel memberanikan diri menghampiri Firman.


"Kau kenapa?"


Firman menatap tajam Anggel.


"Bukan urusan mu, sekarang cepat ke mobil kita kembali ke desa atau kau, akan ku tinggalkan di sini ." Ucapnya seraya mengambil kembali ponselnya yang hancur, dan segera berlalu ke mobil tanpa menghiraukan tatapan orang-orang yang ada di toko itu.


Mood Firman hancur seketika setelah melihat foto dari pesan itu, padahal ia tahu, tidak mungkin Lisa yang mengirim pesan dan foto itu.


Tapi tetep saja itu membuatnya marah dan cemburu.


Selama perjalanan, Firman tak mengeluarkan sepatah katapun, nafasnya masih naik turun, ia masih menahan sesak dan amarah di dadanya.


🍁


🍁


🍁


Pagi hari.


Seperti biasa Lisa bangun terlebih dahulu. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Arga dan Kaisar masih tertidur pulas.


Setelah selesai dengan ritualnya, Lisa menuju dapur untuk membuat sarapan.


Sudah ada bude Darmi di sana.


"Selamat pagi bude!"


"Selamat pagi Yuna!" Bude Darmi mengerutkan keningnya. "Ada apa dengan wajah mu kenapa terlihat lelah sekali?" Tanya bude Darmi.


"Aku!" Lisa memagang kedua pipinya. "Aku...!" Lisa menggantungkan ucapannya, karna ia teringat apa yang semalam ia lakukan bersama Kaisar.


Karena malu untuk mengatakannya, Lisa segera menggelengkan kepalanya.


‌"Aku tidak apa-apa bude, mungkin karena kejadian kemarin yang membuat ku se lelah ini."



Membuat Lisa menjadi salah tingkah dan canggung, apa mungkin bude Darmi mendengar suara-suara meresahkan dari kamar mereka.


"Yuna apa Sintia sudah memberikan kabar mengenai kondisi Farel?" Bude mengalihkan pembicaraan, agar Lisa tidak kaku.


"Sudah bude, kondisi Farel sudah membaik."


"Syukurlah. Hari ini dokter Firman sudah kembali dari kota, ia sudah berada di klinik mengurus warga yang masih di rawat karna keracunan kemarin."


"Kapan dia sampai?"


"Semalam, apa dia tidak memberi tahu mu?"


Lisa menggeleng, setelah mengecek ponselnya bahwa tidak ada pesan yang masuk dari Firman.


"Siang ini kepala desa mengadakan rapat."


"Apa membahas soal kemarin?"


Bude Darmi mengangguk.


"Sepertinya iya."


Setelah menyiapkan sarapan Lisa kembali ke kamarnya.


Arga dan Kaisar sudah bangun. Bahkan mereka sudah terlihat rapi, sepertinya Kaisar sudah mengajak Arga mandi.


"Mas, Arga ayo kita sarapan!" Ajak Lisa. Seraya mendekati mereka berdua, yang tengah mempersiapkan sesuatu di dalam tas.


"Kau mau kemana mas?"


"Bukan aku, tapi kita."


"Kita! Apa maksud mu mas?"


"Hari ini kita pulang ke Mansion."

__ADS_1


"Apa!" Kejut Lisa. "Kenapa tiba-tiba mas!"


"Mas sudah memberi tahu mu semalam, dan kau mengangguk setuju."


Lisa bingung, kapan Kaisar mengatakan itu.


Cup... "Kenapa kau melamun!" Ucapnya, setelah mengecup bibir istrinya itu.


"Mas, jangan berbuat sembarangan di depan Arga." Protes Lisa.


"Arga sudah mengerti kalau kita ini suami istri, jadi wajar." Sahut Kaisar sekenanya.


"Anak sekecil Arga mana mengerti arti dari suami istri mas."


Benar, tapi dia sudah mengerti bagaimana cara menghukum seseorang, Itu yang malah membuat ku takut. Jawab Kaisar dalam hatinya.


"Papah Alga sudah siap!" Teriak anak itu setelah selesai memasukan semua mainannya ke dalam tas kecil.


Kaisar mengacungkan jempolnya.


"Mas aku dan Arga tidak bisa ikut ke mansion."


Kaisar menghentikan gerakannya.


"Kenapa?"


"Aku tidak di ijinkan keluar dari desa ini mas!"


"Siapa yang berani melarang mu selain aku. Ingat! kau boleh memberontak dan melawan pada siapapun terkecuali pada suamimu ini."


"Mas aku serius, mereka melarang ku meninggalkan desa ini karena ak ....!"


Ucapan Lisa terhenti, karna Kaisar membukanya dengan ciuman.


Lisa mendorong tubuh Kaisar.


"Mas!" Kesalnya, lalu melirik pada Arga. Anak itu malah bengong menatap papahnya.


Dan Kaisar malah mengedipkan mata penuh arti pada Arga, dan Arga paham itu.


"Kita akan tetep ke mansion." Tegas Kaisar.


"Tapi mas! bagaimana kalau para warga marah, dan kembali melakukan sesuatu pada Arga."


"Jangan khawatir, selama mas masih hidup.Tidak akan tejadi apapun pada dirimu dan Arga."


Bahkan anak itu sepertinya sudah pandai menjaga diri.


"Persiapkan dirimu, setelah sarapan kita akan langsung berangkat."


Keputusan Kaisar mutlak, sudah tidak bisa di ganggu apa lagi di rubah.


Kaisar sengaja membawa pergi Lisa dan Arga dari desa ini. Ia harus membawa mereka ketempat yang aman dan mansion lah tempat yang aman menurut Kaisar.


Karna Kaisar berniat menuntaskan urusannya di desa ini, tanpa melibatkan Lisa. Ia sudah memutuskan akan berperang secara langsung melawan Firman, dokter yang Kaisar anggap biang dari semua masalah yang terjadi.


Kaisar ingin memberi pelajaran pada Firman dengan tangannya sendiri.


Selesai sarapan Lisa berpamitan pada bude Darmi.


"Apa bude tidak ingin ikut dengan ku?" Tanya Lisa lirih, karna ia berat harus berpisah dengan orang yang selama ini sudah seperti orang tuanya sendiri.


"Tidak sayang! Bude tetap di sini saja, karna bude yakin dia akan pulang." Ucap bude Darmi dengan lembut. "Kamu jangan Khawatir, masih ada Sintia yang menemani bude." Sambungnya dengan tersenyum.


Lisa memeluk bude Darmi dengan erat. Lisa tau bude Darmi tidak akan pernah mau meninggalkan desa ini apapun alasannya, karna bude Darmi yakin jika anaknya yang bertahun-tahun hilang akan kembali pulang.


🍁


Kini mereka sudah memasuki mobil.


"Mas, apa Jhon tidak ikut?" Tanya Lisa , yang melihat Jhon bukanya masuk kedalam mobil malah melambaikan tangan pada Arga.


"Tidak! Jhon sementara tetep di sini, untuk menemani bude Darmi sampai teman mu itu kembali."


Alasan yang tepat untuk Kaisar katakan pada Lisa, karna sesungguhnya Kaisar membiarkan Jhon tetep tinggal sebagian dari rencananya dan untuk mempersiapkan semua.


🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏 minta dukungannya ya 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2