
Malam hari Kaisar dan yang lainnya sampai di rumah, mereka di sambut oleh Rizal yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Selamat malam tuan." Sapanya seraya menundukkan kepalanya.
"Di mana Lisa?" Tanya Kaisar.
"Nona Lisa di kamarnya tuan, sepertinya nona Lisa sedang kurang sehat." Jawab Rizal dengan penuh kehati-hatian.
Karna ia taku Kaisar akan marah padanya.
"APA, DIA SAKIT? DAN KAU TIDAK SEGERA MEMBERITAHU KU?" Bentak Kaisar, yang seketika membuat wajah Rizal memucat.
Benar sekali dia sudah berada di mode serigala.
"Maafkan saya tuan!"
"Kai! Apa hak mu berani membentak sekertaris ku?" Protes Farel.
"Aku berhak untuk memaki siapapun yang melakukan kesalahan." Jawabnya dengan sangat enteng.
"Dasar gila!" Umpat Farel.
"Kau bilang apa?" Murka Kaisar.
"Rizal itu sekertaris ku, hanya aku yang boleh membentak dan memakainya."
Saya kira anda ingin melindungi saya tuan, tapi ternyata!!
Rizal hanya menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap Kaisar.
"Maaf tuan, dari pada anda berdebat seperti ini, lebih baik anda segera temui nona Lisa," ucap Jhon yang bermaksud melerai perdebatan mereka.
"Kau benar, dia hanya membuang-buang waktu saja." Ucapnya di tunjukkan pada Farel, dan segera berlalu menuju kamarnya.
"Aku rasa penyakitnya kambuh." Sungut Farel.
Kaisar berjalan dengan langkah panjangnya.
Tanpa mengetuk terlebih dahulu Kaisar membuka pintu kamarnya.
Ckleeek.....
"Sayang. Kau sa ....!" Kaisar menggantungkan ucapannya.
Dan.
"KAU! APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMAR KU HAH?" Ia kembali berteriak.
Membuat Sintia yang tengah menemani Lisa, segera menutup kedua telinganya.
Suaranya sudah seperti halilintar saja, bagaiman bisa Yuna tahan dengan lelaki seperti ini.
"SIAPA YANG MENGIJINKAN MU MASUK?" Teriakan ke dua Kaisar layangkan di sertai otot-otot yang menonjol dari lehernya.
membuat telinga Sintia terasa berdengung.
"Apa anda tidak bisa mengecilkan sedikit suara anda?"
Kaisar membuang wajahnya.
Lalu menunjukkan pada Sintia.
"Berani sekali kau memerintah ku!"
"Jika anda berteriak seperti itu, anda bisa membangunkan Yuna dan Arga."
Kaisar terdiam mungkin sekarang otaknya sedang bekerja dengan baik..
Dan ia merasa mungkin yang di katakan Sintia benar.
"Dengan cepat Kaisar mengatur nafasnya, kemudian mengecilkan suaranya.
"Baiklah, sekarang kau bisa pergi dari kamar ini?" Titahnya.
"Tanpa anda minta pun saya akan segera pergi dari. sini" Kesal Sintia.
"Oya, Yuna sedang kurang sehat, tapi anda tidak perlu khawatir dia hanya butuh istirahat saja, dan ia pun sudah meminum obat." Sambung Sintia.
Lalu tanpa berlama-lama lagi dia segera pergi dari kamar itu.
"Astaga!"
Langkahnya terhenti, karna begitu ia selesai menutup pintu dan membalikan badannya. Ia melihat sosok Jhon dan Farel tengah menjulang di sana.
Keduanya menatap penuh selidik.
"Kenapa?"
"Untuk apa anda masuk kedalam kamar tuan Kaisar dan nona Lisa?" Jhon yang memulai pertanyaan untuk Sintia.
"Kenapa kau tidak teriak sekalian saja seperti tuan mu itu." Kesalahannya.
"Yuna sakit, dan aku harus menemani, dan memberikan obat untuknya, aku ini perawat apa kalian paham?"
"Maafkan saya nona." Jhon membungkukan badannya.
__ADS_1
"Kau ikutlah denganku."
Farel menarik tangan Sintia, agar mengikutinya.
"Eeh ... apa-apa ini! lepaskan tangan mu berengsek!"
Namun Farel tetep membawa Sintia menjauh dari Jhon.
Sementara itu di dalam kamar. Kaisar mendekati istri dan anaknya yang tengah tertidur bersebelahan.
Ia menatap wajah Arga, yang tertidur dengan pulas. Kemudian ia beralih pada Lisa. Kaisar menggerakkan tangannya untuk menyentuh kening Lisa.
"Panas!"
"Dia memang sakit."
"Dan ini terlalu panas."
"Bagaimana bisa seperti ini hanya di sebut tidak enak badan."
Pertanyaan-pertanyaan
Keluar dari benak Kaisar yang mulai membuatnya panik kembali.
Ia seger bergegas ke luar dari kamarnya.
🍁🍁
Di kamar lain.
Jhon baru saja merebahkan dirinya di atas ranjang yang beralaskan kasur yang sangat empuk.
Karena lelah dengan masalah yang timbul hari ini.
Ia membayangkan malam ini bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak.
Karena otot dan otaknya harus ia persiapkan untuk hari esok. Yang mungkin saja akan lebih rumit dari hari ini.
Baru saja Jhon merenggangkan otot-ototnya.
"Jhon .... Jhon ...!"
Teriakan dari luar kamarnya.
Membuat tubuh Jhon kembali menegang.
Dan kembali menarik angan-angannya untuk tidur dengan nyenyak.
Ia segera membangkitkan tubuhnya untuk menemui di pemilik teriakan itu.
Ckleeek ..
Jhon membuka pintu kamarnya.
"Ada apa tuan? Apa di malam-malam seperti ini anda masih membutuhkan sesuatu."
"Lisa sakit, cepat hubungi dokter." Perintahnya. Dengan wajah yang terlihat sangat panik
"Bukankah nona Sintia sudah memeriksa dan memberi nona Lisa obat?"
"Dia bukan dokter?"
"Tapi dia perawat handal tuan."
"Aku bilang panggil dokter, ya harus dokter."
Seperti biasa keinginan dan perintahnya harus segera di laksanakan dan tidak bisa di rubah.
Tapi demi angan-angannya untuk tidur nyenyak, malam ini Jhon mencoba peruntungannya.
"Tuan di klinik hanya ada dua dokter, bernama dokter Viona dan dokter Firman. Dokter Viona sedang tidak bertugas malam ini. Apa anda mau saya menghubungi dokter Firman. Tentu dengan senang hati dokter itu akan kemari untuk memeriksa nona Lisa."
Aku yakin ini akan berhasil
"Sial!" Umpat Kaisar .
"Tuan, saat ini yang di butuhkan nona Lisa hanyalah anda."
"Apa maksud mu?"
"Nona Lisa hanya membutuhkan anda berada di sampingnya."
Jhon sedang mencoba peruntungannya, agar Kaisar tidak harus menyuruh Jhon memangil seorang dokter dari luar kota.
"Benarkah?"
Sepertinya saya berhasil.
"Tentu saja benar tuan, sekarang segeralah anda kembali ke kamar, peluk nona Lisa dan bisikan kata-kata cinta yang manis untuk nona Lisa, saya yakin dengan begitu nona Lisa akan segera sehat kembali."
"Kau benar!"
Kaisar nampak bersemangat, dan puas akan saran yang di berikan oleh Jhon.
"Kalau begitu aku pergi dulu, kau istirahatlah." ucapnya pada Jhon, dan segera berlalu kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Akhirnya saya bisa tidur nyenyak malam ini
🍁🍁
Kaisar benar-benar Mengikuti saran dari Jhon.
ia memeluk Lisa dan membisikan kata-kata cinta yang teramat manis cendrung lebay.
"Sayang cepat sembuh ya! jika kau Sakit mas akan jauh lebih sakit lagi, mas akan menemani mu sampai kau sehat lagi, kau akan terlihat tidak menggemaskan jika sakit. cepat sembuh ya sayang, kasihan Arga jika kau sakiti, lebih kasihan lagi mas yang harus menahannya rasa rindu tidak bisa mendengar mu memarahi mas."
Dan itulah beberapa contoh ucapan manis yang Kaisar ucapkan pada Lisa yang masih tertidur dengan pulas.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi hari.
Lisa terbangun dari tidurnya.
Ia terkejut mendapati Kaisar tidur satu ranjang bersama dirinya di tambah lagi Kaisar tengah memeluknya dengan erat.
Wajah Lisa masih terlihat pucat. Entah kenapa tiba-tiba ia sakit.
Lisa ingin marah pada suaminya itu. tapi ia urungkan, ia melihat wajah tenang dari Kaisar.
Membuat hatinya meluluh.
Perlahan Lisa membelai wajah Kaisar.
Apa kau bersungguh-sungguh pada ku mas!
Setelah puas menatap wajah suaminya,
Lisa beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Untuk membersihkan diri.
Tapi sebelum itu ia mengingat sesuatu.
Lisa beralih meraih tasnya.
Ia mengambil sebuah pulpen dari dalam tasnya itu.
"Aku lupa mencatat apa saja kebutuhan klinik yang telah habis."
Di tengah Lisa sedang mencatat di selembar buku.
Kaisar terbangun dari tidurnya, ia mendapati Lisa tidak ada di sampingnya. Pandangannya menyapu dan menangkap Lisa tengah berdiri di dekat dekat meja.
Kaisar bangkit dari tempat tidurnya, dan langsung memeluk Lisa dari belakang. Yang membuat Lisa terkejut.
"Apa yang kau lakukan! bukankah kau sedang sakit, berbaring lah kembali mas akan menemanimu." Bisiknya tepat di telinga Lisa.
"Aku sudah sehat mas."
Kali ini Lisa tidak menolak Kaisar yang tengah memeluknya.
"Bagaimana dengan kemarin mas, apa kasusnya sudah selesai?" Tanya Lisa.
"Kau tidak perlu memikirkannya. Biar mas yang mengurus semuanya, mas akan menemukan siapa pembunuh yang sebenarnya."
Lisa mengangguk. Dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Kaisar masih terus memeluk Lisa tanpa berniat melepaskannya.
Tapi fokus Kaisar teralihkan Dengan pulpen yang tengah di gunakan Lisa.
Dengan cepat ia meraih pulpen itu dari tangan Lisa.
Lisa pun terkejut.
"Apa yang kau lakukan mas?"
Kaisar memperhatikan pulpen yang kini ada di tangannya.
"Dari mana kau mendapatkan pulpen ini?" Tanya Kaisar.
"Kenapa?"
"Mas tanya, dari mana kau dapatkan pulpen ini?"
"Dokter Firman yang memberikannya pada ku."
"Firman?"
"Iya."
"Apa hanya Firman yang memiliki pulpen seperti ini?"
"Iya mas, dokter Firman mendesain pulpennya sendiri jadi pulpen seperti itu hanya dia yang memilikinya."
Tidak salah lagi,
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
~Dokter Firman ~
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏 minta dukungannya ya 🤗