
Kaisar tidak langsung meninggalkan rumah sakit itu.
Ia menuju ruangan lain yaitu tempat Farel di rawat, karena kebetulan Farel sudah di pindahkan di rumah sakit ini.
"Kau sangat setia menjaga si brengsek itu.". Cetus Kaisar, yang melihat Sintia masih di rumah sakit.
"Astaga." Kejut Sintia. " Kenapa kau ada di sini? Bagaimana dengan Yuna dan Arga, kenapa kau malah meninggalkan mereka?" Cerocos Sintia yang cemas dengan keadaan sahabat dan putranya.
Kaisar tidak menjawab kecemasan Sintia, ia malah membuka pintu kamar rawat dan melenggang masuk.
"Dasar!" Kesal Sintia. Yang langsung mengikuti Kaisar dari belakang .
"Padahal aku sudah sangat senang melihat kondisi mu yang sangat kritis, tapi ternyata kau cukup kuat juga untuk bertahan." Ucap Kaisar, yang kini sudah berada di sisi ranjang tempat Farel berbaring.
"Sial! Aku begini karena melindungi putramu itu, dan kau harus berterimakasih kepada ku brengsek," Umpat Farel dengan kesal
Kaisar melengos.
"Terimakasih seperti apa, yang kau harapkan dari orang hebat seperti ku."
"Haha... Kau sombong sekali Kai, aku sudah tidak bernafsu mendapat ucapan terimakasih dari mu."
"Sudahlah, pulihkan kembali tenaga mu itu, aku tau kau ingin sekali bertarung dengan ku tanpa ada yang memisahkan, bukan!" Kaisar tersenyum miring. "Aku tunggu itu."
Ucapnya, seraya berlalu dari kamar rawat Farel.
Tapi ia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap Sintia dan Farel secara bergantian.
"Kau, nampak cocok dengan si. Brengsek itu." Ucapnya dengan mata yang menunjuk pada Sintia, yang membuat Sintia bingung dengan maksud perkataannya.
Kaisar kembali melanjutkan langkahnya menuju keluar.
Di ikuti Sintia yang mengejarnya.
"Tunggu!"
Kaisar berbalik.
"Ada apa?" Jawabannya ketus.
"Kau, belum menjawab pertanyaan ku, bagaimana dengan Arga dan Yuna?"
"Kau tidak perlu khawatir, Lisa dan Arga sudah kembali ke tempat mereka sebenarnya."
"Maksud mu?"
"Lisa dan Arga ada di mansion ku, jika kau penasaran dan ingin menemuinya, minta si brengsek Farel itu mengantarkan mu." Ucapnya, dan langsung pergi begitu saja.
"Kau yang brengsek!" Umpat Sintia. "Tunggu! Kembali ke tempatnya! Apa mungkin Arga dan Lisa bisa keluar dari desa." Gumam Sinta. Sambil menautkan kedua alisnya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
PRANG ......
BUG .....
TAK ......
PRANG......
Suara pecahan kaca dan benturan benda keras terdengar sangat nyaring di ruangan itu.
Firman, ia tengah melampiaskan semua kekesalannya pada benda-benda tidak berdosa itu.
"Awas kau Kaisar, kau sudah mengambil semua kebahagiaan ku, dan sekarang kau ingin mengambil Yunalisa ku. Aaargggh." Firman kembali mengamuk dan mengacak-acak semua benda yang ada di sana.
"Tidak! Tidak akan ku biarkan kau merebut Lisa dari ku, dari dulu Lisa milikku dan akan tetep menjadi milikku." Gumam Firman, disertai dengan tangannya yang meremas pecahan kaca, hingga tercipta tetesan darah di sana.
🍁
🍁
Keadaan di desa semakin genting, para warga cemas, takut kalau desa mereka akan kembali mendapatkan petaka karena Arga tidak ada di desa itu.
__ADS_1
"Pokoknya, kita harus bisa merebut kembali anak itu!"
"Benar, itu cara satu-satunya untuk menyelamatkan desa kita!"
"Bila perlu kita tahan saja laki-laki yang bernama Jhon itu, untuk di tukang dengan Arga."
"Kau bener!"
Setelah sahut-menyahut memberikan pendapat.
Akhirnya mereka kembali berbondong-bondong mendatangi rumah Kaisar, yang kini hanya di tinggali oleh Jhon seorang diri.
Apakah mereka bisa menahan seorang Jhon?
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Kaisar sudah kembali ke mansion.
Ia mendapati Lisa sudah tertidur pulas di samping Arga. Ia hanya menatap sekilas dua kesayangannya itu lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di dalam kamar mandi.
Pikiran Kaisar, kembali pada sosok lelaki yang mengklaim diri sebagai dokter Firman.
Sungguh! Dan entah mengapa Kaisar sangat penasaran dengan lelaki itu, instingnya mengatakan lelaki itu berkaitan erat dengan dirinya.
"Siapa dia sebenarnya? Dan bagaimana dengan reaksi Lisa jika tau pria itu bukan dokter Firman yang sesungguhnya." Gumam Kaisar, sambil menatap dirinya di cermin.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Kaisar keluar menuju ruang ganti.
TING .....
Sebuah pesan masuk ke ponselnya.
(DASAR PENGECUT, kau membawa kabur Lisa, karna kau takut jika Lisa, lebih memilih ku kan?)
"Sial." Umpat Kaisar, setelah membaca pesan dari kontak tidak di kenal, tapi dia sangat tau siapa pengirimnya.
(Mari kita bertarung, ingat hanya kita berdua.")
Satu pesan kembali masuk, kali ini pesan itu berisi sebuah tantangan pada Kaisar.
Kaisar tertawa dalam hati,
Apa dia pikir aku ini anak-anak.
"Aku jadi penasaran, sehebat apa dia." Gumam Kaisar.
Dengan cepat Kaisar mengirimkan pesan balasan.
(Baik, aku terima tantangan mu Dokter Firman. ) Send ....
Isi teks senaja iya pertegas di kata dokter Firman.
"Tapi sebelum kita bertarung, aku mau melihat dulu seperti apa reaksi pengikut mu yang ada di desa itu jika ternyata kau dokter imitasi." Gumam Kaisar, di sertai gelak dalam hatinya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi hari.
Setelah mendapatkan kabar jika Kaisar sudah kembali ke kota, Juli bergegas mengunjungi mansion cucunya itu.
"Cepat sedikit Sanusi, mas Marwan, me bayar gaji mu dengan sangat tinggi jadi kerja yang benar, lakukan mobilnya dengan cepat." Maki Julia pada Sanusi asisten pribadi Marwan.
Tapi ai juga di tugaskan untuk mengantar kemana pun Julia pergi.
Tanpa menjawab makian dari Julia, Sanusi segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tak beberapa lama.
Sanusi kembali menghentikan Mobilnya.
"Nyonya? Kenapa menyuruh saya menghentikan mobilnya."
__ADS_1
"Dasar b*d*h! apa kau senaja ingin membunuh ku!" Julia kembali membentak Sanusi.
"Ada apa Nyonya?"
"Ada apa- ada apa! Kau hampiri membuatku jantung dengan caramu mengendarai mobil."
"Bukankah anda yang meminta saya untuk cepat."
"Kau, berani menjawab ku?"
"Maafkan saya Nyonya." Sanusi menundukkan kepalanya.
Dan ia kembali melanjutkan mobilnya menuju mansion Kaisar.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Cepat keluar!"
"Iya cepat keluar!"
"Jangan bersembunyi di dalam."
Teriakan warga kembali terulang, di depan rumah Kaisar, sepertinya mereka tidak mempunyai rasa kapok akan kejadian tempo hari.
Jhon membuka pintu itu.
"Ada apa?"
"Kau harus ikut kami sekarang juga." Seru seorang warga.
"Kemana?" Sahut Jhon, dengan santai.
"Kau, akan kami tahan sebagai jaminan, agar Kaisar menyerahkan Arga kembali pada kami."
"haha .... haha ...." Jhon malah tertawa, terbahak-bahak mendengar penuturan warga.
Lalu ia melenggang masuk kembali kedalam rumah, tanpa bicara sepatah kata pun.
"Kurang ajar! apa dia menghina kita?" Ucap salah satu dari mereka yang kesal, karna Jhon malah mengacuhkan mereka.
"Sepertinya begitu."
Lalu dengan sigap mereka menahan lengan Jhon yang hampir tenggelam di balik pintu.
"Haha, kau mau kemana."
Mereka tersenyum puas setelah mendapatkan lengan Jhon.
"Ayo! kita seret dia di balai warga, setelah itu segera hubungi Kaisar."
Jhon masih saja tidak bergeming, ia hanya senyum-senyum sendiri, seperti orang tidak waras.
Apa aku sekarang sedang bermain-main dengan seorang bocah! menyebalkan sekali.
Gumam Jhon dalam hati.
Tapi Jhon pura-pura pasrah, ia tetap mengikuti langkah kaki orang-orang yang menggandeng lengannya.
Terlihat sekali wajah senang dan puas dari para warga.
"Ternyata sangat mudah menaklukkan dia." Celetuk salah satu dari mereka.
"Itu benar, bahkan lebih mudah dari menangkap seekor nyamuk."
"Haha ... haha ..."
Dan di sambut tawa bahagia dari mereka.
Tertawa lah kalian, sebelum tertawa itu di larang. Batin Jhon.
🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏🙏
__ADS_1