
"Ini kuncinya. ambillah."
Sebenarnya Lisa enggan untuk mendekat, tapi ia tidak punya pilihan lain.
Perlahan Lisa melangkahkan kakinya mendekati Kaisar.
Tepat ia berdiri di hadapan Kaisar yang masih setia duduk di kursinya.
"Berikan kuncinya mas." Pinta Lisa.
"Ini!"
Lisa meraih kunci dari tangan Kaisar. Tapi Kaisar malah menjauhkan tangannya, dan menarik tangan Lisa, agar terduduk di pangkuannya.
Lisa terkejut dengan aksi yang Kaisar lakukan.
"Mas, apa-apaan ini! Lepaskan aku mas!" Ucap Lisa, sambil memberontak.
Tapi kaisar malah melingkarkan tangannya di pinggang Lisa dan menenggelamkan wajahnya di dada Lisa.
"Mas, sangat merindukan mu." Lirih Kaisar.
"Apa kau tidak merindukan mas? dan apa kau tidak mau tau, apa yang terjadi pada mas selama 4 tahun ini?" Sambungannya, masih dengan nada lirih.
Kaisar meraih tangan Lisa, dan menuntunnya, untuk mengusap-usap kepalanya.
"Mas, sangat rindu ketika kamu melakukan hal seperti ini pada mas."
Lisa terdiam, tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Ada apa dengannya? kenapa tiba-tiba berubah menjadi seperti anak kucing.
Emosi Kaisar memang sering berubah-ubah tergantung suasana hatinya. Mungkin karena ia pernah mengalami depresi berat dalam hidupnya, membuatnya memiliki kesehatan mental yang buruk selama bertahun-tahun.
"Kenapa diam?" Tanya Kaisar, sambil menatap wajah Lisa dengan lekat.
"Aku .... "
CUP ....
Kaisar mendaratkan satu kecupan di bibir Lisa.
Lisa membelalakkan matanya.
Dan.
Cup ....
Kecupan kedua Kaisar berikan. Lalu ia kembali memeluk tubuh Lisa dengan sangat erat, seolah tak ingin lepas.
Sebenarnya Lisa sangat merindukan pelukan ini. pelukan yang selama 4 tahun ini tidak pernah ia rasakan lagi, tapi ia tidak boleh terbuai dengan lelaki yang tengah memeluknya ini, lelaki yang sudah menyakiti hatinya.
"Mas. Tolong lepaskan aku mas."
"Tidak!"
"Aku harus pulang mas."
"Kita akan pulang ke mansion hari ini juga." Ucap Kaisar, yang masih memeluk Lisa.
"Tidak! Mas, aku tidak akan kembali ke mansion, aku akan tetep di sini."
Mendengar penolakan Lisa, kaisar melepaskan pelukannya.
"Pokoknya kita akan kembali ke mansion." Tegas Kaisar.
Lisa beranjak dari pangkuan Kaisar.
"Kamu tidak bisa memaksa ku begitu mas," ucap Lisa dengan kesal.
"Lisa!"
"Tidak mas, aku akan tetep di sini."
Kaisar mulai terpancing emosinya. Tapi sebisa mungkin ia menahannya, ia harus bisa mengendalikan diri di depan Lisa.
"Kamu masih istri mas Lisa, jadi kau harus ikut mas pulang."
"Kita sudah berpisah mas, dan mas sudah menikah kan, kenapa masih meminta ku pulang."
__ADS_1
"Menikah?" Tanya Kaisar bingung.
"Iya, mas sudah menikah dengan Anggel kan?"
"Siapa yang mengatakan itu pada mu?"
Lisa tak menjawabnya.
"Pasti si pecundang itu yang mengatakannya pada mu."
Awas kau Farel, berani-beraninya kau mengatakan itu pada Lisa. kali ini sudah ku pastikan, kau yang akan jadi target kemarahan ku yang tertahan ini.
Kaisar menarik nafasnya dalam-dalam.
"Mas tidak pernah menikah dengan wanita manapun, mas hanya pernah menikah dengan mu, dan tidak ada Anggel atau siapa pun."
Lisa menatap mata Kaisar dengan lekat, mencoba mencari ke bohongan di sana, tapi tidak ia temukan.
"Mas. Tolong buka pintunya, aku harus segera pulang. Ini sudah sore mas."
Di pertemuan pertama mereka, yang seharusnya penuh dengan haru biru, malah menimbulkan perdebatan, karena keegoisan dan emosi. Hingga waktu berlalu begitu saja.
"Kita akan pulang ke Mansion."
"Aku bilang tidak! Ya tidak mas, kamu tidak bisa memaksa ku seperti itu mas."
Kaisar, benar-benar sedang di uji kesabarannya.
Iya mendekati Lisa secara perlahan, dan Lisa pun dengan refleks memundurkan tubuhnya hingga membentur tembok, yang membuatnya tidak bisa mundur lagi, Kaisar semakin mendekatkan dirinya dan kini persis di hadapan Lisa, sambil kedua tangannya bertumpu pada tembok yang membuat Lisa terkunci tidak bisa bergerak.
"Kenapa kau tidak mau kembali padaku Lisa?" Air muka Kaisar, kini berubah seratus delapan puluh derajat.
Lisa menggelengkan kepalanya, tak ingin menjawab pertanyaan Kaisar.
Ada apa dengannya.
"Apa karna lelaki itu?"
Lelaki! kenapa dia selalu berpikir tentang Firman.
Lisa menatap mata Kaisar.
"Itu bukan urusanmu mas, lepaskan aku mas aku harus pulang." Lisa kembali mendorong tubuh Kaisar dengan sangat kuat, tapi kali ini ia gagal menjaukan tubuh Kaisar darinya.
Lama dengan posisi ini hingga membuat Lisa sulit untuk bernafas dan terus menolak, karna penolakan dari Lisa, Kaisar semakin terpancing ia memaksa Lisa untuk membuka mulutnya tapi Lisa tetap enggan untuk membukanya.
Hingga ada kesempatan Lisa mengigit bibir Kaisar.
"Aawww.." Reflek, Kaisar melepaskan cengkeramannya pada tangan Lisa, dan menyetuh bibirnya yang berdarah karna gigitan dari Lisa.
"Lisa." Geram nya .
Lisa menghirup oksigen dalam-dalam, karena ciuman dari Kaisar tadi membuat nya seolah kehabisan oksigen.
"Kamu keterlaluan mas." Suara Lisa, bergetar dan wajah yang memucat.
Kesadaran Kaisar Kembali. Ia menatap Lisa yang begitu ketakutan melihatnya.
"Lisa. Maafkan mas!" Lirihnya.
Kaisar kembali mendekati Lisa.
"Maaf kan, mas."
"Cukup! Mas Sekarang aku minta buka pintunya."
Kaisar akhirnya melemah, dan mengalah.
"Baik lah, mas akan mengantarkan mu."
"Tidak perlu mas, aku bisa sendiri." Tolak Lisa.
"Kau tidak bisa melarang mas Lisa. Mas ingin bertemu dengan putra kita."
"Apa, putra kita?"
"Tentu saja, jangan kau kira mas tidak tau siapa anak yang tinggal bersama mu itu, mas sudah pernah bilang tidak ada yang bisa kau sembunyikan dari mas."
Lisa pun pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa jika Kaisar mengetahui tentang anaknya. Tapi ia akan tetap mempertahankan putranya.
__ADS_1
"Arga putra ku mas."
"Jadi namanya Arga, apa putra mu? ingat Lisa dia bukan hanya putra mu, dia putra kita."
Kaisar beranjak membuka pintu itu.
"Mas?" Panggil Lisa.
Kaisar mendekat.
"Ada apa?"
"Kamu tidak boleh menemui Arga, tidak ada yang boleh mengetahui kalau kau ayah kandung Arga."
Lisa mengingat ucapan Firman. Jika warga desa akan salah faham, jika mengetahui Kalau dia masih Keluarga Airlangga. Lisa tau betul seperti apa Sifat warga sini. Jadi tidak bisa di bayangkan jika mereka tau, orang yang mengancam kelestarian desa ini dan mendesak mereka agar meninggalkan desa ini karena akan di bangun sebuah pabrik kimia, adalah ayah dari Arga putranya. Lisa tidak ingin terjadi sesuatu pada putranya. Tapi dia juga tidak bisa menjelaskannya pada Kaisar.
"Apa maksudmu Lisa? Jangan macam-macam. "
Yang tadinya Kaisar mulai tenang kini emosinya kembali bangkit.
"Lisa, kau sudah memisahkan ku dari anak kita sejak dia dalam kandungan. Apa sekarang kau mau memisahkan ku dengan putra ku lagi?" Kesal Kaisar.
Lisa diam, sungguh Lisa bingung dengan sikap Kaisar yang mendadak berubah-ubah seperti ini. Bicara baik-baik dengannya pun sangat sulit untuk saat ini.
Lisa tak menggubris perkataan Kaisar. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
"LISA." Panggil Kaisar, dengan nyaring.
namun Lisa tidak mengindahkannya.
BRAK .....
Kaisar lebih cepat menutup kembali pintu itu dengan sangat keras hingga menimbulkan gubrakan yang mengejutkan Lisa.
"Sudah mas bilang, mas akan mengantarkan mu." Suara Kaisar bergetar, karna ia sedang menahan amarahnya.
Ia menggenggam tangan Lisa, dan membawanya keluar dari ruangan itu.
"Rizal, berikan kunci mobilnya padaku." Pinta Kaisar yang sudah berada di depan ruangan. Persis di depan meja Rizal.
"Baik. Ini tuan." Rizal menyarankan kunci mobil itu pada Kaisar.
Dan Kaisar segera keluar dari kantornya, tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Lisa.
"Mas! Aku bilang kamu tidak boleh menemui Arga saat ini mas."
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang mas."
Kaisar tetep memaksa Lisa masuk kedalam mobilnya. Meskipun Lisa menolak.
"Aku bawa motor mas."
"Tinggalkan saja."
"Tidak bisa mas itu motor teman ku . Bagaimana dia mau berangkat bekerja jika tidak ada motornya?"
"Jhon akan mengantarkannya."
Kaisar terus memaksa Lisa untuk masuk ke mobilnya.
"TUAN HENTIKAN!" Suara seseorang menghentikan pergerakan Kaisar.
"Firman!"
"Tuan, tolong lepaskan tangan Yuna?"
"Yuna?"
"Iya."
"Dia Lisa, istriku."
"ISTRI!" Sontak Firman terkejut dengan penuturan Kaisar.
"Ooh .... Jadi anda suami yang tidak bertanggung jawab itu. Yang meninggalkan istrinya ketika sedang hamil demi wanita lain." Sindiran Firman. Entah ia tau dari mana gosip seperti itu.
"Jaga ucapan!" Tunjuk Kaisar tepat di waja Firman.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏🤗🤗